Menikahi Mantan Dewa Tertinggi

Menikahi Mantan Dewa Tertinggi
Apakah Ibuku Baik-baik Saja?


__ADS_3

Untungnya masalah ini berlalu dengan cepat. Xiu Jimei kembali ke rumah bawah tanah dan memeriksa kondisi siluman rubah putih yang sakit. Tongluo berubah menjadi sosok anak laki-laki berkepala rubah merah. Dia tidak berniat melarikan diri sama sekali.


"Bagaimana, apakah ibuku bisa disembuhkan?" tanyanya berdiri di samping rubah merah api. Tinggi keduanya hampir selaras.


Setelah Xiu Jimei memeriksa, dia tidak merasakan adanya penyakit mematikan. Tapi memang kesehatan tubuh siluman rubah putih telah terkikis sedikit demi sedikit selama bertahun-tahun lamanya. Mungkin karena telah melahirkan Tongluo sebelumnya, kondisi ini semakin memburuk.


"Sebenarnya ini bukan masalah besar bagiku tapi memang kondisinya agak parah sehingga tidak bisa sembuh dalam sekali perawatan. Ini akan memakan waktu hingga berbulan-bulan untuk pulih seperti sedia kala." Xiu Jimei menjelaskan.


Dewa Binatang mengerutkan kening. "Tidak bisakah sembuh dalam sekali perawatan?"


"Oh, sebenarnya bisa. Tapi ..." Xiu Jimei tersenyum misterius dan menatap Dewa Binatang. Senyumnya hilang dan digantikan dengan keseriusan. "Tapi itu sangat berisiko. Tubuh siluman rubah putih yang lemah tidak akan mampu mencerna obat yang kusiapkan."


"Biarkan Dewa Obat membantumu. Apakah itu bisa?"


"Terserah. Metode mana yang mau diambil, itu bukan urusanku jika ada kecelakaan di tengah perawatan," jawab Xiu Jimei agak kesal.


Rubah merah api dan Tongluo akan berdiskusi terlebih dahulu dengan siluman rubah putih. Lagi pula, dua metode tadi memiliki hasil yang berbeda. Metode pertama bisa dikatakan cepat dan sembuh dalam waktu singkat tapi juga berisiko. Keduanya hampir jika siluman rubah putih tidak tahan menerima energi spiritual yang berlebihan dan akhirnya meledak.


Metode kedua juga bagus, perawatan perlahan selama beberapa bulan. Tapi mungkin rubah merah api ragu jika Dewa Binatang dan Xiu Jimei tidak bisa menunggunya untuk mendapatkan informasi tentang Alam Neraka.


Pada akhirnya, ayah dan anak itu berdiskusi lagi dengan siluman rubah putih. Tentu saja siluman rubah putih tahu kekhawatiran mereka. Ia juga tidak ingin membebani keduanya. Belum lagi, ia juga tidak lemah di masa lalu.

__ADS_1


Siluman rubah putih akhirnya memilih metode pertama. Meski Tongluo masih khawatir, ibunya tetap meyakinkan jika cara pertama lebih baik.


"Apakah kamu yakin?" Xiu Jimei tidak main-main saat mengambil keputusan tersebut.


"Ya, aku yakin." Siluman rubah putih tidak ragu menjawab.


Xiu Jimei mengangguk. "Kalau begitu, mari kita mulai besok. Aku akan menyiapkan berapa hal lebih dulu."


Belum lagi Dewa Obat juga harus diberi tahu tentang masalah ini. Meninggalkan Istana Dewa Binatang, Xiu Jimei pergi ke Istana Dewa Obat. Jaraknya cukup jauh.


Ketika dia sampai di sana, Dewa Obat sedang menyirami semua tanaman herbalnya yang berharga dengan air mata spiritual. Dewa tua itu sesekali akan tertawa sendiri dan menyenandungkan lagu tidak jelas. Suasana hatinya sedang baik.


Kedatangan Xiu Jimei membuatnya terkejut. "Oh, gadis itu ada di sini. Apa yang kamu butuhkan? Apakah kamu lapar?"


"Hmm?" Dewa Obat menaikkan sebelah alisnya.


Lalu keduanya pergi ke halaman belakang dan duduk di gazebo sambil menikmati teh dan kue. Tirai gazebo berkibar ringan tertiup angin, membawa perasaan segar. Xiu Jimei telah menceritakan apa yang terjadi saat berada di Istana Dewa Binatang.


Dewa Obat juga menanggapinya dengan serius kali ini. "Aku memang dengar jika siluman rubah putih itu sakit. Tapi klan siluman rubah harusnya punya obat jika bangsa nya sakit. Kenapa membutuhkan bantuan dewa?"


Bukannya Dewa Obat tidak tahu tentang siluman Alam Para Dewa, tapi dia jarang memperhatikan. Semua binatang dan siluman binatang di Alam Para Dewa adalah tanggung jawab Dewa Binatang.

__ADS_1


"Memangnya ada berapa banyak bangsa siluman rubah putih ini?" tanya Xiu Jimei penasaran.


Dewa Obat menggelengkan kepala. "Tidak tahu juga. Ras siluman Alam Para Dewa jarang menunjukkan diri di depan umum."


"Lalu bagaimana kamu tahu jika mereka mungkin memiliki cara untuk menyembuhkan penyakit lama?" Xiu Jimei menyipit mata.


"Aku hanya menebak." Dewa Obat menghela napas tidak berdaya. Gadis itu terlalu serius menanggapinya.


"Tebakanmu tidak meyakinkan," gumamnya. Lalu kembali ke topik pembicaraan semula. “Aku juga tidak bertanya padanya tentang masalah klan siluman rubah putih. Tapi bukan itu masalahnya sekarang. Kamu mau membantuku atau tidak?”


“Tentu saja membantumu merupakan sebuah kehormatan bagiku.” Dewa Obat tertawa senang saat memikirkan sesuatu.


“…” Xiu Jimei curiga jika dewa tua itu akan pamer setelah ini.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keesokan harinya, Xiu Jimei dan Dewa Obat pergi ke Istana Dewa Binatang untuk menemui siluman rubah putih. Untuk proses penyembuhan memang memakan waktu yang cukup lama namun dengan bantuan Dewa Obat, semuanya bisa berjalan dengan lancar.


Hanya butuh tiga jam perawatan dari awal hingga akhir. Bahkan siluman rubah putih yang kondisi tubunya tidak baik sejak lama, terus bertahan demi keluarga kecilnya.


Walaupun berhasil, kondisi siluman rubah putih masih lemah dan mengambil wujud manusia untuk menghemat energi spiritual. Dalam wujud manusia, kemampuan yang biasanya dimiliki rubah anyak berkurang.

__ADS_1


"Bagaimana? Apakah ibuku baik-baik saja?" tanya Tongluo.


__ADS_2