
Selamat membaca
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Rumah Sakit Ibu Dan Anak Kota S
Ini adalah bulan ke sembilan dari kehamilan Kiara, kali ini mereka berdua mempersiapkan segalanya dengan matang. Kiara pun selalu rajin memberitahu Dokter kandungan, jika ada keluhan yang di rasakannya.
Meskipun masih lusa perkiraan Kiara melahirkan, tapi Dirga dan keluarga sudah memutuskan untuk membawa Kiara menginap di rumah sakit, jaga-jaga kalau terjadi apa-apa dengan Kiara.
Mengingat jika dulu Dirga sempat terkena serangan jantung mendadak saat mendapat kabar tidak baik tentang Sang istri, yang hampir melahirkan di pusat pembelanjaan. Maka kali ini Dirga dengan tegas, melarang istrinya untuk bepergian jika itu tanpa dirinya.
Saat ini pasangan dari Wijaya muda sedang berjalan-jalan di taman rumah sakit, anjuran dari Dokter yang memerintahkan untuk banyak bergerak di saat akan menjelang persalinan.
Di samping Kiara ada Gavriel, yang berjalan dengan melompat-lompat bermain sendiri sambil menemaninya.
"Jangan lompat terlalu tinggi, sayang!" seru Kiara memperingati, membuat Gavriel yang ada di sampingnya menoleh ke arahnya dengan mata bulat berkedip lucu.
"Nda oyeh, ompat?"
"Iya ... Nanti kalau Kamu jatuh, Mommy dan adik loh yang sedih. Emang Kakak mau lihat Mommy dan adik sedih?" sahut Kiara dengan wajah di buat-buat sedih.
"Nda au,"
"Nah ... Jalan perlahan yah, ikuti Mommy. Sambil nunggu Daddy beli es krim, got it?" ujar Kiara lembut menjelaskan dengan sabar, ke arah Gavriel yang mengangguk imut.
"Ot it, hi-hi!"
Kiara menggeleng kepala pelan, saat mendengar kikikan senang dari Putranya, yang saat ini berlarian saat melihat kupu-kupu terbang di dekatnya.
"Huwoo!"
"Sayang, jangan berlari!"
Kiara memekik kaget saat melihat Gav yang berlari dengan semangat, tanpa mendengar seruan larangannya.
Ia melirik kiri dan kanan mencari keberadaan Sang suami, berharap melihat dan mengejar Gavriel yang sudah jauh di ujung sana.
"Sayang, tunggu Mommy!"
Kondisi perutnya yang sudah tidak memungkinkan untuk di ajak berlari, membuat Kiara berjalan cepat dengan tangan menyangga perutnya.
"Gavriel!" seru Kiara memanggil dengan panik.
"Sayang, ada apa?"
Kiara segera menoleh ke arah belakang, saat telinganya mendengar seruan bertanya dari seorang pria yang di kenalnya sebagai Suaminya.
Ia mendesah lega saat melihat Dirga yang berjalan cepat ke arahnya, lengkap dengan tangan menenteng kantung plastik merk salah satu minimarket.
Tap!
"Ada apa?" ujar Dirga mengulangi pertanyaannya saat sudah ada di hadapan Istrinya.
"Sayang, Gavriel berlarian. Lihat itu, ayok kejar sekarang!" seru Kiara cemas, sambil mengguncang lengannya dan menunjuk ke arah dimana Putranya berada.
Dirga ikut menoleh ke arah dimana istrinya menunjuk, lalu menggeleng kepala heran dengan kelakuan Sang anak.
Lucu dan menggemaskan sih ... Tapi kalau sampai membuat Istrinya khawatir seperti ini, Ia juga merasa ingin menggigit pipi Sang anak.
"Astaga, bocah satu itu," gumam Dirga dengan dengusan gemas.
