
Setibanya di Istana Minglan, hari sudah sore. Xiu Jimei pergi berendam mata air panas yang ada danau buatan tak jauh dari istana. Dia melepaskan semua rasa penatnya di sana.
Mungkin karena rasa nyaman, dia tertidur. Semua pelayan ada di luar ruangan dan tidak berani untuk mendekati lokasi kolam air panas. Namun melihat sang putri belum juga keluar setelah waktu yang cukup lama, para pelayan juga khawatir.
Salah satu dari mereka pun mencoba untuk mengeceknya setelah memanggil Xiu Jimei berulang kali. Namun tidak ada jawaban. Saat mereka melihat Xiu Jimi tertidur di tepian kolam air panas, pelayan pun lega.
"Cepat panggil tuan sekarang. Sang Putri tertidur," kata pelayan pada rekannya yang lain.
Mereka segera pergi ke tempat di mana Ming Zise berada saat ini.
......................
Di ruang belajar, Ming Zise membuka beberapa surat gulungan yang dikirim oleh Yuu dari Istana Dewa Pencipta Alam Para Dewa. Semuanya berkaitan dengan keberadaan Ning Siyu serta keterlibatan Dewa Bencana dari waktu ke waktu.
Sepertinya terpecah nya persaudaraan antara para dewa serta pertarungan dengan Alam Neraka tidak akan jauh lagi.
Tak lama, pintu ruang belajar diketuk dari luar. Pelayan di luar melaporkan apa yang terjadi pada Xiu Jimei.
Ming Zise menunda pekerjaannya lebih dulu dan pergi ke kolam pemandian air panas. Xiu Jimei tertidur di sana dan tampaknya sangat nyaman.
Uap air panas mengepul. Ming Zise merasa jika perawakan Xiu Jimei sedikit berkembang setelah melewati masa dewasa. Belum lagi tanduk naga kecil di dahinya terlihat lucu.
Ming Zise turun ke kolam dan membawa gadis itu dari sana. Xiu Jimei sedikit terbangun karena seseorang mengganggu tidurnya. Tapi dia malas untuk bangun.
"Ming Ming?" gumamnya menebak.
"Tidak apa-apa. Aku akan membawamu kembali ke kamar," kata pria itu.
Gaun tidur seketika membungkus tubuh telanjang Xiu Jimei. Ming Zise membawanya kembali ke kamar. Tapi semakin lama, wajah Xiu Jimei sedikit memerah dan tubuhnya terlihat tidak nyaman.
"Apakah Mei'er sakit?" tanyanya lembut. Dia memeriksa suhu tubuh gadis itu. Agak panas tapi bukan karena demam atau semacamnya.
Ming Zise tidak tahu apa yang menimpa gadis itu kali ini.
__ADS_1
Xiu Jimei merasa tangan dingin menyentuh dahinya, sangat nyaman. Ketika dia terbangun, sosok Ming Zise yang tampan sedang mengkhawatirkannya.
"Ming Ming," gumamnya.
"Ada apa? Apakah ada ketidaknyamanan tubuh?" Ming Zise memeriksa denyut nadinya juga, tidak ada yang salah dengan tubuh Xiu Jimei.
"Ming Ming, aku tidak nyaman." Xiu Jimei tiba-tiba merangkul Ming Zise dan menariknya ke tempat tidur.
Ming Zise tidak menolak dan bekerja sama dengan apa yang dilakukannya. Helaian rambut putih keperakan pria itu jatuh ke tubuh Xiu Jimei. Aroma alam yang segar menusuk indera penciuman Xiu Jimei.
Keduanya saling menatap dari jarak yang sangat dekat. Ming Zise tersenyum dan mengecup bibir lembut gadis itu. Tapi Xiu Jimei justru menciumnya.
Sangat jarang bagi Xiu Jimei untuk mengambil inisiatif padanya. Ming Zise tidak keberatan.
"Ming Ming, tubuhku panas," bisik Xiu Jimei. Entah sadar atau tidak, dia bangun dan menyeret pria itu ke tempat tidur.
Napas Ming Zise sedikit berat. Dia melihat tindakan Xiu Jimei yang mengundangnya untuk bertindak sebagai seorang hooligan.
"Mei'er," ujar Ming Zise.
Tindakan Xiu Jimei yang gelisah membuat Ming Zise menegang. Sebagai pria normal, garis pertahanannya akan pecah kapan saja. Dia bisa menebak jika Xiu Jimei terkena afrodisiak saat ini. Tapi sejak kapan?
