
Sudah sebulan sejak Ming Zise kembali ke Alam Para Dewa, kelompok Xiu Jimei serta yang lainnya menjalani ujian lanjutan. Wuming dan Yamla menjaga mereka di sepanjang jalan.
Hanya saja Xiu Jimei mulai bosan tanpa kehadiran Ming Zise. Tanpa sadar, sosok pria itu mengakar dalam pikirannya.
Setelah menyelesaikan misi sampingan Dunia Langit, Xiu Jimei pergi ke Istana Langit untuk memetik beberapa buah-buahan langka yang tidak ada di Dunia Langit.
Kali ini, Tuit Tuit sedikit senang dan tidak berada di ruang spiritual bawaan sepanjang waktu. Harimau putih roh kuno sengaja ditunda bersama Xiu Jikai untuk memastikan jika kelompoknya aman. Terutama Yan Yujie yang sensitif akan penculikan.
"Kenapa Xiao Mei datang ke Istana Langit tanpa menyapa pangeran ini?" Suara Zhishu yang enak didengar membuat Xiu Jimei tertegun.
Gadis itu sedang memanen buah apel roh langit yang terlihat menggoda. Saat melihat sosok pria serba putih di bawah pohon, dia mengenalinya sekilas.
"Pangeran Agung Zhishu?" Xiu Jimei segera turun dan menyapanya dengan sopan.
Zhishu tidak terlalu mempermasalahkan sopan santunnya dan mengajak Xiu Jimei mengunjungi istananya. Para pelayan mengikutinya sepanjang waktu dan memastikan keamanan tuan mereka.
"Pangeran, aku datang untuk mengambil beberapa buah langit di wilayahmu. Aku harap itu tidak dilarang," katanya.
"Tidak apa-apa. Selama kamu membayarnya dengan beberapa perak," goda Zhishu tersenyum licik.
"..." Xiu Jimei mengingat bukit uang di dalam cincin ruang penyimpanan kaisar iblis, rasanya enggan.
Zhishu melihat ekspresinya yang takut kehilangan uang, akhirnya terkekeh. "Pangeran ini hanya bercanda. Jangan serius. Xiao Mei bisa datang kapan saja untuk memanen buah langit." Dia menuangkan teh ke dalam dua cangkir. "Kedatangan Xiao Mei pasti bukan hanya untuk itu 'kan?"
__ADS_1
"Bagaimana Pangeran tahu?"
"Pangeran ini selalu memantaunya dari kolam langit. Semua kelompok ujian berada dalam pengawasan Pangeran ini."
"Apakah termasuk saat ras hantu berbuat ulah?" tebaknya.
"Tentu saja. Hanya saja Pangeran ini tidak bisa berbuat apa-apa dan semuanya merupakan pilihan kalian sendiri. Ujian tidak bisa diganggu." Lalu Zhishu sepertinya ingat jika Xiu Jimei suka sekali berdoa buruk untuk kesialan orang lain. "Lain kali, jangan bedoa terlalu kasar. Buatlah doa-doa yang baik."
Xiu Jimei curiga jika Zhishu juga terkena imbasnya. "Kalau begitu, semoga Pangeran segera memiliki jodoh dan memiliki anak."
"..." Pangeran ini hanya tertarik denganmu, bukan yang lain, batin Zhishu.
Sudut mulut Zhishu berkedut sedikit dan dia menyesap tehnya dengan tenang. Lalu para pelayan membawakan banyak makanan yang terlihat enak dan harum.
Dihadapkan dengan makanan, Xiu Jimei berbinar. Perutnya menjadi lapar saat ini. Dia langsung mengambil paha ayam goreng dan memakannya tanpa pandang bulu.
"Sebenarnya aku datang untuk mencari buah reinkarnasi. Apakah Istana Langit memilikinya?" Xiu Jimei segera mengutarakan maksud kedatangannya.
Benar saja, di hadapkan dengan makanan sebagai suap, gadis itu bicara terus terang.
"Kenapa mencari buah reinkarnasi? Apakah Xiao Mei ingin mencari seseorang?"
"Ini untuk Tuit Tuit," jawabnya. "Tuit Tuit merasa jika dirinya selalu bermimpi tentang Alam Para Dewa. Memimpikan seorang pria berjubah brokat merah burung phoenix. Dan mimpi itu selalu mengganggunya."
__ADS_1
Xiu Jimei tidak tahu jika seekor burung juga bisa bermimpi. Bahkan dia mengira itu hanyalah mimpi biasa. Tapi selama sebulan terakhir, Tuit Tuit tidak nyaman. Dia sering bermimpi tentang Alam Para Dewa dan merasa akrab dengan kehidupan di sana.
Tuit Tuit tidak narsis atau berharap dia hidup di Alam Para Dewa sebelumnya. Karena dia ingat jika dirinya adalah binatang roh suci ilahi kuno yang telah dilahirkan dari api ke sekian kalinya.
"Bermimpi hal yang sama terus menerus?" Zhishu menaikkan sebelah alisnya. "Ini biasanya menandakan beberapa peristiwa nyata sebelumnya. Entah itu memimpikan diri sendiri di kehidupan lampau atau menggambarkan peristiwa masa lalu sebagai pengamat," jelasnya.
Zhishu melihat burung kecil berbulu jingga kemerahan yang berada di atas meja. Burung itu memegang paha ayam dengan cakar kecilnya. Matanya menerawang dalam.
"Sebutkan ciri-ciri pria yang sering kamu lihat di mimpimu," katanya.
"Oh." Tuit Tuit meneguk air di mangkuk kecil lebih dulu dan mulai cerita. "Pria itu sangat tampan, dia berperawakan seperti Ming Zise, memakai jubah brokat merah bergambar burung Phoenix. Dia juga mengikat rambutnya dan menyelipkan sehelai bulu phoenix di kepalanya ...."
Semua ciri-ciri yang disebutkan Tuit Tuit sangat detail saking seringnya bermimpi hal yang sama. Mendengar ini semua, Zhishu terdiam untuk waktu yang cukup lama.
Sepertinya di sedang memikirkan seseorang yang memiliki ciri-ciri tersebut di Alam Para Dewa. Tapi dia sendiri lupa. Namun yang pasti, Zhishu menyadari jika burung phoenix kecil di depannya ini mungkin memiliki jiwa reinkarnasi salah satu dewa?
Tapi Tuit Tuit adalah burung betina ....
"Sepertinya aku harus bertanya pada seseorang tentang masalah ini," gumamnya.
Tanpa diduga, sosok Han Yuye muncul di luar gazebo istana dan tampak tidak senang saat melihat Zhishu.
"Pangeran Agung benar-benar pelit dan ingin makan berdua dengan bintang phoenix Ming Zise. Bagaimana aku bisa ketinggalan?"
__ADS_1
...****************...
NB: Ada yang bisa menebak arti mimpi Tuit Tuit?