
Season dua
Terimakasih
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
"Suka belum berarti cinta, dan cinta belum berarti suka."
"Maksudnya Dad?"
"Maksud Daddy suka dan cinta itu satu artian sama, namun memiliki makna yang berbeda."
"Misalnya, kamu punya pacar dan pacar kamu bilang mencintaimu, tapi dia tidak suka akan kelakuanmu, atau juga temanmu menyukaimu karena kamu baik, apa teman kamu artinya mencintaimu?"
Gavriel menggeleng menjawab pertanyaan sang Daddy.
"Jadi cinta belum tentu suka, kan? Atau juga suka belum tentu cinta, kan?" tanya Dirga yang dijawab anggukan oleh sang anak.
Dirga menghembuskan napas sebentar, berharap penjelasan ribet yang akan ia jelaskan, bisa dimengerti oleh anak laki-lakinya, yang sudah mulai beranjak dewasa namun polos disaat bersamaan.
"Sayang, cinta, suka. Tiga rasa ini sebenarnya bukan hal yang bisa dijelaskan, tapi beda jika dirasakan secara langsung."
"Dirasakan?" tanya Gavriel.
"Ya ... Kalau menurut teori memang sangat sederhana, rasa cinta dan sayang lebih besar dibandingkan dengan rasa suka. Kamu bisa dengan mudah menyukai seseorang. Misalnya, jika bertemu dengan seorang wanita yang cantik dan sesuai dengan tipe ideal, maka kamu bisa merasakan suka. Namun, itu bukan berarti kamu memiliki rasa cinta dan sayang padanya."
Dirga melihat anaknya yang mengangguk mengerti, saat ia melanjutkan penjelasan teori versi dirinya mengenai rasa suka.
"Suka adalah hal yang menuntut dan cinta adalah saling memberi dan menerima, sedangkan sayang adalah sebuah keikhlasan. Rasa sayang biasanya dimiliki seorang ibu ke anaknya, yang tidak terbatas dan mengharapkan imbalan. Begitu pun sebaliknya."
"Sedangkan Rasa cinta dan sayang memang hampir mirip, hanya saja rasa sayang biasanya tidak bersyarat dan lebih ditujukan kepada keluarga, orangtua, adik atau juga kakak."
"Suka belum tentu cinta, karena suka hanya sebatas rasa obsesi pada sesuatu yang kita lihat. Sedangkan cinta adalah rasa tulus dalam hati pada sesuatu yang kita suka."
Gavriel diam saat sang Daddy menjelaskan dengan panjang, pertanyaan darinya yang sungguh membuatnya bingung.
Bukan ia tidak bisa mendefinisikan, tapi suka menurutnya bukan lah sesuatu yang berhubungan dengan cinta, suka baginya adalah rasa tidak risih saat ada seseorang di dekatnya.
"Jadi, menurut kamu sendiri, suka, sayang, cinta, itu apa?" tanya Dirga menyudahi penjelasannya.
"Menurut aku?" tanya Gavriel memastikan.
"Iya ... Bagaimana menurutmu?"
Gavriel diam sebentar, memikirkan kata sederhana yang menurutnya pas, dengan apa yang akan ia sampaikan kepada sang Daddy.
"Suka yah ... Menurut aku, suka itu adalah perasaan nyaman semata. Cinta itu rasa ingin membuatnya tersenyum, tertawa dan marah hanya karena dan kepada kita, sedangkan sayang adalah rasa yang membuat kita ingin terus membuatnya bahagia."
Dirga mengangguk mengerti, anaknya Seperti dirinya, saat menjelaskan apa cinta menurut versi sang anak.
Cinta pun menurutnya seperti itu, ingin melihat apapun yang berhubungan dengan seseorang yang dicintai hanya karena perbuatannya, bukan perbuatan orang lain.
Seperti marah si dia, manja si dia, atau juga tawa si dia, bahkan bertengkar pun hanya ingin si dia karena diri kita, bukan orang lain.
Diam ... Setelah mendengar jawaban dari versi masing-masing, pasangan Daddy-son ini merenungi kalimat penjelasan tadi.
"Jadi, siapa yang membuat kamu bingung seperti ini?" tanya Dirga tiba-tiba, membuat sang anak yang mendengar tersentak kaget, namun mampu ditutupi dengan sikap tenang luar biasanya.
"Siapa?" beo Gavriel pura-pura tidak mengerti.
"Kamu tidak mungkin bertanya, hanya karena mendapat pertanyaan dari El dan Ezra. Iya kan?" tanya Dirga tepat sasaran.
"Tidak ada," Gavriel menjawab dengan tenang, saat sang Daddy melihatnya.
"Benarkah?" tanya Dirga main-main.
"Hn."
"Gavriel," panggil Dirga dengan nada serius.
__ADS_1
"Ya, Dadd."
