
Selain Kin Wenqian, yang lainnya juga merasakan hal yang sama. Tapi tidak berkata apa-apa agar tidak menimbulkan kecurigaan.
Penduduk desa suka pergi ke ladang untuk bercocok tanam atau memetik buah-buahan. Kemudian pergi berburu untuk bisa makan daging.
Di mata orang kurang mampu, makan daging adalah sebuah kemewahan.
"Mereka tidak banyak bicara sejak kita datang tapi sangat menyambut baik kedatangan kita. Bukankah ini mencurigakan?" Yan Yujie sedikit tidak nyaman.
"Kamu hanya khawatir terkena sial lagi 'kan?" Wang Xuyue mencibir.
"Tidak, aku sungguh merasa bahwa desa ini aneh," jawabnya.
Jia Lishan tidak ingin memikirkan masalah yang belum pasti. "Lupakan dulu masalah itu sekarang. Aku lelah dan ingin istirahat. Setelah ini kita akan kembali ke Dunia Langit. Jadi bersantailah."
Xiu Jimei duduk di kusen jendela sambil makan keripik kentang. Dia memikirkan ini juga. Tapi tidak ingin mencari tahu. Melihat beberapa penduduk desa yang sibuk mengerjakan pekerjaannya, dia sepertinya menyadari jika orang-orang di desa ini suka berburu dan makam daging sepanjang waktu.
"Makan daging?" gumamnya.
"Apa yang Xiao Mei pikirkan?" Ming Zise berdiri di sampingnya dan mengelus kepala gadis itu.
Xiu Jimei menggelengkan kepala. "Bukan apa-apa. Aku hanya ingin makan ayam goreng."
"Oh." Ming Zise tahu itu hanya alasan.
Beberapa rumah penduduk desa yang kedatangan tamu asing itu mulai membicarakannya diam-diam. Tidak tahu apa yang mereka diskusikan, tapi tampaknya sangat menyenangkan.
Ming Zise menyipitkan mata. Ada yang tidak beres dengan tempat ini. Dia meminta Wuming dan Yamla untuk mencari tahu lebih dulu. Kedua penjaga rahasia itu segera menjalankan tugasnya.
Tak membutuhkan waktu lama, keduanya segera melaporkan apa yang terjadi di desa ini.
"Tuan, ada banyak tumpukan tulang manusia di ruang bawah tanah desa ini. Bahkan ... Bahkan kami menemukan ada banyak kepala manusia yang telah kehilangan bola mata dan otaknya," lapor Wuming seraya menelan salivanya. Dia masih tidak bisa membayangkan pemandangan mengerikan di ruang bawah tanah.
Yamla juga mengangguk. "Penduduk desa di sini mungkin suku kanibal! Tuan, bisakah Yamla menelan orang-orang ini untuk makan malam nanti?" keluhnya.
Ming Zise melirik Xiu Jimei yang tengah mengerutkan kening. "Lupakan dulu untuk saat ini. Selama peserta ujian tidak ada yang hilang, biarkan saja dulu. Bagaimana menurut Xiao Mei?"
Xiu Jimei menatap Yamla dengan pikiran lain. "Pada malam terakhir, berubahlah jadi ular raksasa dan takut-takut mereka."
__ADS_1
Yamla berbinar. Seperti dugaannya, calon nyonya ini lebih cocok untuk bergaul dengannya. Ada banyak kesamaan di antara mereka soal kelicikan.
Ming Zise sedikit sakit kepala sejak Yamla kembali. Dia khawatir gadisnya ini akan lebih mementingkan Yamla dibandingkan dirinya saat berada di Istana Minglan sesuatu saat nanti.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kelompok peserta ujian telah beristirahat di sebuah desa kurang lebih tiga hari. Selama itu, mereka tidak menemukan ada yang aneh. Namun selalu mengeluh tentang makanan yang terkadang tidak enak dan bentuknya aneh.
Terutama saat makan olahan daging.
Malam terakhir ini, semua kelompok ujian merasakan ketegangan yang tidak pernah dialami di malam-malam sebelumnya.
Penduduk desa sepertinya tidur lebih awal. Desa yang hanya memiliki pencahayaan lentera dan obor biasa pun membuat suasana agak mencekam.
Sebagai kultivator seharusnya tidak perlu takut. Hanya saja ....
Yan Yujie gelisah sepanjang waktu. Dia sudah mual sejak makan daging terakhir kali dan merindukan masakan Xiu Jimei. Kali ini dia tidak bisa tidur padahal bulan purnama sudah tepat di atas kepala.
Jia Lishan dan Xiu Jikai ada di kiri dan kanannya. Lalu Yan Yujie memilih untuk bangun dan mencari udara segar.
