Fell In Love With My Arogan Fiance

Fell In Love With My Arogan Fiance
Kode Calon Istri


__ADS_3

Season dua


Selamat membaca


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Enam jam perjalanan mereka akhirnya terbayar, saat di hadapan mereka terlihat bangunan rumah lantai dua, tidak megah namun asri dengan pepohonan kecil, yang di tanam di pot oleh pemilik rumah.


Queeneira, Gavriel, Ezra dan Selyn, serta kakek dari Queene berjajar berdiri, membalas lambayan tangan dari istri kakek atau juga nenek dari Queene. Mereka melihat dengan bahagia, terlebih Queene yang langsung menghambur kepelukan sang nenek, yang menerimanya juga dengan suka cita.


Dalam pelukan sang nenek Queene tersenyum bahagia, apalagi saat bisa merasakan lagi usapan sayang, yang membuatnya hampir bernostalgia.


Hampir tidak ada kenangan buruk, yang tercipta selagi dirinya bersama sang nenek. Bukan hanya karena ia adalah cucu perempuan terakhir, tapi karena ia juga selalu mendapatkan kasih sayang, yang seimbang antara dirinya dengan sepupunya yang satunya.


Beda lagi dengan nenek dari pihak Babanya, ia adalah cucu pertama saat Bibinya, masih belum menikah kerena mengejar izin advokat, karena Bibinya berprofesi sama seperti sang Baba.


"Queene sayang, bagaimana kabar kamu, Mama dan Baba? Apakah semuanya sehat?" tanya Nena, Nenek dari Queeneira. Ia tersenyum teduh, saat melihat wajah berseri dari cucunya, yang sudah tiga tahun tidak berjumpa, meskipun selalu melakukan panggilan video.


"Queene sehat, Bobo (Nenek). Mama dan Baba juga sehat, Alhamdulillah, semua dalam lindungan-Nya, lalu bagaimana dengan Bobo?" jawab dan tanya Queene, dengan nada semangat kepada sang nenek.


"Alhamdulillah, Bobo juga sehat," balas Nena, kemudian ia melihat ke arah sang suami, yang berdiri dengan tiga anak muda lainnya yang ia yakini adalah anak dari sahabat anaknya.


Senyum lebar terpatri dibibirnya, saat melihat tiga penampakan tidak asing, meski ada yang berubah tapi ia mengenali dengan sangat, sebab bukan sekali-dua kali, cucunya mengirim foto seseorang kepadanya via talk-talk.


"Pantas saja cucuku selalu bangga, saat sedang memamerkan foto dia denganku," batin Nena saat melihat salah satu dari ketiganya.


Laki-laki muda yang selalu bermain dengan cucunya, dengan perawakan tubuh tinggi keturunan dari Daddynya.


Merasa di pandangi oleh nenek dari sahabatnya, seseorang itu atau juga Gavriel pun tersenyum, yang dibalas senyum teduh juga untuknya.


Nena mengurai pelukannya, kemudian melihat ke arah ketiganya masih dengan senyumnya.


"Taika, lei ho? (Semuanya, bagaimana kabarnya?)" tanya Nena, menatap satu per satu anak muda di depannya.


"Ho, Bobo! (Baik, nenek!)" seru ketiganya kompak, menjawab dengan semangat pertanyaan nenek seorang Queeneira.


"Bobo, Selyn hou-hou kuacu!"


Seperti biasa, bontot dari pasangan Dirga-Kiara ini akan dengan mudah, mengungkapkan rasa kepada seseorang, yang memang sudah dikenalnya, meskipun jarak dan waktu lama memisahkan mereka.


Dengan semangat, Selyn pun menghampiri Nenek Nena, kemudian memeluk erat yang dibalas sama eratnya.


Grep!


"Sudah besar bontotnya nenek," gumam Nena sambil mengusap rambut Selyn sayang.


"Kan makannya banyak, Bobo. Jadi tumbuhnya bukan hanya ke atas, tapi ke samping juga. He-he," balas Selyn kemudian terkekeh kecil, saat mendapat cubitan di hidung mancungnya.


"Sudah pandai menjawab juga, dasar," dengkus Nena pura-pura sebal.


Kekehan terdengar dari mereka, merasa lucu dan gemas, dengan apa yang dilakukan oleh kesayangan mereka.


Kakek dari Queene, bernama Fendi William Modnoe, dengan nama chihess Tsu Chi Chen melihat arloji yang dikenakannya, kemudian memandang keluarga yang baru datang dari negara asal istrinya.


