
Xiu Jimei segera kembali ke Istana Minglan. Ketika dia kembali, Ming Zise ternyata sudah pulang dari kesibukannya. Pria itu sepertinya sudah tahu jika Xiu Jimei pergi ke suatu tempat di Alam para Dewa. Jadi saat Xiu Jimei kembali, Ming Zise sedikit tidak senang.
Bukan tidak senang karena gadis itu pergi lama tapi karena dia khawatir Xiu Jimei akan mengalami kecelakaan. Lagi pula Ning Siyu masih bersembunyi di kegelapan. Siapa tahu akan menjebak Xiu Jimei ke suatu tempat.
Untungnya gadis itu kembali dengan selamat.
“Lain kali jika ingin pergi ke suatu tempat bawa Wuming atau Yamla. Dengan begitu aku bisa tenang,” kata Ming Zise seraya memeluknya.
“Oh, aku hanya pergi untuk membuat sesuatu untukmu.”
“Apa itu?”
Ming Zise melepaskan pelukan dan membiarkan Xiu Jimei mengeluarkan sesuatu dari cincin penyimpanannya. Dia terkejut saat benda berbulu seputih salju yang halus muncul di tangannya. Dia menebak bulu-bulu lembut di tangannya.
“Apakah ini bulu rubah?” tanyanya.
“Benar. Aku ingin membuat sesuatu untukmu tapi aku tidak tahu apa yang harus dibuat. Lagi pula, kamu memiliki segalanya. Rasanya apa yang akan kubuat akan sangat jelek dan tidak bernilai. Jadi aku meminta Tuit Tuit untuk mencari rubah putih dan menguliti bulu mereka untuk dijadikan syal.”
Ming Zise tersenyum dan memakai syal itu pada dirinya sendiri. “Bagaimana mungkin apa yang dibuat Mei’er jelek? Bahkan jika itu jelek, bukankah masih buatan Mei’er? Aku tidak akan keberatan. Syalnya cantik dan lembut. Aku menyukainya.”
Ini bukan kali pertama Ming Zise memakai syal bulu binatang. Tapi dia jarang memakainya karena tidak terlalu nyaman. Tapi sekarang syal bulu rubah putih dibuat oleh tunangannya, tentu saja dia dengan senang hati memakainya.
Xiu Jimei mendengkus. “Kamu sangat tahu bagaimana caranya menyenangkan wanita,” gumamnya.
Akhirnya Ming Zise terkekeh dan memeluknya lagi. Adegan tersebut tak sengaja dilihat oleh Butler Meng dan beberapa pelayan lainnya. Mereka terkejut melihat Ming Zise memakai syal bulu rubah putih.
Terakhir kali Ming Zise mendapat hadiah syal dari Dewa Pencipta Alam Para Dewa, tampaknya hanya disimpan saja. Tapi tidak tahu di mana syal itu disimpan saat ini. Sudah lama sekali.
Butler Meng dan pelayan lain diam-diam menjauh agar tidak mengganggu keduanya,
Ming Zise teringat dengan hadiah yang diberikan Dewa Pencipta Alam Para Dewa. Dia memberikan cincin penyimpanan yang terbuat dari giok hijau. Di dalamnya terdapat banyak jenis makanan yang sangat enak. Semuanya adalah makanan yang bisa dibuat di Istana Dewa Pencipta Alam Para Dewa.
“Dia tahu apa yang aku inginkan atau Ming Ming yang memberi tahunnya?” Xiu Jimei tentu saja tak sabar untuk makan. Dia belum makan apapun semenjak membuat syal bulu rubah putih.
“Aku yang memberi tahunnya.”
__ADS_1
“Yah, ini lebih enak untuk dimakan daripada barang-barang yang hanya jadi pajangan.”
“…” Ming Zise hanya menggelengkan kepala.
Xiu Jimei pergi ke ruang makan. Dia mengeluarkan beberapa piring perak, cawan untuk sup, teko untuk membuat teh serta beberapa gelas antik. Ming Zise tidak terlalu peduli dengan barang-barang antik atau sejenisnya. Di matanya, semua barang sama saja. Selama gadis itu bahagia.
Tapi jika teman-teman Xiu Jimei melihat hal ini, mungkin akan muntah darah. Barang-barang antik yang bernilai jutaan tael emas atau kepingan emas benar-benar dijadikan alat makan. Ini adalah kebiasaan orang kaya yang tidak peduli dengan uang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pada keesokan harinya, Ming Zise pergi ke Istana Dewa Perang untuk membahas masalah lebih lanjut tentang Alam Neraka. Kali ini dia tampil dengan memakai syal bulu rubah putih yang langsung membuat beberapa dewa-dewi terkejut.
