Menikahi Mantan Dewa Tertinggi

Menikahi Mantan Dewa Tertinggi
Tumbuh Menggila (6)


__ADS_3

Meng Zhanluo akhirnya melihat lebih dekat lagi apakah itu benar-benar bukan rumput? Lalu melihat ada bulir padi yang gemuk dan besar, Meng Zhanluo lebih terkejut dari sebelumnya hingga dia mematung sementara.


"..." Meng Zhanluo yang menebak perak sawah yang diurus oleh kelompok Xiu Jimei, mau tidak mau lemas di tempat.


"Tuan, Tuan, apakah kamu baik-baik saja?" Murid laki-laki itu kawalahan dengannya.


"Aku ... Aku baik-baik saja!" Meng Zhanluo kembali sadar. "Ini dia lagi! Aku harus pergi mencari seseorang, kamu tunggu di sini dan pastikan tidak ada orang."


"Ya, ya, ya." Murid laki-laki itu mengangguk seperti ayam mematuk nasi.


Meng Zhanluo segera meninggalkan tempat itu dan sesekali akan bergumam tidak jelas. Dia pergi ke salah satu rumah seorang petani yang elegan dan tidak terlalu mencolok. Kemudian mengetuk pintu.


Pintu dengan cepat dibuka oleh seorang lelaki tua yang merupakan pemilik rumah itu.


"Ah, Tuan Meng, ada apa datang sepagi ini ke sini?" tanya lelaki tua itu jelas terkejut.


"Maaf, apakah Tuan Ming ada di sini?"


"Oh, ya, beliau ada di dalam. Masuklah." Lelaki tua itu membiarkan Meng Zhanluo masuk.


Meng Zhanluo tentu tidak sopan dan masuk untuk menemukan Ming Zise yang tinggal di sini semenataws waktu. Lelaki tua itu hanya menunjuk ke salah satu ruangan di mana Ming Zise berada.


Pada hari biasa, lelaki tua itu tidak pernah mengganggu kegiatan Ming Zise. Bahkan merasa lebih tersanjung. Lagi pula, Ming Zise tidak terlihat seperti kultivator biasa. Dia justru terlihat lebih hormat saat melihatnya.


"Kenapa Guru Meng datang ke sini?" Ming Zise melihatnya masuk setelah mengeruk pintu, mengerutkan kening.


Kegiatan sehari-hari Ming Zise di waktu luang adalah membuat kaligrafi atau membalas surat tentang perihal pekerjaannya di Alam Para Dewa.


Meng Zhanluo menceritakan apa yang baru saja dilihatnya di areal pesawahan. Dia tampak tidak percaya, namun Ming Zise sudah terbiasa.


"Apakah kamu yakin itu areal pesawahan yang diurus oleh tunanganku?" tanyanya memastikan.


"Tuan Ming, aku tidak perlu berbohong tentang ini. Lihatlah sendiri dan putuskan apa yang harus di lakukan. Gadis ini— aku tidak tahu harus berbuat apa." Meng Zhanluo tampak tidak berdaya.

__ADS_1


Beberapa hari lalu itu adalah tomat merah spiritual yang tumbuh menggila. Sekarang ada padi lagi. Bagaimana mungkin Meng Zhanluo bisa tenang.


Ming Zise akhirnya memutuskan untuk pergi melihatnya sendiri.


Ketika keluar, langit gelap sedikit berubah abu-abu, tanda jika matahari akan terbit sebentar lagi..Meng Zhanluo dan Ming Zise pergi ke areal pesawahan dan melihat tumbuhan pagi yang tumbuh setinggi dua meter.


Bulir padinya gemuk dan terlihat sehat sehingga membuat Ming Zise juga agak terkejut ketika mendengarnya. Ini memang tempat yang diurus kelompok Xiu Jimei sebelumnya. Apakah gadis itu melakukan sesuatu lagi?


Ming Zise tanpa sadar menggosok antara dua alisnya. Ya, ini cukup merepotkan.


"Kali ini biarkan saja dan tidak bisa disembunyikan. Aku akan bertanya padanya nanti." Ming Zise tidak bisa berbuat banyak. Ini hanya padi, pikirnya.


Setelah Ming Zise pergi, dia tidak langsung kembali ke tempatnya menginap. Namun pergi ke rumah yang ditempati oleh kelopak Xiu Jimei.


Gadis itu harusnya pasti masih tidur sekarang. Ketika menyelinap ke salah satu kamar, Xiu Jimei memang tertidur di kasur sederhana. Dia satu ruangan dengan Xuan Xing, Kin Wenqian dan Wang Xuyue.