(Kelakuan Anak itu mencerminkan kehidupan dulu Bapaknya. Dan Lu mau bilang kalau dulu Gue menggemaskan kayak anak yang tadi Gue panggil bocah, heum?, yah ... Lebih tepatnya bukan menggemaskan, tapi bagian yang lainnya,ehem. Serah dah)
Dirga pun mengejar Putranya yang hampir mencapai koridor, keluar dari area taman tempat Istrinya berjalan santai.
Drap! Drap! Drap!
Oh ... Iya merasa tidak perlu ngegym lagi, jika Sang putra selalu mengajaknya olah raga dengan cara berlarian.
Langkah kakinya di lambatkan saat sudah hampir berada di belakang anaknya, Ia memandang dengan senyum geli saat melihat Sang putra berjongkok, seperti memperhatikan sesuatu yang membuat Dia penasaran.
"Hei Kid, apa yang Kamu lakukan?" tanya Dirga ikut berjongkok di samping Putranya.
Gavriel menoleh ke arah Daddynya, lalu melihatnya dengan pandangan berbinar senang.
"Dadd, tuu!"
"Huem?"
Dirga bergumam penasaran saat Putranya menoleh lagi ke arah sesuatu yang membuat Ia ikut penasaran.
"Lagi lihat apa sih?" gumam Dirga bertanya sambil melihat apa yang di perhatikan Sang putra.
Di depannya saat ini Gavriel dengan pandangan berbinar penasaran melihat ke arah semak, dimana ada beberapa ulat berjalan dengan lambat.
Dirga hampir saja memekik layaknya perempuan, saat melihat Gav yang mengulurkan tangan hendak memegang ulat di daun tersebut.
"Yah .... Jangan di pegang, Kid!"
"Em,"
Gavriel menoleh ke arah Sang Daddy saat seruan dan sebuah tangan besar menahan tangan mungilnya.
"Dadd, pa?"
"Tidak boleh sayang," sahut Dirga sambil menggelang kepala tegas.
"Tenapa?"
"Itu ulat bulu sayang, ulat bulu jika di pegang akan membuat Kamu gatal-gatal. Gav mau kulitnya merah dan bentol-bentol?" ujar Dirga menjelaskan.
Sayang sekali ... Niat hati ingin menjelaskan dengan baik dan benar, Dirga harus menepuk dahi saat Sang anak melihatnya dengan mata berkedip polos, tidak mengerti maksudnya dan yang ada Sang anak terkekeh dan hampir memegang kembali ulat di ranting tersebut.
"Yah, jangan sayang!"
"Kenapa sayang?"
Dirga dan Gavriel menoleh bersamaan saat mendengar pertanyaan, dari suara yang mereka kenali sabagai ibu ratu dari istana mereka.
__ADS_1
"Momm, iat-iat tuu!"
Gavriel berseru heboh dengan tangan menunjuk ke arah semak, membuat Kiara mengernyitkan dahi heran dan memandang Suaminya dengan ekspresi bertanya.
"Ulat bulu!" seru Dirga menjelaskan dengan singkat.
"Hah?"
Karena penasaran Ia pun mendekat dan berusaha jongkok dengan susah payah, sehingga Dirga dengan sigap membantu dan menahan bagian belakang tubuh Sang istri.
Memeluk dari belakang dengan posesif, menjaga agar keseimbangan istrinya tetap terjaga.
"Terima kasih,"
"Tidak masalah, Dear," bisik Dirga lembut, membalas ucapan terima kasih Sang istri.
Kiara pun melihat ke arah Anaknya, yang memandang berbinar penasaran ke arah semak lalu tersenyum kecil.
"Ulat bulu sayang, indah jika di lihat. Tapi jangan sekali-kali di pegang yah," gumam Kiara di samping Sang anak yang langsung menoleh ke arahnya.
"Tenapa?"
"Lihat, ini kulit Kakak yang putih dan bersih akan berubah jadi merah, Mommy sedih kalau kulit kakak berubah merah dan kakak juga akan gatal-gatal!" seru Kiara mempraktekan dengan gerakan tubuh, mempraktekan apa itu yang di maksud dengan gatal-gatal.
