
Di sebuah hutan dengan pepohonan menjulang tinggi, seekor raja elang roh tiba-tiba saja bersin beberapa kali hingga Hidungnya gatal. Elang besar itu memiliki bulu putih keperakan yang cantik dan tampan, tampak sangat mendominasi dengan tatapan dingin dan paruh tajam. Kedua kaki bercakar seperti pisau melengkung mencengkeram erat batang pohon.
“Nasib buruk apa lagi yang akan menimpaku kali ini?” gumamnya berniat untuk bersantai.
Namun seseorang tiba-tiba saja muncul di depannya.
“Raja Elang, aku membutuhkan bantuanmu!” suara seorang gadis hampir membuat para elang roh lainnya bersembunyi.
Hanya ada satu kalimat di pikiran mereka, gadis pembawa bencana itu datang!
Raja Elang Putih yang dikagetkan oleh suara itu tiba-tiba saja berteriak nyaring hingga hampir terjatuh dari dahan pohon yang tinggi. Entah kenapa, bulu-bulunya mulai meremang saat ini ketika mendengar suara gadis itu.
Saat melihat siapa yang datang, Raja Elang Putih memiliki firasat buruk.
“Kamu lagi, Manusia! Apakah kamu begitu suka mengagetkan seekor burung?” Raja Elang Putih tidak suka.
Xiu Jimei sudah berdiri di dahan pohon tak jauh dari keberadaannya. “Aku tidak mengagetkanmu. Hanya kamunya saja yang kurang fokus.”
“Untuk apa kamu datang ke sini? Tidak ada gunanya meminta bantuanku! Pergi! Aku mau berjemur!”
“Antar kami ke suatu tempat. Bayarannya akan setimpal, tidak perlu khawatir.” Xiu Jimei mulai bernegosiasi.
“Tidak, tidak, tidak! Aku bilang tidak mau, ya pasti tidak mau! Kembalilah ke lingkunganmu!” Raja Elang Putih sangat sombong.
“Tidak mau? Kamu yakin menolak permintaanku?” Xiu Jimei tersenyum tapi tidak tersenyum. Jika tidak mau, jangan salahkan dia nanti.
Raja Elang Putih masih ngotot. “Tentu saja aku menolak. Aku bukan binatang kontraktualmu. Jangan bermimpi. Kamu bisa mencoba meminta bantuan pada burung besar lainnya. Bukankah masih ada elang gunung?”
“Elang gunung terlalu tua, tidak bisa bepergian jauh,” kata Xiu Jimei seraya berpikir.
Elang gunung roh juga sejenis burung besar yang hidup di gunung-gunung tinggi atau pegunungan yang jarang terjamah manusia. Mereka tidak sombong, hanya saja generasi muda mereka sangat sedikit.
“Pokoknya aku tidak bisa. Bisakah kamu tidak menggangguku hari ini?” Raja Elang Putih tampak enggan terbang jauh hari ini.
Namun sebelum dia bisa memiliki pikiran damai untuk berjemur di bawah langit yang indah, Xiu Jimei sudah berada di belakangnya dan mulai menjambak bulu-bulu panjang di sekitar lehernya.
__ADS_1
Raja Elang Putih berteriak seraya meronta seolah-olah dia akan disembelih kapan saja.
“Manusia, apa yang kamu lakukan? Cepat lepaskan!”
“Karena kamu sangat suka berjemur dan malas terbang, cabuti saja bulumu, ini tidak berguna sama sekali!”
“Jangan, jangan! Kenapa kamu begitu kejam!”
Pada akhirnya, beberapa bulu tercabut dan jatuh perlahan. Beberapa elang roh putih lainnya saling merapatkan diri di batang pohon besar lainnya, menggigil dan mengira jika mereka mandi Keringat hari ini.
Cuaca hati ini sangat bagus untuk berjemur namun entah kenapa mereka kedinginan.
Raja Elang Putih yang tidak berdaya dan berpikir tubuhnya akan botak pun segera mengubah dirinya menjadi wujud manusia. Seorang anak laki-laki berjubah putih dan rambut perak tapi matanya setajam elang, langsung meloloskan diri dari cengkeraman Xiu Jimei. Dia sangat marah.
Sebagai binatang roh yang telah berkultivasi lama, secara alami bisa berubah menjadi wujud manusia. Meski penampilan manusia Raja Elang Putih adalah anak laki-laki remaja, namun Usianya sudah ribuan tahun. Sangat tua.
