
"Hanya ayam biasa. Jangan protes. Atau aku hanya bisa menyembelih Cip Cip." Xiu Jimei sudah lapar saat ini sehingga nada bicaranya agak buruk dan mudah tersinggung.
"Jangan! Ini sudah cukup!" Wang Xuyue tidak mau Cip Cip jadi korban pelecehan Xiu Jimei yang sedang kelaparan.
Mereka pun segera membersihkan ayam. Lalu diberi bumbu secukupnya. Ada juga bumbu oles berupa saus gurih yang lezat. Setelah menusuk daging, mereka meletakkannya di atas api unggun seraya dibolak-balik agar tidak gosong.
Ming Zise memberikan buah apel pada Xiu Jimei. Masih apel yang sama seperti yang diberikannya pada gadis itu di padang rumput.
Selama memakan apel, aroma ayam panggang mulai tercium. Warna ayam yang pucat kini mulai berubah kekuningan. Kulit ayam mengeluarkan bunyi-bunyi kecil di mana minyak mulai keluar saat bertemu api.
Lei Mo dan Huang Fu Shi menelan saliva, sudah mulai merasakan lapar. Keduanya bingung. Jelas tadi sudah menelan pil kenyang sehingga tidak akan lapar. Keduanya hanya berniat mencicipi ayam panggang. Siapa yang tahu jika ayam bakar di depan mereka begitu menggoda.
"Bagaimana ayam panggang bisa begitu harum seperti ini? Padahal ini hanyalah ayam biasa," kata Lei Mo seraya menyentuh perutnya. Rekan satu timnya juga mengangguk setuju.
Betapa menyenangkannya berada di kelompok Xiu Jimei.
"Hanya bumbu yang membedakannya." Xiu Jimei berbaik hati untuk memberitahukan rahasianya.
"Kami biasanya hanya menggunakan garam dan sedikit rempah-rempah yang ada. Tapi lihatlah ini, ada begitu banyak bumbu yang tidak akan kenal. Dari mana kalian mendapatkan ini?" tanya Lei Mo. "Bisakah kamu menjualnya padaku beberapa?"
Xiu Jimei tidak pelit. "Boleh."
Lei Mo memegang botol kaca berisi bubuk merah. Saat dibuka dan menaburkannya sedikit ke tangan, dia tiba-tiba bersin dua kali.
"Apa ini?"
Xiu Jimei meliriknya, "Itu cabai bubuk."
"Lalu ini?"
"Itu merica bubuk."
"Ini?"
"Kaldu bubuk."
"Kalau ini?"
"..."
Xiu Jimei hanya memperkenalkan semua bumbu dengan sabar.
__ADS_1
Selama beberapa waktu, mereka mengobrol tentang hal-hal sepele di hari-hari ujian yang lalu. Lalu Xiu Jimei ingat jika saudaranya belum kembali. Dia berniat untuk mencarinya terlebih dahulu. Namun Ming Zise tidak mengizinkannya.
"Dia akan baik-baik saja. Jika terjadi sesuatu padanya, kamu juga pasti akan merasakannya," kata Ming Zise.
Yan Yujie mengangguk dan kini memegang sayap ayam panggang yang tidak memiliki banyak daging.
"Benar, adik sepupu, kalian berdua adalah saudara kembar yang seharusnya memiliki ikatan batin yang kuat. Jika terjadi sesuatu pada Xiao Kai, kamu pasti akan merasakannya."
"Memang benar." Xiu Jimei tidak menyangkal dan akhirnya mulai makan.
Ming Zise mengembuskan napas lega. Gadis ini terlalu mengkhawatirkan saudaranya yang jelas bisa mandiri sejak lama. Tapi si kembar selalu bersama dan saling bergantung, bagaimana mungkin Xiu Jimei tidak mengkhawatirkan kakaknya yang pelit bicara?
Mereka semua makan ayam panggang. Ada banyak pujian tapi juga sangat disayangkan. Daging ayam terlalu kecil. Xiu Jimei merasa masih kurang jadi memanggang beberapa ikan lagi.
Melihat nafsu makannya yang besar, mereka diam-diam mengaguminya.
Keesokan paginya, mereka melanjutkan perjalanan. Tidak ditemukan banyak masalah saat menuju pegunungan es. Mereka juga bertemu dengan kelompok lain.
Setibanya di kaki pegunungan es, beberapa tim bahkan tidak memiliki baju musim dingin di cincin ruang penyimpanannya. Jadi mereka tidak memakainya. Tidak semua kultivator tahan dingin. Sebagian dari mereka sudah mendaki pegunungan, menerjang hawa dingin yang cukup ekstrem.
Kenapa pemilik Dunia Kecil Array Kuno tinggal di tempat seperti ini? Bukankah sulit untuk datang dan pergi?
Mereka yang memiliki jimat teleportasi bahkan lebih beruntung.
