
Perubahan pohon keabadian ini juga membuat Ming Zise merasa tidak terduga. Saat pohon keabadian tumbuh besar, lebat dan sehat, banyak kuncup bunga yang tumbuh dengan kecepatan mata telanjang.
Bunga-bunga pohon keabadian mekar, warna putih, merah dan kuning. Sangat mirip dengan hibiskus (bunga sepatu).
Semua bunga yang mekar menyemprotkan aroma yang sangat wangi. Saat Xiu Jimei menghirupnya, kelelahan di tubuhnya menghilang. Begitu pula dengan Ming Zise.
Pohon keabadian tumbuh tinggi setidaknya lebih dari seratus inci. Saat ini, pohon keabadian sangat senang.
"Bagaimana bisa seperti ini? Ming Ming, aku tidak akan dihukum mati bukan?" Xiu Jimei sedikit khawatir jika dia mengacau pohon keabadian sekarang.
Ming Zise merasa lucu dengan ekspresi khawatir tunangannya. "Tentu saja. Justru sebaliknya. Dewa Pencipta Alam Para Dewa akan memberi Mei'er hadiah," jawabnya.
"Benarkah?"
"Ya."
Xiu Jimei akhirnya menghela napas lega. "Kupikir aku akan dijadikan pupuk pohon keabadian."
Sudut mulut Ming Zise berkedut. Kenapa pikiran gadisnya selalu bengkok?
Di saat keduanya sedang bercengkerama, pohon keabadian sedikit bergerak. Tak lama, cahaya hijau berkumpul di depan mereka. Cahay itu perlahan membentuk kepala, tangan dan kaki. Lalu membentuk tubuh yang utuh.
Seorang anak laki-laki berambut hijau, bertelinga runcing seperti para peri, mata hijau berkilau, kulit putih bersih serta memakai jubah brokat hijau muda melayang di udara.
Perlahan, anak kecil itu turun dan menatapi tanah berumput hijau segar. Anak kecil tersebut sangat gembira dan menatap Xiu Jimei dengan mata berbinar. Tanpa diduga, anak itu berlari kecil dan berniat memeluk Xiu Jimei.
"Dewi!!" teriaknya sangat manis.
Namun Ming Zise yang tidak suka melihatnya langsung menyeret Xiu Jimei ke sisi yang lain. Saat anak kecil itu hendak memeluk Xiu Jimei, tubuhnya langsung kehilangan keseimbangan dan jatuh tengkurap di tanah rumput segar.
Hening untuk sementara waktu. Lalu anak kecil itu bangkit dan tidak menangis sama sekali. Tapi tampaknya masih sama seperti sebelumnya.
"Dewi, aku tahu kamu pasti dewi kan?" Anak kecil itu menghampiri Xiu Jimei.
__ADS_1
"Bukan, aku hanya manusia langit. Tidak ada hubungannya dengan dewi atau apapun itu." Xiu Jimei langsung menggelengkan kepala.
"Lalu kenapa ada aura dewa-dewi di tubuhmu?"
"Karena ayahku adalah mantan dewa."
"..." Anak kecil itu sepertinya mulai memahami sesuatu.
Jangan lihat tubuhnya yang kecil, pikiran anak itu sepenuhnya telah dewasa. Hanya saja karena baru memiliki wujud manusia, dia hanya bisa mengambil wujud anak kecil.
"Apakah kamu esensi pohon keabadian?" tanya Ming Zise tidak peduli dengan mata pemujaannya.
Anak kecil itu akhirnya tersadar kembali dsn melihat Ming Zise. Dia kenal Ming Zise karena pria itu sesekali akan datang untuk melihat pohon keabadian.
"Ternyata mantan dewa tertinggi. Ya, aku adalah esensi pohon keabadian yang baru saja terbentuk. Energi spiritual emas dari esensi delapan dewa-dewi telah membuatku beregenerasi dan memiliki banyak energi untuk membentuk tubuh. Namaku adalah Yuu."
"Yuu? Singkat sekali," kata Xiu Jimei.
"Nama tidaklah penting. Yang penting aku memiliki kemampuan." Yuu sedikit malu dns menggosok ujung hidung kecilnya.
Yuu sangat senang saat ini. Dia akhirnya bisa mengambil wujud manusianya. Setelah hidup sebagai pohon spiritual selama ribuan tahun, akhirnya dia memiliki kesempatan untuk memiliki wujud manusia.
