Menikahi Mantan Dewa Tertinggi

Menikahi Mantan Dewa Tertinggi
Token Giok Bulan Sabit Penuh Rahasia


__ADS_3

Nenek Ruan sepertinya sedang mengingat beberapa hal saat ditanya oleh Xiu Jimei. Dia tinggal di negeri Atas. Dulunya merupakan Dunia Atas saat alam sekunder masih menjadi nama untuk penghuni langit.


Pada saat meninggalkan Dunia Langit, Nenek Ruan berusia setidaknya lima puluh tahun. Dia masih muda saat itu dan merupakan salah satu murid sekte. Namun karena hidup sebatang kara, Nenek Ruan tidak memiliki banyak persimpangan apapun di sana.


Dia dengan lancar meninggalkan Dunia Langit melalui jimat teleportasi yang diberikan oleh gurunya. Pada saat itu, Nenek Ruan memiliki keinginan untuk menjelajahi alam sekuler. Siapa tahu, gurunya begitu baik dan mungkin takdir nya ada di alam sekuler.


Benar saja, takdir memang berbaik hati padanya. Mempertemukan dirinya dengan cinta sejati. Tapi pihak lain hanyalah pemuda biasa tanpa kultivasi. Nenek Ruan yang saat itu masih muda merasa tidak mungkin keduanya cocok untuk tinggal bersama.


Hanya saja lagi-lagi takdir berkehendak lain. Nenek Ruan pada akhirnya jatuh cinta dan meninggalkan dunia kultivator. Agar suaminya tidak memiliki masalah, dia menghilangkan kultivasi pada dirinya sendiri sehingga bisa menua bersamanya.


Kisah cinta ini begitu mengharukan bagi Xiu Jimei. Ternyata seperti itu rasanya memang cinta sejati.


"Kalau begitu, apakah Nenek mengenal Fu Chan Yin?" tanya Xiu Jimei lagi.


"Fu Chan Yin?" Nenek Ruan sedikit tertegun pada awalnya lalu mengangguk. "Tentu saja. Dia adalah bintang phoenix raja neraka kala itu dan keduanya memiliki kisah cinta yang manis. Semua penghuni Dunia Langit saat itu tahu dan mungkin hari ini masih menjadi legenda. Aku tidak tahu lagi kabarnya seperti apa, mungkin dia sudah punya anak."


"Pernahkah Nenek melihat sosoknya?"


"Tidak secara langsung. Aku hanya melihatnya sekali dan itu pun hanya sekilas. Nah, apakah Nona ini juga mengenalinya?"


"Aku kenal." Xiu Jimei tersenyum. "Namaku Xiu Jimei. Aku adalah anaknya."


"..." Nenek Ruan terdiam untuk waktu yang cukup lama, mencoba untuk mencerna informasi yang baru saja dia terima.


Anak Fu Chan Yin?


Anak dari wanita kultivator paling berbakat waktu itu?


"Kamu, kamu benar-benar anaknya?" Nenek Ruan sedikit gugup, merasa tidak percaya.


"Ya. Aku anaknya. Aku juga memiliki saudara kembar, itu di sana ...."


Xiu Jimei menunjuk ke arah Xiu Jikai yang kini sedang memanggang daging domba besar bersama Yan Yujie dan yang lainnya.


Nenek Ruan akhirnya mengerti kenapa Xiu Jimei dan laki-laki itu terlihat mirip. Ternyata keduanya merupakan kembar. Benar-benar sama. Hanya saja Xiu Jikai berwajah dingin. Berbanding terbalik dengan Xiu Jimei yang selalu tersenyum.


"Aku tidak menyangka akan bertemu dengan anak dari wanita berbakat di Dunia Langit. Sungguh suatu kehormatan. Lalu di mana ibumu sekarang?"

__ADS_1


"Dia berkeliling dunia bersama ayahku."


"Ternyata seperti itu. Raja neraka benar-benar seperti reputasinya di masa lalu, sangat memanjakan istrinya." Nenek Ruan terkekeh. Tentu saja dia tahu Xiu Jichen yang telah menjadi raja neraka di Dunia Atas waktu itu.


Melihat Xiu Jimei saat ini, Nenek Ruan bisa menebak jika kemungkinan besar bakat Fu Chan Yin telah diwariskan padanya. Terbukti dengan beberapa binatang yang tampaknya takut pada Xiu Jimei.


Bahkan pria di samping Xiu Jimei sebelumnya juga memiliki kekuatan yang luar biasa. Nenek Ruan tidak bisa menebak identitas nya tapi kemungkinan besar sangat mulia. Orang yang dimaksudnya adalah Ming Zise.


Nenek Ruan segera mengeluarkan sebuah token giok dari saku baju dan menyerahkannya pada Xiu Jimei.


"Nenek, apa ini?"


