
Xiu Jimei sudah terbiasa dengan rasa hormat orang lain yang ditunjukkan padanya. Roh Bunga menceritakan secara singkat pada Yuu dan Dewa Binatang tentang masalah tersebut. Tak heran jika pihak restoran harus menghormati Xiu Jimei seperti bertemu seorang pangeran atau putri kekaisaran.
"Kenapa kamu menjadi merak?" Xiu Jimei akhirnya memperhatikan jika Dewa Binatang sedikit tidak berdaya saat ini.
"Ini harus ditanyakan padamu," jawabnya.
"Aku?" Xiu Jimei bingung. "Bukankah aku hanya mengutukmu untuk tidak menjadi merak lagi?" Dia tidak terlalu ingat tentang ini.
"Benar. Tapi aku tidak tahu kenapa malah menjadi merak tanpa menjadi manusia," keluhnya.
"..." Jadi apakah ini salahnya?
"Sejak kapan kamu seperti ini?" tanyanya lagi.
"Saat aku bangun tidur beberapa hari lalu. Aku hanya bisa menjadi merak saat marah saja dan akan kembali ke wujud manusia saat suasana hatiku baik. Tapi waktu itu kamu sudah mencabut kata-kata mu tentang aku yang tak bisa lagi menjadi merak. Awalnya baik-baik saja tapi kemudian aku menjadi merak dan tidak lagi menjadi manusia. Apakah kutukanmu terbalik?" Dewa Binatang menatapnya curiga.
Xiu Jimei terlihat berpikir. "Entahlah. Aku akan mencoba mengingat nya lagi ...."
Sepertinya ada sesuatu yang dilewatkannya?
Lalu dia menggelengkan kepala. "Tidak ada yang salah seharusnya. Aku juga sudah lama tidak memikirkan mu lagi. Mungkin kamu memiliki masalah dengan keturunan leluhurmu?"
"..." Apakah kamu berpikir aku ini cacat sejak lahir? Dewa Binatang tidak menjawab.
Tidak peduli apa, dia hanya perlu menjadi manusia lagi.
“Tidak peduli apa, kamu harus membantuku lagi,” katanya.
“Bagaimana aku harus membantumu?”
“Mana aku tahu.”
Xiu Jimei mencibir. “Kamu adalah dewa tapi tidak tahu sama sekali.”
__ADS_1
“…” Aku hanya dewa di Alam Para Dewa, bukan dewa di alam semesta.
Tiba-tiba saja Xiu Jimei bergumam. “Kalau begitu lebih bagimu untuk menjadi dewa binatang seperti biasanya.”
Tak lama setelah itu, merak biru tua itu mengeluarkan cahaya putih samar dan tubuh manusianya kembali lagi tanpa diduga. Karena mereka tidak memesan kotak (bilik/ruangan yang disekat), para pelanggan yang ada di tempat yang sama pun langsung menoleh ke arahnya.
Mereka terkejut menyaksikan perubahan seekor merak biru menjadi pria tampan yang tiada duanya. Namun sebelum mereka bisa bereaksi lebih banyak, Dewa Binatang segera menjentikkan jarinya.
“Hentikan waktu!”
Seketika semua orang yang ada di sana langsung berhenti bergerak seperti patung. Serangga saja membeku di udara. Xiu Jimei melihat perubahan di restoran terlihat terkejut. Dia tidak menyangka jika kemampuan seperti itu ada di dunia ini.
Yuu juga lega. Sekarang hanya keempatnya saja yang masih bisa bergerak bebas.
“Dewa Binatang, apakah kemampuan ini bisa dipelajari olehku juga?” tanya Xiu Jimei.
“Tidak.” Dewa Binatang menggelengkan kepala. “Kemampuan ini di luar kemampuan para manusia kultivator seperti kalian dan termasuk kemampuan yang tidak bisa digunakan sembarangan.”
Dia tidak berbohong, kemampuan tersebut memang tidak mungkin dipelajari oleh manusia langit bahkan manusia alam sekuler sekalipun. Kali ini Dewa Binatang menggunakan kemampuan tersebut juga karena terpaksa.
Para manusia itu tak bisa mengetahui dirinya ada di sini sebagai wujud merak menjadi manusia. Belum lagi, Dewa Binatang datang hanya untuk menemukan Xiu Jimei, bukan untuk menyamar sebagai kultivator biasa. Tidak seperti Ming Zise yang menyamar. Atau seperti Han Yuye dan Xiu Jichen yang memiliki identitasnya sendiri di Dunia Langit.
