Menikahi Mantan Dewa Tertinggi

Menikahi Mantan Dewa Tertinggi
Dewa Obat Ingin Berlutut


__ADS_3

Dewa Obat berpikir jika Xiu Jimei melarikan diri setelah menebak maksud kedatangannya. Ia pun menjadi tidak senang. Tapi Xiu Jikai tahu jika adiknya pasti akan membersihkan diri dulu dari jelaga yang membuat tubuhnya kotor.


"Kupikir dia akan melarikan diri!" Dewa Obat hampir mengambil pil untuk mencegah serangan jantung.


Xiu Jikai menatapnya dengan ekspresi datar. "Oh, tidak mungkin. Dia akan bertanya tentang pil yang baru saja dibuatnya. Kebetulan kamu di sini. Adikku tidak perlu repot-repot melakukan perjalanan yang sia-sia ke Alam Para Dewa."


"..." Apakah datang ke Alam Para Dewa dan menemuiku masih tergolong perjalanan yang sia-sia? Batin Dewa Obat tidak senang.


Akhirnya, Dewa Obat dan Xiu Jikai pergi ke gazebo untuk mengobrol. Pelayan segera menyajikan teh serta beberapa makanan ringan. Dewa Obat tidak malu untuk mencicipinya. Kebetulan dia jarang makan saat berada di Alam Para Dewa.


Tak berselang lama, sosok Ming Zise muncul. Dewa Obat hampir menyemburkan teh yang tengah diminumnya.


"Tuan Ming, datang untuk berkencan dengan bintang phoenix nya?" Dewa Obat mengambil inisiatif untuk bertanya.


"Tidak. Aku datang untuk mengawasi mu," jawabnya datar.


"Mengawasiku? Apa yang terjadi? Mungkinkah karena aku tidak pamit pada Dewa Pencipta Alam Para Dewa, jadi dia mengutusmu untuk mengawasiku?"


Ming Zise akhirnya mencibir ringan. "Kamu tidak penting. Ini tidak ada hubungannya dengan Dewa Pencipta Alam Para Dewa. Aku mengawasimu untuk melindungi bintang phoenix ku. Bukankah Dewa Obat datang untuk mencari tahu pil yang dibuat Mei'er?"


"..." Dewa Obat tak bisa berpikir jernih untuk sementara waktu. Dia tertegun dan bingung. Pada akhirnya merinding di sekujur tubuhnya.


Ming Zise datang karena Dewa Obat datang untuk menginterogasi gadis itu. Khawatir dia memaksa Xiu Jimei dalam situasi mendesak, Ming Zise melindunginya.


"..." Apakah dirinya tampak seperti pria tua yang egois dan serakah? Dewa Obat tak bisa menahan helaan napas lagi.


Xiu Jikai tidak peduli dengan keduanya. Dia dengan santai mengeluarkan beberapa pisau yang sudah agak tumpul dan mulai mengasahnya secara pribadi.

__ADS_1


"..." Ming Zise dan Dewa Obat tak bisa berkata-kata. Entah kenapa, keduanya selalu merasa jika Xiu Jikai sedang mengancam keduanya.


Situasinya agak halus saat ini. Setelah menunggu satu batang dupa (20-30 menit), Xiu Jimei datang. Ia sudah membersihkan diri dan berganti pakaian. Tubuhnya tidak lagi penuh jelaga seperti sebelumnya.


"Oh, Ming Ming juga ada di sini?" Xiu Jimei terkejut melihat Ming Zise yang duduk sejajar dengan Dewa Obat.


Ming Zise tersenyum penuh arti dan menyesap tehnya dengan anggun. "Datang saja dan ajak kamu bermain malam nanti."


Xiu Jimei tidak menolak. Keduanya baru saja berpisah beberapa saat yang lalu tapi tak menyangka akan kembali bersama lagi nanti. Ia melihat Dewa Obat yang duduk dengan canggung. Tidak ada yang salah bukan?


Gadis itu menghampiri mereka dan mengeluarkan botol kecil yang terbuat dari kaca berisi lima pil. Pil tersebut terus mengeluarkan cahaya putih keemasan. Dewa Obat berbinar saat melihatnya dan tidak sabar untuk menyentuhnya sendiri. Tapi dengan adanya Ming Zise di sini, ia masih menahan diri.


"Pil putih keemasan yang penuh energi spiritual. Aroma herbal murni masih bisa tercium olehku. Putri Xiu, bisakah aku melihatnya lebih jauh?" tanya Dewa Obat bersikap tenang.