"Menurut kamu, kenapa Daddy sangat mencintai Mommymu?" tanya Dirga serius.
"Karena Mommy juga cinta Daddy," balas Gavriel dengan alis mengernyit.
"Lagian kalau Daddy dan Mommy tidak saling mencintai, aku dan El tidak mungkin ada, serta tumbuh dengan hujan cinta dari Dadd dan Momm."
Dirga terkekeh saat mendengar jawaban sang anak, polos sekali jawabannya.
"Ada kamu belum tentu cinta, ada pernikahan juga belum tentu cinta."
"Maksudnya apa sih, Dadd?" tanya Gavriel semakin tidak mengerti.
"Pernikahan hanya untuk keuntungan, pernikahan hanya untuk keturunan, pernikahan hanya untuk memenuhi kewajiban. Semua itu mungkin tidak perlu cinta," jelas Dirga panjang lebar.
"Pernikahan politik?"
"Ya bisa disebut seperti itu," balas Dirga dengan kepala mengangguk.
"Sekali lagi Daddy jelaskan. Cinta itu suci, yang hanya dirasakan oleh hati. Sayang itu rasa senang yang tumbuh di dalam hati, sedangkan suka itu, sebuah rasa namun belum tentu masuk ke hati."
"Saat kamu bisa merasakan debaran di dalam hati, rasa cemburu meremas hati, dan amarah menguasai hati. Maka itu artinya cinta datang tanpa kamu sadari, untuk siapa kamu kasih dan kapan itu terjadi," jelas Dirga panjang lebar.
"Saat kamu mulai merasakan cinta untuk seseorang nanti, kamu akan melakukan segalanya untuk seseorang itu. Jantung kamu pun akan berdebar hanya karenanya, senyum kamu pun akan selalu terbit karenanya, serta bayangan wajahnya pun akan selalu hadir di pelupuk matamu."
"Ingat Gav, suka itu berbeda dengan yang namanya cinta. Jadi ... Kalau ada seseorang yang membuatmu suka, belum tentu dia juga akan membuatmu cinta." lanjutnya menyudahi sesi curhat sang anak.
"Aku mengerti," gumam Gavriel pelan.
"Rasakan debaran itu, jangan buta rasa hanya karena suka sesaat. Biasanya cinta yang menggebu debarannya hanya sebentar, sedangkan cinta sejati, akan membuatmu berdebar hingga rasanya mau mati."
Dirga diam sebentar saat ia merasa sang anak sedang mencerna apa maksud debaran, yang tadi disampaikan olehnya.
Ini menurut pengalamannya, saat ia dulu menyukai seseorang hanya karena orang itu membuatnya nyaman, namun ternyata cintanya hanya cinta sesaat yang menyakitkan.
Debaran saat ia merasa jatuh cinta kepada sang istri, bahkan masih dirasakan olehnya sampai saat ini.
"Berapa umurmu?" tanya Dirga keluar dari topik pembicaraan, membuat Gavriel mengernyit namun tetap jawab juga.
"15."
"Dulu Daddy, di umur segitu tidak terlalu memikirkan apa itu suka, cinta dan sayang. Karena menurut Daddy, Eyang putri adalah segalanya. Cinta, suka dan sayang Daddy hanya untuknya," ujar Dirga mengingat, saat dulu ia hanya bersama sang Mami, sedangkan Papanya sibuk bekerja.
"Daddy tidak punya teman untuk berbicara, Daddy hanya tahu angka dan persentase hitungan, Daddy pun tidak perduli dengan sekitar."
"Bahkan dulu Daddy sempat berpikir, apakah sampai Daddy tua nanti, Daddy hanya akan bersama dengan Eyang Putri. Karena dulu Daddy pernah merasakan suka namun ternyata bukan cinta."
"Tapi ternyata Daddy salah, Mommymu mengubah segalanya. Tingkahnya, senyumnya, bawelnya, segalanya tentangnya membuat Daddy menyerah akan hakikat cinta."
Gavriel sekali lagi menjadi pendengar setia, saat sang Daddy menceritakan pengalaman hidupnya.
"Menurut kamu, apa yang kamu petik dari penjelasan Daddy?" tanya Dirga memandang anaknya, dengan senyum hangat khas seorang ayah.
"Daddy sangat mencintai Mom dan Eyang, Daddy mencintai Mom dengan segala hal yang dimiliki Mommy. Daddy hanya mencintai Mom."
Dirga mengangguk membenarkan jawaban sang anak.
"Saran Daddy, pelajari dan telusuri rasa suka, sayang dan cinta satu per satu. Jangan tergoda dengan suka yang menggebu, juga jangan terlena karena debaran sesaat itu."
"Apa aku harus mencobanya satu per satu?" tanya Gavriel penasaran.
