
Sejak kepergian Ming Zise ke pintu tertutup, Xiu Jimei tidak semangat sama sekali. Dia jarang pergi untuk berpetualang, belajar di sekte atau bermain dengan yang lain.
Hari-harinya dihabiskan untuk menunggu Ming Zise kembali.
Tapi ... Ini sudah sepuluh tahun sejak pria itu pergi. Setiap kali menunggu, Xiu Jimei akan duduk di atas atap dan menatap langit berawan.
Tidak peduli dengan empat musim, Xiu Jimei selalu melakukan kebiasaan ini.
Xiu Jikai tampak sangat tidak berdaya saat melihatnya. "Mei'er, turunlah. Waktunya makan siang," panggilnya.
Xiu Jimei tidak berselera. "Makanlah sendiri. Aku tidak lapar."
"..." Sejak kapan adiknya yang sangat suka makan menjadi begitu hemat? Pikirnya.
Kepergian Ming Zise ke pintu tertutup memang tak terduga. Tapi tak ada yang bisa menghentikannya. Xiu Jimei sudah menganggap Ming Zise seperti suaminya sendiri.
"Turunlah dan makan sesuatu. Jangan sampai aku memberi tahu ibu dan ayah tentang kebiasaanmu ini. Jika keduanya tahu kamu tidak mau makan hanya karena menunggu seseorang, bukankah ayah akan segera memutuskan pertunangan?"
Apa yang dikatakan Xiu Jikai tidak berlebih-lebihan. Dia memang tahu sifat ayahnya yang menjadi budak putri dan budak istri saat di rumah.
Jika bukan kemiripannya dengan Xiu Jimei sejak awal, dia khawatir dirinya hanyalah anak pungut.
Xiu Jimei enggan untuk turun. Di sisi lain dia juga tidak mau membuat orang tuanya khawatir tentang masalah ini. Dia bukan anak kecil lagi.
Akhirnya dia turun dan makan siang bersama kakaknya. Tanpa diduga, Wang Xuyue serta teman-temannya yang lain ada di rumahnya juga.
Gadis itu terkejut. "Sejak kapan kalian ada di sini?" tanyanya heran.
Yan Yujie meminum secangkir teh dan tertawa senang. "Kami sudah di sini sejak kamu berada di atap. Apakah kamu merindukan Ming Zise itu?" tanyanya tak sopan sebagai kakak sepupunya.
"Ya. Sudah lama sekali. Dia masih belum kembali. Aku berencana untuk melihat ke lokasi pintu tertutup itu berada."
__ADS_1
"Bukankah itu sangat jauh?"
"Tidak masalah. Setidaknya aku akan tahu apa yang terjadi. Dewa Pencipta Dunia Langit berkata jika pintu tertutup akan terbuka dengan sendirinya nanti. Namun itu berlaku jika dewa-dewi yang ada di dalamnya sudah menyelesaikan kultivasi."
"Ini berbeda dengan pintu tertutup yang ada di Dunia Langit. Sepertinya pintu tertutup para dewa lebih mengerikan lagi. Bagaimana jika mereka tak bisa menyelesaikan kultivasi dalam waktu dekat? Anak dan istri bisa tua lebih awal, bukan?" Kin Wenqian sedikit bercanda.
Xiu Jikai mengoreksi kata-katanya. "Para dewa dan dewi jarang menikah."
"Yah, aku lupa tentang ini. Mereka terlalu sibuk." Kin Wenqian menatap Xiu Jimei, sedikit kasihan.
Jika suatu hari mereka menikah, bukankah akan sering terpisah? Apakah Dewa Takdir begitu kejam? Pikir mereka.
Saat ini di Alam Para Dewa, Dewa Takdir harusnya bersin beberapa kali.
"Xiaomei, kami akan menginap di sini selama beberapa hari," kata Jia Lishan.
"Tidakkah sekte kalian belajar normal?"
"..." Aku ingat jika kamu memiliki nilai pengendalian energi spiritual paling buruk di sana, batin Xiu Jimei.
Si kembar tidak mempermasalahkan hal tersebut. Semakin banyak orang, mungkin adiknya akan terhibur. Begitulah pikir Xiu Jikai.
Setelah makan siang, Xiu Jimei memutuskan untuk tidur siang lebih dulu. Dia merasa lelah akhir-akhir ini karena memandang langit terlalu lama.
Roh Bunga bahkan memberikan secangkir teh penenang pikiran untuknya agar tidur siang lebih nyenyak.
Di halaman belakang ketika Roh Bunga kembali, Yidao sedang memotong bunga mawar.
"Apakah dia tidur?" tanya Yidao datar.
Yidao sudah bertahun-tahun tinggal di Dunia Langit, akrab dengan semua orang di Istana Golden Lotus. Meski beberapa pelayan masih agak takut ketika melihatnya, sisanya baik-baik saja.
__ADS_1
Bahkan karena seringnya bergaul, dia sudah lupa bagaimana caranya menjadi orang jahat.
"Yah, tidurlah. Sudah sepuluh tahun sejak pria itu pergi, dia jarang sekali beristirahat." Roh Bunga merasa kasihan dengan anak majikannya. "Ngomong-ngomong, apakah kamu tidak berniat menyerang Dunia Langit? Ming Zise sedang tidak ada di sini, bukankah kesempatan bagus untuk mengacau dan membantu ratu tercintamu, Ning Siyu?" ejeknya.
Yidao memotong tangkai bunga mawar dengan kemarahan. "Sudah kukatakan jika aku di sini untuk bersembunyi, bukan menjadi mata-mata. Lagi pula ... Aku belum berhasil mendapatkan hati Yamla."
Yamla sangat sulit sekali untuk dirayu. Yidao tidak menyerah. Dia pasti bisa mendapatkannya di masa depan. Ini baru sepuluh tahun. Tidak apa-apa jika
"Kalian para ular ternyata bisa jatuh cinta."
"Kenapa tidak? Kami juga makhluk hidup."
"Bukankah siluman adalah makhluk jadi-jadian?"
Yidao kesal oleh perkataan Roh Bunga. "Lalu bagaimana denganmu? Tumbuhan jadi-jadian?"
"..." Roh Bunga diam karena pertanyaan itu. Bukankah ini sangat menohok hatinya?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Xiu Jimei tertidur lelap saat ini. Tapi tak ada yang tahu jika dirinya masuk ke dalam mimpi lagi. Kali ini mimpinya berbeda dari sebelumnya.
Jika mimpi sebelumnya ia bermimpi buruk tentang pertanda masa depan. Kali ini mimpinya lebih menyenangkan.
Ia melihat sebuah istana megah berdiri. Lalu dirinya dan Ming Zise berpakaian layaknya kaisar dan ratu. Semua rakyatnya bersorak saat anaknya lahir dan lain sebagainya.
Semua potongan fragmen yang tidak lengkap itu berputar berulang kali di mimpinya. Xiu Jimei akhirnya terbangun oleh mimpi itu. Mau tidak mau dia mengerutkan kening lagi.
"Kenapa semua mimpi begitu aneh? Apa tujuan memberitahuku tentang ini?" gumamnya.
Xiu Jimei tidur hanya kurang dari dua jam. Dia linglung di tempat tidur hingga tak bisa tidur lagi.
__ADS_1
Mimpi ini seperti memberi sebuah petunjuk tentang masa depan.