
Tidak ada yang tahu kapan gunung api akan selesai memuntahkan lahar. Meng Meng hanya bisa memberikan jawabannya samar-samar. Para warga desa yang dievakuasi sangat ketakutan dan wajah mereka tampak lelah. Sekelompok anak muda ini datang tidak tahu dari mana. Mereka juga seorang kultivator.
Desa jarang sekali didatangi oleh kultivator. Lagi pula tidak ada apa pun di desa selain bertani dan memelihara hewan ternak.
Sementara itu, Xiu Jimei sudah menyelamatkan beberapa hewan yang masih utuh. Ming Zise melindunginya dari belakang. Xiu Jimei tidak sadar jika gerakan Ming Zise benar-benar menyeimbangkan diri dengannya.
Hujan abu vulkanik sedikit menghalangi jarak pandang. Array pelindung berada di sekeliling Xiu Jimei dan Ming Zise sehingga tidak mengganggu sama sekali.
"Semuanya sudah selesai. Ayo menyusul yang lain." Xiu Jimei segera meraih tangan Ming Zise.
"Ya." Ming Zise membalas pegangan tangannya. Tangan gadis itu sangat lembut dan halus.
Saat ini, semua rumah warga terbakar oleh bebatuan panas yang terlontar dari gunung api menimpa rumah. Mungkin uang dan harta benda lainnya sudah terkubur menjadi abu.
Lahar turun dengan cepat ke pemukiman hingga menenggelamkan beberapa kebun dan sawah. Hingga akhirnya, mereka melihat sebuah batu bulat raksasa melayang di dekat gunung api.
"Apa itu? Batu? Siapa yang membawa batu sebesar itu?" Salah satu kultivator sekte terkejut saat melihat pemandangan tersebut dari dalam array pelindung.
Jarak pandang karena hujan abu vulkanik tidak menyulitkan mereka melihat kejadian tersebut.
"Batu itu untuk apa?" Yang lain juga bingung.
"Entahlah."
Mereka juga tidak tahu.
Di samping diskusi itu, Xiu Jikai hanya menunggu adiknya kembali dengan Ming Zise. Dia tidak terlalu khawatir karena Xiu Jimei tahan panas.
Dia juga melihat batu raksasa di dekat gunung bergerak sedikit demi sedikit. Dia tidak melihat siapa yang membawa batu tapi yang jelas sosoknya tenggelam oleh batu itu.
Batu raksasa itu pasti sangat berat dan hampir diajak sebesar bukit.
Mereka tidak tahu. Di balik batu raksasa seukuran bukit yang melayang di dekat gunung api itu, terdapat sosok Wuming. Di balik maskernya itu, wajahnya memerah karena menahan berat.
Laki-laki itu menahan batu di atas atasnya dengan susah payah. Dia ingin menangis saat ini. Tuan sungguh kejam memintanya membawa batu seukuran bukit untuk menutup lubang letusan gunung api.
Dia khawatir pihak kultivator alam sekuler di wilayah tertentu akan kebingungan saat ini. Salah satu bukit batu menghilang begitu saja. Bukankah itu akan memicu diskusi panjang?
Benar, Wuming membawa bukit batu itu dari salah satu bukit di lautan. Dia tidak peduli, yang jelas hanya batu untuk menutup lubang gunung api.
Dengan kekuatannya, Wuming segera memusatkan energi spiritual ke batu tersebut hingga melemparkannya tanpa perasaan.
__ADS_1
Batu seukuran bukit besar itu akhirnya terlempar lebih cepat ke tengah gunung api dan mendarat dengan kasar. Bukit batu itu menutupi semua sisi lubang gunung hingga lahar yang keluar juga tidak terlihat lagi.
Gempa juga mulai reda setelah lempengan di bawah gunung api terkena getaran energi spiritual milik Wuming.
Kepulan asap abu vulkanik masih memenuhi udara. Para pengguna elemen air segera mengerahkan kemampuan untuk membuat hujan buatan. Dengan begitu asap abu vulkanik yang mengandung berbagai material kecil bisa tersapu hujan.
"Apakah sudah selesai?" Salah satu dari mereka memecahkan keheningan.
"Sepertinya begitu."
"Apakah gunung itu akan meletus lagi?"
"Tidak tahu."
Mereka mulai merasakan gempa lagi tapi tidak besar, hanya seperti menggoda penghuni daratan. Kemungkinan lava yang masih ada di dalam gunung ingin meledak lagi karena dorongan dari bawah gunung.