"Kamu seperti Pinky. Dia juga pohon persik roh. Tapi wujud manusianya dewasa," kata Xiu Jimei.
Yuu sedikit malu. "Semakin besar kekuatan dan lamanya hidup, tentu saja wujud manusia yang kami ambil juga menentukan kemampuan. Aku baru saja mengambil wujudku, jadi tentu saja masih kecil. Tapi, siapa itu Pinky?"
Kenapa nama Pinky ini begitu aneh? Begitulah pikir Yuu saat ini.
"Pinky adalah kaisar bunga roh penyembuh di Dunia Langit. Pohon persik rohnya saja ada di ruang spiritualku sekarang."
"Apakah dia kuat?"
"Entahlah?" Xiu Jimei sedikit berpikir. "Tapi dia pandai memasak."
__ADS_1
"..." Apakah kamu yakin roh pohon persik itu bukan koki?
Ming Zise yang memperhatikan keduanya mengobrol dengan baik, hatinya juga lega. Di masa depan, jika sesuatu terjadi, Yuu bisa membela Xiu Jimei. Bahkan mungkin Dewa Pencipta Alam Para Dewa tidak berani untuk macam-macam.
Ketiganya tidak tahu jika saat ini, Alam Para Dewa memiliki banyak perubahan. Terutama setelah pohon keabadian tumbuh lebih tinggi dan lebat, banyak pihak lain yang penasaran.
Terlebih lagi, hal ini sangat tidak mungkin untuk terjadi mengingat jika pohon keabadian telah lama kekurangan vitalitas.
Namun saat ini banyak para kultivator manusia dewa yang telah menembus kemacetan kultivasi. Ada juga yang telah sembuh dengan cepat setelah bermeditasi sebentar.
Jadi banyak dari mereka yang ingin pergi melihat pohon keabadian saat ini.
Orang yang pertama datang tak lain adalah Dewa Pencipta Alam Para Dewa. Seorang pria paruh baya berjanggut tipis, rambut putih salju serta berjubah brokat kuning keemasan yang terlihat mewah tapi tidak terkesan norak.
Dewa Pencipta Alam Para Dewa terbang di atas pedangnya. Ketika melihat Xiu Jimei, dia terlihat terkejut. Sepertinya kali ini masih ada hubungannya dengan pemilik esensi delapan dewa-dewi.
"Putri Xiu ternyata ada di sini. Selamat datang di Alam Para Dewa," katanya menyambut baik. Nada bicaranya juga penuh kasih sayang.
"Paman?" Xiu Jimei tidak tahu siapa pihak lain.
Ming Zise tiba-tiba batuk kecil dan menepuk bahu Xiu Jimei. "Dia adalah pencipta Alam Para Dewa."
Melihat Xiu Jimei yang terlihat terkejut, Dewa Pencipta Alam Para Dewa sedikit bangga. "Putri Xiu bisa memanggilku Paman Ye," katanya.
Akhirnya Xiu Jimei juga tidak melupakan etiketnya. "Salam, Paman Ye," sapanya.
Dewa Pencipta Alam Para Dewa mendengkus. "Apa itu memberi kesopanan? Jangan sungkan dengan Paman. Kamu adalah pemilik esensi delapan dewa-dewi yang disayangi. Kamilah yang harusnya sopan padamu. Jika Ming Zise menganiaya mu di masa depan, beri tahu Paman. Paman Ye pasti akan menendangnya dari alam ini."
"..." Ming Zise yang tiba-tiba tidak dicintai hanya bisa melihat Dewa Pencipta Alam Para Dewa tertawa puas.
Di hari biasa, Dewa Pencipta Alam Para Dewa selalu berwajah serius, dingin bahkan tidak ada ruang untuk bernegosiasi. Dia hanya berada di istananya sendiri, mengatur Alam Para Dewa dan tugas-tugas lainnya.
Saat Ming Zise datang ke istananya, Dewa Pencipta Alam Para Dewa kadang sedang berkutat dengan banyak gulungan laporan. Kadang kala akan menyelinap keluar untuk memancing tapi ujung-ujungnya ditangkap kembali oleh kepala pelayan.
__ADS_1
Sangat jarang bagi Dewa Pencipta Alam Para Dewa memiliki waktu luang.
Sekarang mungkin karena pohon keabadian mengalami sedikit perubahan, Dewa Pencipta Alam Para Dewa memiliki waktu luang untuk memeriksa nya sendiri.