“Xiu Jimei, kamu wanita tak tahu malu!”
“Oh. Jadi kamu mau atau tidak?” Xiu Jimei tidak memedulikan ejekannya.
Laki-laki itu tampak sombong. “Bahkan jika aku tidak mau, kamu bisa apa? Bukankah kamu akan mencabuti semua bulu klanku?!”
“Aku ingin tahu dulu, bayarannya apa?”
“Baiklah.”
Xiu Jimei segera mengeluarkan beberapa domba iblis yang sudah dipanggang. Domba-domba itu gemuk dan memiliki aroma enak. Belum lagi ukurannya tidak kecil. Meski hanya ada beberapa ekor, tapi setidaknya cukup untuk beberapa elang yang mengantar mereka nanti.
Raja Elang Putih yang melihat itu seperti akan meneteskan air liur kapan saja. Pada akhirnya menyerah dan pura-pura tidak tertarik.
“Berapa banyak elang yang kamu butuhkan selain aku?” tanyanya. Dia akhirnya setuju.
Xiu Jimei menghela napas. “Ada tiga kelompok di pihakku. Masing-masing kelompok terdiri dari tujuh orang dan ada tiga orang dewasa juga.”
Tentu saja Xiu Jimei tidak bisa melupakan tiga guru pendamping. Para murid semuanya kurus dan masih muda, usia rata-rata mereka setidaknya seratus tahun. Kecuali untuk beberapa kultivator alam sekuler yang kemungkinan berusia di bawah lima puluh tahun.
__ADS_1
Laki-laki beriris mata elang itu pun berpikir dan melihat beberapa elang raksasa yang berjajar di dahan besar.
“…” Para elang yang dilihat oleh raja mereka merasa sedang diperdagangkan.
Akhirnya Raja Elang Putih menghitung. “Kemungkinan sepuluh elang sudah cukup jika itu untuk perjalanan yang jauh. Aku sendiri bisa membawa tiga orang dewasa di punggungku.”
“Sesuai pengaturanmu saja.” Xiu Jimei tidak protes.
Segera, sembilan elang lainnya dipilih untuk melakukan perjalanan jarak jauh. Mereka juga akan makan daging nanti. Raja Elang Putih segera mengubah tubuhnya lagi menjadi seekor elang raksasa dan membawa Xiu Jimei di punggungnya.
Di tempat Xiu Jikai dan yang lainnya menunggu.
Mereka mendengar suara elang yang menggema di langit. Saat menengadah, sepuluh ekor elang putih roh datang ke arah mereka dan mencari pijakan yang aman untuk melipat sayap. Di salah satu punggung elang paling besar, Xiu Jimei berdiri dengan tenang.
Kelompok Huang Fu Shi dan Meng Meng merasa terkejut saat melihat betapa besarnya elang putih yang tampak gagah dan jahat itu. Tapi bulu putih mereka sangat bersih dan terlihat licin.
“Maaf, negosiasinya sedikit lama,” kata Xiu Jimei.
“Xiao Mei, kamu berhasil meyakinkan mereka untuk membawa kita ke pegunungan mati?” Wang Xuyue merasa tidak percaya.
Pada saat inilah, Raja Elang Putih terkejut. “Ke pegunungan mati? Manusia penipu, kamu ingin aku mengantar kelompok ke sana?!” tanyanya pada Xiu Jimei.
“Ya. Ada apa? Sekarang keberatan?”
“Kamu tidak bilang akan pergi ke sana. Jangan bercanda, itu berbahaya. Aku tidak mau mengorbankan nyawa seekor burung.” Raja Elang Putih akhirnya melihat ke arah di mana pegunungan mati berada.
“Jangan khawatir, bayarannya berlipat ganda. Kamu hanya perlu mengantar kami sampai ke perbatasannya saja.”
Akhirnya Meng Meng serta yang lainnya tampak terkejut saat mendengar pembicaraan antar Xiu Jimei dengan elang putih yang tampak sombong itu.
“Elang ini bisa bicara!” Meng Meng yang belum pernah melihat seekor binatang roh yang bisa bicara di alam sekuler pun merasa takjub.
Seekor burung roh, jika bicara ternyata seperti ini suaranya.
Raja Elang Putih memandang rendah Meng Meng yang menatapnya seperti baru saja melihat dunia. Namun aura gadis itu sepertinya bukan dari Dunia Langit.
__ADS_1
Alam sekuler?
Bagaimana kultivator alam sekuler bisa ada di sini? Batinnya.