Menikahi Mantan Dewa Tertinggi

Menikahi Mantan Dewa Tertinggi
Persyaratan Rubah Merah Api


__ADS_3

Rubah merah api menatap Dewa Binatang untuk meminta persetujuannya. Dewa Binatang bukan merak biru tua yang kejam. Ia mengajak mereka ke ruang bawah tanah. Tempat itu sama sekali tidak gelap atau pengap tapi sangat nyaman dan hangat.


Siluman rubah putih meringkuk di atas bantal besar yang empuk. Sepertinya sedang tertidur. Saat mendengar beberapa langkah memasuki ruang bawah tanah, siluman rubah putih itu akhirnya terbangun.


“Ibu!” Tongluo berlari dan menghampiri ibunya yang sedang sakit.


Siluman rubah putih itu tampaknya terkejut saat melihat Tongluo. “Tongtong, kenapa kamu ada di sini? Apakah kamu baik-baik saja?”


“Aku baik-baik saja.” Tongluo sedikit malu karena dipanggil Tongtong oleh ibunya. Ia melirik Xiu Jimei yang sedikit menahan tawa, wajahnya menghitam. “Bu, kamu tidak bisa memanggilku Tongtong lagi, aku sudah besar,” bisiknya.


Siluman rubah putih merasa bingung dengan putranya yang telah menjadi tahanan Dunia Langit karena membuat kerusakan. Bahkan jika putranya sudah besar, memanggilnya Tongtong juga tidak menghambat pertumbuhannya bukan?


Melihat Dewa Binatang dan Xiu Jimei datang, rubah putih itu kebingungan. Ia menatap Tongluo lagi dengan penuh cinta. Bulu-bulunya sedikit rontok saat ini dan tidak seputih saat dia sehat. Ia sudah sakit setelah melahirkan Tongluo. Namun setiap tahun, kesehatannya semakin menurun. Jika dia berubah manusia, wajahnya akan pucat dan kulitnya tidak sehat.


“Bu, bagaimana kesehatanmu?” Tongluo mengendus tubuh rubah ibunya dan mengetahui jika semangat hidupnya sedikit meredup. “Bu, bukankah kamu selalu rutin meminum obat?”


“Omong kosong apa yang kamu katakan. Ibu baik-baik saja. Ibu hanya sedikit lelah dan tidurlah sebentar.” Siluman rubah putih itu tidak mau membuat putranya khawatir. “Dan kenapa kalian ada di sini?”


“Datanglah dan temui kalian. Tongluo bilang dia ingin bertemu dengan kalian sebelum mengatakan semua yang diketahuinya kepada kami,” jelas Xiu Jimei.


Rubah merah api menatap putranya dengan perasaan bersalah. “Jika ayah tidak bertemu ibumu dalam hidup ini, mungkin kamu tidak akan terlahir dengan identitas yang membingungkan.” Kemudian ia menatap Xiu Jimei. “Aku bersedia mengatakan semua yang kuketahui. Tapi aku punya syarat.”


Dewa Binatang menaikkan sebelah alisnya. Apa yang ditebak Xiu Jimei ternyata benar. Kemungkinan besar rubah merah api bersedia untuk mengatakan semuanya.


“Katakan.”


Rubah merah api melihat kondisi istrinya yang tidak sehat. "Selama istriku disembuhkan, aku akan mengatakan semua yang kutahu. Aku bisa bersumpah untuk ini," ungkapnya.


Baik Tongluo dan siluman rubah putih terkejut. Dewa Binatang sendiri tidak bisa berkata-kata untuk sementara waktu. Apa yang diminta oleh rubah merah api sebenarnya bukan sesuatu yang sulit.


"Apakah hanya ini?" tanya Dewa Binatang sedikit tidak percaya.


"Ya, selama istriku sembuh, semuanya baik-baik saja."

__ADS_1


"Ayah!"


Tongluo juga ingin ibunya bisa sembuh dan hidup lebih lama. Tapi ia bahkan tidak menyangka jika ayahnya juga akan membeberkan rahasia Alam Neraka. Bagaimana jika nanti ayahnya menjadi sasaran orang-orang itu?


Tidak masalah jika dirinya diburu. Lagi pula awalnya Tongluo adalah wakil jenderal Alam Neraka.


"Ayah, kamu tidak bisa melakukan ini. Biarkam aku yang bersumpah. Lagi pula aku memiliki tanggung jawab pada Alam Neraka. Jangan biarkan raja dan ratu Alam Neraka memburumu." Tongluo tidak lagi memikirkan hal-hal licik untuk menipu mereka. Dia hanya ingin orangtuanya baik-baik saja.


