
Xiu Jimei merasa jika dirinya tak bisa tinggal diam. Dia tak bisa meminta ayah dan ibunya kembali. Ia tidak ingin bergantung pada keduanya. Sebagai anak dari mantan dewa iblis, Xiu Jimei tidak bisa menjadi orang yang lemah.
Ia memutuskan untuk memikirkan rencana selanjutnya. Latihan apa yang cocok dia lakukan sekarang? Selain dari esensi delapan dewa-dewi, kekuatannya tidak sekuat itu sebenarnya.
Jika ingin melawan Ning Siyu atau Lu Zheng dan mencari keberadaan Ming Zise, kekuatannya sendiri tidak cukup. Pergi ke Dunia Pagoda Neraka … ia juga sudah pernah. Tapi latihan di sana tidak cocok dengannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Beberapa hari kemudian, Xiu Jimei pergi ke Alam Para Dewa. Dia pergi langsung ke Istana Dewa Pencipta Alam Para Dewa.
Kedatangannya jelas membuat Dewa Pencipta Alam Para Dewa sendiri penasaran. Xiu Jimei datang dengan ekspresi serius. Dewa Pencipta Alam Para Dewa juga menjadi lebih serius.
“Kenapa kamu datang ke sini untuk menemuiku secara pribadi?” tanyanya.
Xiu Jimei ragu untuk bicara. Tapi kemudian mencoba untuk memberanikan diri. “Dewa, aku ingin menjadi lebih kuat. Selama ini, esensi delapan dewa-dewi selalu melindungi ku. Tapi sebenarnya aku sendiri tidak sekuat itu. Apakah dia cara bagiku agar bisa memanfaatkan esensi delapan dewa-dewi dengan benar?"
Dewa Pencipta Alam Para Dewa terkejut. "Kamu ... Kamu ingin berkultivasi dengan kekuatan esensi delapan dewa-dewi?"
"Ya, apakah itu mungkin?"
Dewa itu terdiam. Bukannya tidak mungkin. Hanya saja resikonya tidak kecil. Meski esensi delapan dewa-dewi tampaknya berdiam diri di dantian Xiu Jimei, pada kenyataannya itu hanyalah menumpang tempat.
Jika tubuh pelindung dirinya dalam bahaya, tentu esensi delapan dewa-dewi akan melindungi cangkang.
Tapi jika Xiu Jimei ingin berkultivasi mengolah esensi delapan dewa-dewi, mungkin agak sulit. Esensi delapan dewa-dewi sombong, tidak suka energi spiritual iblis dan kegelapan. Setiap kali terkontaminasi hal-hal seperti itu, pasti akan langsung dilawan.
"Xiu Jimei, ini terlalu beresiko. Kamu sendiri sudah cukup kuat sebagai kultivator ranah kekosongan. Kenapa tiba-tiba ingin menjadi bertambah kuat?" tanyanya agak berarti.
"Aku ingin menyelamatkan Ming Zise. Aku tahu jika Ming Zise pasti ada di tangan Ning Siyu. Wanita itu tidak akan melepaskannya. Hanya satu-satunya cara bagiku untuk bisa menyelamatkan Ming Zise, aku harus bertambah kuat," jelasnya.
__ADS_1
Dewa Pencipta Alam Para Dewa terdiam untuk waktu yang cukup lama. Dia memandang gadis itu, ingin melihat sampai mana keseriusannya. Ketidakhadiran Ming Zise memang akan membuat sedikit perubahan di Alam Para Dewa. Terutama ketika nanti perang terjadi.
Kini lawan mereka bukan lagi Ning Siyu, tapi juga Lu Zheng. Lu Zheng merupakan mantan Dewa Bencana. Sekarang masuk jalur kultivasi iblis neraka, jelas kekuatannya tidak kecil.
"Xiu Jimei, aku bertanya satu kali lagi padamu. Apakah kamu yakin ingin berkultivasi dengan esensi delapan dewa-dewi? Kamu harus tahu satu hal, ketika kamu menyatukan dirimu dengan esensi delapan dewa-dewi, tubuh dan jiwamu akan menjadi milik alam semesta. Ketika kamu mati, tubuhmu akan hancur tanpa reinkarnasi dan menyatu dengan alam."
Dewa Pencipta Alam Para Dewa menjelaskan dengan rinci kerugian dan resikonya di masa depan. Ketika esensi delapan dewa-dewi di tubuh Xiu Jimei menyatu dengan jiwa dan raga sepenuhnya, maka tidak bisa lagi diwariskan di masa depan.
Mendengar apa yang dikatakannya, Xiu Jimei ragu sama sekali. Ia mengangguk dan masih menginginkan hal ini.
