
Maaf bila typo mengganggu saat membaca dan alur cerita lambat
So
Happy reading
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Kediamanan Wijaya Muda
Hari ini cuaca mendung, rintik hujan jatuh dari langit, menyambut pagi hari di Kediamanan milik Dirga.
Dirga menguap dengan tubuh mengulet, lalu melirik ke samping Di mana ada Sang Istri, yang masih tidur lelap karena cuaca mendukung, dingin lengkap dengan aroma lembab.
Kemudian, Ia melihat ke arah nakas di sampingnya,tepatnya ke arah jam digital yang terpajang apik, di mana menunjukkan pukul. 06:40 WKS.
" Woah, sudah siang. Apa karena cuaca mendung yah, jadi enak buat di pakai bobok kelon?" gumam Dirga bertanya pada dirinya sendiri.
Ia tersentak saat merasakan pelukan pada pinggangnya, menemukan lengan dengan bekas luka memudar bertengger manis pada pinggangnya.
" Sudah bangun sayang?" tanya Kiara dengan suara serak. Ia lebih merapat, ke arah tubuh Suaminya, yang terasa hangat meskipun tubuhnya tidak terbalut kain.
" Heum, selamat pagi sayang, Aku kesiangan nih. Sekarang sudah jam 7, di luar mendung sih," balas Dirga. Mengecup kening Kiara, kemudian seperti biasa melakukan ritual pagi mereka.
" Selamat pagi juga, ya sudah kamu cepat mandi gih," ujar Kiara. Setelah lepas dari ritualnya, lalu ikut bangun dari rebahannya.
" Okey," balas Dirga. Lalu turun dari ranjang, berjalan ke arah kamar mandi.
Blam
Selagi Dirga mandi, Kiara melihat ke arah keranjang bayi di mana ada Gav yang tertidur pulas, benar kata Suaminya cuaca pagi ini mendukung untuk tidur nyenyak.
Kiara pun memutuskan untuk menyiapkan kemeja kerja Suaminya, Jas serta dasi.
Tidak lama terdengar suara pintu kamar mandi terbuka, di susul Dirga yang keluar dengan balutan handuk di pinggang. Tetesan air masih mengalir, dari atas rambut hingga ke arah dada bidang milik Suaminya.
" Kemeja-nya sudah Aku siapin yank, hari Ini kamu mau sarapan apa?" tanya Kiara melihat ke arah Dirga. Yang saat ini sedang mengeringkan tubuhnya, dengan handuk lainnya.
" Nggak usah deh yank, hari ini Aku ada pertemuan di luar kota, tempatnya agak jauh. Jadi nggak bisa lama-lama, takut habis waktu di perjalanan," balas Dirga tanpa melihat ke arah Istrinya.
Kiara mengangguk, dengan tangan sibuk membuka baju Gav yang terbangun, saat Ia membuka hordeng kamar.
" Oke, Aku mandiin Gav sebentar. Kamu langsung berangkat atau tunggu kami selesai?" tanya Kiara.
" Da da, ndi,"
" Oke, Daddy tunggu sampai kicik selesai mandi yah. Yang wangi yah kalau tidak, nanti Daddy nggak cium loh!" seru Dirga menggoda Sang Anak. Menuai kekehan dari Gav, saat hidung mungil-nya di colek gemas.
" Hi hi hi,"
30 menit kemudian
Mandi telah selesai, saat ini Gav yang sudah tampan sedang ada di gendongan Sang Daddy, merengek entah karena apa.
" Gav sayang, sama Mommy yah. Daddy harus berangkat ke kantor, nanti Daddy pulang kan bisa main lagi!" bujuk Kiara lembut. Namun sayang sekali, Sang anak keukeh ingin tetap berada di gendong Sang Daddy.
Melihat tingkah sang anak yang tidak biasa, membuat Dirga heran. Biasanya setelah kecup perpisahan, Sang Anak akan melepasnya dengan senyum lebarnya.
" sayang, sama Mommy dulu yah. Daddy janji pulang cepat, bawain Gav mainan baru. Oke, Gav pintar kan!" seru Dirga merayu. Namun sayangnya, Gav menggeleng kepala dengan wajah menatap Sang Daddy sayu.
" Da da, nda au," rengek Gav.
" Gimana ini yank, Aku harus sampai di tempat jam 9 nanti. Aku nggak enak sama rekan aku, kalau sampai telat," ujar Dirga memelas. Ia melihat Sang Istri, meminta pertolongan.
" Sini yank, Aku gendong. Kamu berangkat aja, nanti juga Gav lupa," ujar Kiara. Mengambil alih Gav ke dalam gendongannya, yang langsung meronta tidak terima.
" Da da, hu hu huweeee,"
" Kamu berangkat aja, nggak apa-apa kok yank. Gav nanti juga lupa, serius," ujar Kiara. Meyakinkan Sang Suami, yang memandangnya dengan sorot mata khawatir.
