Menikahi Mantan Dewa Tertinggi

Menikahi Mantan Dewa Tertinggi
Menyelematkan Warga Desa Sekitar Gunung Api


__ADS_3

Wang Xuyue serta yang lain terlihat seperti orang yang belum pernah melihat gunung api meletus. Mereka menyaksikannya dengan takjub untuk sementara waktu.


Tapi semakin lama, lahar mulai menuruni gunung hingga mereka tak bisa lagi tinggal lama. Letusan gunung api sangat dahsyat hingga percikan lahar yang menyala jingga kemerahan itu hampir mengenai tubuh mereka.


"Segera turun gunung!" Xiu Jimei berteriak. Dia menaiki punggung harimau putih roh kuno.


Xuan Xing dan Kin Wenqian menumpang di belakang. Lagi pula harimau putih roh kuno itu besar. Membawa ketiga gadis di punggungnya seperti membawa hewan buruan yang mati.


Sementara Wang Xuyue duduk di punggung Cip Cip. Mereka segera menuruni gunung secepat mungkin.


Xuan Xing menggunakan elemen es nya untuk membekukan lahar yang datang ke arah mereka. Sedangkan sisanya menggunakan array pelindung diri.


Ming Zise tidak panik. Dia berada di belakang mereka serta meminta Wuming untuk mencari cara agar menghentikan ledakan gunung api. Wuming yang saat ini berada di salah satu pohon yang terkena percikan lahar pun ingin menangis. Tuannya semakin jahat padanya.


Di perjalanan, mereka bertemu dengan kelompok Meng Meng yang juga sedang menuruni gunung.


"Meng Meng, gunung api itu meletus! Gunung api itu meletus. Sangat cantik!" Yan Yujie berteriak seraya memeluk anak beruang roh kuno yang kini memegang ikan panggang.


Tidak tahu sejak kapan anak beruang roh kuno itu memanggang ikan di gua lava, tapi saat ini ekspresinya jelas tidak takut sama sekali.


"..." Meng Meng dan kelompoknya dipenuhi garis hitam di kepala. Cantik pantatku! Umpat mereka dalam hati.


Namun karena Dunia Langit jarang adanya gunung api yang meledak, mereka akhirnya hanya bisa memakluminya. Kelompok Meng Meng juga berlari bersama mereka.


Meng Meng segera berbicara, "Lahar ini akan menuju laut dan sungai. Sebagian lagi pasti akan membakar pemukiman warga dan ladang-ladang. Aku akan membantu evakuasi. Bagaimana yang dengan kalian?"


"Kalau begitu kami akan membantu," jawab Xuan Xing. Ini disetujui diam-diam oleh yang lain.


"Bagus. Terima kasih sebelumnya."


Cip Cip berlari lebih cepat dengan kedua kakinya yang kokoh. Tiba-tiba saja dia mencium aroma daging yang terbakar. Hingga menyadari jika pantatnya sedikit hangat.

__ADS_1


Ayam roh kuno itu ingin melihat ke belakang tapi khawatir menabrak pohon di depan.


"Cip Cip, ekormu terbakar!" Yan Yujie berteriak.


"Apa??!"


Cip Cip terkejut dan berhenti sejenak. Dia menoleh dan melihat ujung ekornya yang mulai habis terkena lahar yang kemungkinan jatuh ke ekornya.


"Tidak mungkin!" Dia marah.


"Baik, Cip Cip. Ini bukan waktunya mementingkan ekor jelekmu. Selamatkan diri dulu. Biarkan Xing Xing yang memadamkan api di ekormu!" Wang Xuyue hampir mencekik leher ayam roh kuno itu.


Cip Cip ingin menangisi ekornya. Tapi dia masih patuh untuk berlari dan merasakan ekornya dingin saat ini. Xuan Xing sudah membekukan api di ekornya.


Akhirnya saat mereka tiba di kaki gunung, Meng Meng pergi ke arah di mana warga berada. Di alam sekuler, tidak semua orang merupakan kultivator seperti penghuni Dunia Langit. Kebanyakan dari mereka adalah manusia biasa.


Oleh karena itu, mereka tidak memiliki kekuatan atau kemampuan untuk melarikan diri.


Ada sebuah pemukiman tak jauh dari sana. Kadang-kadang sudah dipenuhi oleh hujan abu vulkanik yang panas hingga beberapa warga juga pingsan akibat menghirup udara kotor yang panas itu. Sebagian merek menggunakan elemen angin dan air untuk membersikan lingkungan sekitar agar bisa mengevakuasi semua penduduk ke tempat yang lebih aman.