"Tentu saja. Lalu beri tahu aku, apa pil ini sebenarnya," jawab Xiu Jimei tidak keberatan. Dia menerimanya botol kaca berisi pil padanya.


Dewa Obat sangat tidak sabar. Setelah dia menerima botol pil, ia membukanya dengan hati-hati. Seketika, aroma beberapa herbal langsung menguar hingga botol tersebut. Bahkan Tuit Tuit tak bisa menahan diri di ruang spiritual bawaan. Dia keluar dengan kegelisahan.


"Apakah kamu sakit?" tanya Xiu Jimei.


"Apakah minum pil itu hanya untuk orang sakit?" Tuit Tuit ingin mencibir jika bisa.


Dewa Obat melihatnya sekilas dan merasa akrab. Kapan kira-kiranya dia melihat anak ayam yang bisa terbang ini?


"Bukan? Bagaimana kamu tahu?" Xiu Jimei bertanya lagi.


"Karena aku merasa tubuhku sangat nyaman saat mencium aroma pil itu. Aku tak bisa menahan diri untuk menelan dan menelan lagi. Mungkin dengan menelan pil itu, aku bisa tumbuh sedikit."

__ADS_1


Tuit Tuit juga ingin mengubah dirinya menjadi manusia. Biasanya dia memiliki waktu yang lama untuk memiliki wujud manusia. Seekor phoenix tidak bisa berkultivasi secara sembarangan. Setelah dilahirkan dari api berkali-kali, ia sedikit tahu tentang dunia ini.


Dewa Obat terkejut mendengar penjelasan Tuit Tuit dan ia menyetujuinya diam-diam. Pil yang dibuat Xiu Jimei secara alami bukan pula untuk menyembuhkan penyakit. Seharusnya masih ada kaitannya dengan pemeliharaan tubuh kultivator.


Ia mengambil salah satu pil dan mengamatinya dengan baik. Dewa Obat telah hidup selama ribuan tahun. Pil dunia fana mana yang belum pernah dia lihat. Kecuali pil yang dibuat Xiu Jimei ini, belum ada alkemis dunia lain yang mampu melakukannya.


"Tanaman herbal apa yang kamu gunakan untuk membuat pil ini?" tanyanya curiga.


"Tanaman herbal yang diambil dari gudang hartamu. Dan ... nasihat dan rumput roh yang kucabut dari halaman istanamu," jawab Xiu Jimei polos.


"..." Dewa Obat masih merasakan sakit hati atas rumput roh yang sebelumnya dicabut Xiu Jimei seperti mencabut rumput liar sebelumnya.


"Aku juga menambahkan air roh, esensi delapan dewa-dewi ..." Xiu Jimei menyebutkan apa saja yang dimasukkan ke tungku alkimia saat membuat pil tersebut.


Dewa Obat lagi-lagi terkejut. Kali ini bukan hanya rasa kagum saja tapi juga sedikit ekspresi menghormati. Baik tua maupun muda, selama memiliki bakat melawan langit, para dewa pasti menyayanginya.


"Jadi, kamu membuat resep pil ini? Sungguh luar biasa. Untuk membuat pil ini, jelas membutuhkan banyak usaha dan api roh yang kuat." Dewa Obat mengangguk lagi dan lagi. Jelas sangat jelas.


Sayangnya, Xiu Jimei tidak bermain sesuai perkataan Dewa Obat. "Tidak. Aku tidak memiliki resep dan semuanya dilakukan secara acak. Aku hanya ingin membuat pil baru yang belum ada di dunia ini."


Bagai petir menyambar di siang hari bolong, Dewa Obat hampir terkena serangan jantung. Dia ingin berlutut! Dewa Obat menatap Xiu Jimei dengan mata terbuka lebar, kaku dan sulit untuk berkata-kata.


Membuat pil tanpa memedulikan konsekuensinya, mungkin hanya gadis ini yang mampu melawan langit dengan satu tangan bukan?


Tidak heran jika halaman belakang tampak rusak di mana-mana, kecuali taman bunga Roh Bunga yang masih baik-baik saja.


"Nak, kamu! Kamu benar-benar —!" Dewa Obat ingin menangis.

__ADS_1


Ming Zise tersenyum dsn menyesap tehnya lagi dengan tenang. Tapi dia juga penasaran setelah melihat lima pil yang menguarkan energi spiritual murni.


"Jadi, apa nama pil itu?" tanyanya.


__ADS_2