
Sebelum bola energi spiritual hitam di tangan Lu Zheng menyentuh perut gadis itu, tiba-tiba saja tubuh Xiu Jimei memancarkan cahaya putih keemasan. Cahaya itu sangat menyilaukan hingga Ming Zise dan Lu Zheng yang ada di dekatnya langsung menyipitkan mata untuk menghindari kebutaan.
“Cahaya sialan apa ini?”
Lu Zheng kesal, merasa tubuhnya terbakar oleh api hitam neraka yang sangat panas. Dia mundur perlahan dan tanpa sadar bola energi spiritual hitam di telapak tangannya tersedot oleh cahaya putih keemasan di tubuh gadis itu. Lu Zheng lebih terkejut dari pada saat mengetahui jika gadis itu bisa bertahan lama saat bertarung dengannya.
“Bagaimana mungkin …” Lu Zheng menyaksikan bola energi spiritual hitam di telapak tangannya perlahan mengecil dan menghilang. Ia menggunakan energi spiritual intinya sendiri, lebih murni dan kuat. Siapa tahu ….
Ming Zise tidak merasakan panas seperti Lu Zheng, tapi perasaan hangat yang membuat tubuhnya nyaman. Ye Jue yang biasanya menunjukkan kemalasan di hari kerja, seketika langsung menangkupkan kedua tangannya dan berdo’a pada para dewa terdahulu. Jika dia ada di kuil, mungkin akan membakar tiga batang dupa.
Xiu Jimei sendiri tidak tahu apa yang salah dengan dirinya. Ia hanya merasakan sesuatu bergolak di dantian nya. Sangat tidak nyaman hingga wajahnya lebih pucat. Setelah cahaya keemasan itu melahap bola energi spiritual hitam milik Lu Zheng, kini giliran kabut putih kemerahan yang diserapnya.
Semua ini di luar kendali Xiu Jimei. Semua kabut kemerahan yang ada di udara seperti tertarik ke tubuh gadis itu. Mengingat jika esensi delapan dewa-dewi bisa melahap segala jenis energi spiritual apapun dan mengekstraknya menjadi energi murni, Ming Zise akhirnya menegang.
“Ini belum berakhir!”
Lu Zheng yang tidak bisa melawan kekuatan aneh tersebut. perlahan-lahan, aura kegelapan di tubuhnya juga mulai meluap. Mau tidak mau langsung berteleportasi ke tempat yang aman sebelum energi spiritualnya sendiri dikuras.
Ia muncul di sebuah atap bangunan tak jauh dari istana klan penyihir. Tubuhnya kepanasan hingga mengeluarkan asap hitam. Energi spiritual kegelapan masih menguap perlahan. Lu Zheng berusaha untuk menstabilkan dirinya. Jangan sampai kultivasi tertutup yang dia lakukan sebelumnya menjadi sia-sia.
“Xiu Jimei!! Kamu beruntung kali ini. Lain kali, aku tidak akan melepaskanmu!” geramnya. Melihat kabut kemerahan yang semakin menipis, Lu Zheng benar-benar muntah darah di hatinya.
Meskipun tanpa kabut kemerahan semua iblis Alam Neraka masih bisa bertarung secara alami, namun setidaknya bisa mengecoh lawan. Alasannya sederhana. Makhluk Alam Neraka tidak terlalu tahan dengan penurunan suhu di alam sekuler. Sejatinya, iklim di Alam Neraka dan alam sekuler sangat berbeda jauh.
......................
__ADS_1
Xiu Jimei saat ini tidak bisa mengendalikan kekuatan esensi delapan dewa-dewi di tubuhnya. Ada banyak energi spiritual kegelapan yang diserap oleh cahaya putih keemasan hingga merasa tubuhnya akan meledak kapan saja.
“Ming Zise, apa yang kamu tunggu? Cepat tekan kekuatan esensi delapan dewa-dewi di tubuhnya jika tidak ingin dia meledak dan mati.” Suara Ye Jue segera membangunkan pikiran Ming Zise.
Jangan sampai kekuatan itu menyerap energi spiritual kegelapan yang ada di sekitarnya. Jika tidak, dunia kultivator tidak akan seimbang di masa depan.
Ming Zise menggunakan kekuatannya sendiri untuk menyelimuti tubuh Xiu Jimei dengan cahaya dewa miliknya. Dengan begitu, jiwa esensi delapan dewa-dewi yang sebelumnya merasakan ancaman bahaya akan tenang kembali. Tapi tentu saja tidak mudah.