Gavriel memandang Sang Mommy dengan mulut terbuka takjub, lalu berdiri dan menjauh dari semak-semak, Dia juga bersembunyi di belakang tubuh Sang Daddy sambil menunjuk semak-semak.
"Tav, nda au,"
Dirga terkekeh kecil saat mendengar gumaman dan merasakan gelengen kepala di punggungnya.
Ia membawa Sang Putra ke arah samping dan memeluk keduanya bersamaan, memeluk dengan hangat di dalam pelukan besarnya.
"Sesuatu yang indah di lihat belum tentu indah di rasakan, begitu pula dengan kehidupan ini. Aku hanya berharap Kita berempat nanti akan hidup dengan bahagia tanpa ada embel-embel," gumam Dirga meletakkan dagunya di bahu Sang istri yang mengangguk membenarkan.
"Heum ... Seperti ulat bulu itu, indah di lihat tapi akan membuat dampak negatif jika di pegang. Namun saat sudah menjadi kupu-kupu, maka keindahannya akan berkali lipat," balas Kiara dengan mata melihat ke arah semak, dimana ada puluhan kepompong yang Ia yakini menyembunyikan calon kupu-kupu kecil di dalamnya.
Skip
Malam tiba dengan cepat saat hari di habiskan dengan kegembiraan dan kumpul bersama orang yang di sayang.
Saat ini di ruang inap milik Kiara telah berkumpul keluarga besarnya, makan malam bersama dan menikmati obrolan santai setelahnya.
Kiara sendiri sedang duduk di atas ranjangnya, di temani oleh Gavriel yang bermain dengan mainan pesawatnya.
"Momm!"
"Huem?" gumam Kiara menyahuti panggilan Putranya. Ia ikut memandang ke arah Putranya, saat Gavriel melihtanya dengan mata polos menawan.
"Ayi, dik,"
"Belum sayang, masih di dalam. Tunggu yah ... Sabar!" seru Kiara menjelaskan, tangannya mengambil tangan mungil Sang putra dan meletakkannya di atas perut buncitnya.
"Masih di dalam sini," Lanjutnya menjelaskan.
"Hi-hi!"
"Sepertinya akan ada calon kakak posesif," celetuk sarah saat melihat Sang cucu terkekeh di depan perut buncit Anaknya.
"Wah ... Inces kita di kelilingi enam laki-laki posesif, susah dapat menantu nih!" seru Putri iseng, sambil melihat ke arah lima laki-laki tersisa.
Dua kakek berdehem membalas perkataan Putri, dua Suami berpura-pura melihat ke arah lain.
Beda dengan Sang ayah yaitu Dirga yang mendengus, tidak membantah pernyataan Mamanya yang benar adanya.
"Langkahi Dirga dulu Mah, kalau mau meminang Inces kesayangan. Enak saja," ujar Dirga datar dengan tangan bersedekap dada.
Semua yang mendengar ultimatum ngawur dari seorang ayah dan suami terkekeh kecil, geli dengan apa yang di ucapkan anak dan menantu mereka.
"Siap-siap anaknya di pacarin orang, Ga!" celetuk Fandi, membuat Dirga melotot ke arahnya dengan horor.
"Masih kecil Pih, belum juga keluar!" seru Dirga dengan lebaynya.
Pletak!
"Maksudnya Papimu itu nanti loh, dasar!" dengus Putri kesal sendiri saat melihat kelakuan undirga tadi.
"Ukh ... Sakit Mah, santai sekali menampol kepala Anaknya sendiri. Jahat," gumam Dirga sambil mengusap ubun-ubunnya yang menjadi korban pentungan botol ail mineral bekas.
"Habis kamunya aneh!" sembur Putri jengkel sendiri.
(Rasa kesal author sudah di wakilkan oleh Putri, kalau tida- .... Apa? Kalau tidak apa thor? Kalau tidak author lempar Lu keluar jendela sekarang juga. Ampun)
"Ya Papi bilang seperti itu, Dirga kan refleks," balas Dirga tidak mau kalah.
