Menikahi Mantan Dewa Tertinggi

Menikahi Mantan Dewa Tertinggi
Terlalu Licik


__ADS_3

Xiu Jimei memaksa Kaisar Alam Baka untuk membuka gudang, dia akan memilih barang yang diinginkannya. Kaisar Alam Baka ingin menangisi nasib sialnya tapi tidak bisa berbuat apapun.


Ketika gudang harta Istana Kekaisaran dibuka, Xiu Jimei sudah memilih harta apa yang bisa dibawa pulang. Kaisar Alam Baka hanya bisa mengeluh diam-diam dan menyalahkan Wang Zheming di hatinya.


"Putri Xiu, ini bukan salahku. Wang Zheming lah yang memulai segalanya jadi kamu harus menyalahkan dia,” kata Kaisar Alam Baka sambil meratap di hatinya.


Xiu Jimei tidak peduli. Setelah memilih barang yang diinginkannya, ia mencibir pada kaisar tua itu. “Itu bukan urusanku. Siapa yang memintamu untuk menjadi pemimpin yang mudah mengikuti saran orang lain,” katanya.


“…” Kaisar Alam Baka ingin menangis tanpa bisa mengeluarkan air mata. Jadi, apakah ini masih menjadi kesalahannya? Beban menjadi pemimpin suatu negara begitu besar!


Setelah Xiu Jimei puas, ia pulang bersama Ming Zise. Kaisar Alam Baka buru-buru memasuki gudang harta dan menghitung apa yang telah diambil gadis itu. ketika salah satu harta istana yang disimpannya selama ratusan tahun hilang, ia terkejut dan marah pada akhirnya melolong di tempat.


Kasim kepercayaan kaisar tidak tahu harus membujuknya seperti apa setelah mengetahui harta apa yang hilang dari gudang. Mau tidak mau kasim kepercayaan itu hanya bisa berdo’a di hatinya. Ini ujian yang sangat berat bagi kaisar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di Istana Golden Lotus, Xiu Jimei, Xiu Jikai dan Ming Zise membersihkan diri sebelum akhirnya membongkar semua harta yang diambilnya dari gudang Istana Kekaisaran Alam Baka. Hampir semua barang yang diambil Xiu Jimei merupakan peralatan rumah. Ada piring, sendok, vas bunga, teko dan lain sebagainya. Semuanya terbuat dari bahan batu giok atau keramik yang sulit dibuat.


“Untuk apa kamu mengambil barang-barang rusak ini? Bukankah kamu sudah memiliki banyak barang serupa?” tanya Xiu Jikai sedikit jijik.


“Tidak apa-apa. Aku hanya membutuhkan peralatan makan tambahan. Vas bunga ini, biarkan Pinky yang mengambilnya. Adapun teko ini, untuk Whitely,” jelas Xiu Jimei seraya menunjukkan barang-barang yang dimaksudnya.


“Tuan, bagaimana dengan Tuit Tuit?” tanya seekor burung jingga kemerahan yang tiba-tiba saja muncul di atas kepala Xiu Jikai tanpa izin.


“Kamu?” Xiu Jimei memikirkan sesuatu tapi ia tidak tahu apa yang disukai burung kecil itu. “Apa yang kamu suka?”


“Bagaimana dengan mangkuk besar ini?” Tuit Tuit terbang ke salah satu barang berupa mangkuk besar yang terbuat dari keramik bermotif naga dan phoenix yang cantik.


“Untuk apa kamu membutuhkan mangkuk ini? Porsi makanmu tidak sebanyak itu,” kata Xiu Jimei.

__ADS_1


“Tidak apa-apa, gunakan saja untuk bak mandi.”


Jika Kaisar Alam Baka tahu bahwa mangkuk besar yang dijadikan harta telah beralih fungsi sebagai bak mandi seekor burung, mungkin bisa muntah darah bukan? Untung saja Kaisar Alam Baka tidak tahu tentang ini dan Xiu Jimei juga tidak akan mengeluh.


Mangkuk itu akhirnya diberikan pada Tuit Tuit untuk dijadikan bak mandi. Xiu tidak jarang dengan sebuah mangkuk makan.


......................


Keesokan paginya, Xiu Jimei dan Xiu Jikai harus kembali ke sekte untuk menghadiri kelas. Walaupun keduanya termasuk murid yang pintar dan kuat, para guru masih arogan untuk mengajarinya. Tapi si kembar sama sekali tidak mengeluh. Keduanya menjawab pertanyaan dan memberikan contoh pada yang lain sehingga para guru sekte itu senang.