Ia berdehem, sehingga mereka yang mendengar memandang ke arahnya, dengan ekspresi bertanya.


"Sebaiknya kita lanjutkan ini di dalam, kamu tidak kasian dengan cucumu, yang baru saja menghabiskan enam jam di perjalanan?" tukas Fendi, menatap sang istri yang tersentak kaget, sepertinya sang istri terlalu senang dengan kedatangan cucu dan sahabat dari cucunya. Sehingga melupakan fakta, jika butuh waktu untuk datang menyambangi mereka di sini.


"Oh hai wo! (Astaga!), Muisi ya, (Maaf ya) Masuk ke dalam yuk, kalian pasti lelah," ajak Nena setelah tersentak kaget, yang di jawab dengan anggukan dan senyum maklum dari semuanya.


"Tidak apa-apa, Bobo."


Mereka pun berjalan bersama, dengan Nena yang diapit oleh dua remaja putri, bergelayut manja di samping kiri dan kanannya.


Halaman yang tidak luas, namun cukup untuk menanam bunga, membuat suasana rumah tempat tinggal kedua kakek-neneknya nyaman, dari hiruk pikuk kota Long Ping, Yuen Long, Nt.


Meskipun daerah lainnya sudah banyak di bangun untuk bangunan apartemen, nyatanya daerah tempat kakeknya tinggal masih ada beberapa rumah, yang huniannya seperti di negara asal mereka.


Sesampainya di dalam rumah, mereka di suguhkan dengan pajangan-pajangan khas, dengan batu giok serta guci dengan gambar naga.


Ruang tamu yang luas menyambut mereka, dengan sofa berwarna coklat dan juga lantai marmer berwarna putih.


"Sebaiknya kalian istirahat dulu, makan malam nanti kita kumpul lagi. Sambil membicarakan tempat apa saja yang ingin kalian datangi, bagaimana?" tanya Fendi saat mereka sudah sampai di dalam rumahnya.


Queeneira melihat tiga orang lainnya, kemudian mengangguk saat mendapat anggukan dari sahabatnya.


"Baiklah Bobo, Kung-kung. Kita semua istirahat dulu. Nanti Queene bantu yah, saat menyiapkan makan malam," ujar Queeneira tersenyum kecil, ke arah Neneknya yang memberikan senyum dan anggukan kepala setuju atas ucapannya.

__ADS_1


"Iya, nanti Bobo panggil yah. Saat Bobo masak dan menyiapkan makanan untuk makan malam nanti," sahut Nena.


Mereka pun berjalan ke arah kamar masing-masing, dengan sang kakek yang memandu sedangkan sang nenek ke arah lain, entah melakukan apa.


Ceklek!


Kamar pertama yang di tunjukkan adalah kamar Gavriel dan Ezra, mereka mendapatkan satu kamar bersama dengan ranjang susun.


"Nah! Ini kamar untuk Gavriel dan Ezra, bagaimana menurut kalian?" tanya Fendi dengan antusias, memamerkan kamar hasil desainnya saat dulu berharap, anggota keluarganya kumpul menjadi satu di rumahnya.


"Wah!! Ini bagus sekali, terima kasih Kung-kung."


Jawaban antusias itu adalah jawaban dari Ezra, yang di angguki oleh sepupunya. Meskipun hanya berupa anggukan kepala, mereka semua tahu jika Gavriel pun senang, atas sambutan terbuka dari keluarga sahabatnya.


" Terima kasih, Kung-kung," timpal Gavriel, yang dibalas oleh Fendi tepukan pada bahunya pelan.


"Sama-sama, terima kasih juga, Gavriel."


Gavriel tidak mengetahui, jika saat Fendi mengucapkan terima kasih, Fendi melirik ke arah cucunya yang sedang melihat ke arahnya juga.


Senyum dengan maksud terbit di bibir sang kakek, membuat Queeneira bergerak salah saat ia tahu maksud dari kakeknya apa.


"Kung-kung juga tahu?" tanya Queeneira dalam hati.


"Baiklah, kalian istirahat lah. Kung-kung antar para amuy dulu. Oke," putus Fendi, kemudian pergi meninggalkan pintu kamar Gavriel dan Ezra menuju pintu satunya.


Skip


Makan malam pun hampir tiba.


Seperti janji Queene, ia pun bergegas ke arah dapur setelah ia mandi.


Bukan hanya Queeneira ternyata yang membantu Nena, melainkan Selyn yang juga penasaran dengan masakan khas dari negara asal kakek Mbanya.