"Suamiku ..." Siluman rubah putih sedikit menggigil. Dia tidak menyangka bahwa suami dan putranya akan begitu mengkhawatirkannya.


Ia sendiri tidak memiliki rahasia dan tidak pernah datang ke Alam Neraka. Sehingga tidak ada sesuatu yang harus dikatakan. Tapi rubah merah api berbeda. Dia hidup di Alam Neraka dan telah mengetahui banyak rahasia. Bersembunyi di Alam Para Dewa dan menikahi tanpa ketahuan sudah merupakan berkah.


"Apakah kamu benar-benar ingin melakukan ini?" Dewa Binatang bertanya untuk terakhir kalinya.


"Ya."


Dewa Binatang akhirnya melirik Xiu Jimei. "Nak, kini giliranmu untuk bertindak."


"Berobat padanya tidak gratis."


"Apakah menurutku berobat padaku itu gratis?"


Dewa Binatang menatapnya penuh senyum. "Gadis, sebagai generasi muda, memperbanyak pahala untuk dipersembahkan pada para dewa itu merupakan salah satu kebajikan."


"..." Siluman rubah putih merasa jika Dewa Binatang sedang menipu gadis itu.


Xiu Jimei mencibir. "Kalau begitu aku berdo'a semoga kamu diberi keberuntungan jika memberi nasihat yang positif."


"..." Dewa Binatang merasakan firasat buruk saat ini. Apakah dia baru saja memberinya nasihat atau ....


Sepertinya Dewa Binatang sedang menipunya, bukan memberi nasihat. Kalau begitu—tiba-tiba saja suara petir menggelegar di langit, membuat Dewa Binatang langsung berkeringat dingin.


Menatap Xiu Jimei yang polos, ia lupa jika gadis ini tidak bisa diprovokasi. Siapapun yang bertemu dengannya, jika penuh keberuntungan psti bertemu kesialan.

__ADS_1


"Petir! Suara petir yang begitu keras. Apakah akan turun hujan?" Tongluo merasa heran.


Ruang bawah tanah cukup terisolasi sehingga tidak tahu apa yang terjadi di luar. Setelah Dewa Binatang menyetujui kondisi rubah merah api, mereka meninggalkan ruang bawah tanah.


Di luar, tidak ada yang salah. Tidak ada hujan atau angin kencang. Langit biru pun bersih. Jadi, bagaimana bisa ada petir yang menyambar begitu saja?


"Sepertinya ada roh petir yang bersin dan tak sengaja mengagetkan langit Alam Para Dewa." Xiu Jimei menebak seraya menatap langit.


"..." Dewa Binatang ingin memarahinya diam-diam tapi khawatir jika petir kembali menyambar.


Namun tak lama kemudian, seorang pelayan berlari ke arah mereka dengan ekspresi panik. Dewa Binatang memiliki firasat yang lebih tak menyenangkan lagi kali ini.


"Ada apa?" tanyanya yakin jika pelayan itu datang untuk melapor sesuatu yang tidak semua dengan persetujuan.


"Dewa, ini gawat! Ini gawat! Semua ikan di kolam samping mati tersambar petir!"


"APAA??!" Dewa Binatang buru-buru pergi ke halaman samping.


Benar saja, firasatnya tidak pernah salah. Saat dia tiba di halaman samping, kolam ikan koi yang dipeliharanya mengambang di permukaan air. Dewa Binatang yang akan datang dan pergi. Namun tetap saja, Dewa Binatang sangat kesal, seperti ada daging yang dipotong di tubuhnya.


"Apakah ini karena sambaran petir tadi?"


"Ya, dewa bisa menebaknya." Pelayan mengangguk.


"?!!" Dewa Binatang mau tidak mau menatap Xiu Jimei yang masih memiliki ekspresi polos.


Xiu Jiwei tidak mengerti kenapa dia menatapnya. Lagi pula dia hanya berkata sesuatu dan tidak mengutuk orang untuk sial. Dia justru berharap Dewa Binatang beruntung jika memberikan nasihat yang baik.


Sebenarnya tidak banyak ikan di kolam itu. Dewa Binatang masih menghela napas lega karena yang diincar bukan yang paling berharga.


"Kalau begitu bersihkan kolam dan ganti dengan yang baru," kata Xiu Jimei setelah menenangkan Dewa Binatang.


Pelayan segera menjalankan perintahnya. Dewa Binatang hanya bisa mengerang dalam hatinya. Apakah dia begitu ceroboh hingga ditanam di tangan gadis itu?

__ADS_1


__ADS_2