
"Mereka ada di belakang. Sebentar lagi tiba." Xiu Jikai menjawab lalu menoleh untuk melihat seekor ular hijau raksasa yang memili baru spiritual di dahinya.
Ular hijau itu tidak terlalu bagus tapi juga tidak jelek. Sisiknya bersih dan warna hijaunya sama seperti daun tua. Ular itu menatap Xiu Jikai dan menyipitkan matanya. Ternyata pihak lain yang berhasil membuat membuat kepalanya pusing juga tak lebih dari seorang anak manusia.
"Manusia-manusia ini berani datang ke wilayahku! Apa yang kamu inginkan?!" Ular hijau raksasa kesal dan ingin melawan mereka lagi. Tapi kepalanya masih sedikit pusing saat ini.
"Aku datang untuk merampokmu. Apakah kamu penjaga wilayah ini?" tanya Xiu Jikai apa adanya.
"Humph! Merampok ku?" Ular hijau raksasa itu tertawa hingga ekornya yang entah ada di bagian mata sedikit mengibas. "Ya, memang. Aku penjaga wilayah ini dan aku merupakan salah satu raja ular di sini. Beraninya kamu bilang ingin merampokku? Mimpi di siang bolong! Tidak mungkin!" ejeknya.
Xiu Jikai sama sekali tidak marah. Dia hanya menatap ular itu seperti sedang menatap hewan biasa. "Apakah kamu satu-satunya penjaga wilayah hutan bagian dalam ini?"
"... Bukan," jawab ular hijau raksasa itu sedikit tidak berdaya. "Tentu saja bukan! Tapi aku juga kuat! Jangan remehkan aku!"
"Jika kamu kuat, kamu tidak akan menjadi penjaga wilayah perbatasan hutan bagian dalam terluar. Bukankah ini yang terlemah?"
Kata-kata itu langsung menusuk hati seekor ular hijau raksasa. Sakit tapi tidak ada luka. Fu Yanchi ingin mengacung dua jempol untuk sepupunya yang dingin dan tidak berperasaan itu. Yang lainnya juga diam-diam batuk disengaja.
Benar, ular hijau raksasa memang bukan yang terkuat. Dia hanya penjaga perbatasan hutan bagian dalam. Beberapa pemimpin hutan yang lebih kuat bersarang di sisi lain. Tidak tahu makhluk apa.
Ular hijau raksasa merasa tersinggung dan ingin menyerang Xiu Jikai. Dia menjulurkan lidahnya dua beberapa kali untuk menentukan aura, aroma serta tingkat kultivasi para manusia rendahan itu.
"Manusia, jangan remehkan aku! Kali ini, aku tidak akan bermain dengan kalian lagi!"
Xiu Jikai dan ular hijau raksasa berhadap-hadapan lagi. Keduanya siap bertarung. Xiu Jikai tidak perlu repot menggunakan pedang untuk melawannya. Cukup dengan tangan kosong, semuanya pasti beres.
Sayangnya, ular hijau raksasa belum tahu rasanya bertarung dengan Xiu Jikai. Sekelompok orang lagi datang, menambah kekesalan ular hijau raksasa itu. Begitu banyak orang yang datang. Apa yang diinginkan oleh mereka.
Hanya saja kali ini, kedatangan kelompok Xiu Jimei membuat ular guaju raksasa sedikkt tertegun. Xiu Jimei memiliki aura spiritual yang membuatnya sedikit takut. Sementara pria berjubah brokat putih tampan di sebelah Xiu Jimei membuatnya merinding.
Apa identitas mereka semua hingga membuatnya begitu gemetar kali ini.
__ADS_1
"Apakah ada sesuatu yang menyenangkan untuk ditonton?" Xiu Jimei melihat mereka menatapnya.
Fu Yanchi akhirnya pulih dari pikirannya. "Sepupu, kamu akhirnya di sini. Ular hijau jelek itu benar-benar ingin mencaplok kakakku!" Dia langsung mengadu.
Xiu Jimei juga melihat ular hijau raksasa itu. Ular hijau raksasa pada awalnya ingin bertarung dengan Xiu Jikai. Tapi ketika melihat sosok yang sama dengan laki-laki itu, dia akhirnya tahu bahwa keduanya kembar.
Keduanya sama-sama kuat namun Xiu Jimei memiliki aura yang harus diwaspadai. Ular hijau raksasa belum melakukan apapun, tapi tiba-tiba saja Xiu Jimei sudah ada di atas kepalanya.
Gadis itu mengetuk batu spiritual merah, mengejutkan ular hijau raksasa.
