Menikahi Mantan Dewa Tertinggi

Menikahi Mantan Dewa Tertinggi
Tumbuh Menggila (4)


__ADS_3

Akhirnya, anak beruang putih roh kuno dan Cip Cip diperintah mengambil air. Cip Cip membawa ember kayu di paruh tajamnya, sedangkan anak beruang putih roh kuno naik ke punggung ayam besar itu untuk menumpang.


Adapun Tuit Tuit, dia juga pergi untuk mengantar mereka ke sungai.


Di saat para binatang mengambil air sungai, kelompok Xiu Jimei tidak menganggur. Mereka mulai membalik tanah sawah secara perlahan untuk menghemat banyak waktu yang terbuang.


Di kelompok lain, beberapa insiden kecil terjadi. Entah itu dikejar kerbau atau jatuh tersungkur ke tanah sawah yang perlahan menjadi lumpur. Semua peserta ujian penuh lumpur.


Para pengawas ujian hanya menyaksikan dengan santai. Pemandangan murid sekte yang bermain lumpur itu langka. Hargailah pemandangannya selagi bisa.


Air mulai dituangkan seember demi seember dan tanah persawahan juga lebih basah. Kelompok Xiu Jimei membajak sawah dengan bantuan kerbau ataupun mencangkulnya.


Xiu Jimei tidak baik punggung kerbau saat membajak tapi membiarkan kerbau itu bekerja sendiri. Tentu saja kerbau pekerja spiritual tidak berani membantah dan mulai berlari bolak-balik untuk menghancurkan tanah lumpur yang sedikit keras.


Terkadang, kerbau itu tak sengaja menendang Yan Yujie hingga jatuh berkali-kali dan laki-laki itu penuh lumpur di seluruh tubuhnya.


Kali ini, Yan Yujie tidak tahan lagi dan menampar pantat kerbau dengan keras. Rambutnya berubah menjadi merah. Sifat raja hantunya pun keluar.


"Dasar kerbau bau!! Jangan berpikir aku tidak bisa melakukan sesuatu padamu!"


Kerbau pekerja spiritual yang ditampar pantatnya mau tidak mau melenguh kesal. Lalu berhadapan dengan Yan Yujie untuk bertarung. Dengan tanduknya yang besar dan kokoh, dia berharap bisa membuang keturunan ras hantu itu ke langit!


Yan Yujie tidak takut. Dia pun bertarung dengan kerbau itu di area persawahan yang sedang dibajak. Pertarungan keduanya bukan sekarang adu kekuatan dan fisik, tapi juga kecerdasan.


Sesekali Yan Yujie yang akan dikejar kerbau itu atau justru sebaliknya.


Xiu Jimei serta yang lain melihat sawah mulai dibajak dengan baik, akhirnya bisa beristirahat sebentar. Mereka menyaksikan Yan Yujie dan kerbau itu bertarung dengan indah di areal persawahan.


"Ahh! Dasar kerbau bau! Beraninya menampar dengan ekormu!" Yan Yujie menyentuh wajahnya yang panas akibat tamparan ekor kerbau.


Melenguh!! Kerbau itu sombong dan akhirnya menamparnya lagi.

__ADS_1


Namun kali ini Yan Yujie tidak mau dipukul untuk kedua kali jadi segera menghindar.


Pertarungan itu berlangsung cukup lama hingga kedua belah pihak kelelahan. Kerbau pekerja spiritual itu pergi untuk beristirahat di lain. Yan Yujie berjalan agak gemetar. Tubuhnya penuh lumpur.


Ketika melihat teman-temannya sudah duduk di pematang sawah, ia tanpa sadar melihat areal sawah yang telah dibalik dengan sempurna.


Yan Yujie memikirkan pertarungannya dengan kerbau itu. Mungkinkah dia bekerja sendirian?


"Apakah kalian sudah lama duduk diam?" tanyanya curiga.


"Kami duduk saat kamu bertarung. Lagi pula, kombinasi antara kamu dan kerbau itu sangat bagus. Kami tidak berani ikut campur," jawab Jia Lishan.


"..." Baik? Jadi haruskah aku berterima kasih? Batin Yan Yujie mengeluh dalam hatinya.


Yan Yujie meluruskan kakinya yang kesakitan dan rambutnya sudah lama berubah ke warna hitam. Bertarung dengan kerbau itu ternyata melelahkan.


Cip Cip dan anak beruang putih roh kuno juga kelelahannya. Bolak-balik membawa air sungai tentu saja membutuhkan banyak tenaga.


Wang Xuyue melihat langit, memperkirakan waktu. "Sudah hampir tengah hari. Harusnya sudah waktunya makan siang."


