
Kepala pelayan yang dimarahi langsung mengelus lengannya yang dipatuk. Dia ingin menangis untuk dirinya sendiri. Hari ini sungguh hari yang sial.
“Dewa, kenapa tidak berubah kembali ke wujud manusia? Lebih mudah untuk mengobatinya,” saran kepala pelayan.
“Jika aku bisa, sudah kulakukan sejak lama.”
Dewa Binatang sedikit malu saat mengatakan hal tersebut. Dia tidak mau pelayan lain tahu jika dirinya lepas kendali hari ini hingga tak bisa mengubah wujud manusianya lagi.
Dewa Binatang memiliki satu kelemahan yang tak akan pernah berubah, yaitu setiap kali marah, dia akan kembali ke wujud merak biru tuanya.
Wujud binatangnya tersebut akan bertahan setidaknya selama sehari penuh. Karena itu Dewa Bintang kesal saat ini. Belum lagi sekarang patah kaki, suasana hatinya semakin tidak jelas.
"Kalau begitu, harus kah memanggil Dewa Obat untuk Dewa ku?" Kepala Pelayan berhati-hati saat bicara saat ini. Tuannya mudah tersinggung.
Merak biru tua itu tampak berpikir. Melihat kaki kurusnya yang kesakitan, akhirnya setuju. Jika tidak segera diobati, di khawatir akan segera pincang di masa depan.
Setelah menunggu cukup lama, Dewa Obat akhirnya datang. Aroma herbal langsung mengatur di Istana Dewa Binatang. Tapi dewa tua itu tidak datang sendirian, melainkan ada seorang gadis bergaun biru langit yang mengikutinya.
Sebelum Kepala Pelayan menyambut kedatangan Dewa Obat, gadis bergaun biru langit itu langsung berbinar ketika melihat merak biru tua.
"Aku pikir tidak ada merak biru tua di Alam Para Dewa. Ternyata ada merak biru tua. Hampir mirip dengan Reddish!"
"..." Dewa Binatang yang berwujud merak biru tua ingin memarahi gadis yang tidak tahu sopan santun itu. Tapi ... kenapa rasanya agak familiar?
Dewa Obat tersenyum tidak berdaya saat melihat Xiu Jimei menatap Dewa Binatang yang ada di kursinya. Xiu Jimei tidak membuat masalah saat datang ke sini sesuai dengan permintaan Dewa Obat. Dikatakan jika Dewa Binatang memiliki sikap dan sifat yang pemarah. Jadi lebih baik tidak memprovokasinya.
“Siapa itu Reddish? Jangan menyamakan Dewa ini dengan merak jelek lainnya.” Merak biru tua itu marah dan memelototi Xiu Jimei.
“Kamu Dewa Binatang?” Xiu Jimei terkejut.
“Jika bukan? Kamu pikir aku merak liar yang dipelihara Dewa Binatang?!”
“Siapa tahu bukan? Semua nya bisa saja menjadi mungkin.”
__ADS_1
“…” Merak biru tua itu ingin berteriak untuk memakinya. Tapi entah kenapa dia tidak bisa seolah-olah ada sesuatu yang buruk akan menghampirinya jika sampai melakukan hal itu.
Tak lama, Xiu Jimei mengeluarkan merak merah dari ruang spiritual bawaannya. Merak merah di pelukannya memutar bola mata dan pasrah saat diminta Xiu Jimei untuk patuh.
Reddish tidak tahu apa yang ingin dilakukan anak majikan. Dia hanya menuruti apa yang dikatakannya.
“Lihat, Reddish tidak jelek. Bukankah warna merah ini sangat cantik seperti api yang membakar langit?”
“…” Reddish yang melihat anak majikannya membual, mau tidak mau ingin mematuknya. Tapi Xiu Jimei segera mencubit mulutnya.
“Jangan membuat masalah,” kata gadis itu.
“…” Kamu yang membuat masalah. Reddish tiba-tiba saja tidak senang. Dia juga pemarah.
Dewa Binatang berwujud merak biru tua memiliki tiga garis hitam di kepala. Hanya seekor merak suci roh kuno, apa yang harus dibanggakan daripada identitas Dewa ini? Batinnya.
Namun dia langsung terkejut saat berpikir tentang binatang suci roh kuno. Bukankah Ming Zise berkata jika phoenix api roh dewa bereinkarnasi menjadi binatang suci? Tapi … apakah itu binatang suci biasa atau binatang suci roh kuno. Dia belum tahu.
“Kakiku terluka, obati aku segera!” Merak biru tua itu sombong.
