
Maaf bila typo mengganggu saat membaca
Dan
Happy reading
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Kiara sekarang ada di depan ruang Inap VIP tempat Kakeknya di rawat.
Menghela nafas untuk menghilangkan rasa cemas nya, Kiara merasa seperti anak yang durhaka terhadap Orang Tua dan Kakeknya.
Ceklek...
" Loh sayang kenapa nggak masuk? " tanya Mama Sarah kaget, melihat Kiara yang hanya diam berdiri di depan pintu.
Kiara kaget sekaligus bahagia, karena akhirnya bisa melihat wajah Mama tersayangnya lagi. Mata Kiara berkaca-kaca, melihat keadaan Mamanya yang sangat kacau, dengan kantung mata yang menghitam dan raut wajah tak bersemangat.
Grep....
Kiara segera menghambur, memeluk Mamanya yang hampir saja terjungkal akibat terjangan maut Kiara.
" Astaga sayang, hampir aja Mama jatuh" pekik Sarah kaget.
" Hiks hiks m ... maafin Yaya mah, Yaya udah buat Mama susah" bisik Kiara lirih, di sertai isakannya. Mendengar bisikan dan isakan dari Anak sebiji kesayanganya,Sarah pun tersenyum, di ikuti air matanya yang terjun bebas.
" Tidak sayang, Mama yang salah. Seharusnya Mama yang tahu apa yang Kamu inginkan" balas Sarah, dengan tangan mengusap punggung kiara lembut. Kiara menggeleng kepala, membantah pernyataan Mamanya.
" Tidak Mah, seharusnya Kiara tidak bersikap kekanakan" ujar Kiara.
" Sudah lupakan, yang lalu biarlah berlalu"
Balas Sarah menengahi
"Ambil hikmahnya, jadikan ini pelajaran untuk kita. Kedepannya jika ada masalah kita hadapi dengan dewasa ya sayang" lanjut Sarah, mengelap air mata yang ada di pipi Kiara dengan sayang.
" Umm .... Oke, miss you Mom " ucap Kiara dengan senyum kecilnya.
" Miss you too honey." balas Sarah, kembali membawa Kiara dalam dekapan hangatnya.
Kemudian Sarah mengajak Kiara masuk, niatnya ingin ke kantin rumah sakit di batalkan, karena kedatangan Anak cantiknya.
Kiara segera mendekati ranjang, dimana Kakeknya sedang berbaring, tidur dengan nafas yang teratur.
Jika saja tidak ada bunyi dari alat EKG yang terhubung dengan tubuh Kakeknya, mungkin Kiara akan mengira jika kakeknya sudah tiada.
Melihat tangan, yang biasa di gunakan untuk mengusap lembut kepalanya yang sekarang di tancapkan jarum Infus, membuat hati Kiara sedih.
" Kakek .... Maafin Yaya Kek." bisik Kiara dengan suara lirih.
" Yaya tahu yaya salah, tapi Yaya mohon kali ini saja, izinkan Yaya bisa bersama pria yang Yaya pilih sendiri" Lanjutnya dengan suara tergugu karena saat ini, Ia sedang menahan isakan tangisnya.
" Yaya mau menerima apapun permintaan Kakek, bukankah Kakek ingin Yaya menempati posisi Direktur Eksekutif? Yaya siap Kek, maka dari itu Kakek bangun ya! " lanjut Kiara, berharap Kakeknya mendengar dan bangun, menyambutnya dalam pelukan hangatnya.
" Hu ... hu .. hu... Kakek ..."
Karena tidak tahan dengan kesedihannya, di tambah Sang Kakek yang tidak merespon kata-katanya, akhirnya runtuhlah pertahanannya dan jatuhlah air matanya .
Melihat anaknya yang menangis, hingga bahunya bergetar membuat Sarah ikut merasakan sedih.
Grep
Sarah memeluk bahu Kiara erat, menyalurkan kekuatannya.
" Nggak apa-apa sayang, kita doakan bersama supaya Kakek mu cepat siuman" ujar Sarah lembut.
" Jangan menangis, Kakek akan sedih jika melihat air matamu jatuh sayang" lanjut Sarah menasihati.
" Hiks ... Iya mah yaya tahu" balas Kiara serak.
Ia menghapus air matanya dengan tissu, yang di ulurkan Mama untuknya.
Puk Puk
Sarah menepuk punggung Kiara lembut menyemangati.
" Anak Mama yang cantik, cuci muka dulu sana. Lihat .... Muka Kamu nanti jadi nggak cantik lagi loh" goda mamaY Sarah, membuat Kiara mengangguk dengan senyum kecil di wajahnya.