Sebenarnya perasaannya pun kurang enak, saat melihat Gav yang tumben sekali merengek.
" Oke, Aku berangkat dulu. Bhubay Gav, sampai jumpa nanti," ujar Dirga. Setelah mengecup sekali lagi, pipi Gav yang berhiaskan air mata.
Nyut
Hati-nya perih, serasa di cubit oleh tangan tak kasat mata. Membuatnya menghela nafas, meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
" Hati-hati di jalan sayang, jalanan pasti licin. Kamu jangan kebut-kebutan di jalan yah," ujar Kiara mewanti. Setelah Dirga melepas kecupan pada keningnya, dengan rasa yang berbeda.
" Okay,"
__ADS_1
" Bhubay Daddy,"
Seruan Kiara bersahutan, dengan rengekan dari Gav yang tidak terima saat Sang Daddy meninggalkannya.
" Da da, hu hu,"
" Sayang, main di dalam aja yuk,"
Ajak Kiara, membawa masuk Anaknya yang meronta minta turun.
Di perjalanan, Dirga mengendarai mobilnya dengan hati-hati sesuai apa yang di katakan Sang Istri. Mengurangi kecepatan saat melewati jalanan berliku, meskipun hati-nya was-was nyatanya Ia tetap sampai di kantor dengan selamat.
Dirga berjalan dengan kepala mengangguk dan bibir bergumam, membalas sapaan untuknya.
" Selamat pagi,Tuan," sapa Kembang ramah.
" Hm,"
Ting
Pintu lift terbuka, Dirga segera bergegas ke arah ruangannya untuk mengambil berkas, yang akan di bahas-nya.
Hari ini Dani cuti, alhasil Ia tidak memiliki teman untuk perjalanan Meeting nanti. Ia tidak nyaman dengan yang lain, sehingga Dani jarang sekali libur.
Setelah mengambil berkas yang di butuhkannya, Ia bergegas meninggalkan kantornya. Menuju tempat yang sudah di sepakati, untuk mengadakan pertemuan.
Di perjalanan semua nampak biasa saja, lagian ini sudah berlalu lama semenjak perseteruan-nya dengan Jaya Dharma.
Tidak ada lagi mata-mata mengintai atau pun serangan kecil pada rumahnya, bahkan perusahaan-nya pun kembali stabil seperti sedia kala.
Kota B
Kota B ini kota kelahiran Mertuanya, Ia pernah kesini saat sepupu dari Istrinya menikah. Udara dingin dan jalanan berliku dengan jurang di sisi kanan-kirinya yang berhiaskan pohon hijau, menjadi pemandangan menyejukan.
Dirga sampai di tempat, sebuah kantor dengan bangunan mewah 20 lantai. Bangunan paling tinggi dari yang lain, Ia segera memarkirkan mobil miliknya, di tempat parkir samping mobil BMW i8 berwarna putih.
" Selamat pagi, Tuan Dirga, senang bertemu dengan mu lagi," sapa Rekan bisnis-nya ramah. Tangannya terulur, yang di terimanya segera untuk berjabat tangan.
" Selamat pagi, Tuan Arlan, senang bertemu dengan mu," balas Dirga dengan senyum bisnis.
Setelah-nya yang di bahas adalah kerja sama, dengan pembahasan santai, karena keduanya juga sering bekerja sama.
2 jam setelahnya
Saat ini Dirga dalam perjalanan pulang, ke kota S untuk kembali ke kantor-nya mengurus sisa kontrak kerja sama tadi. Setelahnya Ia bisa menemani Sang anak bermain lagi, memikirkannya saja membuat senyum di bibir Dirga mengembang.
" Pulang dari kantor nanti, Mampir ke Toko mainan. Beli apa yah bagusnya?" gumam Dirga bertanya.
Di perjalan tidak ada yang ganjil, hanya jalanan licin karena guyuran hujan yang tidak henti dari pagi.
" Kalau nggak hati-hati bis ...
Ckiiiiitttt ....
Brakkkhh brakkkkhhh
Di persimpangan saat hendak berbelok, bunyi decitan mobil di susul dengan suara hantaman keras adalah hal yang terakhir di ingat Dirga.
Kejadian-nya berlangsung cepat saat Ia melihat mobil Box angkel, melaju tepat di hadapannya seperti sengaja menghadangnya, membuatnya tidak bisa menghindar dan banting stir menabrak pagar pembatas jurang.
Hantaman keras dari Mobil Lamborghini merah milik Dirga, menerobos pagar pembatas membuat mobil dengan Dirga yang masih dalam keadaan sadar berguling terjun bebas, terperosok kedalam jurang.
Braaakkkhh
Dhuarrrrr
Bunyi hantaman terakhir adalah saat mobil milik Dirga menabrak tanah hutan dengan posisi terbalik. Meninggalkan kepulan asap dari mesin, dengan bensin mobil mengalir menciptakan ledakan dan membuat mobil mahal keluaran terbaru itu terbakar dengan api berkobar.
