Menikahi Mantan Dewa Tertinggi

Menikahi Mantan Dewa Tertinggi
Rahasia Di Dalam Gunung


__ADS_3

Jin Long yang melingkar di atas meja tampak tidak senang dengan perilaku Xiu Jimei. Dia mendengus dan menatapnya dengan semasang mata merah. Sayangnya, naga tidak bisa mencibir.


"Aku tidak memikirkan itu sebelumnya. Tapi sekarang aku memikirkannya," jawab Jin Long kesal. "Siapa tahu suara misterius yang menggema itu membuat tubuhku memancarkan aura bahaya. Pikiranku saat itu hanya pergi ke sini dan mencegah bahaya lain datang," jelasnya acuh tak acuh.


"Apakah sangat berbahaya? Keberadaanmu dianggap legenda oleh orang lain. Sekarang kamu mungkin dalam pembicaraan panas." Xiu Jimei sedikit sakit kepala saat ini.


Sebelum matahari terbit sebelumnya, Xiu Jimei sudah pergi ke pasar terdekat untuk membeli beberapa bahan masakan yang tidak ada di ruang spiritual bawaannya.


Sepanjang jalan, hampir semua orang membicarakan kemunculan naga emas di langit malam. Hal ini pasti akan menyita perhatian enam negeri.


"Tentu saja ini bahaya tersembunyi yang nyata. Lebih tepatnya, makhluk yang mampu mengeluarkan suara menggema seperti itu di Dunia Langit, jelas bukan makhluk biasa. Jika tidak, aku tidak akan muncul. Manusia, kamu baru hidup seumur kacang hijau, apa yang kamu tahu tentang dunia?" ejeknya.


"..." Sudut mulut Xiu Jimei berkedut.


Ming Zise juga pergi ke Alam Para Dewa untuk mencari petunjuk. Xiu Jikai pergi ke Dunia Iblis dan Yan Yujie juga bergegas ke Dunia Hantu. Semua orang menjadi sibuk.


Kini hanya menyisakan Jia Lishan, Kin Wenqian dan Xuan Xing di penginapan. Tanah terbelah dan pohon tumbang akibat gempa semalam masih dibiarkan begitu saja.


Xiu Jimei masih belum mengetahui apakah ayah dan ibunya akan pulang kali ini.


"Haruskah aku mencari tahu juga?" tanyanya.


Jin Long hanya ingin meringkuk saat ini. "Terserah. Jangan buang-buang waktu untuk sesuatu yang belum pasti."


Di saat Jin Long meringkuk dan memejamkan mata, embusan angin tiba-tiba saja menerpa tubuhnya. Saat membuka mata, sosok Xiu Jimei sudah tidak ada di ruangan tersebut.


"..." Jin Long tidak menyangka jika gadis itu akan pergi tanpa mengajaknya sama sekali. Padahal dia hanya gengsi untuk berkata 'Aku juga penasaran dan ingin mencari tahu'.


Pada akhirnya, Jin Long bangun dan bersiap untuk menyusulnya. "Dasar gadis tidak peka. Dia bahkan lebih cuek daripada ibunya," gumamnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Xiu Jimei tiba di atas pagoda dua puluh lantai dan melihat pemandangan Negeri Atas yang terlihat indah. Tapi ada beberapa tempat yang telah rusak karena gempa semalam.

__ADS_1


Angin berembus mengibarkan gaun panjangnya yang sebagian terbuat dari kain kasa putih berkualitas tinggi. Rambut panjang berponi membuat kesan imut pada wajahnya.


Tuit Tuit muncul di udara dan mendarat di bahunya. "Tuan, dari mana kita akan mencari tahu?"


"Menurutmu, dari mana suara itu berasal?"


"Hmm? Mungkin bawah tanah bukan?"


"Harusnya begitu," jawab Xiu Jimei juga yakin. "Mungkin ada naga tersembunyi di bawah sana dan Jin Long cemburu," tuduhnya.


"Tuan, ini bukan waktunya bercanda." Tuit Tuit tahu jika Xiu Jimi hanya menggodanya saja.


Xiu Jimei mengabaikan kata-katanya. "Bisakah kamu berubah menjadi lebih besar?"


"Apakah Tuan ingin terbang?"


"Tidak bisakah?" Xiu Jimei mengelus jambul Tuit Tuit.


"Aku tidak yakin untuk saat ini. Kekuatanku belum sepenuhnya mampu membentuk wujud besar untuk jangka waktu yang lama. Bukankah ada harimau putih roh kuno yang Tuan jadikan tunggangan. Kucing besar itu hanya malas-malasan di ruang spiritual sekarang," jelas Tuit Tuit.