Tapi tentu saja Xiu Jimei Huan murid yang patuh. Siang ini, si kembar berada di bawah pengawasan Lei Yuan, ayah dari Lei Mo. Pria itu memiliki Yin dan Yang di hatinya, tidak baik atau buruk tapi juga tegas. Lei Mo sebagai anaknya saja enggan untuk dianat oleh ayahnya yang tegas.


"Xiu Jimei, sebutkan fungsi dari gingseng roh serta manfaatnya untuk para alkemis. Jika bisa, sebutkan beberapa jenis obat yang bisa dibuat dengan gingseng roh ..." Lei Yuan memegang kapur dan menghadapi papan tulis. Ia curiga karena suasana di kelasnya terlalu hening.


Ketika menoleh untuk melihat para murid, semuanya menegang. Lalu pura-pura tidak tahu apa-apa. Lei Yuan menyipitkan mata, melirik ke arah salah satu kursi kosong di belakang. Sudut mulut Lei Yuan berkedut.


"Gadis ini benar-benar—" Lei Yuan menggertakkan gigi. Murid apa yang dia ajar selama ini, tidak ada yang seberani Xiu Jimei.


Gadis itu melarikan diri di saat dia mengajar, berani menghindari pertanyaannya. Bahkak sosok Xiu Jikai sudah berjalan menuju pintu kelas.


"Kamu mau ke mana?" Lei Yuan sudah berwajah gelap ketika melihat Xiu Jikai juga berjalan pergi.


"Pergi dan cari adikku." Xiu Jikai menjawab dengan nada santai.


"Memangnya kamu tahu di mana dia?"


"Tentu saja, dia pasti pergi untuk makan," jawabnya lagi.


"Kalian benar-benar—" Lei Yuan tidak berdaya dan menghela napas kasar. "Benar-benar saudara kembar yang baik!" gerutunya.

__ADS_1


Pada akhirnya Lei Yuan tak bisa menahan Xiu Jikai di tempat. Kemungkinan besar saat ini Xiu Jimei mencari makanan ke suatu tempat atau membuat makanan nya sendiri. Melihat hari sudah siang, para murid mungkin juga lapar. Tapi tak menyangka jika Xiu Jimei tak bisa menahan diri untuk menahan laparnya.


Lei Mo yang juga ada di kelas yang sama, mau tak mau menciutkan lehernya. Ayahnya saat marah pasti tidak baik untuk murid-muridnya. Mereka semua akan terkena sial.


"Kenapa Xiaomei begitu licik? Dia pergi dan membiarkan kami menderita," gumamnya pada Huang Fu Jung yang duduk tak jauh di sampingnya.


Huang Fu Jung tidak peduli. "Lebih baik perhatikan dirimu sendiri dan pikirkan yang lain."


"..." Bisakah kamu masih fokus pada pelajaran? Batin Lei Mo tidak puas.


Sekte Negeri Atas tak berbeda jauh seperti layaknya akademi. Bukan hanya berguru dan berlatih saja tapi juga menghadiri kelas yang setara. Semua kultivator akan diberi manfaat dan juga pengetahuan yang sama sehingga mengembangkan minat di masa depan.


Tapi Lei Mo tidak suka belajar di kelas. Ia lebih suka berburu dan berlatih energi spiritual.


Sementara itu, Xiu Jimei yang dikeluhkyowlh Lei Yuan sudah berada di hutan tak jauh dari keberadaan sekte berada. Ia sudah mengeluarkan meja kecil dan kursi, lalu menyajikan beberapa makanan yang dibawanya dari rumah sebelumnya.


"Ternyata kamu di sini. Pergi saat guru mengajar, apakah kamu ingin dihukum?" tanya Xiu Jikai setelah muncul di depannya.


"Oh, apakah Lei Yuan akan menghukumku?" Xiu Jimei menaikkan sebelah alisnya. Menurutnya, Lei Yuan ini tidak akan berani menghukumnya. Lagi pula, bukankah pria itu dulu menyukai ibunya?


Sudut mulut Xiu Jikai berkedut. "Jika kamu dihukum, jangan seret aku."


"Lalu kenapa kamu bolos juga? Bukankah sama saja?"


"..." Aku datang mengkhawatirkan mu, batin Xiu Jikai.


Lupakan saja, jika dihukum, maka dihukum. Tidak ada keluhan. Lagipula, hukumannya tidak akan pernah menantang sama sekali, hanya membersihkan koridor serta beberapa ruangan lainnya.


"Kakak, apakah menurutmu, Ning Siyu akan menyerah begitu saja saat ini?"

__ADS_1


__ADS_2