Sementara itu, Wuming yang masih ada di dekat bukit batu yang menutupi lubang gunung pun kesal. Dia segera menepuk bukit batu.
"Diam! Atau tuanku akan meratakanmu!" ancamnya tanpa perasaan.
Gunung api yang ingin meletus itu akhirnya tenang lagi. Tapi bukan berarti gunung api itu mengerti, melainkan ada pihak lain yang menenangkan getaran.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu di Alam Para Dewa
"..."
Dewa bencana hanya bisa mencoret buku bencana alam gunung meletus sebagai salah satu kecelakaan.
Dia tahu Wuming, bawahan mantan dewa tertinggi—Ming Zise. Kenapa dia begitu sial bertemu dengannya?
Padahal gunung api yang meletus itu sudah termasuk dalam daftar bencana di alam sekuler yang harusnya menelan banyak korban jiwa.
Dewa bencana menghela napas dan menangis tanpa mengeluarkan air mata. "Apakah aku akan terkena sial juga seperti dewa kesialan?" tanyanya pada bawahan setianya.
"Eh, dewa, maksudnya?"
Kedua bawahan itu hanyalah laki-laki bermasker hitam dan memiliki pakaian yang aneh, namun tidak memalukan. Kedua mata mereka berkedip bingung.
"Gunung api di alam sekuler terpaksa menjadi gunung api kepala bukit batu."
__ADS_1
"..." Dua bawahan tidak mengerti, batin mereka semakin bingung.
"Bagaimana kabar di istana dewa kesialan saat ini?" tanya dewa bencana.
"Sedikit lebih baik. Info terbaru yang kami dapat, dewa kesialan sedang memperbaiki atap yang berlubang karena tersambar petir."
"..." Sungguh nasib dewa kesialan yang terkena sial.
Dewa bencana memiliki tubuh jangkung, paruh baya tapi masih terlihat ketampanannya. Dia sudah menjadi dewa bencana sejak zaman dulu, jauh sebelum peradaban manusia di alam sekuler berkembang.
Memberikan bencana di alam sekuler atau Dunia Langit atau di mana pun itu adalah tugasnya. Namun dia jarang memberikan bencana gunung meletus di Dunia Langit karena tidak banyak gunung. Jika dia sewenang-wenang meledakkan gunung, bukankah karma akan datang?
"Dewa, ingin datang ke istana dewa kesialan?" Tanya salah satu dari bawahannya.
"Tidak. Aku takut terkena sial. Sebagai dewa bencana, aku sudah terkena bencana saat ini. Berurusan dengan Ming Zise adalah bencana," ratap dewa bencana.
Tak lama setelah itu, para bawahan yang lain datang padanya sambil berteriak panik. Dewa bencana menutup kembali buku daftar bencana alam, sedikit terganggu dengan teriakan itu.
"Dewa, dewa ... Ini gawat!" Yang berteriak adalah penjaga gerbang istananya.
"Ada apa?"
"Bendungan sungai di dekat kebun stroberi hancur dan membanjiri kebun!"
"Apa?!" Dewa bencana membelalakkan mata lalu segera bangkit dan pergi ke halaman belakang.
Setelah pergi ke halaman belakang, dia melewati pintu pagar belakang istana. Tak jauh dari sana ada pagar semak-semak yang mengelilingi kebun stroberi miliknya.
Dewa bencana belum masuk kebun tapi air sungai sudah terlihat melewati semak-semak. Hatinya semakin tidak tenang. Dia segera melihat kondisi kebun stroberi nya yang kini terendam air sungai. Bahkan ikan-ikan bisa melompat, memakan buah stroberi di bawah genangan air.
Lagi pula, buah stroberi di Alam Para Dewa penuh dengan energi spiritual murni. Sehingga ikan-ikan juga suka.
"Stroberi ku!" Dewa bencana berteriak dan marah saat ini.
Sungguh bencana yang datang tidak diundang dan pergi setelah merampok.
Ada sungai yang cukup lebar tak jauh dari kebun stroberi nya. Dan dia membuat bendungan di sana sehingga air yang masuk ke ladang stroberi bisa mengalir dengan baik. Siapa yang tahu, bendungan yang dia buat justru dihancurkan oleh sekelompok gajah roh dewa yang sedang mandi di sana.
Mengetahui seluk beluknya, dewa bencana benar-benar ingin memakan daging gajah saat ini.
"Di mana gajah gendut itu sekarang?!"
__ADS_1