Di dalam dapur, Nena yang sedang bersiap tersentak kaget, saat tiba-tiba sebuah lengan putih melingkar di pinggangnya. Namun menjadi senyum geli, saat kekehan khas cucunya memasuki indra pendengarannya.


"Ada yang bisa di bantu, Bobo?" tanya Queene, berdiri di samping kanan sang nenek, dengan Selyn yang juga berdiri di samping kiri.


"Bobo baru mulai, hari ini Bobo beli ikan segar, ayam yang baru saja Kung-kungmu potong, lalu ada sayuran hijau juga."


Queeneira mengangguk, dengan Selyn yang menatap bingung akan perkataan nenek dari Mbanya.


Nena yang melihat ekspresi bingung dari Selyn pun terkekeh kecil, membuat cengiran khas dari seorang Selyn pun terbit.


"Ada apa?" tanya Nena menatap Selyn dengan senyum geli.


"Bobo, kenapa Bobo bilangnya ayam baru dipotong Kung-kung?" tanya Selyn dengan dahi mengernyit gagal paham.


Sebelum menjawab, Nena terkekeh sebentar untuk kemudian menggelengkan kepala pelan, menuai kernyitan di dahi Selyn semakin bertambah.


"Kok ngekek, Bobo?" lanjut Selyn bertanya semakin bingung.


"Tidak apa-apa, begini Selyn amuy. Di sini banyak yang jual ayam, tapi cara potongnya tidak mengikuti syariat ajaran agama kita. Di pasar ayam di potong dengan mesin," jelas Nena, namun belum cukup untuk Selyn yang masih bingung.


"Tidak pakai doa, maksudnya, Bobo?" tanya Selyn memastikan.


"Iya betul sekali, El. Di sini, makanan halal banyak. Tapi, belum tentu benar-benar halal," sahut Queene, menjawab pertanyaan lanjutan dari Selyn sambil memakai celemeknya.


"Seperti itu? Berarti saat di luar nanti, kita akan susah mencari makanan?" tanya Selyn masih dalam mode keponya.


"Tidak juga, El sayang. Restoran negara kita sudah ada dan menjamur di sini, apalagi negara ini mayoritas mengambil asisten rumah tangga dari negara tetangga yang mayoritas muslim."


Kali ini nenek Nena yang menjawab dengan penjelasannya, sehingga Selyn pun mengangguk mengerti, kemudian ikut mengambil bagian.


Masak?


Bukan, jangan harap Selyn bisa memasak.


Selyn hanya bisa mencuci, saat dulu sang Daddy melarangnya memegang spatula.


"El bantu cuci sayur ya, Bobo!" seru Selyn semangat, kemudian menghidupkan keran air menampungnya ke dalam baskom.


"Kasih garam ya, El. Lalu cuci sampai tiga kali dengan air mengalir."


"Sayur di sini pestisidanya kuat, tidak alami dan tidak baik jika ikut di konsumsi. Dengan garam, sisa pestisida akan hilang."


Nena segera menjelaskan dengan detail, saat lagi-lagi Selyn menampilkan ekspresi bertanya yang kentara. Sehingga Selyn pun mengangguk, puas akan penjelasan singkat yang di ucapkan olehnya.

__ADS_1


"Woww! El baru tahu, he-he," sahut Selyn dengan kekehannya.


"Bobo, ikannya mau di masak seperti apa?" tanya Queene yang sudah selesai mencuci ikan besar.


"Ching lah, king hong! (Steam lah, sehat)" sahut Nena cepat.


"Steam? Bumbunya apa itu, Bobo?" tanya Queene dengan mata berbinar antusias, hitung-hitung belajar masak untuk masa depan.


"Kiong dongmay jung, cihau le pai siu-siu si yau, (Jahe dan daun bawang, lalu kasih sedikit kecap asin)" jelas Nena yang di angguki kepala mengerti oleh cucunya.


"Keito loi, Bobo? (Berapa lama, nenek?)" tanya Queene lagi, sambil menyiapkan bumbu sesuai perkataan sang nenek.


"Sap fencung, kau lah, (Sepuluh menit, cukup lah)" balas Nena sabar.


Queeneira lagi-lagi mengangguk, kemudian mengikuti sesuai instruksi.


Mereka pun masak dengan di selingi oleh obrolan ringan, obrolan seputar sekolah, lanjut dengan obrolan tentang kota yang sudah lama ia tinggalkan.


