
Bukankah ini ular hijau roh kuno yang sebelumnya menyerang kelompok Huang Fu Shi? Ketiganya mengenali ular hijau raksasa ini karena sebelumnya mereka sendiri yang meminta ular hijau raksasa menyerang kelompok tersebut.
Tentu saja tidak dengan cara yang benar, melainkan menipu ular hijau raksasa. Tapi saat melihat ular hijau roh kuno menemukan mereka di sini, ketiganya tahu bahwa ular hijau raksasa ingin balas dendam.
Tidak peduli apakah itu ras hantu, siluman atau lain sebagainya, binatang roh kuno tidak akan takut. Mereka tergolong sombong dan benci penipuan.
"Hantu penipu! Ular ini hampir saja jadi santapan pedang es!" Suara ular hijau raksasa seperti bisikan maut di telinga ketiga kultivator ras hantu itu.
"..." Mi Sai, Fan Li serta Mei Rong mencoba untuk memutar otak.
Tapi pada akhirnya mereka kehilangan semua pikiran dan idenya saat ini.
Di saat ular hijau itu membuka mulutnya lebar-lebar dan menyemprotkan semua bisa yang ada di taring atas, ketiganya langsung melarikan diri.
"Lari, lari!! Ular ini akan membunuh kita!" teriak Mi Sai yang nyaring seperti biasanya berhasil membuat sekawanan burung di atas pohon terkejut dan terbang menjauh.
Suara teriakannya juga menggema di hutan. Ketiganya berlari lebih kencang saat ular hijau raksasa itu mengejar, merobohkan beberapa pepohonan sambil menghindari serangan panah beracun Mei Rong.
"Cepat pikirkan cara! Apapun itu untuk terhindar dari makhluk ini," kata Mi Sai.
"Apa lagi? Kita memiliki tubuh padat saat ini. Namun ini Dunia Langit, kekuatan kita sedikit ditahan sehingga sulit untuk melakukan serangan besar-besaran." Fan Li juga sedikit frustasi.
Setiap dunia memiliki batasan. Baik secara fisik maupun kekuatan. Oleh karena itu, sejak mereka datang ke Dunia Langit dengan tubuh padat, kekuatan mereka juga sedikit ditekan. Jika terlalu berlebihan mengeluarkan energi spiritual, tubuh mereka akan mudah kelelahan.
Oleh karena itu, mereka lebih suka melakukan serangan fisik atau menggunakan energi spiritual dalam kadar kecil.
"Hantu, jangan lari!" Ular hijau roh kuno mengejar sebisa mungkin.
Tubuhnya yang lentur dan panjang tidak menyulitkannya untuk mengejar mereka. Sebagian bisa ular disemprotkan lagi. Namun ketiga kultivator hantu itu selalu bisa menghindar dengan tepat. Ini membuat ular hijau roh kuno marah.
Mi Sai menggendong bonekanya, sedikit sulit untuk berlari. Mereka ingin melompat dari dahan ke dahan. Hanya saja melihat pepohonan kuno yang tingginya puluhan meter, sulit untuk melakukannya.
Entah sial atau bagaimana, mereka juga tahu bahwa ular hijau pandai memanjat pohon. Jadi bukankah itu sia-sia saja. Lari adalah cara yang baik saat ini.
"Berubah. Kita harus berubah menjadi mode hantu. Jika tubuh kita transparan, benda apapun bisa kita tembus, serangan apapun tidak bisa melukai kita, cepat!" Mi Sai menyarankan. Dia bersiap untuk membaca mantra khusus.
__ADS_1
"Kita sendiri adalah hantu! Apa yang harus diubah? Jangan lupa, kita menelan pil wujud padat sebelumnya. Efeknya bisa mencapai sebulan." Mei Rong berteriak padanya.
Dengan kata lain, mereka tidak bisa mengambil wujud hantu saat ini karena pil yang mereka telan sebelumnya memiliki efek jangka panjang. Ini memudahkan mereka bergerak dan menyentuh benda-benda Dunia Langit.
Oleh karena itu, ketiganya hanya bisa berlari dan mencari tempat yang aman untuk menghindari ular hijau roh kuno.
Hal ini membuat tempat anggota kelompok lain yang mereka lewati. Ular hijau roh kuno tidak mau menyerah. Dia harus membalas dendam pada ras hantu yang membohonginya.
Di salah satu dahan pohon tua yang tinggi, seorang pria berjubah brokat merah dan hitam duduk santai. Keduanya memiliki warna rambut senada dengan pakaiannya.
"Haruskah kita menghentikan ular bodoh itu?" tanya Reddish seraya membuka kipas lipat yang memiliki lukisan merak merah.
