
Kabut hijau yang dikatakan mengandung racun itu memang muncul dari atas hutan. Tapi dipastikan bukan karena hukum alam, tapi buatan. Entah itu sekelompok orang, array atau pun binatang buas.
Saat kabut hijau menyelimuti sekitar, Xiu Jimei memperkirakan jika dosis racunnya tidak tinggi tapi memiliki efek mengantuk.
Yan Yujie mulai menguap, begitu pula Kin Wenqian dan Jia Lishan. Mereka mencoba untuk menahan diri agar tidak tertidur di tempat.
"Ya Tuhan ... Apa yang harus kita lakukan sekarang? Aku sangat mengantuk," kata Yan Yujie. Semakin dia mengambil udara dalam-dalam, rasa kantuknya semakin berat.
"Aku juga." Wang Xuyue berjongkok, tidak kuat menahan kantuk.
Kabut hijau semakin tebal sehingga mereka tidak bisa melihat satu sama lain. Xiu Jimei mengerutkan kening, turun dari punggung harimau putih roh kuno.
Cip Cip sudah tertidur tak jauh dari mereka. Adapun harimau putih roh kuno yang juga dilanda kantuk, akhirnya memasuki ruang spiritual bawaan Xiu Jimei.
Di ruang spiritual bawaan, harimau putih roh kuno kehilangan rasa kantuknya. Dia mendekati kolam air roh dan minum untuk menyegarkan pikirannya.
"Air ini sungguh menyegarkan, penuh energi spiritual," gumam harimau putih roh kuno. Tidak sia-sia mengikuti gadis itu, pikirnya.
Di luar ruang spiritual bawaan, Xiu Jimei dan yang lainnya tiba-tiba saja terpisah. Dia tidak bisa menemukan keberadaan teman-temannya. Suasana menjadi begitu hening.
Xiu Jimei menyipitkan mata, berpikir jika mereka tertidur karena menghirup kabut hijau tadi. Namun mereka tidak ada di sekitarnya. Dia benar-benar sendiri.
"Guru?" Xiu Jimei memanggil Ming Zise, tapi tidak ada suara juga. Ini aneh.
Xiu Jimei berjalan beberapa langkah lagi untuk memastikan sesuatu. Sepertinya dia terkurung di suatu tempat yang dikelilingi oleh array tertentu.
Untuk mencari jalan keluarnya, dia harus mencari mata array. Jika ini buatan binatang roh tertentu, maka dia harus menemukannya dulu.
"Ini merepotkan," gumamnya.
Meski Xiu Jimei tampak polos dan tenang, dia sebenarnya acuh tak acuh. Berada di hutan berkabut hijau seperti ini, dia tidak takut sama sekali. Bahkan rasa kantuk itu juga tidak dirasakan sama sekali.
Xiu Jimei sangat mirip dengan Fu Chan Yin yang kebal terhadap racun. Belum lagi ini adalah alam sekuler, racun apa yang bisa menyakitinya?
__ADS_1
Oleh sebab itu, di saat yang lainnya dilanda kantuk hebat, dia hanya seperti berdiri di antara kabut yang luas. Xiu Jikai juga kemungkinan tidak akan terpengaruh terlalu banyak.
Tiba-tiba saja Xiu Jimei menghentikan langkahnya. Dia memperhatikan kabut hijau sedikit memudar. Bayangan Ming Zise terlihat tak jauh di depannya, bercampur dengan kabut.
"Guru!" Xiu Jimei memanggil nya lalu berlari untuk menyusul Ming Zise.
Sosok Ming Zise yang membelakangi itu tidak berniat pergi sama sekali, namun sedikit menoleh. Hanya saja Xiu Jimei tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Tampak kabur.
Tanpa sadar, bayangan mata merah besar di belakang Xiu Jimei muncul perlahan. Ada sedikit desisan ular di sekitar. Sayangnya Xiu Jimei masih belum menyadarinya.
"Guru, kupikir kamu pergi jauh." Xiu Jimei memeluknya dari belakang.
Tubuh pria di depannya hangat, tampak nyata dan bukan tiruan. Xiu Jimei tiba-tiba saja memiliki ekspresi serius. Dia meraba tubuh Ming Zise, perutnya memiliki otot yang kencang, dada bidangnya kokoh, bahkan lengannya juga tampak nyata.
Dia pikir orang di depannya ini hanyalah ilusi. Xiu Jimei sudah tahu sejak awal jika dia berada di tempat yang salah. Di hanya ingin memastikan sesuatu saja. Tapi siapa yang tahu ... ini diluar dugaannya.
