
Roh Bunga datang menemui Xiu Jimei dengan wajah cemberut saat ini. Dia biasanya menemani gadis itu untuk melakukan sesuatu. Bahkan membantunya merawat si kembar dari lahir hingga sekarang.
Tapi fakta menamparnya dengan keras. Cepat atau lambat, Xiu Jimei akan dirampok pria berwajah putih kecil di depannya ini. Yang selalu mengingatkan Roh Bunga akan Whitely.
Xiu Jimei sedikit terkejut saat melihat Roh Bunga. "Kenapa kamu di sini? Tidak sibuk dengan ladang bunga mu?"
"Aku sudah selesai. Biarkan Pinky membantu Tuan mengupas kulit buah," jawabnya.
Ming Zise yang sudah berwajah gelap tiba-tiba saja menguarkan aura dewanya. "Tidak perlu! Mei'er masih bisa diurus olehku saat ini."
Roh Bunga sedikit menggigil dan tanpa sadar berkeringat dingin, menjauh sedikit. "Kamu menakutiku," ujarnya dengan suara mengeluh.
"Guru, tidak apa-apa. Biarkan dia mengupas buahnya." Xiu Jimei tidak tega.
Ming Zise sungguh tidak mau memberikan pekerjaan melayani Xiu Jimei ini diberikan padanya. Dia masih mencoba mencari alasan.
"Bukankah dia punya makhluk sejenisnya yang mengikuti raja racun kuno? Kenapa Mei'er tidak membiarkan dia berkunjung ke sana? Mungkin Poppy sangat merindukannya."
"Oh, yah ..." Xiu Jimei bahkan tidak ingat kapan terakhir kali Roh Bunga mengunjungi Poppy. Kaisar racun itu selalu disalahgunakan oleh Bai Shiyu sang raja racun kuno.
Roh Bunga memiliki firasat buruk saat ini. Jelas tidak mau pergi. Bai Shiyu bukan pria tua normal. Di saat melihat Poppy dan dijadikan objek untuk mencoba racun, dia pasti akan diseret juga untuk mencoba efeknya. Roh Bunga tidak mau menjadi pohon persik roh percobaan.
"Aku juga sudah lama tidak melihatnya. Besok aku kan mengunjungi Bai Shiyu. Pinky, kamu ikut denganku besok."
Roh Bunga tentu saja senang. Dia pikir hanya akan datang sendiri. Tapi ternyata anak majikan juga ikut.
"Tentu saja!"
__ADS_1
"..." Ming Zise yang menembak di kaki sendiri, mulai menyesali apa yang baru saja dikatakan. Bisakah dia menarik kata-katanya kembali?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan paginya, Xiu Jimei dan Roh Bunga pergi ke tempat di mana Bai Shiyu tinggal. Ming Zise tidak ikut karena ada beberapa hal yang harus dilakukannya.
Sesampainya di tempat Bai Shiyu, ada teriakan Poppy yang tidak bermoral. Lalu Xiu Jimei dan Roh Bunga melihat Poppy mengacungkan parang seraya mengejar Bai Shiyu dengan tatapan penuh dendam.
Sudah seratus tahun lamanya dia menjadi kelinci percobaan. Dia lelah dan ingin pensiun.
"Pak Tua! Aku pasti akan membunuhmu kali ini!" teriak Poppy.
Bai Shiyu yang sudah tua masih memiliki tenaga untuk berlari dan menghindari serangan Poppy. "Ini racun terakhir, aku berjanji."
"Janjimu palsu!" Poppy tidak peduli.
Pria berambut hijau dan berpakaian hijau itu akhirnya melihat keberadaan Xiu Jimei dan Roh Bunga yang sedang duduk sambil menyaksikan keduanya bertengkar.
"Hei, anak majikan, kenapa datang ke sini?" tanyanya antusias.
"Datanglah dan lihat kamu. Apakah kamu ingin membunuh Bai Shiyu?" Xiu Jimei menyipitkan mata.
Poppy yang masih memegang parang segera membuang benda tersebut dan tersenyum polos. Dia langsung mengelak. "Tentu saja tidak. Bagaimana mungkin," jawabnya.
"..." Bai Shiyu yang baru menghampiri mereka ingin menjelaskan sesuatu, tapi tidak jadi.
Xiu Jimei menghela napas. "Padahal jika kamu ingin mencoba membunuhnya, aku akan memberimu ide."
__ADS_1
"..." Bai Shiyu dan Poppy sama sekali tidak berpikir untuk saling membunuh. Keduanya sudah seperti anjing dan kucing di halaman.
Bai Shiyu akhirnya terbatuk kecil. "Apa yang kamu lakukan di sini? Bukankah kamu masih mengikuti ujian bakat spiritual gabungan?"
"Ada libur seminggu. Aku dan teman-temanku sedang menjalani masa istirahat. Setelah itu, kami akan pergi ke Dunia Hantu."
"Dunia Hantu? Kenapa ujian bakat spiritual gabungan kali ini sangat bervariasi? Apakah pihak lain mencoba menggali sesuatu?" Bai Shiyu memiliki kecurigaan.
Xiu Jimei menggelengkan kepala. "Ujian kali ini ditentukan oleh Istana Langit."
"Yah ... Ini juga merepotkan," gumam Bai Shiyu. "Karena kamu sudah di sini, ayo bantu aku menguji racun," ajaknya.
Ki ini Roh Bunga yang sedikit enggan. Tapi Xiu Jimei tidak keberatan. Dia mengikuti Bai Shiyu ke ruangan khusus untuk menguji segala jenis racun yang dibuatnya. Poppy juga mengikutinya.
Aroma racun yang kental benar-benar membuat Xiu Jimei mengerutkan kening dan tidak nyaman. "Untuk apa semua ini?"
"Buat saja dan jual. Pria tua ini butuh makan," jawab Bai Shiyu sekenanya.
"..." Apakah kamu miskin? Pikir Xiu Jimei.
Dia mengambil salah satu botol giok berisi racun korosif cair. Lalu ada juga beberapa botol racun lainnya.
Xiu Jimei berniat untuk meracik racunnya sendiri dengan mencampurkan beberapa racun yang ada. Bai Shiyu tidak menyadari pikiran gadis itu dan sibuk mencari racun yang ingin diuji oleh Xiu Jimei.
"Apakah kamu menyembunyikan racunnya?" tuduh Bai Shiyu pada Poppy.
"Tidak! Jangan bercanda. Aku tidak rakus!" Poppy tidak mengakuinya. Bahkan tidak tahu racun apa yang dimaksud Bai Shiyu.
__ADS_1
Ketika Bai Shiyu dan Poppy bertengkar kecil tentang racun yang dimaksud, Xiu Jimei sudah mencampur beberapa racun di dalam mangkuk tembaga.
"Hei, Pak Tua, lihat ini. Bagaimana menurutmu?" Xiu Jimei menunjukkan mangkuk tembaga berisi cairan hitam yang sangat pekat.