
Di Dunia Langit, Xiu Jimei tidak berpartisipasi dalam masalah lain. Setelah dia menangkap tiga ras hantu yang menjengkelkan, bola kaca itu diserahkan pada Yan Yujie sebagai mainan.
Mi Sai, Fan Li dan Mei Rong tidak berdaya dalam bola kaca transparan. Ketiganya seperti peliharaan kecil yang hanya bisa mengoceh dan memarahi. Tapi ketiganya merasa lebih baik hidup daripada mati.
Benar saja, seberapa kerasnya mereka ingin balas dendam, ketiganya takut mati. Ini terlalu konyol bukan?
Belum lagi anak buah Ning Siyu sempat datang untuk membunuh ketiganya. Tapi gagal dan mati di tangan Xiu Jimei.
"Dewi Kecantikan pasti sengaja mengirim orang untuk membunuh kita," kata Mi Sai sedikit berkeringat dingin. "Kita tidak akan mati kan?"
Mei Rong mendengkus. Dia duduk bersila dan bersandar pada dinding bola kaca. "Jika kita keluar dari tempat ini, tentu saja pasti akan mati."
"..." Itu artinya mereka tak bisa melarikan diri bukan?
Yan Yujie membawa bola kaca berisi ketiganya ke Dunia Hantu dan menyerahkannya pada para tetua. Pengkhianat itu ditangkap kembali dan kini menjadi kultivator kosong. Para tetua sedikit berkeringat dingin.
Untungnya Dunia Langit tidak menyimpan kebencian pada Dunia Hantu. Tapi mereka masih mendapatkan surat untuk membayar kompensasi kerusakan material.
Tapi setelah melihat berapa kompensasi yang harus dibayarkan, petinggi Dunia Hantu ingin muntah darah. Apakah Dunia Langit miskin atau terlalu serakah?
Mereka ingin menangis. Namun Yan Yujie tidak keberatan dengan kompensasi itu dan meminta mereka ingin menyediakannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Seekor merak biru dan seorang anak berusia tujuh tahunan berjalan-jalan santai di ibu kota Negeri Atas. Seorang anak dan binatang roh itu tampak akur. Beberapa orang yang lewat sesekali akan melirik dan mengaguminya.
Anak laki-laki yang tampan. Dan burung merak biru itu juga indah.
"Apakah kamu yakin kita lewat di jalan yang benar?" Dewa Binatang dalam wujud meraknya sedikit tidak berdaya.
Dia tahu dirinya sangat indah dan ekor panjangnya selalu menjadi pesona.
"Tentu saja ini benar, aku tahu aura esensi delapan dewa-dewi." Yuu sangat percaya diri.
Merak biru itu memutar bola matanya. Bulu jambulnya sedikit bergoyang. "Lalu kenapa kita tidak langsung pergi ke tempatnya saja alih-alih jalan-jalan?"
"Tentu saja kita harus menikmati pemandangan orang-orang di sini. Ini kali pertama bagiku untuk bermain ke Dunia Langit. Tentu saja aku harus memanfaatkan ini dengan baik."
Dewa Binatang tidak setuju dengan perkataannya. Dia datang ke sini untuk menemukan gadis itu dan menanyakan alasan dirinya kini menjadi merak begitu lama. Tapi dia tidak memiliki waktu untuk menemani Yuu bermain.
Setelah berjalan di keramaian cukup lama, mereka mencium aroma harum makanan yang menggugah selera. Yuu jarang makan sesuatu yang dimakan manusia. Begitu pula Dewa Binatang. Sebagai dewa, dia tidak perlu makan setiap hari.
Tapi aroma makanan yang satu ini sangat harum.
Yuu mengendus seperti seekor anjing. "Dari mana asal bau makanan yang harum ini? Aku ingin memakannya juga!"
Merak biru yang sedikit kesal sebelumnya mau tidak mau melihat sekeliling. "Sepertinya berasal dari restoran besar itu," katanya.
__ADS_1
Tanpa sadar ternyata keduanya sudah tiba di restoran terbesar ibu kota kekaisaran Negeri Atas. Restoran tiga tingkat itu tampak megah dan mewah. Dengan warna merah yang cukup kental serta beberapa lampion digantung, jika malam hari pasti akan sangat indah.
"Kalau begitu ayo pergi ke sana dan mencoba makanan yang harum itu," kata Yuu.
Sebelum Dewa Binatang bicara sesuatu, Yuu sudah pergi tanpa memikirkan hal lain. Tampaknya binatang roh kecil tidak terlalu dilarang untuk memasuki restoran.
Karena Yuu memakai pakaian bangsawan, pelayan mengira jika dia pasti anak salah satu rumah bangsawan ibu kota. Membawa seekor merak sebagai binatang roh peliharaan, tampak sangat lucu.
Bahkan jika Dewa Binatang tidak suka disebut binatang roh peliharaan Yuu, salahnya sendiri menjadi merak saat ini. Dia berusaha untuk tidak berbicara layaknya manusia. Dia khawatir menakuti para manusia itu.
Yuu memesan banyak makanan, termasuk makanan yang memiliki bau harum itu. Tanpa sadar, meja bundar penuh dengan makanan.
Ketika keduanya kenyang, pelayan menyebutkan berapa banyak tagihan yang harus dibayar Yuu.
"Berapa? Lima ratus keping perak?!" Yuu terkejut.
Apakah semahal itu? Seratus keping perak setara dengan satu keping emas. Semua makanan yang baru saja dimakan keduanya setara dengan lima keping emas.
Betapa mahalnya itu.
Tapi Yuu lupa jika mata uang di sini dengan di Alam Para Dewa cukup berbeda. Dan dia tidak memiliki uang Dunia Langit saat ini. Apa lagi Dewa Binatang tidak menyimpan kepingan uang di tubuhnya.
Yuu segera meraba-raba tubuh merak. Siapa tahu dia bisa menemukan kantong uang tersembunyi di balik sayap dan ekornya.
__ADS_1
"..." Merak biru yang dilecehkan ingin marah. Beraninya melecehkan dewa! Teriaknya dalam hati.