
Xiu Jimei menatap mangkuk berisi mie yang sedikit dingin. "Aku juga makan masakan Ming Ming, tidak memasak. Tapi jika Kakek mau, aku masih punya jatah makanan yang diberikan oleh Dewa Pencipta Alam Para Dewa."
Mendengar tentang makanan Alam Para Dewa, Bisa Huazhi sedikit bersemangat. "Tentu saja tidak apa-apa. Aku akan memakannya selama.itu enak."
"..." Roh Bunga ingin protes karena Bai Huazhi belum selesai menanam bunga.
Namun Xiu Jimei tidak terlalu memikirkannya. Dia mengeluarkan beberapa kotak makanan untuk pria tua itu lalu fokus lagi ke masalah Poppy dan Roh Bunga.
"Karena Kakek sedang beristirahat, ini waktunya kalian untuk menanam bunga."
"...?!" Poppy sama sekali tidak mengharapkan ini. Dia datang untuk meracuni bunga bukan menanam nya dengan pupuk!
"Ada apa? Tidak mau?" Xiu Jimei melirik keduanya curiga.
"Tuan, Tuan ... Ini semuanya tugas pria tua itu. Dia yang menghancurkan ladang bungaku, tentu saja dia harus bertanggung jawab. Aku memanggilmu ke sini karena Poppy berkata dia akan menghancurkan taman bunga Pinky dan menanamnya dengan bunga racun!" Roh Bunga mulai mengadu.
Poppy ingin muntah darah saat mendengarnya. Dia sedikit canggung tapi ada rasa malu di tulangnya. "Hua Mei! Jangan menjual kecantikan demi belas kasihan."
Tapi Roh Bunga tidak menghiraukannya sama sekali. Sayangnya Xiu Jimei bahkan lebih tidak mau peduli. Gadis itu cemberut, suasana hatinya yang baik akhirnya hilang.
"Kakek sudah tua dan mudah jatuh sakit tapi kalian yang muda sangat malas! Cepat tanam bunganya. Jangan sampai istanaku menjadi tempat tumbuhnya gulma! Jika tidak, tebang saja semuanya!"
"Tidak!" Roh Bunga spontan langsung berteriak nyaring hingga Bai Huazhi yang sedang makan bakso tersedak.
Untung saja bakso yang dimakannya agak kecil sehingga tidak sulit untuk mengeluarkannya dari tenggorokannya. Pria itu mengelus dada dengan ekspresi pahit. Cepat atau lambat dia mungkin akan mati tersedak makanannya sendiri.
Roh Bunga tidak percaya jika Xiu Jimei bahkan akan menghukumnya juga karena Bai Huazhi. Dia lebih tua daripada pria tua itu. Bagaimana mungkin dirinya lebih muda?
Xiu Jimei juga pastinya tahu ini tapi pura-pura tidak tahu.
Akhirnya, keduanya dengan terpaksa memasuki taman bunga dan memegang sekop, menggali tanah dan menanam bibit bunga roh penyembuh yang masih segar.
Xiu Jimei memperhatikan dari kejauhan. Tapi mata dan telinganya tajam sehingga apa yang mereka katakan dan lakukan akan diketahui olehnya.
__ADS_1
Butuh beberapa jam bagi keduanya untuk menanam bunga hingga hari sudah sore. Warna jingga menghiasi Dunia Langit. Roh Bunga dan Poppy yang kelelahan akhirnya sedikit pucat. Menanam bunga roh juga membutuhkan energi spiritual.
"Lelah?" Xiu Jimi menatap keduanya yang duduk saling membelakangi dan bersandar satu sama lain.
"Tentu saja, Tuan. Aku juga haus." Roh Bunga seperti bunga layu saat ini, kekurangan cairan.
"Aku juga." Jarang bagi Poppy bekerja sama dengannya.
"Mau minum sesuatu yang dingin dan menyegarkan?" tawar Xiu Jimei.
"Mau, mau!" Keduanya berkata serempak.
"..." Bai Huazhi yang sudah kembali lagi dari Dunia Kecil Array Kuno melihat pemandangan ini, mau tidak mau melahirkan firasat buruk.
Gadis itu pasti tidak akan memberikan sesuatu yang baik untuk keduanya.
"Aku akan memberi kalian minuman menyegarkan yang baik untuk tubuh dan menghilangkan lelah juga," katanya.
Poppy dan Roh Bunga mengerutkan kening. Tidak tahu apakah gadis itu ingin memberi mereka minuman lemon yang asam manis atau sesuatu yang lain. Tapi saat Xiu Jimei mengeluarkan dua helai rumput berwarna biru es, tanda tanya besar langsung muncul di kepala mereka.