Ketika Xiu Jimei menjilat lehernya, Ming Zise yang menegang akhirnya berwajah merah karena malu. Dia memegang pinggang gadis itu dan meremasnya sedikit.
"Mei'er, apakah kamu mengundangku untuk tidur sekarang?" tanyanya.
"Kenapa tidak? Mungkinkah Ming Ming tidak suka? Tapi aku ingin di atas malam ini. Ming Ming tidak bisa menolak!" Xiu Jimei tiba-tiba saja menjadi agresif dan mendorong pria itu hingga berbaring terlentang.
Ming Zise tidak berdaya dengan apa yang dilakukannya. Gadis itu sengaja menggodanya hingga tubuh bawahnya menegang sungguhan kali ini. Dia yakin gadis itu juga merasakannya.
"Ming Ming, aku ingin di atas kali ini," goda Xiu Jimei yang duduk di atas tubuh pria itu.
Akhirnya Ming Zise tersenyum penuh godaan. "Oh, kalau begitu lihat saja. Apakah Mei'er akan mampu atau tidak," tantangnya.
__ADS_1
Xiu Jimei tidak senang dengan provokasi nya. Tubuhnya benar-benar tidak nyaman saat ini. Dia sendiri menyadari ada yang salah dengan tubuhnya. Tapi mau bagaimana lagi. Xiu Jimei hanya bisa mengikuti keinginan tubuhnya saat ini.
Setelah keduanya melepaskan pakaian, Ming Zise menjentikkan jari hingga kelambu tempat tidur langsung menghalangi pemandangan sekitarnya.
Tanpa diduga, hanya setelah masa kedewasaan gadis itu lewat, tubuhnya telah banyak mengalami perubahan. Menjadi lebih berisi dan lembut. Kulitnya halus seperti telur yang dikupas. Ming Zise tidak munafik dan menyukainya.
Saat ini, Xiu Jimei seperti gadis kecil yang sedang memanjakan seorang paman kesepian. Dia mencoba apa yang membuat dirinya penasaran. Termasuk mencoba untuk memimpin di tempat tidur.
Tapi wanita tetaplah wanita, tidak mungkin akan bisa mendominasi terlalu banyak seperti kaum pria. Jadi saat Xiu Jimei bergerak di atasnya, Ming Zise tidak tahan, ingin menarik gadis itu dan menekan tubuhnya seintim mungkin.
Namun Xiu Jimei terlihat menikmati nya dengan baik dengan caranya sendiri. Tidak tahu bahwa Ming Zise yang tidak tahan dengan gerakannya sangat ingin memberikan dorongan fatal menuju puncak musim semi lebih awal.
Untuk kali ini saja, Ming Zise menyerah padanya. Biarkan gadis itu melakukan apapun yang diinginkannya.
Untuk waktu yang lama, Xiu Jimei juga kelelahan. Tapi suara ambigu nya masih terdengar tidak beraturan dari waktu ke waktu. Ming Zise akhirnya membantunya dari bawah hingga keduanya mendapatkan kepuasan masing-masing.
Ming Zise baru menyadari jika berlama-lama dalam prosesnya akan memiliki akhir yang sangat luar biasa. Xiu Jimei ambruk ke tubuhnya saat ini. Ming Zise memeluknya sedikit lebih erat. Dan tidak tahu berapa banyak benih yang dia tumpahkan di tubuh gadis itu saat ini. Sayang sekali masih belum waktunya untuk hamil.
Sekarang giliran Ming Zise yang bertindak di saat gadis itu bingung. Dia mengambil alih permainan.
"Mei'er, aku melakukannya tidak terlalu baik selama ini. Mari kita mulai dari awal," bisiknya penuh perhatian.
Xiu Jimei tidak terlalu mendengar apa yang dikatakannya. Dia sibuk dengan pikirannya sendiri.
Pada keesokan paginya, Xiu Jimei tidak berdaya. Tubuhnya tidak memiliki tenaga untuk turun dari tempat tidur.
"Ming Ming," panggilnya.
Tanpa menunggu Xiu Jimei menyadari, Ming Zise ternyata ada di sampingnya, perutnya lalu berbunyi karena semalam tidak memiliki waktu untuk malam.
"Mei'er lapar. Bangunlah dan bersiap untuk sarapan."
Para pelayan sudah menyediakan sarapan untuk mereka.
__ADS_1
...****************...
NB: Happy Eid Mubarak