
Jika badai petir ingin menyambar Yan Yujie dan yang lainnya, maka Xiu Jimei dan Xiu Jikai adalah objek yang dihindari para petir. Karena terlalu aman, Xiu Jimei bahkan sengaja mengejar petir untuk menangkapnya. Siapa tahu dia bisa panen roh petir kecil yang lucu.
Melihatnya bergerak ke sana dan ke sini untuk mengejar petir yang menyambar, Xiu Jikai ingin menghentikannya. Namun Ming Zise mencegahnya.
"Terkadang, bahagia itu tidak selamanya normal," ucapnya.
"..." Kamu guru pendamping yang sesat, batin Xiu Jikai langsung mendengkus.
Meng Meng masih khawatir jika Xiu Jimei akan mengalami kecelakaan. "Apakah dia baik-baik saja? Menangkap petir seperti itu? Bukankah bahaya bagi tubuh? Mungkinkah Jimei adalah kultivator elemen petir?" tebaknya.
Kelompok Xiu Jimei menggelengkan kepala. "Dia bisa melakukan apapun yang diinginkan," jawab Xuan Xing tidak terkejut lagi.
Tak lama setelah itu, sebuah petir ungu muncul dan menyambar tubuh Xiu Jimei. Gadis itu berteriak terkejut saat itu terjadi hingga yang lainnya menjadi khawatir dan gugup. Hanya Xiu Jikai dan Ming Zise yang tetap tenang.
Xiu Jimei terbatuk asap tapi tubuhnya tidak menghitam seperti disambar petir pada umumnya. Dia masih utuh dan sehat. Hanya saja, tubuhnya sesekali akan mengeluarkan percikan petir ungu.
Sebagai kultivator, tubuhnya tidak basah oleh hujan. Dia menggunakan array untuk melindungi dirinya sendiri.
Xiu Jikai memutar matanya dan melipat kedua tangan di dada. "Ini akibatnya jika dia bermain-main dengan kelompok petir," gumamnya.
Yang lainnya sudah menghampiri Xiu Jimei. Tubuh gadis itu berasap sedikit. Namun tidak ada sudut pakaiannya yang robek atau bolong karena sambaran petir.
"Xiao Mei, apakah kamu baik-baik saja?" Lei Mo tampak khawatir. Dia adalah laki-laki yang mengagumi kecantikan. Melihat Xiu Jimei masih cantik dan putih, dia lega.
"Tidak apa-apa. Aku hanya terkejut."
__ADS_1
Setelah itu, Meng Meng tak sengaja menyentuh lengan gadis itu karena penasaran. Apakah setelah disambar petir, tubuh menjadi dingin, keras atau lembek?
"Jangan sent—" Wang Xuyue berteriak untuk memperingati. Namun terlambat.
Meng Meng sudah menyentuh lengan Xiu Jimei sebelum peringatan Wang Xuyue terucap. Gadis itu langsung kejang sedikit seperti tersengat listrik dan pingsan. Rambutnya sedikit kaku.
"Meng Meng!" Kelompoknya langsung panik.
"..." Ini bukan salahku, batin Xiu Jimei bingung.
"Ada apa dengan Meng Meng? Apakah dia tersengat juga?"
"Meng Meng, Meng Meng bangun!"
Yang lainnya mulai panik saat melihat Meng Meng pingsan dengan ekspresi tidak berdaya.
Guru pendamping mereka yang melihat ini hanya bisa menghela napas. "Jangan khawatir, dia hanya tak sengaja tersengat energi petir yang masih mengamuk di tubuh murid Xiu Jimei. Dia akan bangun secara alami," jelasnya.
"..." Yang lain segera menatap Xiu Jimei dengan ngeri. Tubuh gadis itu masih memiliki energi petir yang saat ini belum dikendalikan?
Xiu Jimei bingung. Dia merasa tubuhnya baik-baik saja. Tapi setelah Ming Zise menepuk kepalanya, arus listrik yang sesekali memercik di tubuh Xiu Jimei langsung menghilang.
Ming Zise mungkin tahu jika Xiu Jimei tidak menganggap ini masalah besar. Tapi bagi orang lain, ini seperti bencana. Mereka yang menyentuhnya bisa pingsan jika energi petir belum hilang sepenuhnya.
"Apakah kamu sudah terbiasa seperti ini?" Lei Mo penasaran.
__ADS_1
"Ya." Xiu Jimei mengangguk. "Aku sudah sering disambar petir saat latihan di sini. Jadi bagiku ini bukan apa-apa."
"..." Kenapa orang sepertimu lahir ke dunia? Batin mereka lagi.
Salah satu dari mereka terpaksa menggendong Meng Meng yang masih pingsan dan melanjutkan perjalanan. Yan Yujie sudah pergi jauh dan tidak tahu ada di mana saat ini. Namun yang pasti, badai petir masih mengincarnya.
Meskipun perjalanan hari ini cukup melelahkan, mereka akhirnya sampai di lapisan pegunungan mati ke seratus setskah menempuh perjalanan selama beberapa hari.
Pada saat itu, kemungkinan hari sudah malam. Mereka kelelahan dan langsung duduk sambil bersandar di bebatuan untuk memulihkan tenaga.
Yan Yujie sudah lama terkapar di tanah bebatuan akibat lelah dikejar badai petir yang tidak ada habis-habisnya.
Berbeda dengan suasana di anak pegunungan mati sebelumnya, ketika tiba di anak pegunungan mati keseratus, tidak ada badai ataupun hujan. Semuanya tampak normal, hanya ada langit gelap dan gemuruh kecil.
"Apakah ini tengah-tengah pegunungan mati? Hanya dataran bebatuan saja?" Yang lain merasa tidak mempercayainya.
Mereka sudah berhari-hari melewati anak pegunungan mati hanya demi mencapai tengah-tengah. Tapi saat tiba di tengah, tak ada apa-apa selain bebatuan dan ... sepertinya ada pola aneh di bawah mereka.
"Pola apa ini? Kenapa bentuknya sedikit aneh?" Huang Fu Jung menyentuh permukaan pola yang sedikit cekung.
Guru pendamping kelompok Meng Meng sepertinya mengenali pola tersebut.
"Ini lingkaran totem penyegelan. Konon, naga emas terkubur di sini dan bisa muncul jika segelnya dibuka," jelasnya.
"Apakah guru pernah melihat naga emas itu?" tanya Meng Meng.
__ADS_1