Menikahi Mantan Dewa Tertinggi

Menikahi Mantan Dewa Tertinggi
Disengat Lebah Roh Dewa


__ADS_3

Beberapa hari yang lalu para pelayan yang mengurusi taman istana dewa kesialan menyadari sesuatu. Ada sarang lebah roh dewa di pohon mangga yang terawat dengan baik.


Lebah-lebah itu tidak besar atau kecil, tapi cukup ganas dan mudah tersinggung jika wilayahnya terusik.


Bahkan dewa binatang saja cukup berhati-hati saat berkomunikasi dengan mereka.


Dewa kesialan mendengkus. "Hanya lebah roh dewa, apa yang kamu takutkan? Ini pohon mangga yang tumbuh di halaman dewa ini. Bukan wilayah mereka! Usir saja."


"Tapi ..." Pelayan terdekatnya itu ragu-ragu.


Ming Zise bahkan menaikkan sebelah alisnya. Dia memiliki firasat jika dewa kesialan akan mengalami bencana lagi kali ini. Apakah dirinya akan disalahkan?


Dewa kesialan tidak mau mendengar apapun dan segera menggunakan kekuatannya untuk mengguncang pohon mangga.


Beberapa mangga yang ranum berjatuhan ke atas alas spiritual yang dibuat oleh dewa kesialan. Ukuran mangga roh dewa cukup besar, kulitnya kuning kejinggaan bahkan ada yang sedikit kemerahan.


Aromanya sangat harum. Dagingnya lembut dan manis. Lebih penting lagi, bijinya kecil sekali.


Sarang lebah roh dewa juga ikut bergetar dan sekawan lebah roh dewa bermunculan dari dalam sarang, menatap dewa kesialan yang menjadi pelaku utama.


Suara dengungan lebah roh dewa yang mengepakkan sayap membuat para pelayan pucat dan ketakutan. Mereka mundur beberapa langkah.


"Dewa, mereka marah," kata salah seorang pelayan.


"Ck, lebah-lebah ini tidak tahu di mana rumah! Cepatlah tinggalkan pohon mangga ku. Jangan berani untuk membuat usil!" Dewa kesialan berteriak pada sekawanan lebih roh dewa.


Namun, lebah roh dewa itu sangat cukup banyak dan terbang ke arah dewa kesialan tanpa ragu-ragu. Sekawanan lebah membentuk sebuah benda runcing besar dan bersiap untuk menusuknya dengan ekor beracun.


"Ahh!! Jangan sengat aku. Kalian sangat berani!"


Teriakan dewa kesialan yang berlari di sekitar halaman membuat para pelayan juga sibuk untuk membantunya mengusir lebah.


Hanya Ming Zise yang tampak tenang dan mengambil beberapa mangga roh dewa untuk Xiu Jimei.


Dewa kesialan masih sibuk mengurusi lebah roh dewa. Dan teriakan yang cukup menyedihkan membuat Ming Zise melihat ke arahnya.


Seekor lebah roh dewa berhasil menyengat pantat dewa kesialan hingga sedikit membengkak.


"Siapa lagi yang mengutukku sekarang?!" Dewa kesialan tampak marah dan akhirnya berhasil mengurus semua lebah roh dewa yang menyerangnya.


Melihat keberadaan Ming Zise yang sudah tidak ada di tempat, dewa kesialan memarahinya dalam hati. Kesialan ini pasti ada hubungannya dengan Xiu Jimei atau Yan Yujie.

__ADS_1


"Dewa ... Apakah baik-baik saja?" tanya pelayan setianya tampak khawatir. Melihat dewa kesialan yang tak bisa duduk karena sakit, membuatnya merasa lebih simpati.


"Disengat lebah, apakah menurutmu baik-baik saja?" Dewa kesialan marah padanya.


"..." Tentu saja tidak, batin mereka.


Hanya saja lebah roh dewa yang tersisa kini semakin dendam pada dewa kesialan setelah melihat rekan-rekannya mati. Mereka beramai-ramai menyerangnya.


Dewa kesialan tidak memiliki waktu untuk memarahi orang lain. Dia segera berlari menghindari lebah roh dewa yang mengamuk seraya melontarkan segala jenis senjata roh untuk membunuh mereka.


Para pelayan juga melarikan diri ketika lebah roh menyerang acak.


Hingga akhirnya, dewa kesialan memilih untuk menceburkan diri ke kolam ikan. Para lebah roh dewa benci air. Mereka sempat berputar-putar di sekitar kolam sebelum akhirnya kembali ke sarangnya.