Tak perlu menunggu lama, Dewa Obat segera memeriksa salah satu kaki jenjang merak biru tua itu. Ada sedikit lecet dan tonjolan, mungkin memar. Dia menatap Dewa Obat dengan curiga.
“Kenapa kakimu sampai seperti ini? Apakah kamu menendang sesuatu atau tersandung?”
“Tersandung,” jawabnya ringan.
“Oh.” Dewa Obat tidak bertanya lebih banyak. Dia segera mengobati lukanya.
Xiu Jimei melepaskan Reddish dan menghampiri keduanya yang sibuk berbicara. Dia sangat penasaran dengan obat apa yang digunakan Dewa Obat untuk mengobati cedera kaki merak. Dia juga sangat penasaran dengan jambul merak biru tua itu dan tak sengaja menyentuhnya.
Merak biru tua langsung marah dan memelototinya. “Berani menyentuh Dewa ini? Hati-hati agar aku tidak mengutukmu menjadi seekor tikus!” teriaknya.
Salep yang dipegang Dewa Obat hampir terjatuh dan dia seketika berkeringat dingin di punggungnya. Dia berharap Xiu Jimei tidak akan menganggap kata-kata Dewa Binatang serius. Lagi pula, Dewa Binatang marah pada orang yang salah. Dia belum tahu Xiu Jimei saat ini, hal yang wajar bukan?
__ADS_1
Tapi sekarang Xiu Jimei sudah cemberut. Dia hanya penasaran dan menyentuh jambulnya. Kenapa begitu marah?
“Humph! Kalau begitu lebih baik bagimu untuk tidak lagi menjadi merak selamanya!” cibirnya kesal.
“...?!!” Dewa Obat terkejut tapi tidak tahu harus berkata apa untuk meminta Xiu Jimei menarik kembali kata-katanya.
Benar saja, setelah kata-kata gadis itu terucap, cahaya putih menyelimuti tubuh merak biru tua. Tak lama setelah itu merak biru tua itu berubah menjadi seorang pria berjubah brokat biru tua dengan corak ekor merak di beberapa bagian pakaiannya.
Tapi pakaian pria itu sangat longgar hingga memperlihatkan dada bidang dan perut kerasnya. Ternyata sabuknya juga tidak terpasang dengan baik hingga salah satu betis dan pahanya terlihat jelas. Helaian rambut panjangnya jatuh ke pundak.
Sekilas, Dewa Binatang terlihat sangat tampan. Wajahnya sedikit memerah karena baru saja berubah kembali menjadi manusia.
Untuk sesaat Xiu Jimei yang terkejut merasa terpesona dengan ketampanannya. “Ketampanan ini sangat cocok untuk dipajang di gedung merah (*tempat pelac*ran*)!”
Dewa Binatang yang merasa bangga dengan tatapan Xiu Jimei sebelumnya kini langsung berwajah hitam. “Gadis, apakah kamu tidak bisa melihat estetika seseorang? Bukankah kamu suka?” Dia memperlihatkan bahu kokohnya. Pakaiannya meluncur ke bawah hingga tubuhnya terlihat lebih jelas.
Pada saat yang bersamaan, sosok Ming Zise tiba-tiba saja datang dan membuka pintu. Pria itu melihat pemandangan yang membuatnya mengerutkan kening. Namun melihat Dewa Binatang sedang menggoda tunangannya, aura membunuh di tubuhnya langsung menguar.
Dewa Binatang yang merasa kedinginan tiba-tiba saja membenarkan pakaian bagian atasnya. “Kenapa begitu dingin?”
“Ini …” Dewa Obat juga bingung. Tanpa sengaja melihat keberadaan Ming Zise di ambang pintu, butiran keringat langsung membanjiri dahinya.
Dewa Obat mengeluarkan sapu tangan sutra dan mengelap dahinya. Berakhir! Hidup Dewa Binatang berakhir hari ini!
Sementara Xiu Jimei mengerutkan kening. Dia terlihat tertarik dengan Dewa Binatang hanya karena tampan dan sempurna tapi tidak lebih dari itu. Hingga akhirnya dia melihat sosok Ming Zise berjalan ke arahnya.
“Ming Ming!” panggilnya langsung senang.
“…??!” Dewa Binatang melihatnya juga lalu terkejut.
Entah kenapa … dia merasa akan tidak beruntung hari ini. Dan gadis di sampingnya baru saja memanggil Ming Zise dengan sebutan ‘Ming Ming’? Mungkinkah ….
Memikirkan identitas tunangan Ming Zise, dia segera membelalakkan mata.
__ADS_1