Menikahi Mantan Dewa Tertinggi

Menikahi Mantan Dewa Tertinggi
Ming Zise Kehilangan Pikiran Tenangnya


__ADS_3

Ming Zise menahan jubah yang melorot di punggungnya gadis itu. Wajah Xiu Jimei sedikit memerah karena baru saja keluar dari kolam air terjun. Dengan uap di sekitarnya, tubuh gadis itu terlihat jauh lebih lembut dan kabur.


Ming Zise menyentuh kulit lehernya yang halus hingga membuat Xiu Jimei tertegun. Dia merasa gatal di lehernya.


"Guru?"


"Ya. Bagaimana jika guru jatuh cinta pada Xiao Mei?" Ming Zise tidak mengelak.


"Tapi aku punya bintang phoenix," ujar gadis itu jujur.


Meski Xiu Jimei tampak polos, pikirannya tidak bodoh. Dia hanya malas bersikap kasar pada pihak lain. Lagi pula Ming Zise bukan jenis pria kurang ajar seperti pria kebanyakan di luar sana. Jadi dia memiliki pikiran positif terhadapnya.


Dia akui, Ming Zise memiliki pesona yang tak bisa disangkal.


"Bagaimana jika pria yang ditakdirkan itu adalah guru?"


"Hah? Apakah mungkin?"


"Entahlah," timpal Ming Zise datar dan acuh tak acuh. Dia belum bisa memberi tahu Xiu Jimei yang sebenarnya.


"..." Rasanya tidak mungkin, batin gadis itu.


Di saat Xiu Jimei linglung memikirkan apa yang harus dilakukannya pada Ming Zise di masa depan, tiba-tiba saja pikirannya kosong. Dia merasa dadanya sedikit basah.


Xiu Jimei melihat apa yang dilakukan Ming Zise pada salah satu buah persiknya saat ini.


Pria itu menciumnya. Bukan hanya itu, Ming Zise juga memberikan ciuman panjang di buah persiknya hingga meninggalkan bekas kemerahan.


"Sakit!" Xiu Jimei tidak tahan lagi dan menendang tubuh bahwa Ming Zise dengan lututnya.


Ming Zise tersadar dari apa yang baru saja dilakukannya. Dia mengerang, sedikit membungkuk seraya merapatkan kedua kakinya. Sakit saat ditendang pada titik sensitif pria. Gadis ini tidak berperasaan.


Wajah Ming Zise sedikit membiru karena rasa sakit di bawah sana. Tahukah dia bahwa jika bagian itu ditendang, kemungkinan akan hancur di masa depan.


"Xiao Mei ingin membuat gurunya tidak subur," goda Ming Zise.


Xiu Jimei memerah dan merapatkan jubah brokat Ming Zise yang melekat di tubuhnya. "Siapa yang membuat guru menjadi cabul?"

__ADS_1


Melihat tanda kemerahan di salah satu buah persiknya, dia malu dan marah. Dia belum pernah diperlakukan seperti itu oleh pria mana pun. Tapi kenapa dia tidak menolaknya?


"Maaf, guru tidak bisa menahan diri." Ming Zise hanya memiliki pikiran untuk mencium saja. Dia tidak tahan dengan aroma tubuh bintang phoenix-nya.


"Aku ... aku akan berpakaian. Guru kembalilah dulu dan jangan katakan apa-apa pada kakakku. Dia pasti akan marah besar."


"Jangan khawatir."


Ming Zise tidak menggodanya lagi dan pergi dengan patuh. Setidaknya dia merasakan bagaimana rasanya mencium buah persik gadis itu. Lembut dan harum. Pikiran Ming Zise tidak benar, wajahnya segera menjadi gelap.


Di masa depan, dia khawatir akan menyentuh tubuh gadis itu lebih jauh lagi. Bisakah itu dilakukan?


Ming Zise sudah tidak terlihat. Xiu Jimei yang memerah melihat tanda di salah satu buah persiknya. Ini tanda yang diberikan oleh gurunya. Xiu Jimei merasakan sengatan listrik kecil di tubuhnya saat Ming Zise mencium di sana.


Tapi ... Apakah ini tidak masalah?


Lalu bagaimana jika bintang phoenix-nya muncul suatu hari nanti. Apakah dia akan kecewa? Atau guru lebih baik daripada bintang phoenix-nya?