Ming Zise tidak ingin mengganggunya. Dia datang hanya untuk memastikan sesuatu. Tapi tidak terlambat untuk menunggu semua orang bangun jadi dia pergi lagi.


Tepat ketika matahari terbit, semua orang dibangunkan oleh pemilik rumah dan meminta mereka untuk mandi, bersih-bersih rumah bahkan memberi makan ternak yang dipelihara.


Memberi makan ternak dan beres-beres rumah tidak sulit. Kelompok Xiu Jimei menyelesaikannya dalam waktu singkat. Pemilik rumah yang merupakan seorang lelaki tua pun tersenyum puas dan membebaskan mereka.


Bukannya lelaki tua itu memerintah mereka sesuka hati, namun ini perintah dari Meng Zhanluo. Jadi dia tidak sopan lagi.


"Mei'er," sapa Ming Zise yang datang ke rumah tempat Xiu Jimei berada.


Kebetulan kelompok Xiu Jimei sedang memasak untuk sarapan.


"Mingming, kenapa kamu di sini?" Xiu Jimei sedang mengiris bawang bombai untuk membuat bumbu sup pangsit rebus.


"Datanglah dan lihat kamu. Setelah sarapan, kalian ikut aku ke sawah."


"Apakah ada yang salah dengan hasil tanam padi yang kami lakukan?" Yan Yujie merasa curiga.

__ADS_1


Ming Zise menggelengkan kepala. "Tidak ada yang salah. Tapi kalian sudah waktunya panen. Jadi ambil wadah dan panen nanti."


"Panen?!!" Mereka semua berkata serempak, kecuali Xiu Jimei yang kebingung.


Bahkan wajah Xiu Jikai tak dipungkiri lagi menghitam ketika memikirkan sesuatu. Kemudian mereka semua menatap Xiu Jimei dengan curiga. Seolah mata mereka berkata 'Aoajah kamu melakukan sesuatu saat menanam padi?'


Xiu Jimei yang ditatap sedikit canggung. Ia sendiri juga tidak taku apa yang terjadi. "Aku tidak melakukan apapun. Sama sekali tidak curang. Bukankah semua cairan nutrisi dan segalanya disiapkan oleh pemilik lahan? Aku bersumpah demi langit dan bumi!!" Dia bahkan memiliki sumpah.


Tak lama, terdengar sedikit gemuruh di langit. Orang mengira mungkin akan turun hujan lagi. Namun gemuruh itu hanya terdengar satu kali dan langit kembali tenang.


"..." Mereka semua tahu jika apapun yang dikatakan Xiu Jimei kadang menjadi kenyataan.


Karena Xiu Jimei sudah bersumpah, maka pasti benar. Kemudian Xiu Jikai menatap Ming Zise.


"Apa yang terjadi? Bibit padi yang kamu tanam sebelumnya ... siap panen?"


Ming Zise mengangguk. "Padi itu tumbuh dalam semalam dan ditemukan oleh seorang murid Gedung Alkimia yang bertugas pagi tadi."


Karena kejadian tadi dai terduga itu, kelompok Xiu Jimei makan terburu-buru dan pergi ke sawah untuk melihatnya. Dan benar saja, sawah yang mereka garap sudah dipenuhi oleh padi yang siap panen. Tinggal tanaman itu dua meter dan padat dengan bulirnya.


Kelompok yang lain juga tercengang saat melihat hal ini.


Xiu Jimei bersumpah bahwa dia sama sekali tidak melakukan apa-apa kemarin. Ia sangat jujur setelah kejadian tomat merah spiritual yang tumbuh berbuah dalam semalam.


"Lalu apa yang harus kulakukan? Aku sama sekali tidak mengetahui hal ini tetap akan terjadi." Xiu Jimei merasa sedikit bersalah.


Ming Zise juga memikirkan sesuatu dan menatap tunangannya dengan mata yang dalam. Setelah itu dia mengambil kesimpulan untuk memastikannya.


"Ikut aku menemui Dewi Kehidupan nanti."


"Dewi Kehidupan? Ada dewi seperti itu?" Xiu Jimei tidak pernah tahu tentang hal ini.


Ming Zise tersenyum. "Selalu ada dewa atau dewi berbeda di Alam Para Dewa. Hanya saja mereka sibuk dengan urusannya dan jarang datang ke istana Dewa Pencipta Alam Para Dewa."

__ADS_1


Xiu Jimei mengetahui hal itu dan hanya mengangguk.


__ADS_2