Apakah ilusi di alam sekuler ini sungguh luar biasa? Pikirnya.
Tidak, tidak, Xiu Jimei harus memastikan jika ini hanyalah ilusi.
"Ah, tentu saja. Guru, yang lainnya hilang. Kita harus menemukan mereka." Walaupun Xiu Jimei agak bingung, dia masih bisa membedakan yang nyata dan tidak. Pria di depannya ini ... nyata?
Gadis itu melepaskan pelukan. Ming Zise berbalik dan tersenyum padanya. Kali ini Xiu Jimei mampu melihat wajah Ming Zise dengan baik. Tidak ada yang beda. Matanya memiliki iris keemasan yang normal, rambutnya putih dan halus, wajahnya memiliki garis rahang yang tegas, alis seperti pedang dan bibir sensual yang ingin sekali disentuh.
Pria di depannya terkekeh, menutup mata gadis itu dengan telapak tangannya yang lebar. "Apakah Xiao Mei mengagumi Guru?"
"Guru sangat tampan."
"Tentu saja."
"...??!" Sosok bermata merah di balik kabut itu sepertinya kebingungan saat ini.
Kenapa tidak sesuai dengan apa yang diinginkannya?
__ADS_1
Mungkinkah sihirnya gagal? Pikirnya.
Xiu Jimei masih tertawa bersama dengan Ming Zise dan memeluknya beberapa kali hanya untuk memastikan jika Ming Zise ini hanyalah ilusi. Dia harus segera memecahkan mata array yang membuatnya berada dalam jebakan kabut hijau pembawa mimpi buruk.
Tiba-tiba saja, Xiu Jimei berjinjit dan mencium bibir Ming Zise tanpa persiapan lebih dulu. Bahkan tubuh pria itu kaku tapi segera menanggapinya. Namun tiba-tiba saja Xiu Jimei melepaskan ciuman itu, merasa tidak percaya.
Ia menggertakkan gigi dan mengeluarkan pedang naga es dari gulungan kertas kuno.
"Cukup sudah permainan ini. Semuanya hanyalah ilusi!" teriaknya kesal.
Aura pedang naga es menguar hingga membuat kabut hijau di sekitarnya mulai menghilang. Embusan hawa dingin es berputar di sekitar Xiu Jimei saat pedang naga es diarahkan ke belakang, tepat di mana sepasang mata merah sedang menatapnya.
"..!!?" Sepasang mata merah itu akhirnya bereaksi, menghindari serangan Xiu Jimei tapi masih tidak bisa lepas dari goresan pedang naga es yang membuatnya menggigil.
Akhirnya, kabut hijau pun menghilang. Suasana di hutan kembali seperti sedia kala tapi masih tidak menemukan keberadaan Yan Yujie dan yang lainnya.
Xiu Jimei akhirnya bisa melihat dengan jelas sosok ular hijau roh kuno raksasa yang menjulurkan lidahnya berulang kali, menggigil di satu sisi saat menatap pedang naga es hampir saja menusuk hidungnya.
Ular hijau roh kuno memiliki ukuran besar, tentu saja itu bisa setinggi pohon saat menunjukkan kepalanya. Sisiknya hijau cerah, terawat dengan baik. Sama sekali tidak ada jamur yang menempel.
Oh, ular hijau yang satu ini sepertinya sangat suka sekali mandi, pikirnya.
"Bagaimana kamu bisa memecahkan ilusi mimpi burukku?" Ular hijau roh kuno itu menatap tak percaya pada Xiu Jimei.
Ia hanya mendapati Xiu Jimei tidak terpengaruh oleh kabut hijau yang bisa membuat siapapun yang memasukinya mengantuk. Oleh karena itu dia berniat bermain sebentar, membawa Xiu Jimei dalam ilusi kabut hijau.
Awalnya berjalan dengan baik, Xiu Jimei mulai pergi mencari jalan keluar. Sampai akhirnya ular hijau roh kuno memunculkan ilusi pria berambut putih tampan yang selalu ada di samping gadis itu.
Benar saja, Xiu Jimei merasa senang saat melihatnya. Siapa yang tahu Xiu Jimei berani memeluk dan bahkan menciumnya. Belum lagi, sosok Ming Zise yang ular hijau roh kuno ciptakan sepertinya memiliki kesadaran?
Apakah ini normal?
Jelas tidak!
__ADS_1
Ular hijau roh kuno merasakan konspirasi yang dalam kepada dirinya.