"Eleh ... Dasar Kamunya saja yang lebay," sahut Hendri ikut membully Sang anak.
Ia paling suka kalau ada bagian dimana Anaknya yang jadi korban bullian.
(Nah Om setuju, berisik)
"Terus saja Pah, mumpung masih sabar," ujar Dirga menatap Hendri atau juga Papanya bosan.
Ia yakin jika di teruskan akan ada bullyan yang lain, dengan Ia sebagai korban favorit. Kan sudah di bilang ... Mertua dan Papanya jika bersatu hatinya akan senang ... Maksudnya senang hati sekali membullinya.
Mereka pun tertawa dengan tawa keras yang tidak perlu di tutup, sedangkan Dirga ikut tertawa, tawa miris saat lagi-lagi Ia menjadi korban dari dua Papanya.
***
Tidak terasa waktu menunjukkan pukul sebelas malam, keluarga Wijaya dan Wicaksono pun pamit pulang, menyisakan dua Mama dan Dirga.
Putri dan Sarah menemani Gavriel tidur di ranjang yang sudah di siapkan olehnya, sedangkan Ia sendiri menjaga dua puluh empat jam Istrinya, yang saat ini sedang terlelap.
Ia duduk di sofa dengan Laptop menyala, mengerjakan laporan yang di kirim oleh Dani hari ini.
Ketikan keyboard menemaninya begadang malam ini, Ia melirik jam di sudut Laptopnya yang menunjukkan waktu dua dini hari.
Rasa kantuk mulai menyerangnya saat laporan sudah selesai di kerjakannya, tapi Ia belum bisa beristirahat karena di jam segini istrinya pasti akan terbangun, seperti biasa untuk buang hasrat kecilnya.
Jika Ia tidur itu hanya akan membuat matanya pedas, karena nantinya Sang istri akan membangunkannya meminta bantuan.
__ADS_1
"Minum kopi enak nih," gumam Dirga saat merasa mencium aroma kopi di hidungnya.
Ia berdiri setelah mematikan Laptopnya, lalu berjalan ke arah pintu keluar.
Saat Ia akan membuka pintu ruangan istri menginap, samar Ia mendengar suara orang merintih, membuatnya mengernyit curiga dan menoleh ke arah ranjang Sang istri.
Ia melihat Istrinya yang bergerak gelisah di dalam tidurnya, membuatnya berbalik lagi menghampiri Sang istri yang semakin meringis dengan peluh berucuran.
"Sayang, hei ... Kamu kenapa?" ujar Dirga mengelap peluh yang berucuran di dahi dan leher istrinya.
"Ukh ... Sayang, unghh!"
Rasa panik melanda Dirga saat sadar jika sang istri sudah memasuki masanya, Ia membangunkan Mamanya dengan tergesa, lalu memencat tombol emergency memanggil petugas jaga.
"Ukh!"
"Tunggu sayang, bertahan. Ambil nafas hembuskan!" seru Sarah berusaha untuk tidak panik.
Kiara sendiri segera melakukan apa yang di perintah Sang mama.
Ia dengan perlahan mengambil dan menghembuskan nafasnya yang tersendat.
Di sebelahnya ada Putri menepuk-nepuk punggung cucunya pelan, Ia tidak ikut andil mengingat jika Gav paling mudah terbangun saat mendengar suara bising.
"Tunggu, sebentar lagi petugas datang," bisik Dirga sambil mengelap peluh yang semakin berucuran.
Kiara mengangguk mendengar bisikan Suaminya, lalu mulai menenangkan dirinya sambil menunggu petugas datang.
Tidak lama pintu terbuka dengan dua petugas medis berdatangan, mereka dengan sigap menyiapkan peralatan untuk Kiara.
Seorang petugas mendorong kursi roda yang di mengerti maksudnya oleh Dirga.
Ia dengan segera menggotong Kiara untuk di dudukinya di kursi roda, Ia meletakkan dengan hati-hati hingga Kiara duduk dengan nyaman.
