Menikahi Mantan Dewa Tertinggi

Menikahi Mantan Dewa Tertinggi
Mewarnai Tubuh Zebra Menjadi Sapi Perah


__ADS_3

"Benar, itu hanya tamparan. Aku masih berbaik hati tidak mengecat tubuhmu menjadi pola sapi perah!" Xiu Jimei tiba-tiba saja melahirkan ide.


Para zebra ini sudah hidup dengan tubuh belang hitam putih yang teratur, tampak menarik perhatian. Tapi, bisakah mereka memiliki Pola sapi perah?


Para zebra saling melirik. Apa itu sapi perah? Bukankah hanya seekor sapi berwarna cokelat yang tampak jelek? Mereka sering melihatnya makam rumput di wilayah sebelah. Sapi roh kuno lebih besar dari mereka serta bunyinya lebih nyaring.


Kawanan zebra tidak berani memprovokasi kawanan sapi roh kuno.


Jadi, gadis manusia itu ingin mengubah warna kulit mereka menjadi cokelat?


Para zebra itu meremehkannya.


"Kenapa? Tidak percaya?" Xiu Jimei menyipitkan mata.


Sebelum para zebra bereaksi, Xiu Jimei sudah menguarkan aura esensi delapan dewa-dewi hingga membuat para kawanan zebra gemetar. Tak lama, para zebra itu berlutut begitu saja sambil menundukkan kepala.


Kenapa gadis manusia itu memiliki esensi spiritual yang begitu murni? Esensi ini sangat murni, seperti inti spiritual di dunia ini.


Tebakan mereka tidak salah, namun Xiu Jimei enggan memberi tahunya.


Karena auranya itu, Ming Zise yang terkena sentuhan aura esensi delapan dewa-dewi juga diam-diam menyerapnya. Energi yang sangat kaya, siapapun yang mampu menyerapnya bisa menambah energi spiritual, meningkatkan kekebalan tubuh, panjang usia dan masih banyak lagi.


Ming Zise memanfaatkannya untuk memulihkan energi spiritual yang sempat menghambat salah satu jaringan meridian menuju dantian.


Aura yang diserapnya tidak akan merugikan Xiu Jimei sama sekali. Mungkin gadis itu tidak menyadarinya.


Benar saja, salah satu jaringan meridian di tubuh Ming Zise sembuh.


"Siapa ... Siapa kamu sebenarnya?" tanya salah satu zebra dewasa.


"Aku manusia."


"..." Kami tahu kamu manusia, tapi bukan itu maksudnya, batin para zebra.


Pada akhirnya, Xiu Jimei memanggil Kin Wenqian. Dia meminta gadis itu untuk menjinakkan para zebra ini. Tak lama, para zebra yang tidak berdaya hanya bisa patuh di depan mereka, berperilaku layaknya binatang roh pemakan rumput yang baik hati.


"Xiao Mei, apa yang akan kamu lakukan dengan mereka?" Kin Wenqian melihat Xiu Jimei mengeluarkan cat berwarna hitam dan putih serta beberapa kuas.


"Ubah warna kulit mereka menjadi seperti sapi perah."

__ADS_1


"Sapi perah?" Kin Wenqian serta yang lainnya kebingungan.


Xuan Xing akhirnya teringat oleh sesuatu setelah Xiu Jimei meletakkan cat warna putih dan hitam. "Sapi perah? Apakah sapi yang memiliki warna hitam dan putih yang dipelihara oleh peternak sapi penghasil susu segar itu?"


"Benar! Xing Xing, sepertinya kamu sudah tahu gambarannya," jawab Xiu Jimei langsung tertawa.


"Tentu saja. Menurutku sapi perah itu lucu."


Xuan Xing pernah melihat sapi penghasil susu sebelumnya. Kebetulan di negeri Alam Baka ada sebuah peternakan yang memelihara banyak sapi roh penghasil susu segar.


"..." Para zebra mulai memiliki firasat buruk!


Ketika Xiu Jimei mulai mengecat salah satu zebra roh kuno menjadi warna sapi perah, Wang Xuyue serta yang lainnya segera mengerti. Mereka mengecat zebra roh yang telah dijinakkan, mengikuti gerakan Xiu Jimei.


Tapi mereka hanya bisa mengambil lima zebra roh kuno untuk penilaian ujian kali ini. Sisanya akan mencari lagi di hutan. Tapi beberapa zebra dewasa lainnya tidak luput dari perlakuan Xiu Jimei. Meski pun mereka tidak akan dibawa untuk penilaian ujian, namun warna sapi perah di tubuh sudah membuat mereka sangat malu.


"??!!"