"Ya." Xiu Jimei mengangguk. "Kita mungkin harus memasak sendiri bukan?"


"Seperti begitu."


Melihat sawah yang sudah dibajak dengan baik, mereka memutuskan untuk membuat menu makan siang. Layaknya para petani pada umumnya, jika tidak pulang ke rumah untuk makan, mereka akan membawa bekal dari rumah. Tapi jika tidak keduanya, masak sesuatu seadanya di gubuk yang ada.


Kebetulan beberapa gubuk juga dibuat untuk beristirahat. Kelompok Xiu Jimei menempati gubuk terdekat. Tanpa diduga, kelompok Shin Yalong juga ada di sana.


"Sepupu!" Fu Yanchi melihat kelompok Xiu Jimei datang, tak bisa menahan senyum.


Xiu Jimei melambai padanya. "Kalian juga di sini."

__ADS_1


"Sebentar lagi waktu makan siang. Pengawas tidak menyediakan makanan untuk kita, jadi mari masak sendiri. Minum pil kenyang sangat tidak enak!" Fu Yanchi mendadak rindu masakan rumah.


"Di mana Yan Yujie?" tanya Fu Yiyuan yang ada di samping adiknya.


"Dia pergi ke sungai untuk membersihkan diri." Xiu Jimei melihat Yan Yujie dan kerbau yang hilang. "Kerbau itu mungkin juga mandi."


Tanpa diduga, Shin Yalong yang tidak banyak bicara akhirnya tertawa. "Meski bocah itu sering terkena sial, kerja kerasnya membajak sawah sangat bagus. Kenapa aku tidak tahu jika dia mudah tersinggung oleh seekor kerbau?"


Yang lain hanya geleng-geleng kepala. Lupakan saja. Yan Yujie terlahir penuh sial sejak kecil hingga rumahnya penuh jimat.


Xiu Jimei sudah mengeluarkan berbagai sayuran dan daging untuk diolah. Mereka tidak akan memasak sesuatu yang rumit. Cukup tumis kangkung saus tiram, panggang daging ayam kecap dan ikan sambal matah kemudian buat sup jamur kaldu ayam.


Tak lupa, mereka juga menanak nasi yang dicampur dengan sedikit garam.


Aroma masakan langsung tercium ke kelompok peserta ujian lain. Membuat mereka marah karena cemburu. Masakan sendiri tidak seenak kelompok sebelah, nafsu makan sedikit turun.


Tak lama, Yan Yujie kembali dengan kerbau pekerja spiritual yang telah dibersihkan. Laki-laki itu sudah lama berganti pakaian


Karena sawah kelompok Xiu Jimei selesai dibajak, mereka hanya perlu menabur benih lebih dulu untuk menumbuhkan bibit padi spiritual. Namun sebelum itu, mereka makan siang sambil istirahat.


Aroma ikan dan daging ayam panggang mulai tercium. Xuan Xing menyiapkan sambal matahnya. Dan Wang Xuyue dengan Jia Lishan menumis kangkung saus tiram.


Setelah semua menu makan siang selesai dimasak, mereka pun mulai makan dengan lahap. Seperti biasa, Xiu Jimei selalu menjadi orang dengan porsi makan terbanyak tanpa khawatir perut kembung.


Daging ayam yang lembut dengan bumbu kecap, menjadikan kulit luarnya renyah dan lebih gurih. Adapun daging ikan yang dimakan dengan sambal matah, pedasnya tak tertandingi.


Xiu Jimei mencoba untuk mencoba resep lain dari buku masakan zaman modern di masa depan. Masih banyak menu yang belum pernah dia coba. Sayangnya dia tidak bisa membuat ayam pengemis di sini karena keterbatasan bahan dan waktu.


Setelah makan siang, mereka melanjutkan pekerjaan yaitu menabur benih di sepetak tanah yang telah diolah khusus menumbuhkan bibit padi. Untuk menunggunya perlu waktu beberapa hari. Karena padi yang ditanam merupakan jenis padi spiritual, maka benih akan tumbuh dalam waktu seminggu.


Untuk menghemat waktu, Meng Zhanluo memberikan masing-masing kelompok peserta ujian sebuah ramuan penumbuh benih. Dengan begitu, tanaman akan tumbuh lebih cepat dalam tiga hari.

__ADS_1


Kali ini, Xiu Jikai yang mengurus semuanya dan meminta adiknya untuk tetap di samping. Jika gadis itu yang turun tangan, dia khawatir benih padi akan tumbuh menggila dalam semalam.


__ADS_2