" Okey Mah, Aku ke kamar mandi dulu"
Balas Kiara, kemudian berjalan menuju kamar mandi. Meninggalkan Sarah, yang kini duduk di sofa panjang, menanti Kiara selesai mencuci mukanya.
Ceklek..
Kiara keluar dari kamar mandi, dengan wajah sedikit segar.
" Kamu naik apa pulang kesini? " tanya Sarah, setelah Kiara ikut duduk di sebelahnya.
" Di anter mah." jawab Kiara malu
" Di anter siapa? " tanya Sarah pura-pura tidak tahu
" Ih ... Mama mau tahu aja. Hehe...." balas Kiara, lalu terkekeh renyah setelahnya.
Melupakan adegan melow beberapa saat lalu.
" Duhh ... Pelitnya anak Mama! " ujar Sarah, dengan tangan mencubit kedua pipi Kiara gemas.
" Uggghh ... Mama, jangan ikutan jahil kayak Dir ... Ups" Kiara menutup bibirnya, menghentikan ucapan yang belum di selesaikannya.
" Dohhh keceplosan! " batin Kiara horor.
Melihat wajah Mamanya yang sudah dalam Mode kepo.
__ADS_1
" Hayooo ... Dir .... Siapa tuh sayang?heumm?"
Tanya Sarah, dengan kedua alis naik turun. Niat sekali, mau menggoda Kiara yang kini wajahnya sudah seperti tomat.
" Ahh ... Mama salah dengar kali" elak Kiara.
Tapi sayang sekali Mamanya, yang sudah mengenalnya semenjak lahir tentu tahu, apalagi Ia sendiri tahu dengan apa yang saat ini terjadi.
" Ah ... Masa sih, Mama kan rajin ke THT nggak mungkin dong bisa salah pendengaran" Balas Sarah, diikuti dengan senyum lebar yang terlihat seram di mata Kiara.
" Ughh ... Mama ih" tidak bisa membalas pernyataan Mamanya, Kiara hanya mampu melengoskan Wajahnya yang memerah.
Ia malu di lihat oleh Mamanya yang super usil ini.
"Mama nyebelin ih, kalau udah dalam Mode kepo, kebanyakan kumpul bareng ibu-ibu tukang gibah nih kayaknya" batin Kiara sebal.
" Hummmm ..... Jangan-jangan cowok yang kata Kamu deketin Kamu itu ya?" tanya (lagi) Sarah, membuat Kiara tersedak. Lupa pernah Curcol dengan Mamanya mengenai Dirga.
" Uhukk ... Mama ih... Reseh banget, udah deh jangan bahas itu dulu.. Papa dimana Mah? " tanya Kiara mengalihkan pembicaraan.
" Sedang di Kantor sayang, katanya ada Dokumen penting yang harus di periksa.
Mungkin agak sorean Papa kembali" jelas Mama Sarah.
" kamu udah makan belum sayang?"lanjut dan tanya Mama Sarah.
" Belum ... Hehe... Aku turun beliin Mama makanan yah! " tawar Kiara, di balas gelengan oleh Sarah.
" Jangan ... Biar Mama saja yang turun, sekalian ada urusan, kamu juga baru sampai pasti lelah" balas Mama Sarah.
" Ugh ... Oke deh mah" jawab Kiara menyetujui usulan Mamanya.
" Ya sudah, Mama turun dulu. Kamu di sini jaga Kekek sekalian istirahat. Oke"
Usul Mama Sarah.
" Oke Mah! " balas Kiara, dengan jari jempol dan telunjuk membentuk bentuk bulat 👌.
Sarah meninggalkan Kiara sendiri, menuju Lantai dasar di mana Kantin rumah sakit berada.
Kiara memperhatikan Kakeknya dalam diam, dengan hati yang terus Berdoa memohon kesembuhan Kakek.
"Kakek cepat bangun ya, kali ini Kiara yakin jika pria pilihan Kiara lebih baik dari pada pilihan Kakek. Dan Kiara juga yakin, Pria yang sekarang Kiara cintai, lebih baik dari pada pria yang dulu pernah Kiara cintai. Kakek lihat dan nilai sendiri, bagaimana tentang Dirga." gumam Kiara, yang sebenarnya di dengar oleh Kakeknya, yang ternyata sudah siuman, namun belum sampai membuka matanya.
"Kakek ternyata tidak salah pilihkan.
