
Dua penjaga gerbang Alam Para Dewa akhirnya melihat siapa yang datang. Keduanya bahkan lebih hormat lagi.
"Bawahan melihat Dewa Pencipta Dunia Langit," sapa keduanya.
Han Yuye mengangguk pada keduanya, sama sekali tidak mempermasalahkan hal tersebut. Tapi melihat Xiu Jimei memegang bola putih yang penuh aura spiritual, dia menghela napas.
"Tidak apa-apa. Kamu bisa masuk denganku," katanya.
Bola esensi delapan dewa-dewi di telapak tangan Xiu Jimei memudar dan akhirnya hilang. Dua penjaga gerbang mau tak mau hanya bisa lumpuh di tempat dan ingin membuka topeng untuk menyeka keringat di dahi.
Tadi itu sangat mengerikan.
Xiu Jimei sedikit bingung saat melihat Dewa Pencipta Dunia Langit. "Bukankah dikabarkan jika Dewa Pencipta Dunia Langit koma?"
"Rumor mana yang Xiao Mei dengarkan?"
"Orang-orang membicarakannya."
"..." Sebenarnya aku sudah bangun cukup lama hanya saja malas untuk menyapa dunia, batin Han Yuye.
Han Yuye membawa Xiu Jimei memasuki Alam Para Dewa dan menanyakannya kedatangannya ke sini. Ternyata mencari Ming Zise yang saat ini menjadi guru pendamping kelompok ujian dan menemani Xiu Jimei.
"Dia harusnya ada di istananya," ujar Han Yuye.
“Apakah Dewa itu melihatnya?” tanya gadis itu.
“Yah, aku melihatnya kemarin sedang berdebat dengan dewi kecantikan,” jawabnya.
Xiu Jimei mengerutkan kening dan berpikir keras. Ternyata benar, ini masalah Ning Siyu yang menahan guru di sini.
__ADS_1
“Bagaimana jika Xiao Mei berkunjung dulu ke istanaku? Masih belum terlambat untuk mencari Ming Zise,” ajak Han Yuye lebih lembut. Dia menatap Xiu Jimei dengan tatapan penuh kasih.
Jika gadis itu adalah bintang phoenix-nya, alangkah baiknya itu.
Xiu Jimei mengangguk. Dia memang ingin beristirahat dulu sambil mengenal Alam Para Dewa. Ternyata pemandangan di sini lebih bagus ketimbang Dunia Langit. Ada banyak binatang roh dewa yang lebih kuat hingga Tuit Tuit sedikit tidak berdaya.
Tapi Tuit Tuit tidak mau keluar dari ruang spiritual bawaan. Burung kecil itu akhirnya mengerti kenapa Ming Zise begitu meremehkannya. Binatang roh di Alam Para Dewa sangat kuat.
Istana Dewa Pencipta Dunia Langit sangat indah dan megah. Tapi tidak banyak pelayan. Berbagai jenis tanaman bunga serta pepohonan tumbuh subur.
Xiu Jimei merasakan aura luar biasa di udara dan mungkin inilah yang membuat para dewa bisa berkultivasi lebih jauh.
Ada pepatah yang mengatakan jika para manusia mengolah keabadian dan orang abadi mengolah dewa. Saat itulah para dewa dan penghuninya menjadi puncak tertinggi kultivasi di Alam Para Dewa.
Han Yuye meminta pelayan menyajikan beberapa camilan dan makanan lain untuk menjamu gadis itu.
"Ini bagus. Udaranya lebih jernih dari Dunia Langit," jawabnya.
"Memang. Tapi Dunia Langit juga tidak buruk saat ini. Setidaknya selama seratus tahun terakhir, kalian para manusia telah memiliki banyak kesadaran," jelas Han Yuye.
Pria itu jelas melihat jika tanda merah di pergelangan tangan kiri Xiu Jimei sudah hilang. Hatinya tenggelam untuk sementara waktu tapi tetap tenang di permukaan. Para dewa memiliki emosi yang stabil tapi harus menghilangkan semua keluhan dan perasaan emosional yang tidak perlu.
"Kamu dan dia sudah tidur bersama," ujarnya.
Xiu Jimei tertegun untuk sementara waktu dan memerah. "Yah ..." Dia tidak tahu harus berkata bagaimana.
"Apakah kamu baik-baik saja dengannya?"
"Tidak apa-apa. Dia baik."
__ADS_1
"Jika suatu hari nanti dia membuat masalah, datanglah padaku. Aku akan melindungi mu."
"Apakah Dewa itu suka padaku?"
"Siapa yang tidak suka anak dari wanita itu? Aku bahkan pernah ingin melamar mu tapi takdir berkata lain."
"Kenapa Dewa tidak menjadi ayahku saja?"
"Ming Zise bahkan lebih cocok jadi ayahmu."
"..." Apakah begitu? Batin Xiu Jimei.
"Cobalah makanan Alam Para Dewa. Ini tidak lebih buruk daripada makanan yang selalu dimakan Xiao Mei," kata Han Yuye seraya menyumpit beberapa jenis makanan ke mangkuk Xiu Jimei.
"Ini memang enak. Hanya saja aku sudah terbiasa dengan rempah-rempah zaman modern."
"Seandainya dunia ini menjadi lebih modern, alangkah lebih baiknya itu. Tapi dunia ini juga memiliki kehidupan nya tersendiri dan takdir tidak bisa diubah. Kita hanya bisa menjalani. Orang yang bisa datang dan pergi ke dunia masa depan hanyalah Wang Zheming."
"Ayah Yue Yue?"
"Ya. Dia dulu pernah membiarkan ibu dan ayahmu pergi ke dunia modern untuk mengucapkan salam perpisahan terakhir," jawabnya.
"Bisakah aku pergi juga?"
"Tidak bisa jika tidak ada keperluan."
Sayang sekali. Xiu Jimei sangat penasaran dengan dunia itu. Dia menenggelamkan dirinya dengan makanan yang tersaji. Tuit Tuit akhirnya berani keluar dan ingin makan beberapa potong daging.
Xiu Jimei tidak keberatan dan memberinya bagian. Hanya harimau putih roh kuno saja yang malas untuk meminta makan.
__ADS_1