Menikahi Mantan Dewa Tertinggi

Menikahi Mantan Dewa Tertinggi
Mengakui Identitas


__ADS_3

Ming Zise suka sikapnya yang selalu memasang ekspresi ceroboh dan tidak tahu apa-apa. Tapi dia tidak suka Xiu Jimei memaksakan diri untuk menunjukkan ekspresi seperti itu.


Saat menghadapi Ning Siyu, Xiu Jimei sedikit menunjukkan sikap acuh tak acuhnya yang ceroboh.


"Aku tidak ... bermaksud demikian," jawab Xiu Jimei.


"Guru tahu."


"Jadi, apakah semuanya benar? Apakah aku bintang phoenix mu?"


Ming Zise mengangguk. "Benar. Selama ini, kamu adalah wanita yang selalu aku rindukan siang dan malam selama seratus tahun terakhir. Dari kamu masih bayi hingga hari ini, tidak ada yang luput dari penglihatanku," jujurnya.


Xiu Jimei tampak linglung untuk sementara waktu. Seratus tahun? Ini bukan waktu yang singkat. Jadi selama ini Xiu Jimei khawatir tentang pria yang jadi bintang phoenix nya. Tapi tidak pernah berpikir jika itu adalah Ming Zise.


Keberadaan Ming Zise bersamanya saat ini tentu saja sudah jelas, hanya untuk bersama Xiu Jimei.


"Jadi selama sini, kamu memeluk dan bermain menciumku karena tidak khawatir sama sekali tentang bintang phoenix yang akan datang? Karena kamu adalah takdirku sendiri?" tebaknya lagi.


"Ya. Apakah ini dianggap sebagai menyimpan kebohongan?" Ming Zise khawatir Xiu Jimei marah dan merajuk.


"Kebohongan?" gumam gadis itu. "Bahkan aku telah berbohong pada banyak orang selama ini."


"Tidak apa-apa. Selama kamu baik." Ming Zise menenangkannya.


Di dalam mimpi ini, Xiu Jimei melepaskan topeng polosnya yang selalu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sekarang ekspresinya lebih dewasa dan stabil. Cara bicaranya juga tidak asal-asalan. Dia murni berbicara layaknya orang dewasa.


Tiba-tiba saja pemandangan dalam mimpi berubah. Xiu Jimei melihat istana yang indah lagi di mimpinya.


Ini istana yang pernah memasuki mimpinya saat itu dan bertemu dengan Ming Zise. Dalam istana, Ming Zise menciumnya saat itu.


"Aku belum pernah melihat istana ini sebelumnya. Kenapa aku memimpikannya lagi?" tanyanya pada diri sendiri.


Ming Zise masih ada di sampingnya. Dialah yang mengubah pemandangan dalam mimpi Xiu Jimei menjadi halaman Istana Minglan.


"Karena Xiao Mei sudah menebak tentangku sebelumnya, tentu saja tidak boleh ada yang disembunyikan. Ayo, Guru akan membawamu masuk," kata pria itu seraya memegang tangan Xiu Jimei.


Keduanya memasuki Istana Minglan yang sangat indah. Isinya sangat indah. Meski hanya mimpi, tapi rasanya seperti nyata.


"Identitas Guru sepertinya tidak biasa di Alam Para Dewa," kata Xiu Jimei.

__ADS_1


"Aku adalah mantan dewa tertinggi di sana. Aku dan ayahmu saling kenal sejak lama." Ming Zise mengaku.


"Kamu berarti sama tua nya seperti ayah ku!" Xiu Jimei terkejut.


Itu artinya, apakah dia baru saja dirampok oleh pria yang sudah seharusnya dipanggil paman?!


Ming Zise terkekeh dan meraih pinggang gadis itu. "Aku masih muda. Kami yang memiliki basis kultivasi para dewa memiliki hidup yang lama dan awet muda. Usia lima ribu tahun bukan masalah besar."


Saat Xiu Jichen tahu tentang ini di masa lalu, tentu saja marah hingga wajahnya menjadi hitam (tidak terduga). Dewa jodoh disalahkan dan sempat menjadi sasaran Xiu Jichen waktu itu. Untungnya dewa pencipta Alam Para Dewa serta Han Yuye memenangkannya.


Xiu Jimei malu. Dia wanita normal yang bisa juga memiliki rasa malu-malu. Apalagi dipeluk olehnya seperti ini.


"Bagaimana bisa Guru masuk ke mimpiku?"


"Tentu saja, kemampuan," jawabnya sombong.


"Iri!"


"Tidak perlu iri. Semua dewa dan dewi memiliki bakat berbeda."


"Oh." Xiu Jimei tidak tahu harus membicarakan apa saat ini.


Xiu Jimei sedikit bingung. "Apakah Guru ingin tidur denganku?"


