
Semenjak Xiu Jikai pergi ke dapur untuk memasak jenis makanan apapun, Bai Huazhi akan memiliki alasan untuk menyelinap pergi. Sejak saat itu, dia tidak pernah mencicipi makanannya lagi.
Sekarang ... Haruskah dia mencobanya lagi? Mungkin teknik memasaknya sudah membaik sekarang. Usianya tidak lagi terlalu muda.
"Baiklah kalau begitu. Aku akan menunggu. Omong-omong, apa yang akan kamu lakukan dengan bunga-bunga itu?"
"Buatlah teh."
"Tidakkah kamu lihat Pinky sangat terluka?" tanyanya curiga.
Xiu Jimei acuh tak acuh. "Oh, bagaimana pun juga, taman bunga itu tumbuh di istanaku."
"..." Haish, ini sungguh menyatakan kepemilikan tanah, batin Bai Huazhi.
......................
Pada malam harinya, Roh Bunga, Xiu Jimei, Xiu Jikai dan Bai Huazhi berkumpul di meja makan. Kali ini Roh Bunga duduk di meja yang sama dengan anak majikannya. Dia juga ingin makan sesuatunya.
Biasanya, Roh Bunga akan memasak untuk si kembar dan menikmati waktunya sebagai ayah dan ibu pengganti. Tapi kali ini Xiu Jikai turun tangan sendiri ke dapur, Roh Bunga sedikit khawatir.
Namun tampaknya Xiu Jikai tidak terpengaruh oleh mereka sama sekali. "Ada apa. Apakah meragukan keahlianku?"
"Tidak, tidak ... Hanya saja aku masih ingat saat pertama kali mencicipi masakanmu waktu itu." Bai Huazhi menjawsb jujur.
Xiu Jikai terlihat tidak mengingat kejadian itu sama sekali. Dia sudah mengambil nasi dan lauk pauk yang dibuatnya.
Xiu Jimei sendiri tidak ragu. Dia makan udang kukus dengan saus pedas asam manis kesukaannya. Lalu tumis kangkung dan acar mentimun. Ada juga sup ikan dan bakpao kecil isi daging.
Semuanya enak.
"..." Bai Huazhi yang melihatnya juga mulai menelan saliva. Tampaknya sangat enak.
Roh Bunga makan dengan tenang tanpa protes. Mau tidak mau, Bai Huazhi memberanikan diri untuk makan sup ikan lebih dulu.
Saat kuah sup masuk ke mulut, Bai Huazhi tersedak. Dia langsung mengambil air minum dan membelalakkan mata.
__ADS_1
"Tidak mungkin! Sangat enak?" Bai Huazhi terkejut untuk sementara waktu. Dia lalu mencicipinya lagi. Enak!
Bukan hanya rasa gurih dan hangat di tenggorokan karena ditambah merica, tapi rasa pedas dan asamnya pas. Lalu Bai Huazhi mencoba hidangan lainnya. Semuanya enak, enak, enak!
"Nak, keahlianmu sudah meningkat rupanya." Bai Huazhi memujinya.
"Keahlianku sudah meningkat sejak puluhan tahun lalu," celetuk Xiu Jikai.
Bai Huazhi ingin tersedak sup. Hatinya penuh penyesalan. Ternyata selama ini dia telah melewatkan banyak kesempatan untuk makan enak.
"Kakek, apakah ujian bakat spiritual gabungan dihentikan karena perintah Zhishu?" tanya Xiu Jimei.
Bai Huazhi mengembuskan napas panjang. "Benar. Dia mengetahui jika saat ini gerbang Alam Neraka telah mencapai Dunia langit. Memungkinkan besar Dewa Pencipta Dunia Langit akan sibuk di dunia ini," jelasnya.
"Han Yuye akan turun ke Dunia Langit?"
"Ya. Kemungkinan besar seperti itu." Bai Huazhi juga tidak tahu. "Kenapa kamu tidak tanya tuan Ming untuk masalah ini?"
Xiu Jimei cemberut. "Aku tidak memikirkan ini sebelumnya, jadi tidak tahu."
Xiu Jikai sedikit tersinggung saat pembicaraan menyangkut Ming Zise. "Kamu jangan terlalu liar saat bersamanya. Bagaimana jika kamu hamil duluan sebelum menikah?"
Dia yakin Ming Zise pasti terobsesi dengan tubuh adiknya yang penuh energi spiritual murni. Bagaimana jika sengaja menabur benih lebih dulu?
