Menikahi Mantan Dewa Tertinggi

Menikahi Mantan Dewa Tertinggi
Ajakan Minum Anggur


__ADS_3

Xiu Jimei menghitung beberapa uang yang menjadi bukit di ruang cincin spiritual kaisar iblis. Cincin yang diberikan oleh ibunya ini sungguh penuh harta.


"Xiao Mei ... Bagaimana jika kita mengumpulkan uang untuk membantu meringankan biaya ganti rugi?" saran Xuan Xing.


Xiu Jimei menggelengkan kepala. "Jangan khawatir tentang itu, aku sangat kaya. Kalian bisa hidup dan nyaman saat ini."


Sudut mulut ketiganya berkedut. Xiu Jimei akhirnya memutuskan untuk pergi ke tempat Ming Zise berada saat ini. Halaman tempat pria itu tinggal benar-benar sunyi dan hanya beberapa obor serta lentera yang menerangi sekitar halaman.


Namun meski begitu, Yamla dan Wuming berjaga di halaman untuk mencegah adanya musuh menyelinap.


Melihat kedatangan Xiu Jimei, salah satu dari keduanya melapor pada Ming Zise. Saat ini, Ming Zise sedang membaca sebuah gulungan surat yang cukup panjang tentang apa yang terjadi di Alam Para Dewa.


Tak lama, Xiu Jimei datang dan Yamla yang mengantarnya.


“Guru, cara apa yang bisa meringankan biaya ganti rugi penginapan?” Xiu Jimei langsung bertanya pada Intinya.


Ming Zise menggulung surat bambu kembali dan menatap Xiu Jimei yang baru saja datang. Dia jelas sedang berbaring menyamping di tempat tidur sambil menopang kepala dan membaca surat sebelumnya. Sosok sempurna dalam jubah brokat putih perak itu terlihat sangat menggoda.


Namun Xiu Jimei tidak mau menikmati keindahan itu saat ini.


“Guru …” Dia tidak sabar.


“Kenapa Mei’er begitu terburu-buru? Datang lah dan temani guru minum,” katanya.


Ming Zise bangun dan duduk di tepian tempat tidur. Meja kecil di samping tempat tidur telah tersedia kendi anggur Alam Para Dewa dan dua cangkir. dia menuangkan anggur ke dalam dua cangkir.

__ADS_1


Xiu Jimei menyipitkan mata dan curiga dengan ajakannya. Meringankan biaya ganti rugi penginapan dengan minum anggur bersama? Sepertinya tidak ada cara seperti itu. Sepertinya pria itu sedang curang.


Tapi Xiu Jimei masih dengan patuh duduk di sampingnya. Lagi pula keduanya sudah pernah berada di ranjang yang sama sehingga tidak akan canggung saat duduk di tempat tidur berdua.


Ming Zise menyerahkan secangkir anggur itu padanya. “Minum bersama Guru, dan biaya ganti rugi akan ditanggung oleh Guru nanti,” katanya.


“Hanya dengan minum anggur?” tanyanya curiga.


“Ya. apa lagi yang diinginkan Mei’er? Guru juga tidak keberatan untuk melakukan yang lain,” jawabnya.


“Tidak, tidak. Cukup dengan minum saja,” kata gadis itu.


Ming Zise tidak berkata lagi dan keduanya bersulang. Awalnya Xiu Jimei hanya ingin minum sedikit saja tapi dia tidak tahu jika anggur dari Alam Para Dewa sangat enak.


Tentu saja kualitas anggur dari Alam Para Dewa tidak bisa diragukan lagi rasanya. Hal-hal yang baik ada di sana.


"Oh, ternyata ini lezat. Ini lebih lezat dari anggur buatanku sendiri," katanya.


"Benarkah? Kalau begitu, minum lah lebih banyak." Ming Zise justru tidak minum lagi dan menyaksikan gadis itu minum sendiri.


Tapi Xiu Jimei ternyata tidak mabuk sama sekali. Lebih tepatnya, dia hanya mabuk sedikit. Ming Zise sedikit tidak senang pada awalnya tapi gadis itu tiba-tiba saja melemparkan dirinya sendiri ke tubuhnya.


"Guru, aku sudah minum anggur, bisakah Guru melunasi biaya ganti rugi penginapannya?" tanyanya sedikit manja.


"..." Kenapa gadis ini tidak mabuk sama sekali? Batinnya.

__ADS_1


Anggur dari Alam Para Dewa bukan hanya memabukkan tapi juga membuat seseorang bahagia. Awalnya Ming Zise memiliki ide gelap tentang Xiu Jimei malam ini. Dia ingin memiliki malam yang baik tanpa henti.


Tapi sayangnya Xiu Jimei tidak berperilaku sesuai keinginan. Ming Zise tidak ingin menunjukkan ekor rubahnya saat ini.


Meski Ming Zise adalah mantan dewa yang terhormat, tapi sengaja seorang pria, tubuhnya panas saat digosok oleh lawan jenis yang dicintainya. Lihatlah gadis itu sekarang, wajahnya sedikit memerah dan bau anggur di tubuhnya. Jantung Ming Zise sedikit berdetak kencang.


"Guru ..." Xiu Jimei mengerutkan kening. Apakah pria ini berbohong padanya demi minum dan tidur?


"Ya. Tentu saja. Guru akan membayar semuanya." Ming Zise menghela napas tidak berdaya.


Lupakan saja malam ini. Dia tidak perlu terburu-buru. Cepat atau lambat, gadis itu akan menjadi miliknya secara utuh dalam ikatan pernikahan.


"Mei'er, bagaimana jika kita menikah?" tanyanya.


"Hah? Menikah? Kita bahkan belum bertunangan," jawab gadis itu.


"Benar, mari bertunangan lebih dulu," katanya.


"Terserah Guru. Tapi ayah dan ibuku harus tahu ini."


"Jangan khawatir, Guru akan mengirim pesan pada kedua orang tuamu nanti." Ming Zise memegang tangan lembut Xiu Jimei dan mencubitnya sedikit. Benar-benar tangan yang mungil dan indah.


Tanpa diduga, gadis itu sebenarnya tertidur sambil memeluknya saat ini. Ming Zise tertawa rendah dengan nada sedikit jahat.


Dia menyentuh hidung gadis itu. "Sepertinya benar-benar mabuk," gumamnya.

__ADS_1


Ming Zise segera memindahkan gadis itu ke tempat tidurnya saat ini. Dan dia sendiri berbaring di sampingnya.


"Selamat malam," ucapnya seraya menarik selimut.


__ADS_2