Xiu Jimei segera berpakaian. Untung saja bagian yang dicium tidak terlihat sehingga dia menghela napas lega.


"Pria itu sungguh berbahaya. Apakah ini dulu pernah dirasakan oleh ibu juga?" tanyanya pada diri sendiri, sangat serius.


Satu persatu, yang lain juga terbangun oleh aroma yang enak. Mereka menguap dan mencuci wajah untuk menyegarkan diri.


"Xiao Mei, kamu bangun terlalu dini," komentar Wang Xuyue yang baru saja kembali dari sungai.


"Aku tidak bisa tidur dengan tubuh berkeringat. Jadi mandi."


"Aku juga merasa tidak nyaman tapi tidak mau mandi. Airnya terlalu dingin," katanya.


"Bukankah ada sumber air panas di kolam air terjun?" Xiu Jimei kebingungan.


"Hah? Kolam air panas apa? Aku bahkan tidak menemukan air yang benar-benar hangat. Sangat dingin." Wang Xuyue tidak menemukan kolam air panas yang dimaksud Xiu Jimei.


Yang lain juga tidak menemukannya.


Tanpa sadar, Xiu Jimei melirik Ming Zise. Apakah mungkin air sana di sana hanya buatannya dan bersifat sementara?

__ADS_1


Ming Zise hanya berpura-pura tidak tahu apa-apa, tersenyum pada Xiu Jimei dan menyesap tehnya. Dia juga sengaja menyentuh bibirnya untuk mengisyaratkan apa yang terjadi di sungai tadi.


Gadis itu mendengkus dan membuang muka. Kenapa dia dan Ming Zise seperti pasangan selingkuh?


"Xiao Mei, apakah kamu baik-baik saja?"


Wang Xuyue baru saja mengeringkan tubuh Cip Cip yang baru saja mandi. Ayam roh kuno itu kini tampak lebih bersih dan wangi.


"Tidak apa-apa, hanya mengingat betapa dinginnya air sungai," jawab gadis itu.


Xiu Jikai menatap adiknya dan sesekali melirik Ming Zise. Tampak nya ada yang tersembunyi antara dua orang ini tanpa sepengetahuannya. Kalau dia tahu ini, sejak awal lebih baik mengikuti Xiu Jimei. Lihatlah, Ming Zise pasti akan memanfaatkan setiap kesempatan untuk menyentuh adiknya.


"Di mana Yujie?" Xiu Jikai menyadari jika Yan Yujie tidak ada.


Yang lain sudah kembali dari sungai sambil membawa seember air, kayu bakar serta ikan segar. Tapi Yan Yujie tidak kelihatan. Dia mulai khawatir. Kakak sepupunya selalu terkena sial. Dia khas terbawa arus sungai.


Jia Lishan dan Kin Wenqian baru saja membersihkan ikan dan membumbuinya. Jia Lishan mengingat apa yang terjadi saat di sungai.


"Dia sedang memandikan anak beruang dengan gembira. Dia bilang akan segera kembali."


"Kamu harusnya tidak meninggal dia sendiri," kata Xiu Jikai.


"Apakah ada masalah?" Jia Lishan merasa aneh. Bukankah dengan anak beruang itu, kesialan Yan Yujie akan berkurang?


"Dia tidak akan terkena sial lagi bukan?" Xuan Xing menebak.


"Meski kesialan yang menimpanya sedikit berkurang, tapi ada sesuatu yang bisa membuatnya lebih sial lagi." Xiu Jikai berniat untuk pergi ke sungai dan mencari Yan Yujie. Dia tidak tenang.


Tiba-tiba saja dia mendengar suara ledakan dari arah lain yang cukup nyaring. Bahkan tanah di sekitar mereka bergetar. Xiu Jimei serta yang lainnya mulai waspada dan serius.


"Ledakan apa itu? Dari mana arahnya?" Wang Xuyue baru saja selesai menyisir jambul Cip Cip.


"Ini sepertinya dari arah sungai!" Jia Lishan serius.


Harimau putih roh kuno yang selalu cuek dan terasing dari kelompok akhirnya bangkit dan mengaum. Dia segera berlari ke arah suara itu berasal.


"Zebra!" Xiu Jimei melihat binatang roh kuno tunggangannya pergi, ingin pergi juga.

__ADS_1


"Jangan, tetap di sini. Mereka bisa mengatasinya."


__ADS_2