Dewa kesialan yang telah lolos dari bahaya lebah roh dewa pun menghela napas. Tubuhnya basah semua saat ini dan rasa sakit berdenyut di pantatnya akibat sengatan lebah semakin terasa.


"Benar-benar hari yang sial!" Dewa kesialan naik ke permukaan dan mendapati jika pakaiannya berlubang-lubang saat ini. "Kenapa lagi ini?!" teriaknya bingung.


Kepala pelayan menyeka keringat dingin di dahinya dan mengingatkan dewa kesialan. "Bukankah Dewa memeliharanya ikan pengerat sebelumnya?"


"Apakah itu ada di kolam ini?"


Kepala pelayan mengangguk cepat.


Tidak heran pakaian nya berlubang-lubang digigit mereka. Meski kawanan ikan pengerat berani mengigit dewa kesialan, tapi setidaknya hanya melubangi pakaian.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ketika Ming Zise kembali ke Istana Golden Lotus, aroma selai madu roh menguar. Teman-teman Xiu Jimei sedang sibuk dengan segala aktivitas yang disukainya.


Hanya saja suara rintihan Yan Yujie membuat Ming Zise mengerutkan kening. Saat memasuki ruangan, pria itu melihat Yan Yujie tengkurap di kursi malas.


"Ada apa dengannya?" tanya Ming Zise pada Xiu Jikai.


"Pantatnya disengat lebah madu roh."


"Apakah dia mengata-ngatai dewa kesialan?"


"Ya."


"..." Ming Zise akhirnya tahu kenapa dewa kesialan tersengat lebah beberapa saat yang lalu.

__ADS_1


Dia mengeluarkan sebuah salep berwarna putih susu dan memiliki hawa sejuk meski masih dalam wadah yang belum dibuka. Xiu Jikai terkejut. Ming Zise memberikan salep tersebut padanya.


"Setelah racun lebah dikeluarkan, oleskan ini. Bengkaknya akan hilang sebelum besok pagi," jelasnya.


"Terima kasih ... saudaraku," kata Xiu Jikai seraya menggertakkan gigi. Dia tidak lupa jika pria ini baru saja keluar dari kamar adiknya pagi tadi.


Ming Zise tersenyum dan pergi untuk menemukan Xiu Jimei.


"..." Xiu Jikai merasa jika Ming Zise semakin tidak tahu malu setelah mengeluarkan pengumuman tentang hubungannya dengan Xiu Jimei pada teman-temannya.


......................


Di halaman belakang. Xiu Jimei sedang mengisi toples kaca ukuran kecil dengan selai madu roh yang terlihat berwarna keemasan. Dia duduk di gazebo dengan semilir angin mengibarkan tirai kasa yang terpasang.


Dia tampak serius, tenang dan terampil. Saat Ming Zise memperhatikan, gadis itu sama sekali tidak menyadari keberadaannya.


Mengingat apa yang dia lakukan apa Xiu Jimei untuk pertama kalinya, telinga Ming Zise memerah. Bisakah Xiu Jichen marah setelah tahu putrinya melepas segel?


"Guru?" Xiu Jimei akhirnya menatap ke satu sisi dan melihat pria itu berdiri tak jauh dari gazebo.


Ming Zise tersenyum, menghampiri Xiu Jimei dan duduk di sampingnya. "Membuat selai?"


"Ya. Apakah Guru ingin mencobanya?" Gadis itu mencolek selai madu dan menunjukkan nya pada Ming Zise.


Tanpa diduga, Ming Zise menjilat jari telunjuknya yang dipenuhi oleh selai madu rasa apel yang sangat manis.


"Ini enak," komentarnya.


Xiu Jimei merasa ada sesuatu yang menyetrum tubuhnya ketika Ming Zise menjilat madu di jarinya hingga bersih. Wajahnya memerah. Dia seharusnya menggunakan sendok sejak awal.


Pria itu mengeluarkan beberapa mangga ranum yang sangat harum hingga Xiu Jimei berbinar saat melihatnya.


"Dari mana guru mendapatkannya?"


"Dari seorang teman yang sedang panen mangga di halaman rumahnya. Cobalah, ini enak dan bagus untuk tubuh. Mei'er kelelahan semalam," jelasnya agak ambigu di akhirat kalimat.


"Guru!" Xiu Jimei malu. "Bisakah Guru mengupasnya untukku?"


Sebelum Ming Zise menjawab, sosok pria berpakaian serba merah muda tiba-tiba saja muncul. Wajah cantiknya sedikit berlinang air mata dan rambut merah mudanya menjuntai ke pundak.


"Tuan pasti tidak menginginkanku lagi!"

__ADS_1


Seketika, wajah Ming Zise menggelap saat pengganggu lain muncul.


__ADS_2