Xiu Jimei tampak polos. "Kakak, kamu sangat tahu tentang hal ini. Apakah kamu dan Yue Yue sudah bersama?"
Tanpa diduga, ada duri ikan yang tersangkut di tenggorokannya. "Tidak, jangan bicara omong kosong!" elaknya. Tapi diam-diam daun telinganya sedikit memerah.
Apakah mungkin dia terpesona oleh rubah merah itu?
Ketika mereka makan malam, kepulangan Xiu Jichen dan Fu Chan Yin tidak terduga bagi mereka. Si kembar terkejut saat mengetahui jika orangtuanya kembali saat ini. Setelah menyelesaikan makan malam, keduanya pergi ke aula istana untuk bertemu mereka.
Di depan, Xiu Jichen merangkul Fu Chan Yin. Ekspresi wajahnya sedikit kaku dan tidak menyenangkan. Tapi Fu Chan Yin justru sebaliknya.
"Ayah, Bu, kalian kembali." Xiu Jimei menyapa. Xiu Jikai mengikutinya di belakang.
__ADS_1
Fu Chan Yin tersenyum lebih lebar lagi saat melihat putrinya. "Yah, kami kembali setelah menerima surat dari Ming Zise."
Xiu Jimei bingung. "Kupikir kalian pulang karena masalah gerbang Alam Neraka baru-baru ini," katanya.
"Yah, ini juga salah satunya." Fu Chan Yin sengaja tidak sengaja melirik Xiu Jichen yang mendengkus di sampingnya. "Ayahmu juga akan sibuk nanti," imbuhnya.
Akhirnya si kembar menyadari jika suasana hati ayahnya tidak benar.
Tentu saja Xiu Jichen yang sombong sebagai mantan Dewa Iblis di masa lalu tidak akan menceritakan apa yang terjadi. Hanya setelah menerima surat dari Ming Zise tentang pertunangan, dia marah.
Putrinya masih berusia seratus tahun. Dia sebagian seorang ayah jarang tinggal di rumah. Kali ini akan dirampok oleh pria lain?
Ming Zise sama sombongnya dan berperut hitam seperti dirinya. Meski keduanya tidak pernah duduk akur di masa lalu, hubungan keduanya juga tidak buruk.
"Ada apa dengan Ayah?" tanya Xiu Jikai.
Xiu Jichen menahan emosinya agar tidak bocor terlalu banyak. "Tidak apa-apa. Ayah hanya memikirkan pertunangan adikmu yang akan dilakukan dalam waktu dekat," jawabnya datar.
Tapi Xiu Jimei terkejut saat ini hingga membelalakkan mata. "Tunangan? Aku akan bertunangan? Sejak kapan? Kenapa aku tidak tahu?!"
"Ming Zise mengirim surat pada kami bahwa dia akan bertunangan denganmu setelah ujian bakat spiritual gabungan berakhir. Dia bilang kamu yang mengajukannya." Xiu Jichen sedikit tidak senang.
"..." Kenapa aku sama sekali tidak ingat?
Namun Xiu Jimei memerah. Jika itu benar maka tentu saja dia tidak akan menolak.
Karena Xiu Jichen dan Fu Chan Yin kembali, si kembar juga mulai mengobrol banyak hal. Bai Huazhi bergabung dengan mereka dalam kegembiraan. Ada banyak hal yang harus dibahas, termasuk tentang gerbang Alam Neraka.
Roh Bunga sudah pergi untuk melakukan pekerjaannya sendiri.
"Ketika aku masih menjadi Dewa Iblis di masa lalu, Alam Neraka tidak seimpulsif sekarang. Pertempuran di masa itu memang cukup menegangkan," jelas Xiu Jichen seraya memegangi secangkir teh. "Kali ini gerbang Alam Neraka muncul di beberapa titik. Tentu saja pasti ada kaitannya dengan Ratu Alam Neraka."
"Ning Siyu adalah Dewi Kecantikan. Tapi apakah Ayah tahu itu?" Xiu Jimei mengangkat topik.
"Yah, Ayah tentu saja tahu. Ada apa?"
__ADS_1
"Ning Siyu ternyata adalah mata-mata Alam Neraka. Aku berhasil mengekspos nya dan dia melarikan diri entah ke mana. Aku belum sempat melihat wajah aslinya saat itu. Bahkan dewa lain tidak tahu ke mana Ning Siyu pergi," tuturnya.
"Dia mata-mata Alam Neraka?" Xiu Jichen tentunya tidak mengharapkan hal ini. Wajahnya tiba-tiba saja menjadi gelap.