Menikahi Mantan Dewa Tertinggi

Menikahi Mantan Dewa Tertinggi
Merak & Phoenix


__ADS_3

Harimau putih roh kuno juga memikirkan Tuit Tuit saat ini. Benar juga, burung kecil itu bisa membantunya. Lalu dia meminta Xiu Jimei untuk mengeluarkan burung jingga kemerahan itu untuk keluar.


Tentu saja Xiu Jimei tidak peduli dan melemparkan Tuit Tuit keluar ruang. Burung kecil itu seketika menyentuh tanah dan berguling beberapa kali sebelum akhirnya berteriak pada Xiu Jimei karena tidak sopan.


"Burung kecil, bantu aku mencabut duri ikan di kakiku," kata harimau putih roh kuno.


Tuit Tuit marah dan menendang kakinya. "Beraninya kamu menyuruh leluhur burung ini?!" teriaknya.


"Hanya kamu yang cocok."


"..." Apakah kamu pikir aku ini pelayan?! Tuit Tuit tak memperhatikan ada berapa banyak orang di sekitarnya.


Pad akhirnya, Tuit Tuit mencabut duri ikan di telapak kaki harimau putih itu, sedikit agak kasar tapi ini lebih baik daripada tidak sama sekali. Merak biru tua yang melihat Tuit Tuit seketika tertegun. Dia merasakan aura samar dari tubuh burung jingga kemerahan itu.


Bukankah burung phoenix yang suka terlahir kembali dari api dan memiliki hidup panjang? Lalu kenapa memiliki aura mantan dewi binatang sebelumnya?


"Kamu—" Merak biru tua bingung saat ini. Mungkinkah ini reinkarnasinya?


Ming Zise tidak menunjukkan wajah apapun saat ini dan makan kembali dengan tenang. Apa lagi Xiu Jimei yang mengabaikan nya.


"Untungnya penyerangan para serigala ini tidak jadi. Aku benar-benar gelisah sebelumnya."


Yuyu mengelus dadanya dan kembali memanggang ikan. Tapi dia sedikit ngeri saat membakar jenisnya sendiri. Sayangnya ia memang ditakdirkan untuk dimakan.


"Apakah binatang buas selalu muncul di malam hari dan menyerang orang?" tanya Sin.


Xuan Xing mengangguk lalu menggelengkan kepala. "Ini sama seperti ikan predator di lautan. Apakah ras duyung juga memiliki musuh alami?"


"Yah, tentu saja. Ras mana yang tidak memiliki musuh bahkan? Kami tentu saja takut dengan predator lain." Sin sedikit bergumam.


Setelah makan malam, semua orang mencerna makanan untuk sementara waktu dan pergi tidur. Cip Cip, harimau putih roh kuno, merak biru tua hingga Tuit Tuit tidur di luar. Kali ini beruang putih kecil roh kuno juga bergabung dengan mereka agar tidak kesepian.


"Burung kecil ini, sepertinya kamu tampak akrab. Siapa namamu?" tanya merak biru tua agak menekankan suaranya.


"Kenapa kamu harus tahu namaku?" Tuit Tuit yang duduk di kepala harimau putih roh kuno langsung menatap mereka biru tua, sedikit tidak suka.

__ADS_1


"Dewa ini hanya ingin tahu." Merak biru tua itu jelas masih ingin tahu namanya.


"Namaku Ziyura."


"Ziyura?" Merak biru tua terlihat bergumam. "Nama yang bagus!"


"Humph! Jangan pikir aku tidak tahu. Kamu pasti burung jantan yang suka menggoda betina lainnya. Tidak mempan padaku!" Tuit Tuit langsung menuduhnya.


"..." Dewa ini bahkan tidak memikirkannya, batin Dewa Binatang sedikit teraniaya.


Saat ini, Tuit Tuit ingin mengabaikannya. Tapi melihat penampilan merak biru tua dan suara yang cukup akrab itu, entah kenapa dia mulai memikirkan sesuatu.


Di masa lalu saat masih menjadi Dewa Binatang, dia pernah bertemu dengan seekor burung merak biru tua roh dewa di salah satu hutan. Merak itu memiliki bulu yang cantik dan wajah jantannya tampak menawan.


Sekilas, dia tergoda waktu itu. Sayangnya sebagai dewa binatang yang menyamar menjadi pria, dia harus menahan diri untuk tidak menyapanya sebagai lawan jenis.


Memikirkan ini saja, Tuit Tuit merasa tidak nyaman. Kenapa burung merak jelek ini merasa tidak istimewa lagi sekarang?


