Menikahi Mantan Dewa Tertinggi

Menikahi Mantan Dewa Tertinggi
Han Yuye Turun Ke Dunia Langit


__ADS_3

Ming Zise tidak bisa menahan dirinya untuk sementara waktu saat kulit keduanya tanpa pakaian saling bersentuhan. Kedua buah persik Xiu Jimei menyentuh dada bidangnya, menciptakan arus listrik di tubuhnya. Dia bereaksi.


"Mei'er," gumamnya bernapas berat. "Mari kita coba di sini," bisiknya.


"Cabul!" Xiu Jimei cemberut.


Tapi tangan kokoh Ming Zise meremas lembut buah persiknya berulang kali hingga dia mengerang. Tubuhnya gelisah. Ada beberapa tanda merah ambigu di kulit putihnya saat ini. Semuanya ditinggalkan oleh ciuman panjang Ming Zise.


Ia ingin melepaskan diri dari serigala jahat Ming Zise tapi gagal. Pada akhirnya, dia dimakan habis sepanjang waktu di pemandian air panas.


"Ming Ming, kakakku sangat khawatir aku akan hamil di masa depan. Dia berkata aku tidak bisa hamil sebelum menikah," bisik Xiu Jimei.


"Jangan khawatir, itu tidak akan terjadi."


"Bagaimana mungkin? Aku maupun kamu tidak pernah memakai pengaman apapun atau meminum obat apapun. Bagaimana kamu sangat yakin?"


"Selama aku tidak menginginkannya, itu tidak akan terjadi. Para dewa mampu melakukan ini," bisik Ming Zise langsung menggigit daun telinga Xiu Jimei. Wajahnya juga memerah saat ini.


Setelah menghabiskan banyak waktu di pemandian air panas, Ming Zise mengangkat Xiu Jimei ke daratan dan pergi ke kamar untuk beristirahat.


Xiu Jimei yang sangat kelelahan sama sekali tidak peduli dengan Ming Zise yang memeluknya saat berbaring di tempat tidur.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari berikutnya, Xiu Jimei mendapatkan kabar jika Han Yuye telah tiba di Dunia Langit. Saat ini berada di Istana Blackhell dan mengobrol dengan Xiu Jichen.


"Bu, kapan Dewa Pencipta Dunia Langit turun?" tanyanya.


"Seharusnya tadi malam. Ayah dan dia sudah mengobrol sepanjang malam. Tidak tahu apa yang mereka bicarakan saat ini," jawab Fu Chan Yin seraya membuat butter cookies.


Xiu Jimei ingin menyelinap pergi. Namun Fu Chan Yin menahannya. "Bantu Ibu membuat kue."


"..." Xiu Jimei paling enggan memanggang kue.


Melihat putrinya tidak bahagia, Fu Chan Yin terkekeh. "Tahukah kamu bahwa ayah paling suka masakan Ibu? Selama ini, tidak peduli apa yang ibu masak, ayah selalu memakannya. Bahkan jika itu tidak enak," katanya. "Dia juga bisa masak."

__ADS_1


"Ming Ming juga bisa masak. Di mana kakak?"


"Kakakmu sedang mencabuti bulu bebek di halaman samping."


"Untuk apa?"


"Mari kita panggang bebek nanti," jawab Fu Chan Yin sudah membayangkan rasa bebek yang enak.


"Oh." Xiu Jimei tidak tertarik dengan bebek kurus kecil dan tidak berdaging. "Aku masih suka ayam panggang."


Xiu Jimei memilih untuk menemani Xiu Jikai mencabuti bulu bebek daripada memanggang kue bersama ibunya. Fu Chan Yin hanya menggelengkan kepala lalu tersenyum kecil.


Di halaman samping, beberapa bebek roh biasa bersuara nyaring. Mereka semua berada di satu kandang besar dan menyusut ketakutan ketika melihat jenis mereka di potong lalu direbus kemudian bulu-bulunya dicabuti.


"Kakak, biarkan aku membantumu," kata Xiu Jimei.


Xiu Jikai memegang bebek yang baru saja dibersihkan dari bulu-bulunya. Sudut mulut laki-laki itu berkedut dan perasaannya tidak nyaman.


"Tidak perlu. Aku khawatir kamu akan mengacau—"


Sebelum Xiu Jikai menyelesaikan kata-katanya, terdengar suara beberapa bebek yang bersuara nyaring. Dia melihat Xiu Jimei sudah memegang bebek yang tubuhmu sudah botak. Bulu-bulu bebek beterbangan di sekitar.


