
Menjelaskan panjang lebar, Tuit Tuit sedikit haus. Dia terbang rendah ke atas meja dan menyesap beberapa teguk air teh dari cangkir minum Xiu Jimei.
"Tanyakan saja pada priamu. Pasti dia tahu."
Xiu Jimei juga berpikir akan memberi tahu Ming Zise tentang ini. Tapi sayangnya Ming Ming tidak ada di istana. Dia hanya bisa menunggu sementara waktu.
Pada malam harinya, saat Xiu Jimei malam malam bersama Xiu Jikai, Ming Zise kembali bersama Wuming dan Yamla. Tidak ada percakapan serius saat makan malam. Xiu Jikai kadang bertanya tentang situasi saat ini. Bahkan membahas keberadaan Ning Siyu yang belum diketahui.
Setelah makan malam, Xiu Jikai dibawa pergi oleh Wuming dan Yamla untuk melakukan sesuatu yang lain. Sedangkan Ming Zise tinggal berdua dengan Xiu Jimei di rumah istirahat.
"Ming Ming, apakah kamu bagaimana cara mengolah bunga ini?" tanyanya.
Xiu Jimei mengeluarkan bunga pohon keabadian dan menunjukkannya pada Ming Zise.
Saat melihat bunga itu, Ming Zise terkejut untuk sementara waktu. Lalu tersenyum. "Apa yang ingin Mei'er lakukan dengan bunga ini?"
"Aku tidak tahu. Tidak ada yang salah dengan tubuhku saat ini. Lagi pula, aku tak mau naik menjadi kultivator dewa. Sangat membosankan. Jadi kenapa tidak membuat beberapa pil saja? Tuit Tuit berkata bahwa bunga ini bisa diekstrak dengan pil oleh seorang alkemis," jelasnya.
"Yah, memang."
Ming Zise mengerutkan kening. Dia menyentuh bunga pohon keabadian yang terlihat cantik dan beraroma harum. Tapi tidak memiliki ide. Hanya saja saat dia menghirup aroma herbal dari bunga tersebut, tubuhnya seperti bereaksi.
Awalnya Ming Zise mengabaikan reaksi tersebut. Tapi lama kelamaan, reaksinya semakin jelas. Wajahnya tiba-tiba saja menggelap. Apakah bunga ini membuat tubuhnya yang berada dalam periode kultivasi macet menjadi lancar?
Jika begitu, maka ....
Ming Zise menatap Xiu Jimei. Matanya berkedip ringan. "Kenapa Mei'er tidak memberikan bunga ini padaku?"
"Kenapa harus memberikannya padamu?" Xiu Jimei curiga. "Ini diberikan oleh Yuu sebagai hadiah. Tuit Tuit berkata bunga ini sangat berharga. Meski tidak berguna untukku, mungkin baik untuk teman-temanku."
Xiu Jimei berniat membuat beberapa pil dari bunga tersebut untuk teman-temannya. Tapi sekarang Ming Zise menginginkan bunga itu, mau tidak mau dia curiga. Ming Zise pasti punya hantu di kepalanya.
__ADS_1
Dia mengambil bunga itu kembali seolah-olah khawatir Ming Zise akan merampoknya. Adapun Ming Zise yang tangannya kosong kali ini, rasanya gatal ingin mencubit pipi gadis itu.
Kenapa Mei'er nya begitu imut?
Tapi Ming Zise masih menginginkan bunga itu. Dia sendiri tidak menyangka jika bunga itu akan berubah untuk menerobos periode kultivasinya yang macet selama seribu tahun terakhir.
Namun Ming Zise tidak bisa mengatakan ini pada Xiu Jimei. Gadis itu mungkin akan mengira dia rakus.
Jadi untuk saat ini dia memilih untuk menahan diri dulu dns pikirkan cara untuk mendapatkan bunga itu.
Akhirnya Xiu Jimei bertanya padanya. "Kenapa Ming Ming tidak memintanya pada Yuu? Dia pasti akan memberimu juga. Bukankah kamu dewa tertinggi di masa lalu?"
"Tidak semudah yang Mei'er pikirkan." Ming Zise masih tahu seperti apa sifat Yuu walaupun hanya pertama kali melihatnya waktu itu. Jadi lupakan saja.
Hari ini Yuu diam-diam bercampur dengan manusia dewa dan mengikuti Dewa Pencipta Alam Para Dewa diam-diam. Tidak tahu apa yang ingin dilakukannya. Tapi yang pasti Yuu telah mendatangi istana para dewa-dewi satu persatu secara diam-diam.