"Dari mana kamu berasal?" tanyanya tanpa sadar.


Merak biru tua selidiki memelankan suaranya. "Tentu saja aku berasal dari Alam Para Dewa. Aku adalah dewa."


"Apakah kamu tidak percaya juga?" Merak biru tua mengedipkan matanya beberapa kali.


"Tentu saja tidak. Apa buktinya jika kamu adalah dewa?"


"..." Dewa Binatang juga tidak tahu harus membuktikannya dengan cara apa.


Tapi meski begitu, Tuit Tuit seperti nya merasa tidak asing dengan merak biru tua itu. Dan memang memiliki aura dewa di tubuhnya. Hanya saja dia sengaja berkata demikian agar tidak dicurigai bahwa dirinya merupakan reinkarnasi dari dewa binatang sebelumnya.


Merak biru tua itu berkicau sedikit dan tetap curiga tapi Tuit Tuit tidak peduli.


Di saat malam semakin sepi dan api unggun mengecil, Cip Cip mengambil kayu bakar lain dan tetap menjaga api agar tidak padam. Dia mulai duduk di dekat api unggun seraya melipatkan kepalanya ke dalam sayap agar lebih hangat.


Sekilas, Cip Cip seperti ayam tanpa kepala dan cukup menakutkan saat pertama kali mengetahuinya.

__ADS_1


Sedangkan merak biru tua mulai mengambil topik lain untuk bisa bicara dengan Tuit Tuit.


"Kamu adalah burung phoenix bukan?" tebaknya.


"Kalau tahu, kenapa tanya." Tuit Tuit malas bisa dengannya.


"Merak biru tua ingin tersedak sesuatu. "Aku sedang mencari burung phoenix reinkarnasi dari dewi binatang sebelumnya," ungkapnya.


Tuit Tuit sedikit tidak nyaman. "Kenapa kamu mencarinya?"


"Aku jatuh cinta padanya."


Tuit Tuit yang mendengar itu hampir saja terpeleset dari kepala harimau putih roh kuno. Jatuh cinta?! Merak jelek itu jatuh cinta padaku? Batinnya sedikit tidak terduga.


Bagaimana mungkin phoenix yang terbang tinggi di langit bisa jatuh cinta pada seekor merak? Tuit Tuit tidak merendahkan merak karena mereka merupakan salah satu binatang tercantik. Tapi di tidak mau menikah dengan merak.


Sepertinya, tidak mengungkapkan identitas nya di masa depan merupakan yang paling tepat. Tuit Tuit berpikir demikian. Dia sudah memikirkan segalanya saat ini.


Pada akhirnya, dia bertanya lagi. "Kenapa kamu jatuh cinta padanya? Jika kamu adalah dewa binatang saat ini, bukankah dewa binatang sebelumnya tidak tahu kamu sama sekali?"


"Aku merasa dia cantik dan jatuh pertama kali saat melihatnya di hutan. Saat dia masih menjadi dewa, kupikir seorang pria tapi ternyata aslinya adalah wanita. Jika aku tahu dia wanita sejak awal, mungkin sudah kutahan di hutan untuk kawin," jelas merak biru tua itu seadanya.


Tuit Tuit langsung berteriak nyaring dan terkejut. Dia memelototinya seperti burung betina yang marah melihat sang jantan bersama betina lain.


"Kamu— kamu berani ..." Tuit Tuit hampir saja keceplosan. "... berani sekali kamu memperlakukan burung betina seperti itu ...," katanya.


Harimau putih roh kuno yang sedang menghangatkan diri merasa terganggu dengan teriakannya. "Diamlah! Jika tidak, aku akan memanggangmu."


"Harimau bodoh, apakah kamu juga berani?" Tuit Tuit mencakar kepala berbulunya.


"Apa yang tidak berani? Jika dimakan, kamu hanya bisa mengisi celah gigiku saja." Bintang belang itu tampak sombong.


Tiba-tiba saja Tuit Tuit menyemburkan api dan membakar sebagian kecil kepala harimau putih roh kuno hingga botak.


"..." Harimau putih roh kuno merasa kepalanya dingin terembus angin.

__ADS_1


"Humph! Ini akibatnya jika kamu membuat marah phoenix betina!"


Merak biru tua melihat kepala harimau putih yang botak, dia diam-diam menggigil. Di masa depan saat dirinya menemukan reinkarnasi mantan dewi binatang, tidak akan sampai membakar ekornya bukan?


__ADS_2