“Sayang sekali.” Xiu Jimei tidak lagi antusias seperti sebelumnya. Dia masih melihat pemandangan di sekitarnya yang tampak seperti patung yang nyata.
Yuu juga sedikit terpesona. “Yah, memang sayang sekali jika tidak dipelajari. Tapi hukum para dewa tidak bisa dilanggar.”
Dewa Binatang menyentuh kerah jubah brokat satin biru tuanya yang terlihat licin dan menggoda. Dia tersenyum dan menatap Xiu Jimei dengan ekspresi agak centil.
“Bagaimana jika kamu membujuk Dewa ini, mungkin kamu bisa mempelajarinya hanya dengan sekali melihat?”
Tentu saja Dewa Binatang hanya bercanda. Dia hanya ingin menggodanya sedikit. Bahkan jika Xiu Jimei tergoda, dia masih memiliki alasan untuk menjelaskannya.
Roh Bunga yang ada di samping Xiu Jimei segera berwajah gelap. Dia akhirnya menatap Xiu Jimei. “Tuan, pria ini sepertinya cocok untuk melayani pelanggan di gedung merah.”
__ADS_1
“Siapa yang kamu bilang cocok?” Dewa Binatang mudah tersinggung dan tidak suka dengan kata-kata Roh Bunga. Kenapa dia tidak membekukan pria cantik ini juga sebelumnya?
“Tentu saja kamu.” Roh Bunga mencibir.
Siapa suruh menggoda anak majikan, apakah Dewa Binatang bosan hidup? Tidak bisakah pria itu membenarkan pakaiannya lebih dulu dan bicara? Jangan mengotori mata anak majikannya.
Namun Roh Bunga tidak berani bicara langsung. Dia masih tidak ingin membuat Xiu Jimei menyelesaikan masalahnya.
Namun sebelum Dewa Binatang memaki Roh Bunga seperti merak yang marah, sosok lain tiba-tiba saja muncul dan membuat keempatnya menolah. Xiu Jimei tersenyum saat melihat siapa yang datang. tapi Yuu tidak senang dan Roh Bunga tampaknya menunggu pertunjukkan yang bagus.
“Ming Ming!” Xiu Jimei menyapanya.
“Ya.” Ming Zise datang setelah menyelesaikan urusannya.
Roh Bunga memiliki kesempatan untuk mengadu. “Kamu akhirnya di sini. Lihatlah pria itu, berani menggoda anak majikan.” Dia melirik Dewa Binatang.
Saat Roh Bunga meliriknya, Dewa Binatang ingin muntah seteguk darah dan merasa dingin di punggungnya. Entah kenapa tubuhnya panas dingin seperti akan menghadapi sesuatu yang sulit diselesaikan. Dia masih tahu seperti apa karakter Ming Zise. Ditambah sedang jatuh cinta, Ming Zise mungkin akan lebih marah lagi.
Dia masih ingat dengan apa yang terjadi di istananya sendiri saat sengaja menggoda Xiu Jimei setelah berubah menjadi manusia. Ming Zise seperti akan membunuhnya kapan saja.
Dia sedikit tersedak saat ini. “Tidak, jangan fitnah. Aku baru saja berubah menjadi manusia dan kebetulan kamu datang.”
“Jelas kamu sengaja menggoda anak majikanku dengan iming-iming belajar penghenti waktu.” Roh Bunga tidak menyerah.
Dewa Binatang memelototi Roh Bunga dan ingin menelannya dalam satu kali gigitan. “Kamu jangan sembarangan bicara. Dasar pohon persik roh!”
Apakah rasa tanaman roh yang satu ini sangat tak tahu malu dan berani melawannya? Jika pihak lain adalah binatang roh, dia bisa memberinya pelajaran. Tapi sayangnya tanaman roh tidak ada hubungannya dengan dirinya. Dia harus mengadu pada Dewa Tanaman untuk masalah ini bukan?
Ming Zise menaikkan sebelah alisnya. “Belajar penghenti waktu?” Dia menatap Dewa Binatang cukup penuh makna tersembunyi.
“Tidak, ini kesalahpahaman. Aku hanya menggodanya.” Dewa Binatang mengelap keringat dingin di dahinya, buru-buru membenarkan pakaiannya.
“Sepertinya kamu suka menggoda banyak wanita sebelumnya.”
__ADS_1
“…” Tentu saja tidak, jangan pikirkan tentang menggoda merak betina, burung kolibri saja belum pernah aku goda, batinnya.