Malam ini, Ming Zise hanya bisa menekan pikirannya tentang bunga pohon keabadian.
Beberapa hari kemudian, Ming Zise tidak kembali ke istana. Sudah berhari-hari lamanya tapi pria itu tidak tahu pergi ke mana. Di istana hanya ada Wuming dan Yamla saja. Xiu Jikai sesekali akan mengunjungi adiknya lalu pergi ke Dunia Langit untuk bermain.
Ketika Xiu Jimei hendak pergi ke Dunia Langit dan memeriksa kondisi di sana, Ming Zise akhirnya kembali.
"Ming Ming, dari mana saja kamu? Kenapa kamu pergi tanpa memberi tahuku?" Xiu Jimei yang kesal merasa bosan di istana.
Ming Zise tersenyum lalu mengeluarkan tanaman mawar putih yang masih memiliki akar. Bunga mawar putih itu terlihat masih menguncup. Tampaknya memiliki kehidupannya sendiri, daunnya bergerak sedikit lalu akar-akarnya seperti ingin mencari pijakan.
Xiu Jimei terkejut. "Apakah ini bunga kanibal?"
"Benar. Bunga kanibal roh dewa ini tidak terlalu berbahaya bagi siapapun yang mengontraknya. Tapi sekali menelan mangsa, tidak mungkin memuntahkan tulang," jelas Ming Zise santai. "Apakah Mei'er menyukainya?"
"Apa gunanya bunga ini untukku?"
__ADS_1
"Bunga ini bisa menjadi pasangan bertarung. Di saat tuannya dalam bahaya, bunga mawar kanibal akan muncul dan melindungi tuannya lebih dulu sebelum pemiliknya sendiri menyadari adanya bahaya."
Mendengar itu, Xiu Jimei terlihat tertarik. Dia mungkin bisa menggunakan bunga ini untuk perisai di masa depan. Meski dia memiliki Tuit Tuit, tapi burung jelek itu belum bisa melakukan apapun selain berkicau dan memberinya informasi.
Xiu Jimei menyentuh bunga mawar putih kanibal. Tampaknya bunga itu tidak suka disentuh oleh manusia. Tapi saat bersentuhan dengan energi spiritual Xiu Jimei, bunga mawar putih kanibal tertarik.
Batang bunga itu menjadi lentur dan melilit lengan Xiu Jimei dengan hati-hati agar duri-durinya tidak menggores kulit gadis itu.
"Yah, ini sangat bagus. Tapi kenapa Ming Ming memberiku ini? Pasti ada sesuatu yang kamu inginkan dariku kan?" tanyanya curiga.
"Mei'er memang pintar. Meski bunga mawar putih kanibal ini tampak biasa, tapi sebenarnya merupakan salah satu bunga peliharaan Dewi Tanaman yang paling disukai. Bunga ini adalah salah satu penjaga istananya."
"Apakah kamu pergi ke sana untuk meminta ini? Berapa lama? Ini sudah berhari-hari?" Xiu Jimei menebak sesuatu.
"Tidak mudah untuk meminta ini dari Dewi Tanaman. Aku baru saja menyelesaikan tantangannya sebelum berhasil membawa bunga ini."
"Baiklah, apa yang kamu inginkan?" Xiu Jimei tidak lagi mau mendengarkan cerita pura-pura sedih Ming Zise. Dia tahu pria di depannya ini perhatian di luar dan licik di dalam.
"Aku hanya ingin bunga pohon keabadian."
"Hanya karena itu? Kenapa kamu begitu keras kepala?" Xiu Jimei masih enggan memberikan bunga itu untuknya. "Aku awalnya ingin membuat pil dan memberikannya pada teman-teman ku untuk berkultivasi."
"Jika hanya untuk itu, aku masih memiliki banyak pil yang lebih manjur. Kenapa Mei'er tidak mencobanya? Semua pil di gudang harta istanaku adalah milik Mei'er."
"Benarkah?" Xiu Jimei belum pernah melihat gudang istana pria itu. Jadi dia penasaran.
"Tentu saja." Ming Zise tersenyum lembut.
Xiu Jimei berpikir lagi. Menimbang sesuatu di hatinya. Bunga mawar putih kanibal ini juga bagus. Apalagi merupakan salah satu penjaga istana Dewi Tanaman. Bagaimana mungkin dia tidak tertarik.
Akhirnya, Xiu Jimei memilih untuk memberikan bunga pohon keabadian untuk Ming Zise. Tapi sebagai gantinya, dia meminta kunci gudang harta Istana Minglan.
__ADS_1