
Ketika para murid dijemput oleh beberapa pengurus ujian kembali ke Dunia Langit, ujian berikutnya kembali ditunda selama seminggu. Terutama setelah insiden di desa kanibal, para murid menjadi mual saat mencoba makan daging. Hal ini membuat beberapa alkemis mulai membantu memulihkan psikologi mereka.
Tapi berbeda dengan Xiu Jimei.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di Istana Golden Lotus.
Xiu Jimei dan Ming Zise memasak banyak hidangan berbahan dasar daging. Mulai dari yang digoreng hingga direbus, semuanya lengkap.
Ada juga sate cumi pedas, ikan bakar asam pedas, sup ikan, sup ayam, bakso, bakpao isi daging, ikan pelangi goreng hingga gurita bakar saus pedas asam manis. Semuanya lengkap tersaji di atas meja.
"Selamat makan semuanya," kata Xiu Jimei seraya memegang dua tusuk sate. Dua mangkuk nasi tersaji di depan mejanya.
"..." Gadis itu sangat rakus, pikir mereka.
Tak lama, Roh Bunga yang sudah cukup lama tidak melihat Xiu Jimei pun langsung bertingkah manja di depannya.
"Tuan, Tuan ... Apakah ada yang kurang? Pinky akan menyiapkan sisanya," kata Roh Bunga sangat antusias.
Penampilannya yang mirip sama sekali tidak membuatnya malu bertingkah ceria di depan anak majikannya.
"Tidak apa-apa. Oh, siapkan anggur terbaik."
"Baik!"
Roh Bunga segera pergi ke gudang anggur untuk mengambilnya.
Ming Zise mengerutkan kening. "Jangan minum terlalu banyak."
"Jangan khawatir, anggur buatan ibuku sangat enak dan tidak terlalu memabukkan."
"Di mana Xiao Kai?" tanya Yan Yujie yang sudah memegang paha ayam goreng.
"Dia mandi lebih dulu. Jangan pedulikan dia. Saat mandi, kakakku akan berlama-lama."
"Oh, seperti wanita," gumam Yan Yujie sangat pelan.
Ini bukan pertama kalinya bagi mereka datang ke Istana Golden Lotus. Jadi para pelayan sudah terbiasa dengan teman-teman si kembar.
Yan Yujie memberi makan anak beruang roh kuno dengan ikan goreng yang sangat enak. Sedangkan Xiu Jimei memberi makan Tuit Tuit dengan potongan daging panggang di ruang spiritual bawaan.
__ADS_1
Xiu Jimei makan dengan lahap. Satu persatu makanan yang tersaji hampir semuanya Masuk ke perut Xiu Jimei. Tak lama, Xiu Jikai datang untuk bergabung dengan mereka.
"Kenapa begitu lama?" tanya adiknya.
"Aku sudah tidak mandi dengan benar selama ujian berlangsung, jadi gosok saja seluruh tubuh hingga bersih," jawab Xiu Jikai seraya mengambil nasi dan sumpit.
Xiu Jimei mengendus tubuh saudara kembarnya dan segera ekspresinya berubah. "Kamu memakai sabun mandiku?"
"Apakah ada masalah?"
"Kamu mandi di kamarku?!" Xiu Jimei marah.
"Ya. Sabun di kamar mandiku habis. Gunakan saja milikmu." Xiu Jikai tidak merasa bersalah sama sekali.
Tapi justru karena Xiu Jikai sering numpang mandi di kamar adiknya, sabun ataupun shampo pasti akan cepat habis.
"..." Xiu Jimei ingin marah tapi tidak jadi. Percuma marah, sabun dan shamponya tidak akan kembali.
Sedang Ming Zise sedikit berwajah gelap. Saudara dan saudari kembar ini rupanya masih mengembangkan kebiasaan mandi di tempat yang sama dan melakukan hal-hal bersama.
Tidak peduli apakah keduanya berhubungan darah atau tidak, Ming Zise merasa tidak senang. Dia bahkan belum pernah mandi di tempat gadis itu.
Xiu Jimei akhirnya memiliki tenaga untuk mandi dan meminta Roh Bunga untuk mengantar teman-temannya ke halaman lain. Ada banyak kamar di istana ini sehingga mereka bisa memilih halaman yang diinginkan.
Sedangkan Ming Zise sudah pergi entah ke mana.
......................
Pada malam harinya.
Xiu Jimei berendam di bak mandi kayu besar selama seperempat jam, lalu keramas, menyikat gigi, mencuci muka hingga mengeringkan rambut.