Benda jenis apa itu? Es baru? Pikir keduanya.
Keduanya sama-sama tidak tahu tentang rumput petir sehingga yang hanya tumbuh di Istana Langit wilayah jiwa petir.
Saat rumput petir dimasukkan ke air lemon madu, ada bunyi gelembung air yang mirip soda. Poppy dan Roh Bunga mengira jika rasa minuman itu pasti akan sangat luar biasa enaknya.
"Cobalah. Aku jamin rasa lelah kalian akan hilang seketika," kata Xiu Jikai dengan senyum sedikit lebih dalam.
Bai Huazhi melihat rumput aneh yang dimasukkan ke air lemon. Mau tidak mau terkejut. Sepertinya dia pernah melihat rumput tersebut di suatu tempat. Tapi ...
Segera pria tua itu mengeluarkan buku kuno tentang herbal dan tanaman langka yang pernah ditemukan di Dunia Langit. Satu persatu halaman dibuka untuk menemukan ciri-ciri rumput tersebut.
Poppy dan Roh Bunga sama sekali tidak mengenali rumput petir. Bahkan tidak curiga saat ini sehingga buru-buru meminumnya.
__ADS_1
Minuman itu habis dalam beberapa teguk. Tanpa disadari, keduanya langsung batuk, tubuh gemetar hingga rambut menjadi kaku. Ada sedikit asap samar-samar keluar dari tubuh keduanya.
"Ahh? Minuman apa ini? Kenapa menyetrumku?!!" Poppy berteriak dan memandang sisa rumput petir di gelas.
Roh Bunga batuk beberapa kali dan wajah cantik dan tampannya langsung memerah. "Membunuh Bunga ini sampai mati!"
Akhirnya Xiu Jimei tertawa senang dan duduk di kursi terdekatnya. Awalnya dia berpikir jika memasukkan rumput petir secara cuma-cuma akan membuat efek yang lebih buruk bagi keduanya. Tapi tampaknya biasa saja.
Saat ini, Bai Huazhi sedang sibuk membolak-balik halaman buku kuno. Dia masih penasaran dengan rumput berwarna biru es itu. Tapi sama sekali tidak menemukannya.
"Gadis, rumput apa yang kamu masukkan tadi?" tanyanya serius.
"Itu rumput petir. Aku dan teman-temanku pergi ke Istana Langit untuk bermain dan kebetulan menemukan rumput petir di wilayah jiwa petir. Khasiat nya sangat bagus untuk menghilangkan rasa lelah dan pegal-pegal di tubuh," jelasnya.
Bai Huazhi pun memupuk buku kuno dengan sedikit tenaga. "Itu dia! Kenapa aku lupa?!" gumamnya.
"Apakah Kakek Bai tahu tentang ini?" Xiu Jimei sedikit terkejut. "Kupikir ini hanya tumbuh di wilayah jiwa petir saja."
"Aku tahu ini. Kebetulan pernah melihatnya di buku herbal kuno. Tapi kalau melihatnya secara langsung aku belum pernah. Kamu harus tanya raja racun kuno untuk ini," ungkapnya.
"Bai Shiyu tahu ini?" Xiu Jimei mengerutkan kening. "Tapi ini bukan racun. Bagaimana dia bisa tahu?"
"Gadis bodoh! Dia suka mengumpulkan berbagai tanaman beracun. Tentu saja menjumpai herbal aneh di pegunungan atau hutan bahkan di bawah tanah sekalipun, sudah jadi kebiasaan baginya." Bai Huazhi terbatuk, pura-pura kesal padanya.
"Ternyata seperti itu. Lagi pula aku tidak penasaran apakah rumput petir pernah tumbuh di Dunia Langit atau tidak. Sekarang aku sudah memiliki ladang rumput petir, jadi tidak masalah."
"Apa?! Kamu memiliki banyak rumput petir? Bukan hanya beberapa helai saja?"
"Ini beberapa petak. Aku mengambil semua rumput petir di sana waktu itu. Tiga ketua petir berkata itu hanya gulma di tempat mereka."
Bai Huazhi ingin muntah darah. "Gulma dari mana?! Itu herbal langka! Beri aku sepetak untuk ditanam di Dunia Kecil Array Kuno!" teriaknya ingin memaki tiga ketua petir yang dimaksud.
"..." Xiu Jimei bingung. Kenapa reaksinya begitu luar biasa hanya demi rumput belaka?
__ADS_1