Bahkan Dewa Kesialan hampir saja menyemburkan teh yang tengah diminumnya.
“Sayang, apakah aku tidak salah lihat? Ming Zise memakai syal?” tanyanya spontan.
Dewi Takdir yang kebetulan lewat di dekatnya langsung menendang Dewa Kesialan. “Siapa sayangmu? Jangan mimpi!” cibirnya kesal dan sedikit jijik. Tentu saja ini hanya bercanda.
“…” Dewa Kesialan yang baru saja ditendang menahan diri untuk tidak meringis. Dia hanya bercanda.
Dia segera mendekati Ming Zise dan bertanya hati-hati. “Tuan Ming, dari mana kamu mendapatkan syal itu?” tanyanya.
“Apakah cantik?” Ming Zise meliriknya dengan ringan.
Dewa Binatang yang memiliki hiasan bulu merak biru tua di kepalanya segera batuk ringan. “Cantik.”
“Ini dibuat oleh tunanganku.”
“…” Dewa Binatang seperti memakan lemon saat ini (ekspresi masam).
Lalu Ming Zise berkata lagi. “Ini dibuat dari bulu rubah putih berbulu panjang.”
“…??!!”
Dewa Binatang ingin bertanya lebih jauh. "Apakah tunanganmu itu ..." Dia menyebutkan ciri-cirinya.
__ADS_1
Kemudian Ming Zise menaikkan sebelah alisnya. Meski dia sudah menebak apa yang dimaksud dengan Dewa Binatang, faktanya Ming Zise sudah kecanduan berpura-pura tidak tahu.
Ketika Dewa Binatang menyebutkan ciri-ciri Xiu Jimei, Ming Zise hanya mengangguk sebagai persetujuan. Dia sengaja ingin merangsan Dewa Binatang.
Xiu Jimei berkata jika para rubah itu tidak dibunuh tapi dibuatkan hidup begitu saja. Kemungkinan besar jika para rubah mengadu pada Dewa Binatang. Masalahnya, para rubah putih berbulu panjang juga pasti bingung kenapa bisa pingsan begitu saja.
Seandainya mereka tahu Tuit Tuit adalah mantan dewa binatang, pasti menyenangkan.
"Apakah ada yang salah?" tanya Ming Zise datar.
"Tunanganmu menguliti beberapa bulu rubah putih berbulu panjang beberapa waktu yang lalu. Tahukah kamu?"
"Aku tahu. Mei'er cerita padaku."
"..." Lalu kenapa kamu tidak memberi tahuku sebelumnya? Sudut mulut Dewa Binatang berkedut.
Apakah Ming Zise ini sengaja ingin mempermalukannya?
Namun hal yang tak terduga pada Dewa Binatang saat ini adalah ... Ming Zise memberi tahunya tentang mantan Dewa Binatang yang masih hidup. Dia terkejut, bingung sekaligus ragu.
Rasanya tidak mungkin jika mantan dewa binatang masih hidup saat ini. Bukankah dulu menghancurkan jiwanya di luar Alam Para Dewa?
"Apakah kamu serius? Kamu tidak membohongiku?" bisiknya di dekat Ming Zise.
"Aku serius. Kapan aku bermain-main dengan perkataan ku?"
"..." Sepertinya tidak pernah. Dewa Binatang akui itu.
Lalu Dewa Binatang mendesak Ming Zise untuk memberi tahu di mana mantan dewa binatang saat ini. Ming Zise hanya berkata jika mantan dewa binatang sudah bereinkarnasi. Dan seharusnya bereinkarnasi berulang kali tapi tidak memiliki ingatan masa lalu.
Baru beberapa waktu yang lalu, mantan dewa binatang akhirnya memulihkan ingatan.
"Lalu kenapa dia tidak mau kembali? Aku yakin Dewa Pencipta Alam Para Dewa tidak akan mengungkit masa lalu lagi," bisiknya.
"Semua ini tentu saja atas kemauannya sendiri," kata Ming Zise datar.
__ADS_1
"Karena kamu tahu, di mana dia? Tuan Ming, kamu juga tahu aku tertarik padanya setelah tahu jika dirinya adalah seorang wanita, bukan pria."