
Di Dunia Langit.
Ming Zise menempati janjinya ketika kembali ke Dunia Langit. Xiu Jimei yang sangat suka makan tanpa khawatir menambah berat badan, mulai menyiapkan semua kebutuhan memasak.
Wang Xuyue serta yang lainnya bekerja sama untuk membuat berbagai hidangan enak hari ini. Karena misi sampingan sudah diselesaikan, kelompok Xiu Jimei memiliki banyak waktu luang untuk beristirahat.
Kecuali Yan Yujie yang sesekali akan membaca buku usang tentang kultivasi kuno raja hantu. Xiu Jikai juga kadang pergi ke Dunia Bawah untuk mengurus sesuatu.
Tuit Tuit dan harimau putih roh kuno berada di halaman penginapan untuk bermain. Ada juga Cip Cip serta anak beruang putih roh kuno.
"Yujie, rebus dulu semua kepiting sebelum dimasak. Aku ingin membantu Xiao Mei membuat kepiting pedas asam manis," kata Wang Xuyue.
"Oh." Yan Yujie tidak menolak. Dia menutup buku yang sedang dibacanya dan pergi mengangkat ember penuh kepiting.
Batu saja berjalan beberapa langkah, semua kepiting di ember langsung memberontak dan melompat. Mereka menggunakan capitnya untuk menyerang Yan Yujie tanpa berperasaan.
"Ahhh!" Dia berteriak kesakitan saat dagunya dicspit kepiting. "Dasar kepiting yang berjalan menyamping! Beraninya menyerangku!" teriaknya kesal.
Yang lainnya segera melihat ke arah Yan Yujie yang kini dipenuhi oleh kepiting yang mencapai bajunya. Ironisnya lagi, kepiting yang mencapai daunnya menggelantung begitu saja, membuat Yan Yujie tambah kesakitan.
Yan Yujie tidak melepaskan ember yang sudah kosong saat ini dns terlihat kebingungan.
"..." Yang lainnya menghela napas diam-diam. Kesialan ini cukup tidak masuk akal.
"Kenapa kepiting-kepiting itu menyerangmu? Saat aku mengangkat ember, kepiting itu tampak sudhs mati," jelas Xiu Jimei heran.
__ADS_1
"Kesialanku bangkit lagi." Yan Yujie memutar bola matanya. Dia akhirnya meletakkan ember dns berusaha untuk melepaskan kepiting yang menggantung di dahinya.
Janggut kepiting, ini tidak lucu!
"Biar aku bantu." Xiu Jimei menghampiri kakak sepupunya dan berniat untuk mengambil semua kepiting yang mencapai pakaian Yan Yujie.
Tapi saat Xiu Jimei hendak mengambil tindakan, kepiting yang merasa terancam langsung menggunakan satu capitnya untuk menyerang Xiu Jimei.
Gadis itu mendengkus. "Humph! Tunggu dan lihat saja. Saat masuk ke panci dan direbus, tubuh jelekmu akan menjadi jingga yang menawan!" ejeknya.
"..." Kepiting roh itu pura-pura tidak mengerti.
Xiu Jimei terpaksa membuka panci berisi air panas dan mengambil salah satu dari mereka. Lalu buang ke dalam air mendidih sambil tertawa jahat.
Para kepiting roh yang mencapai pakaian Yan Yujie merasakan krisis dan mereka berusaha untuk melarikan diri. Tapi sayangan Xiu Jimei mampu menangkap mereka dan memasukkan semuanya ke panci.
Tiba-tiba saja Xiu Jimei tanpa sadar memikirkan Dewa Kesialan. "Aku jadi penasaran, seperti apa kira-kiranya jika Istana Dewa Kesialan dipenuhi kepiting berjalan?" gumamnya.
Di sisi lain, Ming Zise sedang membuat bumbu ayam bakat. Lalu diam-diam tersenyum. Sepertinya akan ada yang sial lagi di Alam Para Dewa.
Sementara itu, Yan Yujie akhirnya terbebas dari kepiting roh. Tuit Tuit serta beberapa binatang roh yang menonton langsung merinding.
"Sungguh, burung juga bisa direbus untuk dicabuti bulunya. Di masa depan, aku tidak akan membuat Tuan tidak bahagia," gumamnya.
"..." Cip Cip, harimau putih roh kuno dan anak beruang roh kuno terdiam. Leluhur burung, kamu adalah mantan Dewi Binatang, tidak bisakah menunjukkan sedikit rasa superioritas yang layak?
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Alam Para Dewa tampak tenang di permukaan. Tapi sebenarnya menyimpan badai di belakang. Dewa Kesialan tidak terlalu sibuk akhir-akhir ini dan dua bersantai di istananya.
Hanya berselang beberapa waktu, dia mendengar suara benda berjatuhan di atap disertai hujan yang cukup lebat.
Dewa Kesialan mengerutkan kening. "Apakah hari ini hujan kerikil?" gumamnya.
Dewa Kesialan menghampiri jendela dan melihat ada benda cukup besar berjatuhan. Tapi kurang jelas. Jadi dia pergi ke luar untuk melihat-lihat. Tapi siapa yang tahu, dia tiba-tiba saja dicapit oleh kepiting yang cukup gemuk.
"Hah? Kepiting?" gumamnya heran. Kenapa ada kepiting di halamannya.
Tak lama, hujan reda begitu saja dan dia melihat beberapa kepiting berkeliaran di halaman serta teras istana.
"..." Siapa yang bisa menjelaskan tentang hujan kepiting ini?
Kepala pelayan menghampiri Dewa Kesialan dengsn ekspresi kebingungan. "Dewa, apakah hujan kepiting ini pertanda sesuatu?" tanyanya.
"Siapa yang tahu? Aku juga bingung. Cepat cari tahu kenapa hujan kepiting menimpa istana Dewa ini," jawabnya kesal.
"Ya, ya ..." Kepala pelayan langsung sibuk lagi.
Dewa Kesialan melangkah ke halaman seraya menghindari beberapa kepiting yang berjalan menyamping. Dia menatap langit, awan cukup gelap hari ini. Beberapa kepiting bahkan terjebak di atap istananya.
Tanpa disangka-sangka atau diduga, kepiting berjatuhan dari langit. Dewa Kesialan tidak sempat berlindung dan beberapa kepiting yang menimpanya langsung mencabut rambut dan pakaian.
__ADS_1
"Sial! Sial! Apakah ini karma lagi atau kesialan yang lain?!!"