Tapi harimau putih roh kuno itu muncul sangat dekat dengan Xiu Jimei. Gadis itu segera mengulurkan tangan dan menahan tubuh besar kucing besar itu. Untungnya, harimau putih roh kuno bisa mengubah ukuran tubuhnya sesuka hati. Kali ini, Xiu Jimei tidak terlalu kesulitan membopong tubuhnya.


Harimau putih roh kuno mengaum kecil seperti canggung dan ketakutan. "Manusia, jika kamu ingin memanggil ku, tolong jangan di udara. Aku tidak mau jatuh."


Karena Xiu Jimei berdiri di sisi atap pagoda dua puluh lantai, harimau putih roh kuno bisa saja jatuh bebas ketika dipanggil keluar.


Xiu Jimei menghela napas tidak berdaya. "Kenapa kamu tidak menumbuhkan sayap? Itu lebih bagus," celetuknya.


"..." Aku tidak ingin menjadi suku harimau bersayap, batinnya.


Xiu Jimei turun dari atap pagoda dua puluh lantai dan menurunkan harimau putih roh kuno. Makhluk berkaki empat itu segera mengubah tubuhnya menjadi ukuran semula sehingga menarik perhatian beberapa orang yang lewat.


Gadis itu duduk di punggung harimau putih roh kuno dan segera meninggalkan lokasi pagoda dua puluh lantai. Meski hariamu putih roh kuno memiliki tubuh besar, dia mampu menghindari beberapa bangunan dan orang-orang yang berada di sekitar.

__ADS_1


Tak lama, mereka tiba di gunung yang cukup jauh dari perkotaan. Xiu Jimei turun dan memperhatikan sekitar. Sebagian tanah gunung juga terbelah saat ini dan celahnya cukup lebar.


Namun karena terhalang oleh beberapa sulur yang memenuhi tanah berumput, Xiu Jimei menyingkirkannya lebih dulu.


"Tuan, sepertinya tanah yang terbelah ini memiliki celah kosong di dalam. Harusnya bisa dimasuki." Tuit Tuit memiliki insting jika di kedalaman gunung pasti ada sesuatu.


"Kalau begitu, kita periksa?" Xiu Jimei enggan untuk turun.


"Tentu. Kita harus turun dan memeriksanya. Entah kenapa, aku merasa familiar dengan energi spiritual yang menguar dari dalam gunung ini. Tapi aku tidak tahu jenis energi spiritual apa. Hanya perlu memeriksanya lebih dulu."


"Baiklah."


Xiu Jimei akhirnya mencoba untuk memasuki celah gunung yang terbelah. Harimau putih roh kuno tidak ingin masuk dan memilih untuk menunggu di atas. Mungkin dia juga bisa berburu makanan di gunung tersebut.


......................


Sementara itu ....


Xiu Jimei akhirnya berhasil melewati celah gunung yang terbelah. Dia menapakkan kakinya di sebuah gua bawah tanah yang cukup luas, gelap dan tampak pengap.


Tidak ada pencahayaan lain selain memanfaatkan celah sinar matahari dari atas. Akhirnya, Xiu Jimei mengeluarkan batu spiritual inti binatang roh yang mampu mengeluarkan cahaya di dalam kegelapan.


Suasana hening, ada sisa tetesan air dari langit-langit gua bawah tanah.


"Tempat apa ini? Aku baru tahu ada tempat seperti ini sebelumnya," kata Xiu Jimei.


"Aku juga. Tuan, energi spiritual yang membuatku merasa familiar semakin dekat. Pergilah lebih dalam lagi." Tuit Tuit malas untuk terbang dan membiarkan tuannya yang bergerak.


Xiu Jimei berjalan semakin jauh dari titik awal. Menggunakan pencahayaan batu spiritual, dia memperhatikan sekitar. Hingga pada akhirnya, langkah Xiu Jimei terhenti tiba-tiba.


Di depannya saat ini, terdapat sebuah gerbang baja yang menjulang tinggi. Gerbang baja berdaun dua itu samar-samar menguarkan energi spiritual yang sedikit familiar. Seperti yang dikatakan Tuit Tuit, energi spiritual di sini agak familiar.


"Di mana kira-kiranya aku pernah merasakan aura ini?" Xiu Jimei berpikir lebih dalam.

__ADS_1


Mungkinkah gempa semalam dan raungan binatang roh misterius itu ada hubungannya dengan tempat ini?


__ADS_2