Akhirnya Dewa Pencipta Alam Para Dewa tidak lagi membujuknya. "Karena kamu telah memutuskan masalah besar ini, maka aku tidak akan lagi mengatakan berbagai hal. Ikutlah denganku," katanya.
Dewa itu berjalan semakin jauh ke dalam istana. Xiu Jimei mengikuti tanpa bertanya. Semakin dalam mereka masuk, energinya lebih besar.
Ternyata, ada pintu lain di belakang istana. Ini lebih besar dan megah daripada pintu utama istananya sendiri.
Pintu gerbang berdaun dua itu berwarna putih keperakan. Ada ukuran phoenix dan simbol delapan dewa-dewi berwarna emas.
Ketika pintu terbuka, isinya ternyata hanyalah kabut putih susu. Xiu Jimei tak bisa melihat apapun di dalamnya selain asap putih yang sesekali bocor keluar garis pintu gerbang.
"Kabut?" Dia bingung.
"Ini bukan kabut biasa. Jika kamu memasukinya, tubuhmu seperti akan dihancurkan dan diisap oleh kekutan yang besar. Oleh karena itu aku ingin memastikan apakah kamu mampu melakukannya atau tidak. Jika kamu berhasil, esensi delapan dewa-dewi akan menyatu dengan tubuhmu. Tapi jika gagal, kamu akan menjadi makanannya."
Walaupun Xiu Jimei merasa itu agak mengerikan, ia masih harus mencobanya. Ia tidak bisa kalau dari kakaknya yang tengah berlatih keras saat ini.
"Aku akan mencobanya."
Sebelum gadis itu masuk, Dewa Pencipta Alam Para Dewa bertanya lagi. "Sudahkah kamu berpamitan dengan orang-orang terdekatmu?"
__ADS_1
Langkah Xiu Jimei terhenti. Dia menggelengkan kepala. Mungkin latihan ini akan menguras banyak waktu. Entah itu hari, bulan atau mungkin tahun.
"Tolong katakan saja pada mereka jika aku tidak akan kembali dalam waktu dekat." Xiu Jimei tidak siap untuk bicara dengan mereka.
"Tidakkah kamu ingin mengirim surat atau sejenisnya?"
Gadis itu menggelengkan kepala. Lupakan saja tentang ini, ia juga tidak bisa menulis banyak kata.
"Kapan Alam Neraka akan melakukan serangan ke seluruh dunia?"
Dewa Pencipta Alam Para Dewa berpikir cukup lama. Jika diperkirakan dari waktu Lu Zheng mempersiapkan pasukan, harusnya dalam waktu dekat.
"Mungkin beberapa tahun lalu, tidak lama atau sedikit. Lu Zheng tidak akan begitu gegabah menyerang hanya dengan pasukan yang ada. Kamu bisa tenang," jawabnya.
Xiu Jimei mengangguk, berpikir jika dalam beberapa tahun di dalam gerbang esensi delapan dewa-dewi, dia harus mampu keluar.
Sebelum masuk, Xiu Jimei sengaja mengusir Whitely, Blacky, Bluewy dan Reddish dari ruang spiritual bawaannya. Keempat makhluk suci ilahi kuno bingung dengan apa yang dilakukannya.
"Anak Majikan, kamu—" Reddish ingin mengatakan sesuatu tapi dipotong oleh Xiu Jimei.
"Aku tak bisa membawa kalian. Jika sesuatu terjadi padaku, maka kalian juga akan merasakannya. Dengan begitu, ibuku juga akan merasakannya. Aku tidak ingin membuat dia khawatir," jelasnya.
Tak menunggu keempatnya menyampaikan pendapat, Xiu Jimei sudah berlari masuk tanpa menoleh ke belakang. Sosoknya langsung ditelan oleh kabut putih aneh itu. Pada saat yang sama, pintu gerbang raksasa tertutup dengan sendirinya.
Jelas Dewa Pencipta Alam Para Dewa juga terkejut. Tidak pamit sama sekali, ini memang bukan perpisahan. Dia melihat keempatnya.
"Dia adalah kultivator yang beruntung. Jangan khawatir, semuanya akan baik-baik saja. Hanya saja semua butuh waktu," katanya.
Reddish ingin marah. Tapi Whitley menahannya. Dia juga tidak setuju Xiu Jimei pergi begitu saja. Tapi sekarang sudah terlambat.
__ADS_1
"Ziyura bisa pergi! Kenapa kita tidak bisa?!" Reddish menahan diri.
"Ziyura?" Dewa Pencipta Alam Para Dewa menaikkan sebelah alisnya.