Menikahi Mantan Dewa Tertinggi

Menikahi Mantan Dewa Tertinggi
Masa Damai


__ADS_3

Xiu Jimei memakai kalung tersebut tanpa ragu. Tak lama, rambutnya berubah menjadi putih keperakan. Ia terkejut.


"Kenapa bisa begini?" Ia kebingungan.


"Apa yang kamu rasakan?" Xiu Jichen tidak sepanik dirinya.


"Aku ... Aku hanya merasa tubuhku jauh lebih nyaman dan ringan. Rasa sakit di tubuhku juga hilang."


Xiu Jimei menggerakkan otot-otot tubuhnya. Merenggangkan tangan dan kaki. Lalu melompat dan berlari kecil. Rasanya sangat nyaman. Menyentuh liontin kalung, apakah efeknya luar biasa.


"Siapa pria itu sebenarnya? Kenapa memberikan kalung yang begitu berharga ini?"


"Siapapun itu, bukankah bagus?" Xiu Jikai juga ikut senang.


"Yah, memang ...." Xiu Jimei tak bisa menahan diri untuk senang. Tubuhnya yang tak tahan dengan suhu dingin setidaknya lebih baik sekarang.


Xiu Jichen pergi untuk melihat kondisi Fu Chan Yin. Ia menyeret Xiu Jikai untuk menemaninya, membiarkan kedua anak muda itu membicarakan banyak hal.


Setelah keduanya pergi, Ming Zise tanpa malu memegang tangannya. "Mei'er ... Mari kita menikah," bisiknya.


"Apakah kamu melamar?" Xiu Jimei tersenyum malu.


"Ini bukan melamar, tapi pernyataan. Kita akan menikah."


Wajah gadis itu sedikit memerah. "Apakah kamu ingat tentang mimpiku yang lain?"


"Yang mana?"


"Kita menikah di alam sekuler."


"Oh ... Kenapa tidak? Mari kita lakukan di alam sekuler."


Keduanya tersenyum dan saling berpelukan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Beberapa bulan kemudian di alam sekuler.


Xiu Jimei berdiri di bukit batu sebuah negara kosong. Ia sempat bermimpi tentang token giok berbentuk bulan sabit yang diberikan oleh Nenek Ruan di masa lalu. Sudah lama semenjak ujian spiritual gabungan diadakan.


Ketika ujian dilaksanakan di alam sekuler, Xiu Jimei bertemu dengan Nenek Ruan, istri kepala desa yang tinggal di dekat gunung api.

__ADS_1


Xiu Jimei memperhatikan token giok tersebut lalu memandang negara kosong yang tampak sunyi. Di sekelilingnya ternyata dikelilingi oleh pegunungan batu yang cukup tinggi. Meski tampak kosong, kenyataannya negara tersebut memiliki tanah yang bagus.


"Bagaimana menurutmu tentang tempat ini?" tanya Xiu Jikai.


"Tidak buruk." Xiu Jimei secara alami suka. Belum lagi, dia punya wilayah kekuasaannya sendiri di masa depan.


Ada banyak yang harus dibersihkan sebelum menjadikan negara yang nyata. Ming Zise akan membawa sebagian orang-orangnya ke alam sekuler sekaligus memindahkan Istana Minglan.


Di masa depan, mereka akan tinggal di alam sekuler.


"Di mana Mo Yue?"


Xiu Jikai menatap ke salah satu pohon tak jauh dari mereka. Terlihat ekor rubah merah menggantung di salah satu dahan. Di sanalah Mo Yue yang berwujud manusia setengah rubah berada.


Gadis itu terlihat cukup sedih selama datang ke alam sekuler. Sepanjang hari hanya duduk di dahan dan memeluk pohon dengan sedih. Telinga rubahnya sedikit terkulai.


"Ada apa dengannya? Kamu sudah menikah dengannya. Apakah kamu mengecewakannya?" Xiu Jimei menebak.


Xiu Jikai menggelengkan kepala. "Dia mengira aku akan membuangnya ke alam sekuler dan meninggalkannya di sini."


Pikiran yang cukup kejam, batin Xiu Jimei. Namun dia tidak mau memikirkan masalah ini. Lagi pula, Mo Yue dan Xiu Jikai juga tidak buruk. Ia mulai menata letak yang cocok untuk membuat jalan, menempatkan Istana Minglan serta lain sebagainya.


Negara kosong ini dikelilingi oleh pegunungan batu. Tidak ada jalan utama yang luas. Jadi tentu saja harus membangun beberapa titik jalan untuk orang-orang datang.


Pernikahan tak perlu terburu-buru. Dia juga harus bolak-balik ke Dunia Langit untuk mengambil banyak barang.


Ming Zise juga ingin membuat jembatan array teleportasi agar orang-orang Dunia Langit bisa datang ke alam sekuler. Dengan begitu, hubungan dua alam akan terjalin erat.