"Ini adalah token rahasia. Nenek tidak bisa memberi tahu fungsinya. Tapi percayalah, token ini akan berguna di masa depan. Ini adalah takdirmu." Nenek Ruan tersenyum misterius. Dia sudah memiliki gambaran tentang Xiu Jimei dan Ming Zise di masa depan. Hidup yang bahagia.


"Nenek?" Xiu Jimei sama sekali tidak mengerti.


"Tidak apa-apa. Apapun yang terjadi di masa depan, ingatlah, di mana pun kamu berada, hiduplah dengan baik. Sejarah pasti akan berubah di masa depan ..." Nenek Ruan menolak untuk menjelaskan.


Xiu Jimei menerima token giok hijau itu dan memperhatikan ukiran bulan sabit di permukaan token giok. Tampaknya token itu telah lama disimpan Nenek Ruan. Tapi tidak tahu dari mana asalnya.


"Anak baik."


Keduanya mengobrol untuk waktu yang cukup lama hingga akhirnya Ming Zise menghampiri Xiu Jimei untuk membantunya memasak. Xiu Jimei mengucapkan beberapa patah kata pada Nenek Ruan sebelum akhirnya mengikuti Ming Zise.


Nenek Ruan memandangi keduanya dengan ekspresi yang dalam. Alam sekuler benar-benar akan berubah di masa depan. Masa depan bintang phoenix yang disayangi para dewa sungguh membawa keberuntungan bagi siapapun yang menghormatinya.


"Kenapa kamu menyerahkan token itu padanya?" tanya kepala desa yang sudah ada di sampingnya.


Pria tua itu terbatuk kecil, tubuhnya sedikit kurus dan wajahnya yang keriput tak berbeda jauh dengan Nenek Ruan. Dia memiliki tatapan lembut pada istrinya yang telah menemaninya selama puluhan tahun.


"Kenapa memangnya? Token itu tidak berguna untukku yang sudah tua ini. Lagi pula dia memiliki takdirnya tersendiri."


"Apakah kamu menyesal menikah denganku dan tidak memiliki anak?"


"Tentu saja tidak. Cinta itu buta dan aku buta olehmu." Nenek Ruan bercanda dengan kepala desa.


"..." Kamu tidak pernah berubah sedikit pun, batinnya.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sudah hampir dua Minggu kelompok peserta ujian tinggal di dekat kaki gunung api untuk membantu warga membangun kembali desa. Para guru pendamping mengajukan pemberian poin tambahan pada para penguji yang ada dan di Dunia Langit karena tugas tambahan ini.


Untungnya mereka tidak membantu dengan sia-sia. Masih banyak hal yang mereka temui saat berada di alam sekuler.


Setelah itu, mereka meninggalkan desa yang kini telah stabil.


Nenek Ruan dan Xiu Jimei juga sama-sama mengucapkan selamat tinggal. Dan akhirnya semua kelompok kembali ke jalur tugas, meninggalkan desa di kaki gunung.


Di perjalanan, kelompok Xiu Jimei bertemu dengan beberapa kultivator hantu yang tampaknya ketakutan saat bertemu dengan nya. Terutama Mi Sai, Fan Li dan Mei Rong. Mereka pura-pura tidak mengenali mereka tapi kebenciannya jelas lebih dalam.


"Mereka masih menatap ku," kata Yan Yujie.


"Jelas. Kamu masih dalam sasaran untuk dibunuh." Xiu Jikai tidak menghiburnya.


"..." Aku bukan ikan asin, batinnya.


"Ke mana kita pergi selanjutnya?"


"Lembah hantu." Xuan Xing melihat gulungan tugas dan muncul kata 'Lembah Hantu' pada daftar misi.


"Lembah hantu? Yang benar saja. Apakah ada banyak hantu di sana?" Yan Yujie merasa trauma saat berhubungan dengan hantu.


"Bukan itu masalahnya. Lembah hantu ini dikenal suka menyesatkan orang. Kabut selalu muncul di lembah itu dan pada saat itulah jalan keluar terhalang. Siapapun yang memasukinya akan tersesat dan berjalan berputar-putar. Yang lebih parah lagi, kelaparan dan meninggal di sana. Selebihnya lagi tidak tahu." Xuan Xing mencari beberapa informasi tentang lembah hantu tersebut.


"Hanya itu saja?" Wang Xuyue merasa tidak percaya.


"Entahlah. Kita akan tahu saat tiba di sana."


"Kalau begitu naik binatang roh terbang saja untuk sampai di sana lebih cepat. Jaraknya juga masih jauh." Xiu Jimei merasa jika berjalan kaki akan membuang-buang waktu.


"Tapi kita tidak memiliki binatang roh terbang. Di mana kita akan mencarinya?" Kin Wenqian tidak melihat satu pun burung roh raksasa di alam sekuler ini.


...****************...


NB: Waktu update tidak akan terfokus pada pukul 12.00 WIB. Jika ada kendala lain, mungkin bisa di sore atau malam hari. Tergantung situasi.

__ADS_1


__ADS_2