"Huang Fu Shi, Lei Mo," teriak Wang Xuyue.


Kedua laki-laki itu menoleh ke arah mereka. "Kalian di sini."


"Ya. Apa yang harus kita lakukan sekarang?"


"Ayo selamatkan barang-barang dan sebagian lagi membawa warga desa ke tempat yang jauh dari sekitar gunung api. Hewan-hewan yang bisa diselamatkan, ambil saja." Huang Fu Shi dengan cepat menganalisis sekitar dan memberi mereka arahan.


Bahkan jika gempa masih berlangsung seraya menyaksikan gunung api meletus, mereka sama sekali tidak mengendurkan gerakan.


Bencana alam yang satu ini sungguh tidak terduga bagi mereka berdua sehingga bingung sementara waktu. Untungnya para murid ujian dan para guru pendamping dengan cepat mengesampingkan tugas penting ujian ini dan membantu warga desa sekitar kaki gunung.

__ADS_1


Xiu Jimei turun dati punggung harimau putih roh kuno dan berlari cepat ke satu sisi. Dia menghampiri beberapa kawanan hewan ternak penduduk desa.


Ada sekawanan angsa yang panik dan ingin menyodok Xiu Jimei. Mereka bersuara nyaring. Tahu ada bahaya yang sedang mengintai.


"Para bebek, jangan khawatir, aku akan menyelamatkan kalian!" Xiu Jimei meraih leher beberapa angsa secara bersamaan dan mengangkatnya seperti baru saja menyembelih ayam.


"..." Kami adalah angsa! Kawanan angsa tidak suka dipanggil bebek. Mereka semua langsung dimasukkan ke ruang spritual bawaan Xiu Jimei.


Ming Zise melihatnya sibuk dengan hewan ternak itu pun hanya menggelengkan kepala. Dia menggunakan energi spiritual dewanya untuk menahan asap abu vulkanik yang kini telah menghujani pemukiman.


Di mana Wuming? Kenapa begitu lama?


Ming Zise tidak sabar. Tapi hanya bisa tenang saat ini. Bencana alam seperti ini tidak menganehkan baginya. Dia sudah melihat berbagai bencana alam di Dunia Langit dan alam sekuler sejak masih menjadi dewa tertinggi. Tapi baru kali ini merasakannya sendiri berada di tengah-tengah bencana.


Beberapa kerbau juga ingin menyelamatkan diri ke tempat yang aman. Harimau putih roh kuno menampar pantat mereka dan berbicara dengan bahasa binatang. Kerbau-kerbau itu marah tapi tidak berani melawan binatang roh kuno.


"Kerbau jelek, cepat pergi ke arah sana." Harimau putih roh kuno sudah mirip seperti anjing pengembala kali ini.


Salah satu kerbau tidak suka dipanggil jelek dan segera mengibaskan ekornya dengan keras. Harimau putih roh kuno yang ada di belakang kerbau itu pun langsung terkena tamparan ekornya. Dan itu menyakitkan.


Mengaum!


Harimau putih roh kuno terkejut hingga mengeluarkan suara auman panjang. "Bodoh! Berani menampar wajah tampanku!"


Kamu yang bodoh dan jelek! Para kerbau segera melarikan diri sesuai dengan arah yang dimaksud harimau itu.


Harimau putih roh kuno wajahnya bau saat ini. Kerbau itu berenang di kubangan lumpur dan ekornya mungkin terkena kotorannya yang bau. Dia tidak tahan ingin muntah.


"Sial! Benar-benar binatang yang bau!" umpatnya.


Semua murid segera membawa warga desa ke sisi yang aman. Lalu para array master segera bekerja sama membuat array pelindung. Tak terkecuali Wang Xuyue.

__ADS_1


Lapisan energi spiritual mulai terbentuk di langit dan di beberapa titik sudah dijaga oleh murid array master. Akhirnya, semua batu lava yang terlontar dari gunung api mengenai array dan langsung hancur. Meski gempa belum reda, mereka tidak memikirkan urusan lain sama sekali.


"Kapan letusan ini akan selesai?" Salah satu murid kelompok lain sedikit tidak sanggup untuk menahan array pelindung, kekuatannya terbatas.


__ADS_2