Sekitar satu jam kemudian, makanan pun selesai di masak, mereka menyajikan dengan rapih, lengkap dengan peralatan makan di meja.


Mangkuk, sumpit dan gelas air putih. Masyarakat di Hong Kong makan dengan mangkuk, sehingga bagi Gavriel, Ezra dan Selyn yang baru pertama kali makan dengan peralatan seperti ini, menatap antusias hidangan rapih di meja makan.


Makan malam di mulia, sedikit canggung saat makan menggunakan sumpit, namun saat melihat cara Queene dan dua orang dewasa di depannya yang terlihat santai. Mereka pun akhirnya ikut menikmati dan akhirnya bisa makan dengan lancar, tanpa menjatuhkan nasi atau pun lauk yang tersaji.


Cara makan di Hong Kong juga berbeda, saat di negera lain menjunjung khitmad saat makan. Negara Hong Kong justru santai berbincang sambil makan, dengan anggota keluarga yang menghadiri acara makan di meja makan.


Kurangnya waktu mereka saat bersama keluarga, serta padatnya aktivitas mereka di luar rumah, menjadikan moment makan adalah moment yang pas di gunakan untuk berbincang.


"Bagaimana, Gavriel, Ezra. Hasil makanan olahan sini, Enak kah?" tanya Fendi disela-sela acara makan mereka.


Gavriel dan Ezra yang di tanya pun, melihat ke arah Fendi, yang juga sedang melihat meraka dengan raut wajah penasaran.


"Ez suka, Kung-kung. Ikannya enak!" seru Ezra jujur, dengan apa yang dirasakan oleh lidahnya.


"Ini enak sekali, Bobo pandai memasak, tipe istri idaman kan, Kung-kung," timpal Gavriel menatap Nena dengan senyum kecilnya, lalu bertanya dengan sang kakek yang balas dengan senyum aneh.


Nena yang mendapat pujian menggelengkan kepala kecil, menolak pujian dari Gavriel yang salah sasaran, membuatnya mengernyit bingung saat perkataannya di jawab dengan gelengan kepala.


"Salah, nak Gavriel salah."


Jawaban dari Nena tentu saja membuat seseorang yang sudah tahu, akan seperti apa ucapan selanjutnya dari sang nenek terdiam dengan rona di wajahnya.


Seseorang itu menundukkan kepalanya, saat neneknya mengalihkan pandangannya ke arahnya, diikuti oleh yang lainnya, yang juga menatapnya dengan berbagai tanggapan.


"Jadi, siapa yang masak, Bobo?" tanya Gavriel penasaran, saat tatapan nenek Nena dan adiknya Selyn, menatap ke arah sahabatnya yang wajahnya menunduk.


"Jangan-jangan."


Jantung Gavriel berdetak saat tebakan dalam pikirannya mulai terbukti, ketika Nena menujuk dengan lirikan mata lengkap dengan kalimat menggodanya.


"Queeneira loh yang masak, iya kan El. Itu artinya Queene juga istri idaman dong," ucap Nena yang di angguki kepala oleh Selyn, di ikuti oleh seruan menggoda yang lainnya.


"Istri idaman loh, Gavriel," seloroh Ezra ikut menggoda sepupunya, yang sampai sekarang belum peka juga.


"Apa sih, Ez," bisik Gavriel malu, saat matanya bertemu pandang dengan sahabatnya, yang juga sedang menatapnya dengan bola mata bergerak tidak fokus.


"Queene," batin Gavriel dengan kupu-kupu, yang membuat dirinya tidak nyaman dan senang di saat bersamaan.


Selyn, yang melihat Mas dan Mbanya yang saling lihat pun tersenyum kecil, ia dengan iseng menyenggol lengan Mbanya yang tersentak kecil ke arahnya.


"Cie ... Yang dapet kode istri idaman," bisik Selyn semakin menggoda, sehingga Queene pun harus tahan untuk tidak lari saat itu juga.


Ia yakin jika wajahnya sekarang sudah terbakar, apalagi saat melihat senyum malu sahabatnya, yang saat ini sedang bercanda dengan sahabatnya yang lain.


"Gavriel," batin Queeneira memanggil nama sahabatnya dengan degub jantung berlebih.


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sebagian masyarakat hongkong, jarang memakai piring saat makan. Ini di dapat dari sumber yang tinggal di negara sana.


Ikuti kisah selanjutnya ....


Terima kasih atas dukungan serta bantuannya.


Sampai babai.

__ADS_1


Emkoy sai (Terima kasih)


__ADS_2