"Kamu mau ke mana?" Xiu Jikai yang tidak terlalu mengantuk hanya memejamkan mata sejak awal, tidak berniat untuk tidur.
Xiu Jikai memilih untuk mengikuti Yan Yujie. Dia khawatir laki-laki itu akan mengalami kecelakaan lagi. Belum lagi besok mereka harus kembali ke Dunia Langit.
Sementara di kamar sebelah, Xiu Jimei sudah tertidur pulas. Ada Xuan Xing dan Wang Xuyue yang ada di kiri dan kanannya serta Kin Wenqian di sisi Xuan Xing.
Ming Zise diam-diam duduk di dekat jendela dan memperhatikan gadis itu tertidur pulas. Dia sedikit menyesal. Seandainya gadis itu tidur di paling samping, dia bisa berbaring di dekatnya. Tapi Xiu Jikai meminta Xuan Xing dan Wang Xuyue menjaga Xiu Jimei di sisi kanan dan kiri. Ini merepotkan.
Jadi, Ming Zise memutuskan untuk memasuki mimpi indahnya.
Pria itu memejamkan mata, memfokuskan pikirannya ke mimpi Xiu Jimei.
......................
Di alam mimpi ....
Ketika memasuki mimpi gadis itu, Ming Zise melihat ada banyak makanan di sekitarnya.
__ADS_1
Sebuah meja panjang dipenuhi oleh berbagai hidangan. Lalu dia melihat Xiu Jimei yang sedang makan dengan lahap.
"..." Ming Zise tidak mengerti kenapa Xiu Jimei suka sekali makan. Bahkan sampai terbawa mimpi.
Saat melihat mimpi Xiu Jimei, pemandangannya sangat indah. Lalu mimpi gadis itu berubah lagi dan lagi, seperti pecahan cerita baru yang dibuat. Bahkan mimpi ketika dia dan Xiu Jikai di kolam air terjun juga muncul.
Gadis itu tampak malu memimpikan hal ini dan buru-buru mengganti mimpinya lagi.
Tapi kali ini Ming Zise yang memasuki mimpinya pun berperan. Pria itu menghampiri Xiu Jimei dan memeluknya dengan erat.
"Guru? Kenapa Guru ada di sini?" Xiu Jimei merasa tidak percaya bahwa Ming Zise akan menghantui mimpi indahnya lagi.
Pria itu tidak menjawab. Setelah memeluknya dengan erat, Ming Zise juga langsung mencium bibir kecilnya yang licin dan lembut. Xiu Jimei membelalakkan mata, ingin mengakhiri mimpi tidak benar ini.
Tapi tidak bisa.
Setelah berciuman, Ming Zise menyentuh wajah Xiu Jimei dengan sentuhan kelembutan. "Xiao Mei, tidakkah ada yang ingin ditanyakan pada Guru?" bisiknya.
"Guru?" Xiu Jimei tertegun. Lalu menundukkan kepala.
Apakah ini hanya mimpi biasa atau karena terlalu memikirkannya selama tiga hari terakhir hingga terbawa mimpi. Menurut ibunya, mimpi dibagi dalam beberapa jenis. Entah itu karena memikirkan sesuatu terlalu kuat, pertanda dari dewa atau seseorang memasuki mimpinya.
Jadi Ming Zise ini kategori mimpi yang mana?
Xiu Jimei menyentuh Ming Zise. Tampak sangat nyata dalam mimpi. Terakhir kali mencium Ming Zise di hutan hujan, Xiu Jimei selalu merasa bersalah.
"Guru, aku memiliki tebakan setelah mendengar perkataan dewi kecantikan sebelumnya." Xiu Jimei memberanikan diri untuk bicara.
"Apa yang ingin Xiao Mei tebak?"
"Apakah aku bintang phoenix mu?"
Ming Zise tidak menjawab, hanya tersenyum dan mencubit kedua pipinya yang sedikit chubby. Segera, pipinya memerah sedikit.
"Guru!" Xiu Jimei paling tidak suka wajahnya dicubit. Dia bukan anak kecil.
"Apakah Xiao Mei masih ingin berpura-pura di depan Guru? Manja? Ceroboh dan pura-pura bodoh?"
__ADS_1
Xiu Jimei menatapnya.
Tidak ada ekspresi marah atau kecewa di wajah pria itu. Xiu Jimei bingung. Dia sudah menanamkan kebiasaan berwajah polos dan tidak berbahaya sejak masih kecil. Dia tidak ingin orang lain mengetahui betapa dingin sifat dan sikapnya hingga orang lain tidak mau dekat sama sekali.