Menikahi Mantan Dewa Tertinggi

Menikahi Mantan Dewa Tertinggi
Bertemu Mye Ai


__ADS_3

Mau tidak mau, Xiu Jimei duduk tak jauh dari wanita itu. Kemudian wanita itu memakaikan mahkota bunga di kepalanya dan tersenyum puas. Ia mengangguk dan menghela napas lega.


"Ini sangat cantik. Kamu benar-benar seperti Yin'er," ucapnya.


Xiu Jimei mengerutkan kening. Yin'er yang dimaksudkan, apakah nama panggilan ibunya atau orang lain?


Dia tidak berbicara dan memperhatikan wanita itu dengan baik. Tampaknya wanita itu sama sekali tidak merasa canggung atau malu, justru sangat menikmati waktunya merangkai mahkota bunga.


Kemudian, Xiu Jimei mendengar wanita itu berbicara lagi.


"Waktu berjalan sangat cepat. Aku sudah berada di sini cukup lama. Mungkin cepat atau lambat akan segera kembali," ujarnya.


"Kembali? Jadi, dari mana kamu berasal?" tanya Xiu Jimei.


Wanita itu tersenyum lembut. "Dari mana pun aku berasal, bukankah semua jiwa akan kembali ke tempat asalnya?"


Dia tidak mengatakan dari mana dirinya berasal dan ke mana jiwa nya akan kembali. Tapi Xiu Jimei bisa memastikan jika wanita itu adalah sebongkah jiwa yang tersisa di sini. Mungkin sudah menunggu di sini demi seseorang.


"Apakah kita saling kenal?" tanyanya curiga.


Wanita itu menggelengkan kepala. "Tidak, tapi aku kenal kamu. Anak yang dilahirkan Yin'er, tentu saja aku mengenalnya. Kenapa tidak? Ini juga pewaris esensi delapan dewa-dewi."


Kali ini Xiu Jimei terkejut. "Jadi kamu sebenarnya—"


Sebelum Xiu Jimei menebak sesuatu, wanita itu menukas kata-katanya. "Bagaimana jika kita jalan-jalan sebentar? Kebetulan buah persik sudah matang. Mari kita memetiknya bersama."


Apa yang ingin dikatakan Xiu Jimei tertelan kembali. Ia hanya menyetujui permintaan wanita itu dan pergi dengannya. Ketika berdiri, wanita itu sangat ramping. Gaun putih berkibar tertiup angin padang rumput. Keduanya berjalan beriringan meninggalkan gazebo.


Selama perjalanan, keduanya mengobrol ringan. Wanita itu tidak memiliki banyak kata-kata aneh, semuanya murni menceritakan kehidupannya di sini dan kapan waktunya untuk pergi.


Xiu Jimei tidak banyak menanggapi. Tak butuh waktu lama, akhirnya dia melihat ada sebuah pohon persik besar di kejauhan. Hanya ada satu pohon, agak aneh.

__ADS_1


Wanita itu menggandeng tangannya menghampiri pohon persik yang berbuah. Beberapa buah sudah matang dan mengeluarkan aroma manis yang memabukkan.


"Kenapa buah persik itu aneh?" Xiu Jimei memperhatikan jika buah persik tidak sama seperti buah kebanyakan.


Dia memperhatikan jika buah persik di pohon itu tidak berwarna merah kejinggaan seperti biasanya, melainkan merah muda, agak pucat. Xiu Jimei mengira jika buah persik itu mungkin belum matang sama sekali. Namun saat wanita itu memetik satu dan diberikan padanya, Xiu Jimei mencoba untuk makan satu gigitan.


Daging buahnya yang berwarna jingga kekuningan, terasa lembut dan sangat manis. Wanita itu tidak memakannya, hanya memetik beberapa buah lagi untuknya. Setelah memakan buah persik itu, Xiu Jimei merasakan aliran energi spiritual di dantian nya menjadi lebih tenang dan hangat.


“Esensi delapan dewa-dewi terkadang terlalu protektif saat menghadapi bahaya. Jadi kamu harus bisa mengendalikannya di masa depan,” kata wanita itu.


“Untuk apa esensi delapan dewa-dewi ini sebenarnya? Kenapa sangat penting bagi dunia kultivator?’ tanya Xiu Jimei.


Wanita itu menghela napas. “Tentu saja demi kedamaian dunia. Ketika suatu hari dunia kultivator terancam punah, esensi delapan dewa-dewi bisa membantu. Satu hal yang harus kamu lakukan adalah menjadi kuat dan tetap rendah hati,” jelasnya.