Untungnya cedera lama Ming Zise sudah sembuh sehingga tidak ada hambatan yang serius. Setelah gelombang energi esensi delapan dewa-dewi di tubuh Xiu Jimei mulai tenang, Ming Zise menghela napas. Namun pada saat yang bersamaan, Xiu Jimei jatuh koma setelah mencerna energi spiritual dalam jumlah besar.
Demi menghindari kelebihan energi spiritual, Ming Zise mencoba untuk membantu menyeimbangkan kekuatan gadis itu. Untungnya cahaya putih keemasan yang menyelimuti tubuh gadis itu meredup dan hilang.
“Bagaimana keadaannya?” tanya Ye Jue.
“Tidak apa-apa.” Ming Zise menghela napas.
Ye Jue dan Ming Zise melihat jika kabut yang sebelumnya menghalangi garis pandang akhirnya menipis. Meski tidak sepenuhnya bersih, tapi setidaknya mereka bisa melihat apa yang ada di sekitarnya. Dengan begitu, pasukan kultivator alam sekuler tidak akan kesulitan untuk bergerak di dalam kabut.
“Betapa marahnya Lu Zheng saat tahu ini sekarang.” Ye Jue terkekeh.
Ming Zise menatapnya tidak senang. Ia membopong Xiu Jimei yang masih koma dan berniat untuk membawanya ke tempat yang aman.
“Pergilah dan buat permen susu untuk tunanganku jika kamu tidak sibuk lagi. Atau kamu bisa memainkan peran Dewa Welas Asih untuk memberikan nasihat pada iblis Alam Neraka. Mungkin mereka mau bertobat,” ejek Ming Zise tanpa berperasaan.
“…”
__ADS_1
Ye Jue berhenti tertawa dan mau tidak mau batuk kecil. Ia kembali ke penampilannya yang lemah lembut dan tidak berbahaya. Ia tahu semua dewa-dewi kesal dan menyimpan dendam padanya. Tapi dia tidak tahu jika Ming Zise sangat membencinya.
Keduanya tidak tahu jika saat ini, Xiu Jimei sedang bermimpi berada di sebuah tempat yang tidak dikenal ….
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Xiu Jimei terbangun dengan keadaan setengah linglung. Tubuhnya terasa sangat sakit di mana-mana hingga ia tidak bisa merasakan energi spiritualnya sendiri. Tapi setidaknya ia tahu ini hanyalah sebuah mimpi. Apa yang terjadi saat ia diselimuti oleh cahaya putih keemasan, hanya samar-samar saja ingat. Sisanya tampak kabur di pikirannya.
“Di mana ini?” gumamnya.
Dia terbangun di sebuah padang rumput hijau dengan angin sepoi-sepoi. Tak jauh di depannya ada sebuah gazebo. Tirai kasa putih berkibar tertiup angin. Tanaman merambat berbunga di sekitarnya membuat gazebo terlihat lebih indah.
Namun bukan itu yang diperhatikan Xiu Jimei. Dia melihat ada seorang wanita bergaun putih di gazebo, rambut hitam panjangnya tergerai indah. Wanita itu sangat cantik dan memiliki senyum yang menawan saat melihat Xiu Jimei.
Untuk sementara waktu, Xiu Jimei terpesona oleh senyumnya. Tapi dia tertegun seketika. Kenapa wajah itu mirip dengan ibunya, Fu Chan Yin?
Wanita di gazebo itu melambai padanya. Xiu Jimei masih tidak tahu tempat seperti apa padang rumput ini. Namun dia pergi ke gazebo dan melihat lebih jelas wanita yang memiliki kemiripan dengan ibunya.
“Ini pertama kalinya kita bertemu. Kamu adalah orang pertama yang berhasil datang ke sini. Tapi jangan khawatir, kamu akan kembali nanti,” kata wanita itu dengan nada bicara yang sangat ramah.
Xiu Jimei tidak peduli apakah dia bisa kembali atau tidak. Dia sendiri yakin bisa kembali. Tapi sekaranglah ia sangat penasaran dengan wanita di depannya.
“Siapa kamu?” tanyanya datar.
Wanita itu tidak langsung menjawab pertanyaannya. "Duduklah dulu dan coba mahkota bungaku."
__ADS_1
Xiu Jimei akhirnya menyadari jika wanita itu sedang merangkai sebuah mahkota dari tanaman bunga merambat.