Setelahnya petugas mendorong kursi roda dan membawa Kiara ke ruang bersalin dengan Dirga ikut serta.
Lahiran kali ini Ia sudah lebih bisa mengontrol emosinya, sehingga Ia lebih tenang mendampingi persalinan Kiara.
Dan Kiara sendiri juga sudah belajar banyak dari lahiran pertamanya, Ia membalas genggaman tangan Dirga kuat saat kontraksi datang dengan hebat.
"Uukhh!"
"Tarik nafas sayang, hembuskan!" seru Dirga ikut merasakan mules pada perutnya.
"Duh ikutan sakit Gue," batin Dirga menahan sakit dan ngilu di bagian bawah perutnya.
Dokter pun bersiap dengan peratalan persalinan, alat-alat yang sama sekali tidak Ia ketahui apa namanya namun yang jelas sangat steril saat di siapkan.
"Suster tolong bantu dorong di atas!"
Itu adalah perintah yang Dirga ingat dari perintah ini-itu lainnya, Ia sudah tidak mengingat apa saja instruksi yang Dokter keluarkan.
Proses lahiran kali ini lebih mudah karena Kiara yang siap dan juga belajar dari pengalaman dulu.
Meski ada sedikit kendala saat leher Sang bayi terlilit tali pusar, tapi tim Dokter bisa mengatasinya dengan segera.
Dirga dan Kiara tersenyum haru saat mendengar suara tangisan cempreng, yang berasal dari Anaknya.
"Selamat Tuan dan Nyonya, bayi perempuan cantik dan sehat!" seru Dokter tersebut sambil meletakkan bayi dengan lumuran noda merah di dada Sang ibu.
"Terima kasih Dokter!" seru Dirga bahagia, tersenyum tipis ke arah Dokter yang balik tersenyum ke arahnya.
"Sama-sama, nanti di mandikan sebentar lalu tuan bisa melakukan kewajiban Tuan," ujar Dokter memberi tahu.
"Baik," balas Dirga dengan kepala mengangguk mengerti.
Setelah puas memandangi bayi perempuan mereka, salah satu perawat mengambil alih Putrinya, untuk di mandikan sebelum di bawa ke ruang bayi berkumpul bersama bayi lainnya.
Setelah Bayi sudah di mandikan, suster tersebut menyerahkan lagi bayi perempuan pasangan Wijaya kapada Sang ayah.
"Silakan Tuan," ujar seorang perawat sambil memberikan Bayi tersebut kearah Dirga, yang menerimanya dengan senyum lebar.
"Terima kasih,"
Kiara melihatnya dengan senyum bahagia, apalagi saat suara Adzan di kumandangkan oleh Suaminya, membuat Ia menitikkan air mata saat mendengar merdunya suara Sang suami.
Dan Dirga sendiri mengumandangkan dengan suara merdu Adzan di telinga Sang Putri dengan hati bergetar haru.
Ia mengingat sekilas saat Ia Mengadzani Putra pertamanya, apalagi saat melihat senyum kecil dari Putranya.
Kini senyum yang sama dapat Ia lihat dari Putri kecilnya, meskipun matanya tertutup tapi bibir mungilnya manampilkan senyum memikat, membuat Dirga berjanji akan selalu manjaga senyum cantik bidadari kecilnya tanpa ada air mata di dalamnya.
"Ya allah, semoga anakku menjadi anak yang sholeh dan Sholehah, amin," batin Dirga berdoa dengan tulus.
Dirga menyerahkan kembali Putrinya untuk di tidurkan bersama bayi lainnya, sedangkan Kiara sendiri di perbolehkan beristirahat sejenak, sebelum di pindahkan ke ruangan semula.
"Yank!"
"Huem?"
"Nama anak perempuan Kita siapa?"
"Sabar yah, di episode selanjutnya!"
"Hah?"
"He-he,"
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ikuti terus kisahnya ....
Terima kasih dukungannya, semangat untuk semua.
Next generation sisa satu episode.
Sampai babai.
__ADS_1