"Benar saja, bebek ini lebih banyak bulu dan hanya ada sedikit daging. Tidak heran mereka bisa mengapung di air tanpa takut tenggelam," gumamnya.


"..." Bebek roh yang botak kedinginan sekarang.


Xiu Jimei menyerahkan bebek itu pada Xiu Jikai. "Aku akan merontokkan semua bulu bebek yang tersisa. Kamu hanya perlu menyembelih mereka saja."


"..." Xiu Jikai merasa kasihan dengan bebek botak yang dipegangnya. Tapi ini juga mempercepat pekerjaannya.


Xiu Jimei sudah masuk ke kandang lagi dan menangkap satu persatu bebek untuk merontokkan bulu Mereka. Para bebek tampaknya tahu jika Xiu Jimei akan melakukan hal yang sama jadi segera berlari menghindarinya.


Suara bebek yang nyaring di halaman samping membuat Roh Bunga penasaran. Dia baru saja kembali dari taman bunganya. Karena penasaran, dia akhirnya pergi untuk mengeceknya.


Roh Bunga melihat beberapa bebek yang sudah botak menggigil di sudut kandang. Kemudian Xiu Jimei keluar kandang dengan ekspresi segar.

__ADS_1


"..." Roh Bunga tidak bisa berkata-kata.


Xiu Jikai sendiri segera mengusir adiknya untuk tidak ikut campur kali ini. Gadis itu tentu saja pergi untuk membersihkan diri. Tak lama kemudian, dia bertemu dengan Han Yuye sebelum pergi menuju halaman tempat tinggalnya.


Xiu Jimei menepuk sisa bulu bebek yang menempel di pakaiannya. "Dewa, apakah kali ini akan tinggal di Dunia Langit dalam waktu yang lama?" tanyanya.


Han Yuye tersenyum dan mengangguk. Dia melihat beberapa bulu bebek berjatuhan. "Ya. Apa yang baru saja dilakukan Xiao Mei?"


"Bantu kakakku mencabuti bulu bebek," jawabnya. "Dewa, apakah Ning Siyu sudah ditemukan?"


"Sayangnya belum. Aku merasa jika ada pihak Alam Para Dewa lainnya yang sengaja menyembunyikan keberadaan Ning Siyu. Jika bukan karena Xiao Mei, kami mungkin tidak akan bisa menemukan wajah asli Ning Siyu. Alam Para Dewa kami berutang budi padamu," jelasnya.


"Tidak masalah. Cukup beri aku makanan enak."


"..." Han Yuye sudah menduga hal ini.


Xiu Jimei berpamitan untuk membersihkan lebih dulu sebelum membantu ibunya dan Roh Bunga memasak bebek panggang. Hari ini, Ming Zise dan Bai Huazhi akan datang untuk makan bersama.


......................


Pada siang harinya, Xiu Jimei memanggang bebek di halaman belakang. Fu Chan Yin menyiapkan saus pelengkap dan Roh Bunga sibuk menatap meja, kursi dan jenis makanan lainnya di atas meja.


Xiu Jikai pergi setelah mengurus bebek dan belum kembali hingga sekarang. Setelah waktu yang ditentukan, bebek panggang pun selesai. Bukan hanya ada bebek panggang, Fu Chan Yin juga memanggang ayam kesukaan gadis itu, udang bakar serta sambal cumi pedas yang enak.


Tak lama, Ming Zise dan Bai Huazhi datang hampir bersamaan. Juga, Xiu Jikai membawa teman-temannya yang lain. Yan Yujie, Wang Xuyue, Kin Wenqian, Jia Lishan serta Xuan Xing. Bahkan Huang Fu Shi, Lei Mo dan Shin Yalong juga ada.


Xiu Jimei tidak menyangka jika semua orang akan datang seperti ini. Dia pikir itu hanya acara makan-makan biasa karena Han Yuye ada di sini.


"Kenapa kalian semua datang ke sini? Apakah ada acar tertentu hari ini?" tanyanya.


Wang Xuyue tersenyum misterius. "Xiao Mei, kamu masih belum tahu?"


"Apa yang harus kuketahui?"


"Tentu saja ini adalah hari jamuan makan pertunanganmu. Xiu Jikai mengundang kami kemarin," jawabnya.

__ADS_1


"Jamuan makan pertunanganku?" Xiu Jimei mengerutkan kening. Lalu dia bertanya pada ibunya tentang ini.


Fu Chan Yin membenarkan hal itu. Sayangnya keluarga Fu tidak bisa datang saat ini karena terlalu sibuk. Namun mereka akan membayarnya dengan jamuan makan lainnya di masa depan.


__ADS_2