"Apa yang kamu lakukan?" Ular hijau raksasa itu khawatir. Lagi pula, sejak kapan gadis itu ada di atasnya tanpa disadari?
Xiu Jimei tidak peduli dengannya. Dia memastikan jika batu spiritual merah di kepala ular itu sangat terawat dengan baik
"Batu spiritualmu sangat bagus. Tapi ...."
"Tapi apa?" Ular hijau raksasa Memili firasat yang tidak menyenangkan.
Makhluk melata itu mendesis kesakitan. Tinju Xiu Jimei bukan hanya berdampak pada baru spiritual merah yang menjadi lambang kultivasi ular itu, tapi juga membuat kepalanya langsung menghantam tanah berumput.
Tidak ada yang berpikir jika Xiu Jimei akan meninju batu spiritual merah. Mereka mengira jika Xiu Jimei menginginkan baru spiritual merah sebagai koleksi.
Gadis itu kembali ke sisi Ming Zise, menatap ular hijau raksasa yang pingsan. Lidah ular itu menjulur ke samping. Akhirnya, suasana menjadi lebih tenang.
"Itu ... Xiao Mei, apa yang kamu lakukan sebenarnya?" tanya Wang Xuyue.
"Oh, aku malas berurusan dengan ular itu, mari kita lanjutkan perjalanan. Jangan peduli dia." Xiu Jimei memang enggan berurusan dengan ular itu. "Haruskah kita mengulitinya? Daging ular ini tampaknya sangat enak untuk dibuat sup."
"Tidak, tidak. Aku tidak suka daging ular ..." Fu Yanchi menggelengkan kepala. Kulit kepalanya mati rasa sekarang. Sepupunya selalu ingat dengan makanan sepanjang hari.
Mereka pun meninggalkan ular itu tanpa membuat masalah apapun. Sebelum pergi, Xiu Jimei sempat berkeliling sebentar untuk mencari sesuatu lalu kembali bergabung dengan mereka.
__ADS_1
Di perjalanan, Xiu Jimei memastikan jika Fu Yiyuan baik-baik saja.
"Pedangmu patah. Gunakan ini saja dulu," kata Xiu Jimei seraya mengeluarkan sebuah katana dari ruang spiritual bawaan.
Fu Yiyuan tidak pernah memegang pedang lain selain pedang roh. Kini dia memegang pedang biasa yang cukup berat dan terlihat tidak biasa. Meskipun mungkin bukan pedang terbaik, dia percaya bahwa katana yang diberikan sepupunya tidak biasa.
Pedang katana yang dipegang Fu Yiyuan merupakan pedang zaman modern yang ada di ruang spiritual bawaan. Mungkin ibunya yang mengoleksi benda itu. Tidak apa-apa jika diberikan pada sepupunya. Belum lagi, pedang itu terbuat dari bahan terbaik dari zaman modern. Sama sekali tidak ada di zaman ini sehingga bisa menyaingi pedang roh.
"Ketika digunakan, salurkan saja energi spiritual ke pedang itu untuk alternatif." Xiu Jimei mengingatkan.
"Baiklah, terima kasih sepupu."
"Sama-sama. Omong-omong, apa yang kalian lakukan di sini? Kami sendiri akan pergi ke hutan terdalam," kata Xiu Jimei.
Salah satu anggota kelompok Fu Yiyuan mengangguk. "Kami juga berniat ke sana. Tapi mungkin tempat itu terlalu berbahaya. Kami berencana untuk pergi secara sembunyi-sembunyi."
Mereka tidak terlalu kuat. Menghindari beberapa binatang roh mungkin cara terbaik untuk bisa tiba ke sana dan menemukan banyak tanaman herbal langka.
"Kalau begitu, ikut saja dengan kami," saran Xiu Jikai.
Fu Yiyuan segera menggelengkan kepala. "Ini akan merepotkan kalian. Mungkin kami akan menyeret kalian ke bawah nanti."
Xiu Jikai menepuk bahunya. "Jangan khawatir, adikku bisa menyelesaikan semuanya dengan mudah."
"..." Xiu Jimei yang dijual secara moral oleh kakaknya tidak bisa berkata-kata. Apakah dirinya adalah penghalau bencana atau tameng hidup?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, ular hijau raksasa yang sebelum dibuat pingsan oleh Xiu Jimei akhirnya siuman. Tanpa terasa hari ternyata sudah sore. Ular hijau raksasa waspada, melihat sekeliling tapi tidak menemukan siapapun.
"Apakah semua manusia itu sudah pergi?? Melarikan diri?!" Ular hijau raksasa berubah menjadi ular hijau kecil.
__ADS_1