Blacky menaikkan sebelah alisnya, tampak malas. "Tidak perlu. Ketiga kultivator ras hantu itu telah mengganggu kelompok anak majikan kita," jawabnya.
"Aku jadi merindukan majikan," keluh Reddish.
Blacky meliriknya tanpa memedulikan kekacauan di bawah. "Kita akan pergi setelah anak majikan menemukan binatang roh kontak yang kuat."
"Maksudmu, kita akan dibuang oleh gadis itu?"
Berhubung majikan mereka masih Fu Chan Yin, jadi ikatan kontraktual nya masih ada. Jika bertanya tentang Xiu Jimei, mereka hanya memiliki sedikit keterikatan, tapi bukan jenis kontrak yang sah. Hanya mengikuti ruang spiritual bawaan Fu Chan Yin yang diwariskan pada Xiu Jimei.
"Kalau begitu, kita tidak akan tinggal di ruang spiritual yang nyaman itu lagi?"
"Tentu saja, kita harus pindah rumah," jawab Blacky datar.
"..."
Bisakah kita masih mengikuti Fu Chan Yin tanpa harus memindahkan rumah yang nyaman dari ruang spiritual bawaan? Batinnya enggan.
Pada akhirnya, kedua makhluk suci ilahi kuno itu menyaksikan kekacauan terjadi di mana-mana. Siapapun itu, apapun yang mereka lakukan bahkan jika itu selingkuh di semak-semak, semuanya terbongkar hanya karena keberadaan ular hijau raksasa.
Seorang murid perempuan berteriak ketakutan saat melihat ular hijau raksasa melintas. Dia berusaha mencari tempat yang aman. Tapi siapa yang tahu, dia justru memergoki tunangannya dari sekte yang sama sedang berpelukan dengan gadis dari sekte lain di kelompok yang sama.
Pakaian mereka berantakan, posisinya sangat ambigu. Bahkan ada jejak ciuman panjang di dada gadis lain.
__ADS_1
Jelas pasangan yang selingkuh itu awalnya sembunyi di semak-semak tinggi, saling berciuman dan mendayung bersama dengan gembira.
Gadis yang mengaku tunangannya itu marah saat melihat adegan ini. "Ternyata selama ini kamu tidak bisa menahan tubuh bawah mu. Dasar pria tak tahu malu. Kita putus!" teriaknya lebih marah, melupakan rasa takutnya. Lalu berlari menjauh dari sana sambil menangis.
"Sayang, dengarkan aku!"
Laki-laki itu melihat tunangannya, langsung mendorong gadis yang sedang digaulinya lalu membenarkan pakaian sebelum akhirnya mengejar.
Gadis yang ditinggalkan itu bahkan lebih marah, malu dan berteriak padanya sebagai pria bajin*an. Semua pria itu sama saja!
Insiden perselingkuhan yang terkuak karena seekor ular hijau roh kuno pun menyebar ke kelompok lain ....
Kelompok yang paling tenang saat ini mungkin hanya Xiu Jimei dan Huang Fu Shi.
Saat ini, kelompok Xiu Jimei sedang beristirahat di sebuah gua. Mereka membuat api unggun, memanggang ikan dan makan buah-buahan segar.
Sayup-sayup, suara teriakan membuat mereka bertanya-tanya.
"Apakah kalian mendengar keributan di kejauhan?" tanya Wang Xuyue.
"Itu teriakan sekelompok orang." Kin Wenqian mengerutkan kening. Dia sedang bermain dengan seekor kumbang kecil di punggung tangannya, seperti sedang saling menyapa.
"Apa yang mereka ributkan? Mungkinkah penjinakan bintang roh kuno secara massal mulai terjadi karena waktu yang tinggal sebentar lagi?" tebak Huang Fu Shi.
"Mungkin."
Mereka tidak mau memeriksa apa yang terjadi di sana. Perlahan, mereka mulai melupakan suara-suara teriakan yang tidak jelas itu.
Ming Zise dan guru pendamping dari kelompok Huang Fu Shi sempat berbincang-bincang sebentar. Pria itu mungkin tahu apa yang menimpa sekelompok orang, namun karena tidak ada hubungannya dengan kelompok Xiu Jimei, dia memilih untuk diam.
Tanpa terasa, hari sudah menjelang malam. Xiu Jimi sudah pergi entah ke mana dan baru kembali sebelum makan malam tiba. Gadis itu memegang beberapa buah berwarna ungu kehitaman yang mirip pir atau sejenis apel besar.
Aroma manis madu menguar hingga menyebabkan mereka ingin tahu.
"Apa yang kamu bawa?" tanya Xiu Jikai.
__ADS_1