Ming Zise mengangkat kepalanya dan terkekeh. "Tidur yang mana menurut Xiao Mei?"


Gadis itu terbatuk canggung dan malu. "Mana yang diinginkan Guru?"


Tangan Ming Zise di pinggang gadis itu sedikit mengencang. "Guru tidak munafik sebagai pria normal. Guru ingin memiliki tubuhmu seutuhnya tapi juga dengan perasaan yang dalam."


"Apakah efek bintang phoenix memang seperti itu?" Xiu Jimei awalnya bercanda sebelumnya. Tapi kini dia mulai serius.


"Ya. Tentu saja. Ini bahkan lebih kuat seiring berjalannya waktu. Tidak heran ayahmu selalu lengket dengan ibumu. Tidakkah kamu menyadarinya?"


Xiu Jimei sepertinya memutar ulang memori masa kecil hingga terakhir kali orang tuanya pulang. Benar, ayah selalu lengket dengan ibu dan selalu ingin berduaan. Bahkan jika orang tuanya ceroboh, suara-suara ambigu sering terdengar di kamar orang tuanya.


Memikirkan ini, Xiu Jimei mengerti kenapa ayah selalu menatap ibu seperti harta karun. Tubuh ibunya menguarkan aroma buah persik yang harum, merangsang pikiran ayahnya.


"Apakah kamu mencium aroma dari tubuhku juga?" tanyanya.

__ADS_1


"Ya. Itu aroma bunga yang harum, kadang aroma buah persik yang matang, kadang aroma menyenangkan lainnya."


Tanpa memakai parfum apapun, Xiu Jimei akan memiliki aroma ini di indera penciuman Ming Zise.


Di saat Ming Zise ingin menciumnya, tiba-tiba saja alam mimpi Xiu Jimei terguncang.


......................


Xiu Jimei yang sedang tertidur di tengah-tengah Xuan Xing dan Wang Xuyue pun segera membuka matanya. Dia menatap langit-langit kamar dengan ekspresi linglung sejenak.


Xiu Jimei terbangun dari tidur dan tentu saja mimpinya selesai. Dia mendengar suara Xuan Xing dan Wang Xuyue yang sedikit panik.


Akhirnya pikiran Xiu Jimei teralihkan. "Ada apa? Kenapa begitu panik?" tanyanya langsung duduk.


"Ada ular putih raksasa menyerang desa. Itu ular yang kita lihat di Lembah Hantu sebelumnya," bisik Wang Xuyue.


"Yamla?" Xiu Jimei sedikit tertegun. Oh, dia ingat. Bukankah dia meminta Yamla untuk menakuti warga desa malam ini?


Setelah itu, Xiu Jimei yang tidak lagi mengantuk pun segera bangun dan bersiap-siap untuk menyaksikan pertunjukan.


Dia tidak melihat Ming Zise di kamarnya. Mimpi tadi ... ini nyata. Xiu Jimei sedikit memerah.


"Xiao Mei, kamu memerah. Apakah kamu sakit?" Xuan Xing menyentuh dahi gadis itu dengan telapak tangannya yang dingin.


"Tidak apa-apa. Aku tidak semudah itu jatuh sakit. Ayo lihat dan saksikan," jawabnya langsung bangkit dan meninggalkan ruangan.


Xuan Xing dan Wang Xuyue kebingungan. Bukankah seharusnya membantu mereka alih-alih menyaksikan? Pikirnya. Sedangkan Kin Wenqian sudah pergi sejak awal untuk mengecek keadaan di luar.


Di luar, penduduk desa berteriak histeris saat melihat ekor ular putih raksasa melata di sekitar jalan dan menghancurkan rumah.


Ular putih raksasa itu sesekali akan menakuti warga desa seolah-olah akan memakan mereka.


Para murid ujian yang menginap di desa tersebut mencoba untuk mengalahkan ular putih raksasa tapi tidak ada hasil.


"Ular jenis apa ini? Kenapa begitu sulit untuk ditaklukkan. Bukankah hanya ular roh biasa?" Salah satu siswa frustasi. Dia seharusnya masih tidur nyenyak saat ini, bukan bertarung dengan seekor ular.


Ular putih raksasa itu jelas bukan ular biasa, melainkan Yamla, siluman ular putih roh dewa. Diserang oleh kultivator ranah surga kecil seperti itu, sama sekali tidak terasa apa-apa. Hanya seperti sedang mengalami terapi pijat.


Kepala desa sudah berwajah pucat. Ular ini tiba-tiba saja muncul dari ruang bawah tanah, tempat di mana rahasia tersimpan.

__ADS_1


"Tolong, tolong ampuni kami. Kami tahu semuanya salah. Tolong dewi ular, tolong jangan makan kami." Kepala desa memohon dengan tubuh gemetar.


__ADS_2