Hanya saja, penting untuk memperhatikan pikiran banyak orang. Selalu ada orang yang picik dan berpikiran buruk. Tentu saja penjaga array teleportasi dibutuhkan.


Wang Xuyue serta yang lain juga datang bersama mereka kali ini. Siap membantu membangun negeri baru yang makmur. Termasuk para sepupu Xiu Jimei.


"Berapa lama untuk membangun negara yang luas ini? Aku pasti akan mati lebih dulu sebagai tumbal bukan?" canda Wang Xuyue saat melihat pemandangan dari atas batu besar.


Xuan Xing menggelengkan kepala. "Semakin banyak tenaga kerja, semakin cepat. Mungkin kurang dari setahun sudah bisa dihuni secara layak."


"Ada banyak binatang buas juga di sini. Lihatlah sekeliling, hanya ada batu. Bagaimana memindahkan semua itu?" tanya Yan Yujie.


"Tentu saja hancurkan dan jadikan bahan untuk membuat benteng." Xuan Xing mendengkus. "Ini saja bahkan kamu tidak tahu. Bukankah kamu seorang raja?"


"Aku raja hantu! Bukan raja batu!" Yan Yujie membela dirinya sendiri.

__ADS_1


Xuan Xing memutar bola matanya. Setidaknya gunakan pasukan hantu untuk memecah batu, bukankah mudah? Pikirnya.


Ketika Yan Yujie berjalan-jalan di sekitar bebatuan, ia tak sengaja tersandung. Hampir saja terjatuh tapi untungnya segera menyeimbangkan tubuh. Yan Yujie menggertakkan gigi.


Sampai kapan kesialannya akan berakhir? Bukankah jika terus begini, ia bahkan tak bisa mendapatkan seseorang untuk dijadikan istri di masa depan?


Yang lain hanya melihat Yan Yujie marah-marah sendiri, tak bisa berbuat banyak.


"Sudahkah kamu memikirkan nama negara yang akan kamu bangun?" tanya Jia Lishan.


Xiu Jimei memikirkan Ming Zise. "Mari sebut saja Negara Minglan, Kekaisaran Ming."


"Nama yang cantik! Aku juga ingin tinggal di sini." Wang Xuyue enggan berpisah dengan Xiu Jimei.


"Kenapa harus khawatir? Bukankah array teleportasi akan segera dibangun di masa depan? Kamu bisa datang dan sering mengunjungi ku." Xiu Jimei tertawa ringan dan menepuk bahunya.


"Pasti ada biayanya bukan?" gumam Wang Xuyue menghitung jumlah yang di kantong pribadinya.


"Tentu saja. Jika tidak ada uang, bagaimana negaraku akan berkembang?" canda Xiu Jimei tersenyum licik.


Melihat Wang Xuyue yang terlihat seperti tumbuhan layu, mereka tertawa. Namun Xiu Jimei masih kurang nyaman karena Mo Yue masih berada di atas pohon. Dia melirik kembarannya.


"Kakak, kenapa kamu tidak membujuknya? Jika tidak, hubungan kalian akan memburuk. Bukankah itu tidak diharapkan?"


"Bagaimana cara membujuk? Aku bahkan tidak pandai menyenangkanmu. Apa lagi wanita lain." Xiu Jikai bicara apa adanya.


"Beri saja dia daging. Bukankah dia suka daging?" Kin Wenqian membujuknya.


Wang Xuyue mengangguk setuju. "Benar, benar! Rubah suka makan daging."


Xiu Jikai terdiam sebentar lalu pergi untuk berburu seekor rusa. Kurang dari setengah jam, dia kembali dengan buruannya. Mereka semua sepakat untuk memanggang daging rusa.


Sebenarnya, Mo Yue bisa mencium aroma daging panggang tak jauh darinya. Namun masih enggan untuk turun. Ia masih memikirkan apa yang harus dilakukan setelah Xiu Jikai membuangnya di alam sekuler.


Aroma daging panggang semakin harum. Membuat jiwa rubahnya tak bisa berhenti untuk memikirkan makanan.


"Yueyue, turunlah dan makan." Suara Xiu Jikai membuatnya menoleh ke bawah.


Mo Yue melihat laki-laki itu memegang paha rusa yang sudah dipanggang hingga matang. Air liurnya hampir menetas. Sangat harum. Belum lagi ketika daging panggang itu digoyangkan ke arahnya. Ini godaan.


Namun pada akhirnya, Mo Yue tak bisa menahan diri lagi. Ia turun dan mengambil daging rusa panggang dari tangannya. Perutnya pun mengeluarkan bunyi protes.

__ADS_1


Mo Yue sangat malu hingga wajahnya memerah. Xiu Jikai menepuk kepalanya.


"Makanlah. Masih ada lagi jika kurang. Kenapa kamu harus berada di pohon sepanjang waktu? Kamu bukan burung."


__ADS_2