"Tentu ... Sesudah kamu tahu perbedaan dari ketiga rasa rumit itu, maka kamu akan bisa membedakan, sebenarnya apa yang sedang kamu rasakan saat itu. Suka kah? Sayang kah? Atau cinta kah?"
"Hati kamu yang akan menuntunmu pada cinta sejati. Debaran itu yang akan memberimu petunjuk. Serta, ketika ribuan kupu-kupu bertebaran menggelitik hatimu, saat itu kamu akan segera mengetahui, apa rasa yang sedang kamu rasakan saat itu."
Gavriel diam, melihat wajah tampan sang Daddy yang tersenyum hangat ke arahnya.
Ia merasa jika apa yang dikatakan oleh sang Daddy ada benarnya.
__ADS_1
Benar juga ... Kenapa ia bingung hanya Karena pertanyaan dengan tema suka, jika dirinya sendiri belum terlalu merasakan debaran itu.
Mungkin sudah ... Tapi apa itu cukup untuk membuatnya yakin, jika itu adalah debaran nyata dan bukan debaran yang menggebu seperti kata sang Daddy.
Sebenarnya akhir-akhir ini ia mulai merasakannya, ada seseorang yang sudah bisa membuatnya merasakan debaran itu.
Apakah ia harus mencari tahu agar lebih jelas?
Jika begitu ia harus bermain dengan hati dan perasaannya sendiri.
Dan dengan begitu, ia akan semakin yakin, jika dia adalah debaran nyata untuknya.
"Dadd."
"Hn."
"Nyaman dan terbiasa, mana yang Daddy pilih?"
"Terbiasa, tentu saja. Artinya kita sudah nyaman dengannya, sedangkan nyaman belum tentu bisa membuat kita terbiasa."
"Oke paham!"
"Ada lagi?" tanya Dirga siap dengan seribu jawaban.
"Jadi Dadd, jika kita merasa marah dan cemburu, saat melihat seseorang yang terbiasa dengan kita, tiba-tiba bersama orang lain, apakah itu juga cinta?" tanya Gavriel serius.
"Cemburu dan marah, belum tentu karena cinta, bisa saja karena takut tersisihkan. Tapi beda lagi, kalau cemburu dan marahnya diikuti perbuatan yang tiba-tiba berubah drastis."
"Seperti menghindar?"
"Bisa jadi, sebab kalau memang bukan cinta, orang itu akan menyampaikan rasa ketidak sukaannya langsung, jadi kita bisa introspeksi diri, bukannya menghindar yang berujung dengan kesalahpahaman panjang," balas Dirga menatap anaknya penasaran.
"Sebenarnya ... Kamu bertanya, karena kamu sedang mengalaminya atau hanya karena pertanyaan suka dari El dan Ezra?" tanya Dirga curiga.
"Anggap seperti itu, Dadd," balas Gavriel seandanya.
Diam-diam Dirga tersenyum penuh arti, sepertinya ia tahu siapa yang sedang dimaksud oleh sang anak.
"Tapi ... Ada apa dengan nyaman?" batin Dirga tidak mengerti.
"Kamu sudah besar," goda Dirga mengusap rambut anaknya sayang.
"Apa sih Dadd, jangan bilang seperti itu," gumam Gavriel malu, membuat Dirga terkekeh kecil, sehingga Gavriel pun mau tidak mau ikut tertekekeh.
"Tapi Gav," ujar Dirga tiba-tiba, menghentikan kekehannya membuat Gavriel pun ikut menghentikan kekehannya.
"Hn?"
"Kalau bisa, nanti dulu yah. Tunggu kamu sukses dan bisa berdiri di atas kedua kaki kamu sendiri. Jadi ... Saat kamu yakin dengan rasa cinta kamu, kamu bisa bangga memanjakan wanita kamu kelak. Apa kamu bisa mengerti, apa maksud Daddy?" ujar Dirga menjelaskan, kemudian bertanya serius.
Gavriel tentu saja mengerti, apa maksud dari perkataan sang Daddy.
Lagian ia pikir ia masih sangat muda dan masih ingin mengapai mimpi serta membuat keluarganya bangga.
"Tentu saja Dadd, aku mengerti dengan jelas apa maksud perkataan Daddy. Daddy tenang saja, aku akan memastikan jika di masa yang akan datang. Namaku akan tercatat di dunia sebagai pengusaha sukses, lalu Daddy dan Mommy serta semuanya akan bangga denganku nanti. Gavriel Wijaya akan pastikan itu."
Gavriel dengan sungguh-sungguh mengucapkan janjinya, membuat Dirga tersenyum bangga dengan anak kebanggaannya.
"Daddy tunggu saat itu," balas Dirga menepuk-nepuk punggung sang anak memberi dukungan.
"Sepertinya memang harus,"
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ikuti kisah selanjutnya ...
Sampai babai.
__ADS_1