Cucu yang paling Kakek sayangi, Dirga itu adalah pria yang akan menjadi Tunanganmu, Calon Suamimu kelak. Semoga benar, jika Kamu sudah melupakan Pria masa lalu mu dan menerima Dirga, tanpa melihat kesalahan yang sudah di perbuat. " batin Kakek berharap.
Jari-jari tangan Kakek bagus bergerak sedikit demi sedikit, membuat Kiara yang sedang menelungkupkan kepala di dekat tangan Kakeknya, tersentak dan mengangkat kepalanya tiba-tiba.
" Kakek .... Syukurlah " gumam Kiara senang, kemudian menekan tombol panggil darurat di atas meja sebelah ranjang Kakeknya.
" Kakek ... Akhirnya ... Ya Tuhan ... Syukurlah... Hu hu hu ..." Racau Kiara, dengan air mata yang lagi-lagi menetes dari kedua matanya.
Kiara mundur memberi ruang gerak agar pemeriksaan lancar.
Ceklek...
Pintu terbuka lagi, kemudian muncul Mamanya dengan tangan membawa plastik berisi makanan.
" Mah ... Kakek" ujar Kiara tiba-tiba.
Membuat Sarah khawatir dengan keadaan Mertuanya.
" Kakek ada apa sayang? " tanya Sarah memburu. Pada saat melihat Dokter, yang sedang memeriksa keadaan Mertuanya.
" Kakek tadi jari Kakek bergerak, Kakek siuman" balas Kiara, dengan terburu-buru sangking senangnya.
Bibirnya tersenyum, namun air matanya tidak berhenti mengalir karena perasaan hatinya yang campur aduk.
" Siuman ... Syukurlah .... Terima kasih Tuhan."
Ujar Sarah bersyukur.
Dokter pun selesai memeriksa, kemudian menghadap ke arah keluarga pasien untuk menjelaskan kondisi dari pasien.
" Bagaimana keadaan Papa saya Dok? " tanya Sarah cepat.
" Syukurlah ... Tuan Wicaksono sudah melewati masa kritisnya. Sekarang kembali istirahat lagi, setelah saya suntikan Obat.
Kira-kira, sore nanti akan kembali bangun.
Tapi tolong pada saat bangun, untuk tidak membuat Pasien terlalu tertekan. Sebisa mungkin jauhkan dari masalah yang bisa membuatnya berfikiran yang terlalu berat dulu. Mungkin itu saja ... Jika pasien sudah bangun, mohon untuk hubungi Perawat untuk pemeriksaan lebih lanjut lagi " jelas Dokter itu
" Terima kasih Dokter atas bantuannya" balas Sarah, dengan senyum penuh Terima kasih
" Sama-sama Nyonya , kalau gitu Saya pamit. Jangan lupa untuk pesan saya tadi." jawab dan wanti Dokter, yang di jawaban anggukan oleh Sarah.
" Baik Dokter. Sekali lagi Terima kasih" balas Sarah .
Dokter dan Perawat pun meninggalkan ruangan kakek Bagus , menyisakan Sarah dan Kiara, yang saat ini berpelukan merasakan kebahagiaan.
" Mah, ayo cepat hubungi Papa!" ujar Kiara antusias
" Iya sayang ... Mama telpon Papa kamu" balas Sarah, tidak kalah antusias.
Sarah akhirnya menelepon Fandi, mengabari kondisi Kakek yang berangsur membaik.
Sedangkan Kiara mengirim pesan, untuk Kekasihnya yang saat ini sedang entah ada dimana.
Sementara itu..
Dirga memandang datar, pada Tangan kanan kepercayaannya, serta Dua Orang bawahan lainya. Yang saat ini sedang berdiri, di hadapannya dengan kepala menunduk takut.
__ADS_1
" Jadi .... Bisa di jelaskan? " tanya Dirga datar, mengetuk jari panjangnya di meja, di ikuti hawa setannya.
Glekk...
Mereka bertiga menelan slavia dengan susah kompak, pada saat mendengar suara datar serta di ikuti hawa menyeramkan yang berasal dari Atasannya saat ini.
Dani, tangan kanan kepercayaan Dirga akhirnya membuka suara.
" Maafkan kami sebelumnya pak Dirga, atas kelalaian kami" ujar Dani, membuka kalimatnya berharap suasana neraka dari Dirga bisa hilang sedikit
" Mampos Gue kali ini" Batinnya nalangsa.
