
Ming Zise tidak menjawab dan hanya tersenyum misterius pada mereka semua. Anak-anak sangat ingin tahu, terutama Xiu Jimei. Ming Zise menyukai ekspresi rasa keingintahuan gadis itu.
Bola energi supernatural yang menyelimuti potongan buah dewa gelap sepertinya mulai mengecil sedikit demi sedikit hingga akhirnya transparan dan hilang.
Embusan angin kecil muncul setelah lapisan energi spiritual keemasan yang menyelimuti buah dewa gelap menghilang.
Potongan buah dewa gelap ternyata kini menjadi lima buah pil hitam seukuran biji jagung. Semuanya melayang di atas tangan kiri Ming Zise.
"Pil?!!" Mereka terkejut.
Bagaimana bisa Ming Zise membuat pil tanpa tungku alkemis? Kemampuannya hampir sama seperti Xiu Jimei yang bisa membuat pil tanpa tungku alkemis. Tapi Xiu Jimei sendiri membutuhkan dua tangan dan mengatur suhu yang pas pada api spiritual.
Tapi Ming Zise terlihat mudah sekali membuatnya. Hanya membiarkan energi spiritual keemasan menyelimuti potongan buah dewa gelap dan menunggu beberapa saat. Akhirnya menjadi pil dalam sekejap.
Ini sangat tidak realistis.
"Guru, apakah kamu manusia?" tanya Xiu Jimei bercanda.
Ming Zise tidak menjawab dan terkekeh, memberikan kelima pil itu pada Xiu Jimei.
"Pil ini mudah meleleh di mulut, biarkan Yan Yujie menelannya satu."
"Apakah pil ini bisa membuat Yujie sadar?"
"Ya. Yan Yujie memiliki tubuh Yin yang murni dan energi spiritual kegelapan cocok untuknya. Jangan khawatir, dia akan baik-baik saja. Pil itu akan membuat jiwanya tenang dan menyatu dengan tubuh tanpa masalah." Ming Zise menjelaskan.
Xiu Jimei memasukkan satu pil ke mulut Yan Yujie.
Pil itu meleleh di mulut dan segera masuk ke tenggorokan. Pada akhirnya, mungkin efektif untuk tubuh.
Tak lama setelah itu, Yan Yujie terlihat mengerutkan kening. Tanda-tanda akan sadar. Mereka menunggu dengan gelisah. Apakah pil itu mampu membuat Yan Yujie sadar?
Anak beruang rong kuno sepertinya menyadari sesuatu dan segera pergi ke sisi Yan Yujie. Dia duduk di atas perutnya sambil menghindari luka yang dibalut. Dia senang karena tuannya akan bangun.
"Sepertinya ini berhasil." Jia Lishan melihat anak beruang roh kuno sangat antusias, akhirnya menghela napas.
Tak lama kemudian, Yan Yujie memang terbangun dengan ekspresi linglung dan sakit kepala. Saat melihat anak beruang roh kuno, dia teringat dengan beruang roh kuno dewasa yang mengejar ketiga kultivator ras hantu tadi.
"Ahhh!!! Itu kamu!" teriaknya seraya menatap anak beruang.
__ADS_1
Suara teriakan Yan Yujie tidak kecil hingga membuat mereka yang ada di dekatnya merasa risih. Xiu Jikai merasa tidak senang dan menjitak kepala laki-laki itu untuk membungkam mulutnya.
Yan Yujie akhirnya mengerang kesakitan. "Adik sepupu, kenapa tiba-tiba memukulku?!"
"Kenapa masih bertanya? Bisakah kamu menjadi lebih tenang setelah bangun? Membuat repot orang saja!" Xiu Jikai mendengkus. Tadi dia begitu khawatir karena Yan Yujie pingsan tapi kini acuh tak acuh.
"..." Yan Yujie akhir menyadari jika dia pingsan tadi. Hanya bisa meminta maaf.
Anak beruang roh kuno langsung memeluknya. Yan Yujie sedikit meringis karena luka di dadanya yang telah dibalut. Anak beruang roh kuno memeluknya lagi dan lagi. Akhirnya Yan Yujie sadar jika anak beruang roh kuno ini begitu kuat saat menjadi dewasa. Dia tidak lagi memiliki kejutan.
"Putih, syukurlah kamu baik-baik saja. Aku khawatir jika aku mati, kamu akan terpengaruh. Aku hanya tidak ingin kamu mengalami kecelakaan," ujar Yan Yujie.
Anak beruang roh kuno bersuara seperti anak anjing teraniaya. Yan Yujie hanya bisa mengelus bulunya yang sangat lembut.
Tubuh Yan Yujie dipenuhi perban saat ini. Lukanya Majah belum disembuhkan. Setelah menelan pil buah dewa gelap, Yan Yujie merasa sedikit lebih baik tapi kondisi kejiwaannya masih agak lelah.