"Ya. Tapi tidak ada bedanya," timpal Kin Wenqian seraya mengatur napasnya
Sebagai kultivator, rasa lelah itu juga ada.
Meraka tidak menyadari adanya retakan pada permukaan yang dilewati. Suara retakan itu bercampur dengan suara mereka saat bercerita.
Namun Ming Zise berhenti. Dia memperhatikan sekitar kakinya. Salju yang menutupi permukaan tanah memang sebagiannya lagi telah menjadi es. Dia mengerutkan kening. Sepertinya ada yang tidak beres.
"Percepat," kata Ming Zise.
"Hah? Kenapa?" Wang Xuyue bingung.
"Jangan tanya, percepat saja sebelum sesuatu terjadi. Perasaanku tidak enak," jawab Ming Zise. Meski dirinya memiliki kemampuan untuk mengetahui apapun di sekitarnya, tapi tidak bisa sembarangan menggunakan kemampuan mata dewa.
Mungkin jika sesuatu terjadi, itu tidak akan menyakitinya sama sekali. Hanya saja kelompok yang dijaganya berbeda. Mereka hanya kultivator biasa. Jika sesuatu terjadi, pasti ada yang cedera.
"Kalau begitu, ayo cepat!" Yan Yujie sudah yakin jika dirinya akan terkena sial lagi sehingga berjalan paling depan dan buru-buru untuk mencapai puncak pegunungan.
__ADS_1
Melihatnya mendaki tergesa-gesa, Wang Xuyue juga ingin menyusul. Dia menepuk Cip Cip untuk berjalan lebih cepat.
"Yujie, tunggu!" teriaknya.
Xiu Jimei menunggangi harimau putih yang diberi nama Zebra. Harimau itu tidak takut dingin tapi Xiu Jimei sendiri sudah memakai jubah hangat milik Ming Zise karena kedinginan.
Suasana yang awalnya tenang menjadi kacau.
Yan Yujie yang setengah berlari sempat menoleh ke belakang untuk mengajak yang lainnya berjalan lebih cepat. Dia sangat antusias. Tapi Yan Yujie tidak menyadari jika di bawah kakinya, retakan es justru semakin melebar.
Saat Wang Xuyue hampir saja menyusulnya, retakan es di bawah kaki Yan Yujie akhirnya tidak bisa menahan beban lagi dan langsung amblas.
"Yujie, menghindar!" teriak Wang Xuyue ketakutan saat melihat bongkahan es di bawah Yan Yujie mulai amblas.
Yan Yujie terkejut. Sebelum bereaksi untuk menghindar, dia sudah terjatuh ke lubang pegunungan es yang diameternya cukup lebar.
"Yujie!"
Mereka khawatir Yan Yujie akan mengalami kecelakaan lain di bawah sana.
Pada akhirnya, retakan es yang semulanya hanya amblas di bawah kaki Yan Yujie, kini meluas hingga kedua kelompok itu juga ikut terseret ke bawah.
Xiu Jimei turun dari punggung harimau putih roh kuno dan hendak berpijak pada beberapa bongkahan es yang ikut jatuh. Namun tiba-tiba saja Ming Zise menangkap pinggangnya.
"Guru?" Xiu Jimei terkejut.
"Jangan khawatir." Ming Zise tidak akan membiarkan kecelakaan lain membuat gadis itu dalam masalah.
Mereka semua berteriak karena takut dan terkejut. Sepertinya saat ini mereka jatuh ke sebuah lubang yang tidak tahu di mana dasarnya. Cukup dalam. Lei Mo dan Huang Fu Shi meminta yang lain untuk tetap berhati-hati.
Untung saja mereka semua telah terlatih dan tingkat kultivasi nya tidak rendah sehingga mudah untuk menyeimbangkan tubuh saat terjatuh dari ketinggian.
Di bawah mereka ada sebuah tanah berlapis es. Setidaknya tidak ada bekuan es yang tajam sehingga saat mendarat, mereka hanya mengalami rasa sakit dan memar ringan.
Sayangnya mereka jatuh tanpa bisa menentukan lokasi yang tepat. Lei Mo hampir saja menindih Huang Fu Shi. Wang Xuyue memeluk Cip Cip yang kini menjadi korban tuannya sebagai bantal empuk. Adapun Xuan Xing, dia segera menghuni elemen esnya untuk membentuk sebuah perosotan es—membantu yang lain juga.
Sedangkan Xiu Jimei baik-baik saja di pelukan Ming Zise yang kini mendarat tanpa ragu.
Di sisi lain, seekor harimau putih roh kuno merasa menindih sesuatu yang tidak terlalu besar.
"Apakah aku menindih kayu empuk kecil yang hangat? Tidak sakit sama sekali," kata harimau putih roh kuno saat mencoba bangun setelah kehilangan keseimbangan.
__ADS_1
Namun saat harimau putih itu melihat sesuatu yang tak sengaja tertindih oleh nya, dia pun terkejut.
"Apakah kamu baik-baik saja?"