Hanya dengan kerendahan hati, esensi delapan dewa-dewi akan aman di tangan orang yang benar. Tapi wanita itu tidak berkata lebih banyak tentang esensi delapan dewa-dewi. Setelah memetik buah persik, keduanya duduk di bawah pohon persik dan menikmati pemandangan pegunungan di depannya.


Sepertinya padang rumput ini jauh dari kehidupan lainnya. Seolah-olah hanya wanita itu saja yang mengurusnya.


“Putrimu pasti sangat mencintaimu.” Xiu Jimei tidak yakin apakah wanita ini ada hubungannya dengan ibunya atau tidak. Tapi sebagai seorang anak, ia juga sepertinya mengerti kesulitan seorang ibu.


Wanita itu menggelengkan kepala, senyumnya sedikit lemah. “Sayangnya, aku meninggal saat putriku lahir. Tapi sebelumnya aku melahirkan seorang putra. Aku tidak bisa memberikan cinta keibuan pada putriku. Saat lahir, dia bahkan tak bisa melihatku. Tapi untungnya, untungnya putriku sangat kuat dan dia bisa membentuk kekuatannya sendiri. Hanya dengan menjadi kuat, dia bisa dihormati oleh banyak orang,” jelasnya langsung bermata merah, penuh kesedihan tapi juga lega.


Xiu Jimei tidak bisa berkata apa-apa. Hingga akhirnya langit biru perlahan dipenuhi oleh awan gelap. Sepertinya hujan akan segera turun. Wanita itu tampaknya terkejut saat melihat perubahan di langit. Mau tidak mau dia tersenyum enggan dan menatap Xiu Jimei.


“Sepertinya waktuku sudah habis. Sudah waktunya bagimu untuk kembali,” ucapnya.


“Lalu bagaimana denganmu?”


“Aku akan kembali ke tempat yang seharusnya. Hukumanku di sini sudah selesai.”


“Tidakkah kamu ingin bereinkarnasi?”

__ADS_1


Entah kenapa Xiu Jimei enggan untuk berpisah dengannya. Wanita itu menggelengkan kepala.


“Dulu aku juga berpikir untuk bereinkarnasi dan kembali ke sisi putriku. Tapi … sekarang sudah tidak perlu lagi. Kehidupan putriku sudah sangat baik dan dengan orang-orang yang mendukungnya, aku yakin dia dan anak-anaknya akan memiliki kehidupan yang baik.”


Pergi ke tempat di mana jiwa kembali berarti menjadi ketiadaan bagi dunia. Tidak tahu apakah surga atau sejenisnya, tidak ada yang tahu. Xiu Jimei tidak membujuknya lagi. Wanita itu menepuk kedua pundaknya dengan lembut.


“Nah, pergilah ke gazebo. Dengan begitu kamu bisa kembali ke tempatmu berasal.”


“Kamu tidak mau ikut?”


Wanita itu menggelengkan kepala. “Pergilah,” jawabnya lembut.


Xiu Jimei akhirnya berjalan menuju gazebo. Namun ia sempat menoleh dan bertanya untuk terakhir kalinya.


“Siapa namamu?”


“Namaku … Mye Ai,” jawabnya lagi.


Xiu Jimei sepertinya pernah mendengar nama itu. Rasanya tidak asing. Tapi setelah mendapatkan jawaban, ia pergi ke gazebo tanpa menoleh ke belakang lagi.


Sementara wanita itu memperhatikan Xiu Jimei yang sudah dekat dengan gazebo. Perlahan sosoknya yang berada di bawah pohon persik mulai memudar dan berubah menjadi butiran cahaya yang terbang ke langit.


“Selamat tinggal, cucuku …” Suaranya seperti bisikan angin yang berembus untuk terakhir kalinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ketika Xiu Jimei siuman, hal pertama yang dilihatnya adalah langit-langit yang terbuat dari sulur hijau berbunga. Ada berbagai suara mulai tertangkap oleh indera pendengarannya. Sepertinya ini suara Tuit Tuit dan Roh Bunga?


Kenyataannya, di luar rumah sulur hijau berbunga, Tuit Tuit yang berwujud sebagai gadis kecil yang lucu tengah bertengkar dengan Roh Bunga. Roh Bunga suka menggodanya hingga membuat Tuit Tuit marah dan ingin menendang tangan kaki pendeknya. Namun Roh Bunga menahan kepala Tuit Tuit dengan mudah sehingga gadis kecil itu hanya menendang udara.


Saat Xiu Jimei keluar, semua orang yang ada di sana langsung menatapnya.

__ADS_1


“Anak Majikan, kamu akhirnya bangun!” Roh Bunga seketika melepaskan Tuit Tuit dan menghampiri Xiu Jimei.


__ADS_2