Saat dia kembali ke kamar, sosoknya sudah terbungkus oleh jubah mandi lembut sama modern. Dia melihat sosok Ming Zise sudah ada di dekat jendela.
Xiu Jimei terkejut sesaat. Karena sudah mengetahui identitas Ming Zise sebelumnya, dia tidak lagi bertanya-tanya bagaimana bisa ada di kamarnya tanpa ketahuan oleh kakaknya.
"Guru, bukankah tidak sopan untuk datang ke kamar perempuan malam-malam seperti ini?" Xiu Jimei tersenyum, sedikit menggodanya.
Ming Zise melihat gadis itu baru saja mandi, tubuhnya tiba-tiba saja menegang. Wajah dan telinganya sedikit memerah. Aroma sabun dan shampo sedikit menguat di udara.
Ming Zise terbatuk sedikit. "Tidak apa-apa. Hanya ingin melihatmu," jujurnya.
__ADS_1
"Apakah Guru merindukan Xiao Mei?"
"Bagaimana jika itu benar?"
"Kalau begitu, maukah Guru tidur dengan Xiao Mei?" godanya lagi.
Wajah Ming Zise menjadi gelap. Dia berjalan ke arah gadis itu sedikit demi sedikit. Aroma sabun di tubuhnya semakin jelas hingga membuat Ming Zise tidak sabar ingin mencium tulang selangkanya.
Pria itu meraih pinggang Xiu Jimei dan merapatkan tubuhnya sedikit. "Xiao Mei, Guru adalah pria normal, jangan nakal," bisiknya.
"Bukankah tidur dengan binatang phoenix sebelum menikah dibenarkan?"
"Memang. Tapi ... Apakah Xiao Mei menawarkan tubuhnya pada Guru?" Napas Ming Zise sedikit berat.
Bahkan jika dirinya jarang bicara dan berwajah dingin di hari biasa, tapi dia juga pria normal yang akan bereaksi di depan bintang phoenix nya. Bahkan jika dirinya memiliki status yang mulia di Alam Para Dewa, dia juga makhluk yang berdaging dan berdarah.
Kata-kata Xiu Jimei jelas merangsang nya.
"Aku ..." Xiu Jimei sedikit canggung dan malu.
Ming Zise memiliki rambut putih keperakan, wajah tampan, kulit putih, alis seperti pedang, mata tegas seperti tatapan elang mengunci mangsanya, hidungnya mancung, dagunya terlihat menonjol. Jelas ... Ming Zise dikatakan sebagai pria yang sempurna.
Iris mata keemasan Ming Zise sering membuat Xiu Jimei merasa ingin menggodanya sepanjang waktu.
Awalnya dia tidak berniat untuk memikirkan Ming Zise karena bukan jodohnya. Tapi setelah mengetahui bahwa dia dan Ming Zise adalah takdir bintang phoenix, Xiu Jimei tidak mau berpura-pura menjaga diri.
Dia memeluk Ming Zise.
"Xiao Mei ..." Ming Zise menyentuh punggung gadis itu. Dia tahu gadis ini tidak memakai apa-apa lagi selain jubah mandi.
"Ming Zise, aku bukan anak kecil yang polos. Aku sudah dewasa. Seratus tahun ... Usiaku seratus tahun. Gadis-gadis di bawah usiaku bahkan sudah dijodohkan dan menikah," jelas Xiu Jimei dengan wajah memerah. Dia tidak berani menatap wajah Ming Zise. Dia khawatir pria itu akan menganggapnya terlalu murahan.
Tapi tidak ada yang tahu bahwa Ming Zise sangat senang saat ini. Gadis ini mengambil inisiatif tanpa harus dibimbing olehnya. Benar juga, Xiu Jimei bukan anak kecil. Dia hanya a berpura-pura polos di depan semua orang.
"Apakah Xiao Mei tidak akan menyesalinya?" Ming Zise masih tidak bisa bertindak gegabah. Memberikan kesucian satu sama lain bukanlah perkara saling memenuhi nafsu saja, tapi juga memikirkan konsekuensi.
Di masa depan, dia dan Xiu Jimei bisa berkultivasi ganda. Ini menyehatkan tubuh keduanya.
Xiu Jimei menggelengkan kepala. "Tidak, aku tidak akan menyesalinya! Aku ingin tahu seperti apa rasanya hubungan seperti itu hingga ibu dan ayah sering melakukannya. Aku juga suka wajah putih kecil Guru," jelasnya sedikit mengecilkan suaranya di kalimat terakhir.
"..." Ming Zise masih dipanggil wajah putih kecil oleh gadisnya sendiri.
__ADS_1