" Bagian Security System, beberapa kali menemukan Server User asing yang mencoba untuk mengambil data pribadi Bapak, namun keamanan dan kesiapan Devisi SS bisa menangkap dan mengirim Virus, sehingga kebocoran Data pun tidak terjadi" jelas Dani, kemudian menjeda untuk melirik memberi Kode bawahannya yang memegang Berkas laporan kelanjutan.
" Lalu Data yang bapak minta, mengenai Profil pribadi seseorang selengkapnya ada di dalam Map coklat ini." ujar Dani memberikan Map coklat untuk Dirga.
" Dan mengenai Mobil yang mengikuti Bapak hari ini, sepertinya hanya orang yang kebetulan saja, ingin ke arah tujuan yang sama dengan Bapak. Kami tidak menemukan kejanggalan dari Pengendara." Lanjutnya menjelaskan dengan lancar informasi yang Ia dapat.
" Fyuuhh ... "batin Dani lega.
Mendengar penjelasan dari Dani, Dirga belum merasa puas. Instingnya tidak pernah salah, dan Ia yakin jika Mobil itu mengikutinya dengan maksud tertentu.
" Kamu yakin itu? " tanya Dirga datar,
Terlihat sekali jika Dirga merasa Sangsi.
" Menurut pemeriksaan seperti itu Pak. " jawab Dani tegas, walau dalam hati sedikit meragukan laporan yang di terimanya.
" Insting Pak Dirga selama ini tidak pernah salah, apa Gue yang kurang teliti" Batinnya, dengan keringat mengalir di dahinya.
Hawa dingin dari Dirga tidak berkurang sedikit pun, padahal Dani sudah menjelaskan semuanya dengan terperinci.
" Ya Lord ... Tolong hamba mu ini" mohon Ketiganya kompak (lagi)
Drt ... Drt ... Drt ...
Getaran yang berasal dari Handphonenya, membuat Dirga yang tadi fokus melihat laporan menjadi buyar.
" Fak ... Setan Siapa yang gang ...... Ah...." Umpatan Dirga pun terganti, dengan desahan senang melihat nama pengirim pesan yang terpampang di layar Handphonenya.
Seketika suasana neraka di gantikan suasana surga, membuat tiga Orang yang sedari tadi kesulitan nafas pun menghembuskan nafas lega.
Dirga mesam-mesem melihat isi pesan yang ternyata di kirim oleh Kiara.
Sebenarnya isi pesannya biasa aja, tapi kenapa bisa membuat Dirga cengengesan menghentikan hawa nerakanya ya?
Ckckckc...
Baru juga sebentar berpisah, udah seperti orang berbulan-bulan tidak bertemu saja.
_______________________
To : me
From : My bawel
Kakek sudah siuman Ga ...
Aku seneng banget...
Dan
Aku kangen kamu
________________________
Oh ... Ternyata karena ada tambahan kata Kangen toh .... Hohoho .... Pantes aja bikin cengengesan ckck.
Dirga dengan cepat membalas pesan dari Kiara dengan perasan senang.
Sedangkan Dani dan dua Orang bawahan lainya melihatnya dengan pandangan
" Benarkah ini bos songongnya" yang kira-kira seperti itu lah arti pandangannya.
Membuat Dirga, yang tercyduk menampilkan senyum mahalnya berdehem menutupi rasa malunya.
" Ehem ... Liat apa kalian? " tegur Dirga judes, mengembalikan raut wajahnya menjadi datar sedatar telenan kembali.
" Tidak Pak." jawab Ketiganya kompak dengan menggelengkan kepala gugup.
"Hiyyy. ..kenapa berubah lagi" batin Mereka lagi-lagi kompak.
" Sudah , kalian berdua boleh kembali bekerja dan untuk Dani saya masih ada urusan denganmu" perintah Dirga, membuat dua Orang tersenyum lega, sedangkan tersenyum sedih untuk Dani.
Dua orang bawahan Dani memandang Dani dengan tatapan kasihan, yang tentu saja mendapat balasan pelototan oleh Sang empunya.
Buru-buru dua orang ini ngacir, sebelum kejadian buruk menimpa Mereka berdua.
Menyisakan Dirga yang tersenyum penuh maksud dan Dani, yang balas tersenyum memohon ampun.
Dan akhirnya sesuatu, yang hanya boleh di ketahui oleh Dirga dan Dani mereka bahas dengan lancar.
Hingga tidak tahu menghabiskan berapa banyak waktu.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Okeh part panjang..
Jangan kemana mana tetap nantikan kelanjutan nya ya
Jangan lupa juga jejak komentar serta saran. Juga klik jempol nya manteman
Sampai babai
__ADS_1