Sedangkan mobil Box angkel itu, hanya melihat dari atas jurang untuk berdecih sinis dan meninggalkan lokasi kejadian karena tugasnya selesai.
" Seharusnya yang di bawah sudah siap," Gumamnya sebelum mengangkat bahu acuh. Dia kembali memasuki mobil, mengendarai dengan cepat karena saat ia menekan pedal gas Ia melihat melalui kaca spion, kerumunan warga sudah berkumpul.
" Untung cepat pergi," Gumamnya dengan senyum mengerikan.
Kediamanan Wijaya Muda
Prang
Suara yang berasal dari bingkai foto pernikahan-nya, memenuhi ruang tempat Kiara dan Gav bermain saat ini.
Hu huweeeee hu hu Da Da
__ADS_1
" Astagfirullah, kenapa foto-nya bisa jatuh, ya ampun Gav sayang jangan nangis, ini cuma foto jatuh kok. Nggak apa-apa yah, kesayanganya Mommy pintar," ujar Kiara gelisah.
" Bi, Bi Ana, tolong bereskan pecahan bingkai-nya Bi!" seru Kiara sedikit keras.
" Ia Nyonya,"
Hu huweeee hue hue Da Da
" Ssstt ... Daddy kan lagi kerja sayang, nanti kita telpon yah. Sekarang Gav makan dulu, Gav pintar kan?" bujuk Kiara. Menuai gelengan kepala dari Gav, di serta tangisan memanggil Sang Daddy.
Hu hu hu Da Da
" Ya Tuhan, ada apa ini?" gumam Kiara khawatir.
Terhitung sejak Sang Suami meninggalkan rumah, Gav yang biasanya pintar dan anteng. Berubah menjadi cengeng, Ia akan menoleh ke arah kanan dan kiri seperti mencari seseorang, kemudian menagis lagi menyebut nama Sang Suami.
" Sebenarnya ada apa ini, kenapa perasaan ku tidak enak?" batin Kiara bertanya.
Jatuh-nya foto pernikahan, menambah perasaan takutnya. Hati-nya serasa di remas tangan tak kasat mata, bahkan air mata-nya pun tiba-tiba mengalir tanpa sebab.
Ia buru-buru menyeka air mata miliknya, memegang dada-nya yang berdenyut nyeri.
" Ugh ... Kenapa rasanya sakit sekali, apa ini karena Gav yang menangis?" batin Kiara cemas.
Kiara menggendong Gav yang masih menangis, menepuk punggung kecil milik Putranya yang bergetar karena seguan tangisannya yang semakin kencang.
Hu huweeee huu hu Da Da
" Sayang, kamu kenapa sih, oke Kita telpon Daddy yah. Tapi Gav janji jangan nangis, okay?" ujar Kiara merayu. Ia mengambil Handphone miliknya, yang Ia letakan di meja dan menekan layar sentuh memanggil nomor kontak Suaminya.
Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif, silahkan hubungi beberapa saat lagi.
The number you call
Tut
" Kok nggak aktif, tumben banget. Biasa-nya juga selalu aktif meskipun lagi rapat penting?" gumam Kiara bertanya. Ia mengerutkan kening heran, tidak biasa-nya Dirga seperti ini.
" Aku coba lagi,"
" Kenapa masih nggak aktif," Gumamnya semakin khawatir. Apalagi tangisan Anaknya semakin kencang, membuatnya bingung dan takut di saat bersamaan.
Hu hu Da Da
" Iya sayang, Mommy lagi telpon Daddy loh. Gav jangan nangis lagi yah," bujuk Kiara untuk kesekian kalinya.
Gelengan serta tangisan Gav yang semakin menjadi, membuat Kiara hampir saja mendesah frustrasi.
" Ya Tuhan, Kamu di mana sih sayang?" desah Kiara takut.
Bunyi dering Handphone-nya membuat Kiara tersentak kaget, Ia meletakkan Gav di kursi bayi dan terburu-buru mengambil lagi Handphone miliknya, yang tadi Ia letakkan di meja. Berharap itu adalah Sang suami, namun sayang tidak sesuai harapan.
" Papi?" gumam Kiara bingung.
Tidak biasanya Sang mertua menghubungi-nya, meski sering tapi akhir-akhir jarang. Tidak ingin penasaran, Ia menekan tombol hijau dan menerima panggilan dari Papi hendri.
" Halo Pih,"
" ..."
" Apa?"
Bruggh
" Nyonya!!!"
Hu huweeee hu Ma Ma Da Da
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ikuti terus kisahnya ...
Jangan lupa sematkan komentar dan klik jempolnya ...
Serta vote dukunganya ...
Baca juga novel aku yang lainnya.
Judul nya Bukan Salahku.
__ADS_1
Sampai babai
Terima kasih