Para zebra melihat rekannya memiliki garis belang yang beda di tubuh, merasa asing. Tapi itu rekannya. Kini menjadi warna kulit sapi perah seperti yang dimaksud para manusia.


Setelah menyelesaikan urusan menjinakkan zebra, kelompok Xiu Jimei pergi ke sisi hutan lainnya. Mereka berburu beberapa binatang roh kuno kecil lainnya agar tidak terlalu mencolok saat penilaian ujian. Untungnya, tanaman herbal roh kuno juga tidak sulit didapat.


Xiu Jimei menunggangi harimau putih roh kuno yang diberi nama Zebra. Seberapa keras harimau putih roh kuno itu menolak dengan nama tersebut, Xiu Jimei tetap pada pendiriannya.


"..." Nama Musang sepertinya lebih mengerikan. Harimau putih roh kuno akhirnya berkompromi lagi.


"Ke mana kita akan pergi kali ini?" tanya Jia Lishan.


Xiu Jikai melirik kembarannya, lalu menjawab, "Pergi ke kediaman Bai Huazhi."


"Raja Array Kuno? Sekarang? Begitu cepat?" Wang Xuyue merasa baru saja bermain sebentar. "Tidak bisakah kita berkeliling lebih dulu?"


"Kita kembali dulu untuk menampung para zebra dan binatang roh kuno yang dijinakkan lebih dulu. Tidak nyaman membawa mereka bersama kita, terlalu merepotkan!" Xiu Jimei mengingat para zebra yang sebelumnya ditertawakan oleh empat makhluk suci ilahi kuno di ruang penyimpanan.


Memiliki keempat makhluk itu sudah membuatnya sakit kepala. Apa lagi kawanan zebra berkulit sapi perah. Haruskah dia mengembalikan mereka ke ibunya atau ... membiarkan mereka berkeliling Dunia Kecil Array Kuno ini?


Dia akan berdiskusi setelah tiba di kediaman Bai Huazhi.


......................

__ADS_1


Sementara di sisi lain hutan ....


Sekelompok kultivator dengan anggotanya dari beberapa sekte pun sedang beristirahat di dekat pohon besar. Mereka sedikit berkeringat setelah berhasil menjinakkan seekor banteng roh kuno yang belum dewasa.


Tapi meski belum dewasa, kekuatannya luar biasa. Kini banteng itu sedang makan rumput tinggi tak jauh dari mereka. Tidak perlu khawatir melarikan diri karena sudah dijinakkan.


"Ujian kali ini sungguh menguji hidup dan mati," kata salah satu dari mereka.


"Benar! Untung saja aku sudah berada di ranah surga. Jika tidak?! Aku sudah sekarat sejak lama."


"Guru, berapa binatang roh kuno yang perlu dijinakkan jika ingin memasuki peringkat ujian?"


"Setidaknya membutuhkan sepuluh binatang roh kuno," jawab guru pendamping mereka, seorang pria paruh baya yang baik hati. Tidak terlalu menuntut namun sedikit menyukai kedisiplinan.


"..." Semua anggota kelompok tersebut seperti kekurangan darah di wajahnya, tampak pucat.


Butuh sepuluh? Mereka baru saja menangkap satu!


"Jangan khawatir, waktunya masih lama. Kalau begitu, berjuanglah untuk menjinakkan sembilan ekor binatang roh kuno lagi." Guru pendamping memberinya sedikit semangat dan harapan.


Tapi bagi murid di bawah pengawasan nya, semua itu hanyalah neraka tanpa ujung.


Guru pendamping hanya menggelengkan kepala. Sekelompok anak muda yang bersemangat, batinnya.


Di saat mereka sedang istirahat dan berencana untuk makan sesuatu, salah satu dari anggota kelompok tiba-tiba saja menunjuk ke satu arah. Dia ingin mengatakan sesuatu, tapi sulit mengungkapkannya. Bingung sekaligus curiga.


"Apa yang kamu lihat? Hantu?" Salah satu rekan satu sekte nya mencibir.


"Bukan ... bukan ... Coba lihat itu," katanya.


Akhirnya mereka pun melihat ke satu arah yang dimaksud. Tak lama setelah itu, mereka menganga.


"Apa itu sapi?"


"Bukan? Sapi tidak sekurus itu? Jelas itu kuda!"


"Bukan! Itu bukan kuda, jelas itu sapi perah. Kamu tidak lihat warna di tubuhnya? Bukankah itu sapi perah?"


"Tapi sapi perah tidak memiliki rambut di kepala dan sepanjang garis leher atasnya." Salah satu dari mereka mengamati lebih detail lagi.

__ADS_1


"..."


Akhirnya mereka yakin jika binatang roh kuno yang baru saja lewat secara berkelompok itu bukan kuda tapi juga bukan sapi perah.


__ADS_2