Menurut Ming Zise, hal ini disebabkan karena jiwanya belum sepenuhnya menyatu dengan tubuh. Setelah empat pil dikonsumsi lagi, Yan Yujie akan kembali seperti biasanya.
Satu pil setiap hari, itu sudah cukup.
"Guru, terima kasih karena menyelamatkan jiwa kakak sepupuku." Xiu Jimei akhirnya bisa menghela napas lega.
Di kegelapan, Wuming yang menyaksikan itu hanya geleng-geleng kepala. Tuannya menggunakan energi spiritual keemasan itu membuat pil, memang sangat mudah. Tapi itu juga menguras tenaganya.
Ming Zise kelelahan saat ini. Xiu Jimei mungkin menebak alasannya. Untuk membalas kebaikan guru, dia membuatkan teh herbal, menyajikan sarapan serta meminta beristirahat sebentar.
Ming Zise tidak munafik dan menikmati semua perlakuan tersebut.
"Setelah ini, apa yang harus kita lakukan dengan ras hantu itu?" Yan Yujie kesal. Dia masih ingat bagaimana Mi Sai, Fan Li serta Mei Rong menyerangnya.
"Kita akan bertemu mereka di perjalanan. Jangan khawatir. Masih ada kesempatan untuk balas dendam." Xiu Jimei tentu saja tidak akan tinggal diam. Dia memakan sarapannya dengan penuh kemarahan pagi ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di Istana Dewa Kesialan.
Dewa kesialan awalnya demam dan ruam-ruam di sekujur tubuhnya, kini merasa jauh lebih baik. Berkat obat yang diminum serta obat oleh yang diberikan oleh Ming Zise, dia akhirnya bisa berjalan-jalan di halaman.
Tapi dia hanya ingin menyapa matahari pagi. Sinar matahari pagi bagus untuk tubuh. Berjemur sebentar mungkin bisa membuatnya lebih cepat sembuh.
__ADS_1
Pelayan menyediakan kursi, meja serta beberapa makanan di atas meja. Halaman belakang yang bersih dan indah memanjakan mata semua pelayan melihatnya.
"Dewa, apakah tidak apa-apa berjemur seperti ini?" Kepala pelayan sedikit khawatir.
Dewa kesialan yang berbaring nyaman di kursi malas pun mengerutkan kening. Wajahnya masih agak pucat dan tidak bersemangat.
"Kenapa memangnya?"
"Dewa bukan ikan asin yang dijemur," celetuk kepala pelayan.
"Berani!" Dewa kesialan segera meraih apel dari ata semua dan melemparkannya pada kepala pelayan yang berani mengejek.
Tapi kepala pelayan itu juga pintar. Mengetahui dewanya marah, dia segera melarikan diri ke ruang istana.
Pelayan yang lain merasa tidak percaya. Kepala pelayan berani berkata jika dewa seperti ikan asin yang dijemur. Ini penghinaan penuh dosa. Untungnya dewa kesialan tidak menganggap serius hal ini dan berbaring lagi dengan nyaman.
"Lupakan saja. Hidup ini harus dinikmati. Setelah sembuh dari demam nanti, dewa ini harus makan sesuatu yang enak," gumamnya.
Namun baru saja memejamkan mata untuk menikmati sinar matahari pagi, sebuah petir tiba-tiba saja muncul dam menyambar Istana Dewa Kesialan.
Semua pelayan berteriak ketakutan. Dewa kesialan sendiri terperanjat dari kursi malasnya dan berguling ke sisi lain. Dia pikir petir akan menyambar dirinya.
Kilatan petir terlihat di langit lalu turun lagi untuk kedua kalinya. Petir ungu itu menyambar istana dewa kesialan tanpa pandang bulu sebelum akhirnya sunyi kembali.
Dewa kesialan marah lagi saat ini. "Ya dewa petir! Apa yang sebenarnya terjadi denganku akhir-akhir ini? Kenapa selalu begitu sial? Kenapa petir itu menyambar istana dewa ini!" teriaknya ke langit.
Suara petir itu tentu saja menggelegar. Ada lubang di atap istana, cukup besar dan masih mengepulkan asap berbau gosong.
Dewa kesialan benar-benar ingin menangis. Apakah dewa petir tidak tahu bahwa atap istananya ini sangat mahal?
Kepala pelayan akhirnya berlari dari dalam istana dengan ekspresi panik. "Dewa, dewa, ini gawat!"
"Ada apa?" Dewa kesialan dalam suasana hati yang buruk saat ini.
"Botol pil sejuk yang diberikan oleh tuan Ming hancur tersambar petir!"
"Apa??!!" Dewa kesialan mengalami kejutan yang luar biasa dan akhirnya pingsan.
"Dewaku!" Kepala pelayan lebih panik lagi.
__ADS_1