
Ming Zise tidak memedulikan ejekan Pangeran Agung Istana Langit dan matanya tertuju pada Xiu Jimei.
“Guru! Kamu kembali!” Xiu Jimei jelas senang saat pria itu datang. Dua tawaran Han Yuye dan Zhishu langsung dilemparkan ke pikirannya yang lain.
“Ya. Apakah Mei’er rindu Guru?” Ming Zise sengaja menggodanya. “Guru sangat merindukan Mei’er siang dan malam, berharap Mei’er tidur di samping Guru saat malam berbintang dan bulan bersinar terang.”
Han Yuye dan Zhishu langsung tersedak teh dan batuk tidak jelas. Pria sialan itu sungguh tak tahu malu, batin keduanya agak jijik.
Namun Xiu Jimei tidak merasa jika kata-kata Ming Zise aneh. “Guru, aku juga. Sepi rasanya tanpa Guru.”
“…” Han Yuye dan Zhishu bahkan lebih tidak senang. Gadis itu pasti terkena tipuan Ming Zise, batin mereka lagi.
Ming Zise menghampiri mereka dan duduk di samping Xiu Jimei. Dia bahkan mengambil kue teratai dan memakannya dengan anggun.
“Apa yang kalian bahas tadi? Domba di padang rumput Alam Para Dewa atau segala jenis hidangan enak Istana Langit?” tanyanya santai.
“…” Han Yuye dan Zhishu tidak mau menjawab. Keduanya memiliki firasat buruk. Sangat buruk!
Xiu Jimei mengklarifikasinya secara langsung. “Dewa Pencipta Dunia Langit berkata ada banyak domba di padang rumput Alam para Dewa. Aku bisa menangkapnya untuk dipelihara atau disimpan sebagai makanan. Sementara Pangeran Agung Zhishu berkata ada banyak makanan enak kesukaanku di Istana Langit ….”
Karena itulah dia bingung. Kedua-duanya, Xiu Jimei suka.
Ming Zise menatap Xiu Jimei yang sedang berpikir keras. Gadis itu pasti ingin keduanya. “Guru bisa mengabulkan keduanya.”
“Benarkah?” Xiu Jimei curiga.
“Tentu saja, kenapa tidak? Identitas Guru tidak biasa, ini bukan masalah besar,” jawabnya.
“Bagaimana caranya?”
__ADS_1
“Mari cari lokasi yang cocok untuk menangkap domba.”
“…?!” Han Yuye dan Zhishu bahkan lebih curiga.
Mereka pergi ke tempat yang cukup luas dan bersih. Tuit Tuit ada di bahu Xiu Jimei dan ingin tahu apa yang dilakukan Ming Zise. Dalam ingatan Tuit Tuit, Ming Zise ini sedikit akrab ….
Saat ini, Ming Zise menjentikkan jarinya dan seketika pemandangan di depan mereka berubah. Tempat yang awalnya hanyalah halaman biasa kini menjadi padang rumput yang luas. Zhishu melihat sekeliling, ini benar-benar padang rumput.
Bukankah mereka baru saja berteleportasi?
Tak lama setelah itu, mereka melihat sekawanan binatang roh dewa berbulu putih gemuk yang tak lain adalah domba roh dewa yang terlihat bersih dan sehat. Para domba roh dewa melihat ke arah mereka dan perlahan berlari kecil.
Sebagian domba-domba itu mengembik dan menghampiri Xiu Jimei. Tentu saja, Xiu Jimei merasa gemas dan menyentuh tubuh berbulu mereka. Dia ingin mencukur bulu-bulu mereka dan membuat beberapa bentuk yang lucu. Tapi dia juga masih enggan untuk mengupas bulu mereka.
Han Yuye terkejut dan kali ini dia tidak menunjukkan ekspresi tidak senang, melainkan keheranan.
Karena phoenix api adalah reinkarnasi dewa binatang, maka wajar jika para binatang ingin dekat dengannya. Namun jawaban Ming Zise mematahkan pikirannya lagi.
“Tidak, aku bahkan tidak menguarkan auraku sendiri saat ini. Sangat tidak mungkin bagi domba-domba itu untuk patuh. Ini semua … murni karena gadis itu sendiri.”
Esensi delapan dewa-dewi di tubuh Xiu Jimei terlihat menyelimuti tubuh, berwarna keemasan dan juga memiliki tujuh warna pelangi, terlihat indah dan damai. Jadi para domba roh dewa itu secara alami mengetahui siapa Xiu Jimei dan memujinya.
Han Yuye sendiri hampir lupa jika Ming Zise telah menyembunyikan energi spiritual dewanya saat turun dari Alam Para Dewa.
“Tapi apa hubungannya ini dengan burung kecil itu?” tanya Ming Zise.
“Oh, jika kamu tidak bertanya, aku akan lupa tentang ini,” jawabnya. “Tahukah kamu, burung phoenix kecil itu adalah reinkarnasi dewa binatang,” katanya.
“Reinkarnasi? Bagaimana kamu bisa menebaknya?”
__ADS_1
“Dari mimpi yang dia bicarakan. Dan aku juga telah mengonfirmasi dari riwayat hidup yang tercatat di buku Dewa Kehidupan. Tidak ada kesalahan.”
Ming Zise menyipitkan mata. “Dewa Binatang adalah wanita,” katanya.
“Memang.”
“Baguslah. Aku tidak perlu menyingkirkan burung kecil itu di masa depan. Setidaknya bukan burung jantan.” Ming Zise acuh tak acuh.
“…” Jika itu adalah burung jantan, kamu akan menendangnya? Batin Han Yuye dengan sudut mulut berkedut.
Tiba-tiba dia menyesal. Kenapa Tuit Tuit bukan jantan dan Dewa Binatang bukan pria?
Xiu Jimei yang sedang asyik bermain dengan domba tiba-tiba saja dipanggil oleh Ming Zise.
“Guru, apakah ada yang lainnya?” Dia menghampiri pria itu.
“Bukankah Mei’er juga ingin makan sesuatu?”
“Ya. Apakah Guru juga memilikinya?”
“Tentu saja,” jawab Ming Zise segera mengabaikan Han Yuye.
Saat ini, Zhishu sendiri sedang memberi makan domba dengan wortel.
“…” Han Yuye yang melihat ini langsung marah. Dasar pengkhianat! Kamu sendiri ternyata suka domba, batinnya.
Bukankah dia dan Zhishu sedang berusaha untuk mendapatkan perhatian Xiu Jimei? Lalu kenapa pria itu menyerah lebih awal dan malah menggoda domba?
Ia pikir domba adalah istrinya?!
__ADS_1